Barus, kesultanan (dinasti Pardosi) / Prov. Sumatera Utara – kab. Tapanuli Tengah

Kesultanan Barus (dinasti Pardosi): abad ke-14 sampai abad ke 19. Ada kesultanan Dinasti Pardosi di Tanah Batak, Barus Hulu. Terletak di Sumatera, Kecamatan Barus, Kab. Tapanuli Tengah, prov. Sumatera Utara.
Kerajaan ini merupakan kerajaan Islam. Dalam menjalankan roda pemerintahannya, Kesultanan Barus lebih bersifat demokratis seperti halnya nagari-nagari di Minangkabau, dengan “balai” sebagai tempat permusyawaratan dan mufakat. Setiap masyarakat berperan dalam pengambilan keputusan di kerajaan. Kesultanan ini didirikan oleh Sultan Ibrahimsyah dan berakhir pada saat pendudukan Hindia Belanda pada abad ke-19.

The Sultanate of Barus: 14th century – 19th century. Located in Barus, Tapanuli Tengah, North Sumatera. This kingdom was a kingdom of the Batak people.
For english, click here

Lokasi Barus, Kab. Tapanuli Tengah


* Foto foto situs kuno dan suku-suku di Sumatera dan Sumatera dulu: link


Dari kerajaan Fansur ke kesultanan Barus

Ada banyak buku yang menceritakan kedatangan orang-orang Minangkabau ke kerajaan Fansur. Diantaranya yang cukup populer adalah karya Jane Drakard, A Malay Frontier : Unity and Duality in a Sumatran Kingdom. Dalam buku tersebut diceritakan bahwa masyarakat Minangkabau yang datang ke Fansur berasal dari Tarusan, Pesisir Selatan.
Mengutip Sejarah Tuanku Batu Badan, sekelompok orang pimpinan Ibrahimsyah bin Tuanku Sultan Muhammadsyah dari Kesultanan Indrapura, telah pergi merantau ke utara dan kemudian mendirikan kesultanan baru di atas reruntuhan Kerajaan Fansur. Kesultanan ini kemudian diberi nama mengikuti kampung kecil mereka di Tarusan: kerajaan Barus.
– Sumber: https://afandriadya.com/2018/11/27/seribu-tahun-pesisir-barat-sumatera/


Sejarah / History kesultanan Barus

Kesultanan Barus bermula dari berpindahnya anggota keluarga Kesultanan Indrapura ke Tarusan, Pesisir Selatan. Dari sini kemudian mereka pergi ke utara hingga tiba di Barus.
Menurut kronik itu, Kesultanan Barus didirikan oleh Sultan Ibrahimsyah bin Tuanku Sultan Muhammadsyah dari Tarusan, Pesisir Selatan, tanah Minangkabau.
Di Silindung, Ibrahim juga membentuk institusi empat penghulu seperti halnya di Minangkabau. Penghulu ini berfungsi sebagai wakilnya di Silindung. Selanjutnya ia menuju Bakara dan menikah dengan putri pimpinan setempat. Dari putri Batak itulah, Sultan Ibrahim memiliki putra yang bernama Sisingamangaraja.

Kabupaten Tapanuli Tengah ini merupakan salah satu pintu masuk pertama sekali Islam masuk ke nusantara. Dan, selamat datang di salah satu situs sejarah tertua Indonesia, Makam Mahligai. Salah satu kompleks makam besar yang ada di Barus.

Setelah itu ia melanjutkan perjalanannya ke Pasaribu. Disana masyarakat setempat menanyakan dari mana asalnya dan bertujuan untuk apa datang kesana. Untuk menyenangkan hati raja, Ibrahim menjawab bahwa ia datang dari Bakara dan bermarga Pasaribu. Mendengar kesamaan marganya dengan Ibrahim, Raja Pasaribu sangatlah senang. Ia kemudian meminta Ibrahim untuk tinggal di Pasaribu. Namun Ibrahim merasa bahwa tempat ini tidaklah cocok untuknya. Maka bersama raja dari Empat Pusaran (empat suku) ia pergi hingga tiba di tepi laut. Tempat ini kemudian dinamainya Barus, serupa dengan nama kampung kecilnya di Tarusan, Pesisir Selatan. Disini ia diangkat sebagai raja dengan gelar Tuanku Sultan Ibrahimsyah.

Pada abad ke-14, Kesultanan Barus merupakan salah satu pelabuhan Kerajaan Pagaruyung, bersama Tiku dan Pariaman, yang menjadi tempat keluar masuk perdagangan di Pulau Sumatra.
Tahun 1524, Barus jatuh di bawah kekuasaan Kesultanan Aceh. Posisi kesultanan ini kemudian menjadi vassal Aceh hingga tahun 1668. Selama pendudukan Aceh banyak penduduk Barus yang sebelumnya penyembah berhala menjadi muslim.

Kabupaten Tapanuli Tengah ini merupakan salah satu pintu masuk pertama sekali Islam masuk ke nusantara. Dan, selamat datang di salah satu situs sejarah tertua Indonesia, Makam Mahligai. Salah satu kompleks makam besar yang ada di Barus.

Dalam perkembangannya Kesultanan Barus dipimpin oleh dua orang raja, yakni Raja di Hulu yang memimpin masyarakat Toba-Silindung (pedalaman) dan Raja di Hilir yang membawahi orang-orang Minangkabau (pesisir) yang bermukim dari Barus hingga Batahan. Pembentukan dua raja ini bertujuan untuk memberikan keuntungan terhadap dominasi Aceh di Barus, sekaligus melegitimasi kedudukan raja-raja Batak.
Sejak kehadiran VOC pada tahun 1668, kedua raja ini memiliki sikap yang berbeda. Raja di Hulu menolak kehadiran VOC dan mengangkat setia kepada sultan Aceh, sedangkan Raja di Hilir menerimanya dan menentang monopoli Aceh di Barus.
Pada abad ke-19, Barus berada di bawah kekuasaan Hindia Belanda dan menjadi bagian propinsi Sumatra’s Weskust yang berpusat di Padang.

– Sumber: Wiki
– Sumber: http://budaya-info.blogspot.co.id/2013/01/sejarah-batak-dan-kerajaan-yang-pernah.html


Daftar Raja / list of kings

* Raja Kesaktian (di Toba)
* Alang Pardosi pindah ke Rambe dan mendirikan istana di Gotting, Tukka
* Pucaro Duan Pardosi di Tukka
* Guru Marsakot Pardosi di Lobu Tua
* Raja Tutung Pardosi di Tukka
* Tuan Namora Raja Pardosi

Ada gap yang lama, raja-raja difase ini tidak terdokumentasi.
During a long period there is no documentation about the kings.

* Raja Tua Pardosi
* Raja Kadir Pardosi (Pertama masuk Islam)
* Raja Mualif Pardosi
* Sultan Marah Pangsu Pardosi (700-an Hijriyah)
* Sultan Marah Sifat Pardosi
* 1644: Tuanku Maraja Bongsu Pardosi
* Tuanku Raja Kecil Pardosi
.
* Sultan Daeng Pardosi
* Sultan Marah Tulang Pardosi
* Sultan Munawar Syah Pardosi
* 1765: Sultan Marah Pangkat Pardosi
* 1798: Sultan Baginda Raja Adil Pardosi
* 1825: Sultan Sailan Pardosi
* Sultan Limba Tua Pardosi
* Sultan Ma’in Intan Pardosi
* Sultan Agama yang bernama Sultan Subum Pardosi
* 1853: Sultan Marah Tulang yang bernama Sultan Nangu Pardosi

Pada abad ke-6 otoritas baru di Barus oleh Sultan Ibrahimsyah membentuk Duliasme kepemimpinan di Barus.

* Sultan Ibrahimsyah
* Sultan Abidinsyah Pasaribu
* Sultan Buchari Muslim Pasaribu

– Sumber: https://jendelawaktu.wordpress.com/2010/08/15/kerajaan-barus/

Makam Syeikh Mahmud Fil Hadralmaut Yaman (Foto: Herman Abdullah/Melayupedia)


Peta-peta kuno Sumatera

Untuk peta kuno Sumatera (1565, 1588, 1598, 1601, 1616, 1620, 1707, 1725, 1760), klik di sini

Sumatera, tahun 1707


Sumber / Source

– Sejarah kesultanan Barus: Wiki
Sejarah kesultanan Barus:  http://www.bimbie.com/sejarah-kesultanan-barus.htm
Sejarah kesultanan Barus (dan daftar raja):  https://jendelawaktu.wordpress.com/2010/08/15/kerajaan-barus/
– Sejarah kesultanan Barus: http://budaya-info.blogspot.co.id/2013/01/sejarah-batak-dan-kerajaan-yang-pernah.html
– Sejarah Kota Barus: http://daerah.sindonews.com/read/886559/29/barus-kota-eksotik-penuh-sejarah-dan-misteri-1406317770
– Daftar raja kesultanan Barus: http://togadebataraja.blogspot.com/2011/06/dinasti-pardosi-pohan.html

– Kerajaan Fansur: https://sultansinindonesieblog.wordpress.com/sumatera/fansur-kerajaan-sum-barat/


 

Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s