Barus, kesultanan (dinasti Pardosi) / Sumatera – Sum. Utara, Kab. Tapanuli Tengah

Kesultanan Barus (dinasti Pardosi): abad ke-14 sampai abad ke 19. Ada kesultanan Dinasti Pardosi di Tanah Batak, Barus Hulu. Terletak di Sumatera, Kecamatan Barus, Kab. Tapanuli Tengah, prov. Sumatera Utara.

The Sultanate of Barus: 14th century – 19th century. Located in Barus, Tapanuli Tengah, North Sumatera. This kingdom was a kingdom of the Batak people.

Klik foto untuk besar !

barus

Lokasi Barus, Kab. Tapanuli Tengah

Provinsi sumatera Utara (hijau)

Provinsi Sumatera Utara (hijau)


* Foto foto situs kuno dan suku-suku di Sumatera dan Sumatera dulu: link


Dinasti Batak

Dalam peradaban Batak yang telah eksis dan terstruktur sejak ribuan tahun sebelum kelahiran Yesus Alaihissalam, terdapat beberapa dinasti yang turut serta dalam memperkaya khazanah sejarah bangsa Batak.
Berikut adalah dinasti-dinasti tersebut yang membangun peradaban Batak:
* Dinasti Sorimangaraja (Sagala),
* Dinasti Pasaribu (Hatorusan),
* Dinasti Pardosi,
* Dinasti Sisingamangaraja (Sinambela)


Sejarah / History kesultanan Barus

Barus atau yang sebelumnya dikenal dengan Fansur, merupakan salah satu pelabuhan tua yang sudah berdagang emas serta kamper sejak ribuan tahun lalu.
Kesultanan Barus bermula dari berpindahnya anggota keluarga Kesultanan Indrapura ke Tarusan, Pesisir Selatan. Dari sini kemudian mereka pergi ke utara hingga tiba di Barus.

Menurut kronik itu, Kesultanan Barus didirikan oleh Sultan Ibrahimsyah bin Tuanku Sultan Muhammadsyah dari Tarusan, Pesisir Selatan, tanah Minangkabau. Kepergian Sultan Ibrahimsyah (Ibrahim) ke Barus setelah ia berseteru dengan keluarganya di Tarusan. Ia pergi menyusuri pantai barat Sumatera hingga tiba di Batang Toru. Dari sini ia terus ke pedalaman menuju Silindung. Di pedalaman, masyarakat Silindung mengangkatnya sebagai raja Toba-Silindung. Selanjutnya ia menuju Bakara dan menikah dengan putri pimpinan setempat. Dari putri Batak itulah, Sultan Ibrahim memiliki putra yang bernama Sisingamangaraja.

Setelah itu ia melanjutkan perjalanannya ke Pasaribu. Disana masyarakat setempat menanyakan dari mana asalnya dan bertujuan untuk apa datang kesana. Untuk menyenangkan hati raja, Ibrahim menjawab bahwa ia datang dari Bakara dan bermarga Pasaribu. Mendengar kesamaan marganya dengan Ibrahim, Raja Pasaribu sangatlah senang. Ia kemudian meminta Ibrahim untuk tinggal di Pasaribu. Namun Ibrahim merasa bahwa tempat ini tidaklah cocok untuknya. Maka bersama raja dari Empat Pusaran (empat suku) ia pergi hingga tiba di tepi laut. Tempat ini kemudian dinamainya Barus, serupa dengan nama kampung kecilnya di Tarusan, Pesisir Selatan. Disini ia diangkat sebagai raja dengan gelar Tuanku Sultan Ibrahimsyah.

Pada abad ke-14, Kesultanan Barus merupakan salah satu pelabuhan Kerajaan Pagaruyung, bersama Tiku dan Pariaman, yang menjadi tempat keluar masuk perdagangan di Pulau Sumatera. Tahun 1524, Barus jatuh di bawah kekuasaan Kesultanan Aceh. Posisi kesultanan ini kemudian menjadi vassal Aceh hingga tahun 1668. Selama pendudukan Aceh banyak penduduk Barus yang sebelumnya penyembah berhala menjadi muslim.

Sehubungan dengan sejarah Barus, maka kawasan Barus juga dikuasai oleh Raja-raja dari dua dinasti, yaitu Barus Hulu dan Barus Hilir. Barus Hulu adalah Dinasti Pardosi yang berasal dari Toba, sedang Barus Hilir adalah Dinasti Hatorusan yang berasal dari Tarusan, Minangkabau, keturunan Raja Pagaruyung, tetapi sejak awal di Barus memakai marga Pasaribu.
Pembentukan dua raja ini bertujuan untuk memberikan keuntungan terhadap dominasi Aceh di Barus, sekaligus melegitimasi kedudukan raja-raja Batak. Sejak kehadiran VOC pada tahun 1668, kedua raja ini memiliki sikap yang berbeda. Raja di Hulu menolak kehadiran VOC dan mengangkat setia kepada sultan Aceh, sedangkan Raja di Hilir menerimanya dan menentang monopoli Aceh di Barus. Pada abad ke-19, Barus berada di bawah kekuasaan Hindia-Belanda dan menjadi bagian propinsi Sumatra’s Weskust yang berpusat di Padang.
.
– Sumber: Wiki
– Sumber: http://budaya-info.blogspot.co.id/2013/01/sejarah-batak-dan-kerajaan-yang-pernah.html

—————————-

In the 6th century, has established a new authority in Barus founded by Sultan Ibrahimsyah coming from Tarusan, Minang, Batak descent from a collection of clans Pasaribu, which eventually formed Dulisme leadership in Barus.
The first king, who became a Muslim, was King Kadir, his children held the title of Sultan.

The Sultanate of Barus was an Islamic kingdom located in Barus, North Sumatra.
In the 14th century, the Sultanate Barus was a port of the Pagaruyung Kingdom, along with Tiku and Pariaman, which became a trading place on the island of Sumatra.
1524, Barus came under the Sultanate of Aceh. The position of the sultanate was a  vassal of Aceh until 1668.
The Sultanate of Barus was ruled by two kings, a king in Hulu, who led the community in Toba-Silindung (inland) and a King in Hilir, for the Minangkabau people, who lived from Barus to Batahan. The formation of these two kings was aimed to provide benefit to the dominance of Aceh in Barus.
Since the presence of the VOC in 1668, the 2 kings had a different attitude towards the Dutch. The king in Hulu rejected the presence of the VOC and was loyal to the sultan of Aceh, while the king in Hilir accepted and was against the monopoly of Aceh in Barus.
In the 19th century, Barus came under the authority of the Dutch East Indies and became part of Sumatra province’s Westkust, which was based in Padang.


Daftar Raja / list of kings

* Raja Kesaktian (di Toba)
* Alang Pardosi pindah ke Rambe dan mendirikan istana di Gotting, Tukka
* Pucaro Duan Pardosi di Tukka
* Guru Marsakot Pardosi di Lobu Tua
* Raja Tutung Pardosi di Tukka
* Tuan Namora Raja Pardosi

Ada gap yang lama, raja-raja difase ini tidak terdokumentasi.
During a long period there is no documentation about the kings.

* Raja Tua Pardosi
* Raja Kadir Pardosi (Pertama masuk Islam)
* Raja Mualif Pardosi
* Sultan Marah Pangsu Pardosi (700-an Hijriyah)
* Sultan Marah Sifat Pardosi
* 1644: Tuanku Maraja Bongsu Pardosi
* Tuanku Raja Kecil Pardosi
.
* Sultan Daeng Pardosi
* Sultan Marah Tulang Pardosi
* Sultan Munawar Syah Pardosi
* 1765: Sultan Marah Pangkat Pardosi
* 1798: Sultan Baginda Raja Adil Pardosi
* 1825: Sultan Sailan Pardosi
* Sultan Limba Tua Pardosi
* Sultan Ma’in Intan Pardosi
* Sultan Agama yang bernama Sultan Subum Pardosi
* 1853: Sultan Marah Tulang yang bernama Sultan Nangu Pardosi

Pada abad ke-6 otoritas baru di Barus oleh Sultan Ibrahimsyah membentuk Duliasme kepemimpinan di Barus.

* Sultan Ibrahimsyah
* Sultan Abidinsyah Pasaribu
* Sultan Buchari Muslim Pasaribu

– Sumber: Wiki


Peta-peta kuno Sumatera

Untuk peta kuno Sumatera (1565, 1588, 1598, 1601, 1616, 1620, 1707, 1725, 1760), klik di sini

Sumatera, tahun 1707


Sumber / Source

– Sejarah kesultanan Barus: Wiki
Sejarah kesultanan Barus:  http://www.bimbie.com/sejarah-kesultanan-barus.htm
Sejarah kesultanan Barus:  https://jendelawaktu.wordpress.com/2010/08/15/kerajaan-barus/
– Sejarah kesultanan Barus: http://budaya-info.blogspot.co.id/2013/01/sejarah-batak-dan-kerajaan-yang-pernah.html
– Sejarah Kota Barus: http://daerah.sindonews.com/read/886559/29/barus-kota-eksotik-penuh-sejarah-dan-misteri-1406317770

– Kerajaan Fansur: https://sultansinindonesieblog.wordpress.com/sumatera/fansur-kerajaan-sum-barat/



Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: