Aceh – kesultanan Aceh Darussalam / Sumatera – Prov. Aceh

كاورجاون اچيه دارالسلام

.

Kesultanan Aceh: 1496–1903. Terletak di Sumatera, provinsi Aceh.
Kesultanan Aceh Darussalam merupakan sebuah kerajaan Islam yang pernah berdiri di provinsi Aceh. Kesultanan Aceh terletak di utara pulau Sumatera dengan ibu kota Bandar Aceh Darussalam dengan sultan pertamanya adalah Sultan Ali Mughayat Syah yang dinobatkan pada tanggal 8 September 1507.
Pada Januari tahun 1903 Sultan Muhammad Daud Syah (memerintah 1874-1903) akhirnya menyerahkan diri kepada Belanda setelah dua istrinya, anak serta ibundanya terlebih dahulu ditangkap oleh Belanda. Sultan Muhammad Daud Syah wafatnya pada tanggal 6 Februari 1939.

Sultanate of Aceh: 1496 – 1903. Located on Sumatera, province of Aceh.
For english, click here

Lokas provinsi Aceh


Garis kerajaan-kerajaan di Sumatera: link


Foto kesultanan Aceh

* Foto kesultanan Aceh Darussalem: link
* Foto raja-raja kerajaan kecil di Aceh: link
*
Foto Aceh dulu: link
*
Foto perang Aceh-belanda (1873-1903): link


Foto kerajaan-kerajaan di Sumatera

* Foto sultan dan raja yang masih ada di Sumatera: link
* Foto sultan dan raja di Sumatera dulu: link


Video sejarah kerajaan / kesultanan di Sumatera

* Video sejarah kerajaan di Sumatera, 75.000 SM – sekarang: link
* Video sejarah kerajaan di Sumatera Utara, 0 M – sekarang: link
*
Video sejarah kerajaan di Sumatera Barat, 0 M – sekarang, link


KESULTANAN ACEH DARUSSALEM

1 Tentang Raja
2 Sejarah kesultanan Aceh
3 Perang Aceh-belanda
4 Sultan Iskandar Muda, memerintah 1607-1636
5 Struktur pemerintahan kesultanan Aceh
6 Sistem pemerintahan lokal Aceh
7 Daftar Raja
8 Kisah Tuanku Raja Daud
9 Sumber


1) Tentang sultan Aceh terakhir dan keturunan

Sultan terakhir:
Sultan Muhammad Daud Syah Johan Berdaulat, bertahta pada tahun 1874-1903.
Ia kemudian diasingkan oleh Hindia Belanda ke Ambon dan terakhir dipindah ke Batavia sampai wafatnya pada tanggal 6 Februari 1939.

Sultan Muhammad Daud Syah Johan

Muhammad Daud Syah dari Aceh - Wikipedia bahasa Indonesia ...

Sultanah Aceh, Teungku Putroe Safiatuddin Cahya Nur Alam
Yang Mulia Sultanah Teungku Putroe Safiatuddin Cahya Nur Alam binti Tuanku Raja Ibrahim wafat pada tanggal 6 juni 2018. Beliau adalah cucu Sultan Muhammad Daodsyah dan pewaris kesultanan Aceh.

Keturunan
Nasib 16 keturunan Putra Mahkota kesultanan Aceh Darussalam: klik di sini

Sultana Aceh bersama president Jokowi


2) Sejarah kesultanan Aceh, 1496 – 1903

Sumber: https://www.kompas.com/stori/read/2021/05/30/204418979/kerajaan-aceh-raja-raja-puncak-kejayaan-keruntuhan-dan-peninggalan?page=all

Kerajaan Aceh adalah kerajaan Islam di Sumatera yang didirikan oleh Sultan Ali Mughayat Syah pada 1496 M. Meski begitu, kesultanan Aceh baru menjadi penguasa setelah mengambil alih Samudera Pasai pada 1524 M, dan runtuh pada awal abad ke-20. Ibu kota kerajaan Aceh terletak di Kutaraja atau Banda Aceh (sekarang).
Kerajaan ini mencapai puncak kejayaanya pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda (1607-1636 M). Di bawah kekuasaannya, Aceh berhasil menaklukkan Pahang yang merupakan sumber timah utama dan melakukan penyerangan terhadap Portugis di Melaka. Selain itu, kejayaan Aceh tidak lepas dari letak kerajaannya yang strategis, yaitu di dekat jalur pelayaran dan perdagangan internasional.

Berdirinya kerajaan Aceh

Berdirinya kerajaan Aceh bermula ketika kekuatan Barat telah tiba di Malaka. Hal itu mendorong Sultan Ali Mughayat Syah (1511-1530) untuk menyusun kekuatan dengan menyatukan kerajaan-kerajaan kecil di bawah payung kerajaan Aceh. Untuk membangun kerajaan yang besar dan kokoh, Sultan Ali Mughayat Syah membentuk angkatan darat dan laut yang kuat. Sultan Ali Mughayat Syah juga meletakkan dasar-dasar politik luar negeri kerajaan Aceh, yang isinya sebagai berikut.
Mencukupi kebutuhan sendiri, sehingga tidak bergantung pada pihak luar Menjalin persahabatan yang lebih erat dengan kerajaan-kerajaan Islam di nusantara Bersikap waspada terhadap negara Barat Menerima bantuan tenaga ahli dari pihak luar Menjalankan dakwah Islam ke seluruh nusantara.

Kehidupan politik kerajaan Aceh

Kehidupan politik kerajaan Aceh sebelum dan sesudah pemerintahan Sultan Iskandar Muda (1607-1636) sangat berbeda. Pada periode awal, konsentrasi politik lebih tercurah untuk pembentukan kekuatan militer dalam upaya mempertahankan keberadaannya dari ancaman yang datang dari dalam ataupun luar. Di samping itu, kekuatan militernya diperlukan untuk ekspansi ke daerah sekitar guna menambah wilayah kekuasaan.
Ketika Sultan Iskandar Muda berkuasa, ia tidak hanya melanjutkan kegiatan ekspansi wilayah seperti para pendahulunya. Sultan Iskandar Muda juga berusaha menata rapi sistem politik dalam kerajaan, terutama yang berkaitan dengan konsolidasi dan peletakan pengawasan terhadap wilayah-wilayah yang dikuasainya.

Puncak kejayaan kerajaan Aceh

Setelah Sultan Iskandar Muda naik takhta, kesultanan Aceh mengalami perkembangan pesat hingga mencapai puncak kejayaannya. Di bawah pemerintahan Sultan Iskandar Muda, kerajaan Aceh tumbuh menjadi kerajaan besar dan berkuasa atas perdagangan, bahkan menjadi bandar transit yang menghubungkan dengan pedagang Islam di Barat. Sultan Iskandar Muda juga meneruskan perjuangan Aceh dengan menyerang Portugis dan kerajaan Johor di Semenanjung Malaya supaya bisa menguasai jalur perdagangan di Selat Malaka dan menguasai daerah-daerah penghasil lada. Di samping itu, kerajaan Aceh memiliki kekuasaan yang sangat luas, meliputi daerah Aru, Pahang, Kedah, Perlak, dan Indragiri.

Masa keruntuhan kerajaan Aceh

Pada 1641, atau sepeninggal Sultan Iskandar Thani, kerajaan Aceh mengalami kemunduran. Faktor kejatuhan kerajaan Aceh paling utama adalah adanya perebutan kekuasaan di antara para pewaris takhta. Selain itu, kekuasaan Belanda di Pulau Sumatera dan Selat Malaka semakin menguat. Pada masa pemerintahan raja terakhir kerajaan Aceh, Sultan Alaidin Muhammad Daud Syah (1884-1903), Belanda terus melancarkan perang terhadap Aceh.

Perang Aceh–Belanda atau disingkat Perang Aceh

Perang Aceh–Belanda atau disingkat Perang Aceh adalah perang kesultanan Aceh melawan Belanda dimulai pada 1873 hingga 1904. Kesultanan Aceh menyerah pada januari 1904, tapi perlawanan rakyat Aceh dengan perang gerilya terus berlanjut.

Pada Januari tahun 1903 Sultan Muhammad Daud Syah akhirnya menyerahkan diri kepada Belanda setelah dua istrinya, anak serta ibundanya terlebih dahulu ditangkap oleh Belanda. Panglima Polem Muhammad Daud, Tuanku Raja Keumala, dan Tuanku Mahmud menyusul pada tahun yang sama pada bulan September.

Luas Kesultanan Aceh pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda, 1608-1637.


3) Perang Aceh – Belanda, 1873 – 1903

Perang Aceh–Belanda atau disingkat Perang Aceh adalah perang Kesultanan Aceh melawan Belanda dimulai pada 1873 hingga 1904. Kesultanan Aceh menyerah pada januari 1904, tapi perlawanan rakyat Aceh dengan perang gerilya terus berlanjut.
Perang Aceh pertama (1873-1874) dipimpin oleh Panglima Polim dan Sultan Mahmud Syah melawan Belanda yang dipimpin Köhler. Köhler dengan 3000 serdadunya dapat dipatahkan, di mana Köhler sendiri tewas pada tanggal 14 April 1873.
Perang Aceh kedua (1874-1880). Pasukan Belanda dipimpin oleh Jenderal Jan van Swieten. Belanda berhasil menduduki Keraton Sultan, 26 Januari 1874, dan dijadikan sebagai pusat pertahanan Belanda.
Perang ketiga (1881-1896), perang dilanjutkan secara gerilya dan dikobarkan perang fi sabilillah. Di mana sistem perang gerilya ini dilangsungkan sampai tahun 1903. Dalam perang gerilya ini pasukan Aceh di bawah Teuku Umar bersama Panglima Polim dan Sultan. Pada tahun 1899 ketika terjadi serangan mendadak dari pihak Van der Dussen di Meulaboh, Teuku Umar gugur. Tetapi Cut Nyak Dhien istri Teuku Umar kemudian tampil menjadi komandan perang gerilya.
Perang keempat (1896-1910) adalah perang gerilya kelompok dan perorangan dengan perlawanan, penyerbuan, penghadangan dan pembunuhan tanpa komando dari pusat pemerintahan Kesultanan.

Pada Januari tahun 1903 Sultan Muhammad Daud Syah akhirnya menyerahkan diri kepada Belanda.

Sejarah lengkap: Wiki

Jenderal Van Heutz memimpin perang Aceh


4) Sultan Iskandar Muda, memerintah 1607-1636

Sultan Iskandar Muda (Aceh, Banda Aceh, 1593 atau 1590 – Banda Aceh, Aceh, 27 September 1636) merupakan sultan yang paling besar dalam masa Kesultanan Aceh, yang berkuasa dari tahun 1607 sampai 1636. Aceh mencapai kejayaannya pada masa kepemimpinan Iskandar Muda, di mana daerah kekuasaannya yang semakin besar dan reputasi internasional sebagai pusat dari perdagangan dan pembelajaran tentang Islam. Namanya kini diabadikan di Bandar Udara Internasional Sultan Iskandar Muda di Aceh.

Masa kekuasaan Sultan Iskandar Muda yang dimulai pada tahun 1607 sampai 1636, merupakan masa paling gemilang bagi Kesultanan Aceh, walaupun di sisi lain kontrol ketat yang dilakukan oleh Iskandar Muda, menyebabkan banyak pemberontakan di kemudian hari setelah mangkatnya Sultan.

Aceh merupakan negeri yang amat kaya dan makmur pada masa kejayaannya. Menurut seorang penjelajah asal Perancis yang tiba pada masa kejayaan Aceh pada zaman Sultan Iskandar Muda Meukuta Perkasa Alam, kekuasaan Aceh mencapai pesisir barat Minangkabau. Kekuasaan Aceh pula meliputi hingga Perak.

Ketika Iskandar Muda mulai berkuasa pada tahun 1607, ia segera melakukan ekspedisi angkatan laut yang menyebabkan ia mendapatkan kontrol yang efektif di daerah barat laut Indonesia. Kendali kerajaan terlaksana dengan lancar di semua pelabuhan penting di pantai barat Sumatra dan di pantai timur, sampai ke Asahan di selatan. Pelayaran penaklukannya dilancarkan sampai jauh ke Penang, di pantai timur Semenanjung Melayu, dan pedagang asing dipaksa untuk tunduk kepadanya. Kerajaannya kaya raya, dan menjadi pusat ilmu pengetahuan.
Sumber dan lengkap: https://id.wikipedia.org/wiki/Iskandar_Muda_dari_Aceh


5) Struktur pemerintahan kesultanan Aceh

Untuk struktur pemerintahan kesultanan Aceh, klik di sini


6) Sistem pemerintahan lokal Aceh

Untuk sistem pemerintahan lokal, klik di sini


7) Daftar raja

* 1511-1530: Sultan Alaidin Ali Mughayat syah
* 1530-1539: Sultan Salahuddin
* 1539-1571: Sultan Alaidin Riayat Syah II, terkenal dengan nama AL Qahhar
* 1571-1579: Sultan Husain Alaidin Riayat Syah III
* 1579: Sultan muda bin Husain Syah, usia 7 bulan, menjadi raja selama 28 hari
.
* 1579: Sultan Mughal Seri Alam Pariaman Syah, selama 20 hari
* 1579-1580: Sultan Zainal Abidin
* 1581-1587: Sultan Aialidin Mansyur Syah
* 1587-1589: Sultan Mugyat Bujang
* 1589-1604: Sultan Alaidin Riayat Syah IV
.
* 1604-1607: Sultan muda Ali Riayat Syah V
* 1607-1636: Sultan Iskandar muda Dharma Wangsa Perkasa Alam Syah
* 1636-1641: Sultan Mughayat Syah Iskandar Sani
* 1641-1671: Sultanah Sri Ratu Tajul Alam Safiatuddin Johan berdaulat
* 1675-1678: Sultanah Sri Ratu Nurul Alam Naqiatuddin (anak angkat safiatuddin)
.
* 1678-1688: Sultanah Sri Ratu Zakiatuddin Inayat Syah (putri dari naqiatuddin)
* 1688-1699: Sultanah Sri Ratu Kemalat Syah (anak angkat safiatuddin)
* 1699-1702: Sultan Badrul Alam Syarif Hasyim Jamalul Lail
* 1702-1703: Sultan Perkasa Alam Syarif Lamtoi bin Syarif Ibrahim
* 1703-1726: Sultan Jamalul Alam Badrul Munir bin Syarif Hasyim
.
* 1729: Sultan Jauharul Alam Imaduddin
* ……..: Sultan Syamsul Alam Wandi Teubeueng
* 1727-1735: Sultan Alaidin Maharaja Lila Ahmad Syah
* 1735-1760: Sultan Alaidin Johan Syah
* 1760-1781: Sultan Alaidin Mahmud Syah
.
* 1781-1795: Sultan Alaidin Muhammad Syah
* 1795-1823: Sultan Husain Alaidin Jauharul Alamsyah
* 1823-1836: Sultan Alaidin Muhammad Daud Syah
* 1836-1870: Sultan Sulaiman Ali Alaidin Iskandar Syah
* 1870-1874: Sultan Alaidin Mahmud Syah
* 1884-1903: Sultan Alaidin Muhammad Daud Syah, 1884 -1903.

Sultan Alaiddin Muhammad Daud Syah adalah sultan terakhir dari kerajaan Aceh Darussalam, beliau berjuang dan bergerilya selama 29 tahun dan beliau tidak pernah menyerahkan kedaulatan negaranya kepada pihak
belanda.
– Sumber / Source: link

1589 – 1604: Sultan alaidin Ali Riayat Syah Said Al-Mukammal bin Sultan Firman Syah


8) Kisah Tuanku Raja Daud

Tuanku Raja Daud adalah adik kandung Sultanah Teungku Putroe Safiatuddin Cahya Nur Alam binti Tuanku Raja Ibrahim bin Sultan Muhammad Daoed (Daud) Syah. Safiatuddin Cahya Nur Alam sudah berpulang ke rahmatullah pada usia 84 tahun di Mataram, Nusa Tenggara Barat, dan dimakamkan di Kompleks Baperis, satu kompleks dengan makam Sultan Iskandar Muda, di Banda Aceh, 21 Ramadhan 1439 H/6 Juni 2018, malam.
– Laporan lengkap: link


9) Sumber / Source

– Sejarah kesultanan Aceh di Wiki: link
Sejarah kesultanan Aceh di Melayuonline: link
– Sejarah kesultanan Aceh: http://www.sejarahnusantara.com/kerajaan-islam/sejarah-masa-keemasan-kesultanan-aceh-darussalam-1496%E2%80%931903-10036.htm
Daftar raja kesultanan Aceh:  http://acehline.coolbb.net/t299-silsilah-raja-raja-kerajaan-aceh-darussalam
– Peninggalan kesultanan Aceh: http://kisahasalusul.blogspot.com/2015/12/6-peninggalan-kerajaan-aceh-keterangan.html
Sumber Perang Aceh: Wiki
Teuku Umar: link
Daftar raja Aceh: link
Sultan (Gadungan) Aceh terlihat di bumi Sulawesi (sept. 2012): link


* Foto Kesultanan Aceh Darussalem: link

Raja Kesultanan Aceh Darussalam, PSB DYmm Tuanku Muhammad. Sept. 2012

Raja Kesultanan Aceh Darussalam, PSB DYmm Tuanku Muhammad

———————-
Raja Kesultanan Aceh Darussalam, PSB DYmm Tuanku Muhammad. March 2014.

Raja Kesultanan Aceh Darussalam, PSB DYmm Tuanku Muhammad


Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: