Salomon Manoppo, raja Bolmong yang diasingkan ke Afrika Selatan

Penulis: Iverdixon Tinungki
Di ambil dari:  barta1.com/2019/07/09/salomon-manoppo-raja-bolmong-yang-diasingkan-ke-afrika-selatan


Salomon Manoppo, raja Kerajaan Bolaang Mangondow, berkuasa sejak tahun 1735 hingga 1764. Pada tahun 1747 ia ditangkap Belanda dengan berbagai tuduhan, lalu diasingkan ke Kaap de Goede Hoop atau Tanjung Harapan di Afrika Selatan.

Kerajaan Bolaang Mongondow adalah kerajaan Suku Mangondow, terletak di Sulawesi Utara. Kerajaan ini menurut Situs Direktorat Jendenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, berdiri sejak abad ke-15 (1670) dan berakhir pada tahun 1950.

Sementara data lansiran Situs Kesultanan dan Kerajaan di Indonesia mengungkapkan, Kerajaan tersebut telah ada sejak tahun 1400, didirikan Punu` Mokodoludut, dan dipimpin berturut-turut sebanyak 24 raja hingga masa akhir tahun 1950.

Sebagai salah satu raja yang masyhur dari kerjaan ini, Salomon Manoppo diketahui naik tahta dengan meneken perjanjian pada 15 Januari 1735 menggantikan kakaknya Fransiskus Manoppo.

Seperti ayahnya Raja Jacobus Manoppo dan kakaknya Fransiskus, menurut sejarawan Adrianus Kojongian, sejak naik tahta Salomon menginginkan wilayah lama yang sempat dikuasai kakeknya Raja Loloda Mokoagow yakni Manado dan Minahasa. Keinginannya itu dilarang pihak Belanda.

Kendati dilarang, ungkap Kojongian dalam artikelnya yang berjudul “Raja-raja di Sulawesi Utara Yang Diasingkan Belanda”, Salomon Manoppo tetap meniru kakaknya Fransiskus dan pamannya Salomon Maccalalaq, menerima aliran pelarian orang Minahasa ke Bolaang yang kembali membanjir di tahun 1738.

Di lain sisi, Kompeni Belanda makin tidak menyukai dia karena masalah Mattheus Cacaboel yang terlibat pembunuhan dan pajak seperti tercatat dalam surat resmi Gubernur Jenderal Gustaaf Willem Baron van Imhoff, 31 Desember 1743.

Disebut Kojongian, pada 1747 Salomon Manoppo ditangkap Belanda dengan tuduhan merusak tanda-tanda perbatasan dengan Minahasa.

Namun, dalam surat resmi Gubernur Jenderal van Imhoff 31 Desember 1747 dinyatakan ia ditangkap sehubungan dengan konflik antara kerajaannya dengan kerajaan tetangga Bolaang Itang di perbatasan Biontong yang dimiliki Bolaang Itang.

Mengutip sumber-sumber tertulis Eropa, Kojongian menyebutkan, Raja Salomon Manoppo dari Ternate dikirim ke Batavia dan diputus diasingkan ke Cabo de Goede atau Kaap de Goede Hoop (Tanjung Harapan), koloni Belanda di Afrika Selatan.

Namun, sejak masa pengasingan raja Salomon Manoppo, di kerajaannya terjadi perlawanan rakyat yang dipimpin Sadaha bernama Janbat, menuntut pemulangan rajanya.

Upaya Belanda untuk mengangkat raja pengganti gagal, apalagi ungkap Kojongian, Rijksgrooten yang ditunjuk menjalankan pemerintahan yang memang terkenal antiraja dan diduga telah membuat laporan-laporan mendiskreditkannya, yakni Jogugu Simon Damapolii, Pangeran Marcus Boelansa dan Pangeran Hendrik Manoppo tidak mampu mengembalikan ketenteraman.

Akhir tahun 1754 Raja Salomon Manoppo dikembalikan dari Tanjung Harapan ke Batavia, kemudian ke Ternate dan dilantik ulang sebagai raja. Meski berjanji tidak akan membalas dendam, ketiga orang penentangnya kemudian dibawa ke Manado.

Raja Salomon Manoppo meneken kontrak baru 15 Maret 1756, dimana untuk pertamakalinya nama Bolaang-Mongondow dipakai secara resmi. Batas-batas Bolmong dengan Minahasa dipertegas di Poigar dan Buyat.

Raja Salomon Manoppo mangkat 30 Agustus 1764, digantikan anaknya Eugenius Manoppo.