Sejarah lengkap kerajaan Mataram Lombok

Diambil dari: http://gdefik.blogspot.co.id/2012/10/kedatuan-di-gumi-sasak-1.html


KERAJAAN MATARAM.

  • Berdirinya Mataram

Kekalahan Singasari telah mengangkat derajat kerajaan Mataram. Orang-orang yang membantu Mataram diberi hak otonom serta diangkat menjadi pejabat, seperti Gusti Wanasari,Gusti Gde Wanasara, Sang Wahayan Lebah yang diangkatmenjadi Punggawa dan.SangBonaha yang diangkat menjadi Patih.Pada tahun 1839 M Sang Bonaha dipengaruhi oleh Lange sehingga berbalik melawan Mataram. Sementara untuk membunuh sang Bonaha sangatlahsulit karena ia konon sakti mandraguna. Namun raja tidak kehilangan akal, ia mengancam bangsawan Batujai dan akan diturunkan kastanya jika dalam waktu3  bulan tidak mampu membunuh Sang Bonaha. Sehari sebelum ancaman berakhir Mamiq Salim berhasil membunuh Sang Bonahayang A. A. Ketut Karangasem dikatakan sakti mandraguna. Dari kalangan orang Sasak, Dene’ Batu Laki dan Dene’ Laki Galiran dari Kuripan diberikan hak otonomi di bagian sebelah timur sungai Babak dan sungai Belimbing. Begitupula Kopang, Mantang,Rarang, Praya diberi hak otonomi tanpa membayar pajak keMataram

  • Berkembangnya Mataram

Kerajaan Mataram sebagai penguasa tunggal di pulau Lombok berturut-turut diperintah oleh tiga raja. Raja yang pertama Anak Agung Ketut Karangasem IV (1838-1850), yang mengkonsolidasikan Mataram sebagai kerajaan tunggal yang bercorak sentralistik dan represif. Raja kedua adalah Anak Agung Made Karangasem (1850-1872), di bawah raja inilah dilakukan renovasi atas Taman Kelepug menjadi Taman Mayura. Dibangun pula Pura Meru, Tamaiq Suranadi, Lingsar, dan dirintisnya pembangunan Taman Narmada yang diberi ukir kawi dan selesai tahun 1866. Kemudian Cakranegara (negara yang sudah bulat bersatu) ditata sebagai pusat pemerintahan. Raja terakhir yang paling bungsu adalah Anak Agung Gede Ngurah Karangasem (1872-1894M), yang dinobatkan sebagai raja dalam usia 70 tahun lebih. Raja Mataram mengawini Dende Aminah dan namanya diganti manjadi Dende Nawangsasih (Nawang artinya tahu, Sasihartinya bulan). Perkawinan tersebut konon berdasarkan petunjuk gaib. Dende Aminah alias Dende Nawangsasih terkenal sangat taat menjalankan agamanya, dia sangat berpengaruh kepada suaminya, sehingga diizinkan untuk mendirikan sebuah masjid yang dibangun dekat Taman Mayura. Dia diperkenankan juga mendatangkan seorang guru agama. Gurunya bernama Guru Baok alias Haji Moh. Yasin dari Kelayu. Dende Aminah memiliki penasehat spiritual dari Arab bernama Sayid Abdullah. Dari perkawinan dengan raja Mataram ini kemudian lahir seorang anak bernama Gapul atau Imam Sumantri yang terkenal sebagai Datu Pangeran. Kerajaan Mataram mencapai puncak kejayaannya, karena dengan mudahnya memerintah orang Sasak untuk ngayah membangun berbagai tempat peribadatan tetapi banyak pula perkanggo Sasak menjadi kaya raya. Pada saat ini, Mataram mengubah nama Singasari menjadi Cakranegara (negara yang bulat). Orang Islam bebas beribadah bahkan di Ampenan dibangun sebuah masjid. Selain itu, didatangkan pula guru qur’an dan hadits. Mataram menjadi penguasa seluruh Lombok, termasuk mempersatukan kerajaan-kerajaan yang dulu dibagi-bagikan, yaitu, kerajaan Pagesangan, Pagutan dan Kediri. Kemudian keraton baru dibangun di tempat bekas keraton kerajaan Singasari, dan dinamakan Puri Ukir Kawi yang dihuni oleh A.A. Gde Ngurah Karang Asem dibantu oleh seorang anaknya yaitu A.A. Made Karangasem, sedang Puri Mataram dihuni oleh anaknya yang lain yaitu A.A. Ketut Karangasem, sang putera mahkota calon pengganti ayahnya.

  • Sistem Pemerintahan Kerajaan Mataram

Pada awalnya, susunan pemerintahan Mataram adalah sebagai berikut: Berbagai ketentuan yang berlaku:

  • Punggawa atau perkanggo diangkat dan diberhentikan oleh raja, berdasarkan keturunan disamping kecerdasan dan keberaniannya.
  • Pemekel dan keliang diangkat perkanggo oleh penggawa, berdasarkan keturunan dan wibawa di dalam masyarakat dan atasnasihat pemuka masyarakat.
  • Penghasilan perkanggo atau penggawa berasal dari pemberianizin tanah yang tidak terbatas kepada rakyat yang dikerjakansecara gotong royong atau sebagai penggarap.
  • Bagi perbengkel dan keliang mempunyai tanah pecatu, yangdapat dibedakan atas pecatu pusaka dan pecatu mider.
  • Soal perselisihan antara wilayah masing-masing punggawa,perkanggo, perbekel, dan keliang, diberikan wewenang untuk menyelesaikannya sendiri. Jika tidak dapat diselesaikan sendirimaka harus diajukan ke struktur yang lebih tinggi.
  • Perkanggo dan punggawa diberikan wewenang untuk mengatur dan menyelenggarakan pemerintahan pada wilayah masing-masing.
  • Perkanggo juga diberikan wewenang dan diwajibkan untuk mengumpulkan upeti/ membayar pajak bentuk natura. Rakyatyang diwajibkan membayar upeti hanyalah golongan yangmemiliki tanah. Untuk pekerjaan pembuatan, perbaikan ataupun pemeliharaan jalan, rakyat Sasak jugalah yang diwajibkan melakukan ngayah. Ngayah adalah sejenis kerja rodi. Rakyat disuruh membangun berbagai tempat ibadah, jalan¬jalan, jembatan, rumah-rumah para raja maupun orang Bali. Selain itu juga sering kali diikutkan berperang membela/membantukerajaan bila diperlukan.
    • Perang Mataram-Pagutan

Salah seorang putra raja Mataram yang sudah dewasa dilamarkan seorang putri bernama Ayu Bulan dari Pagutan. Akantetapi lamaran tersebut ditolak oleh pihak Pagutan. Keberanian Pagutan menolak lamaran tersebut karena dijanjikan bantuan oleh Kuripan. Apabila terjadi peperangan melawan Mataram, pihak kuripan bersedia membantu Pagutan. Kerajaan Mataram merasa dilecehkan oleh peristiwa tersebut, akhirnya peperangan pun tak dapat dihindari. Pada tahun 1839, Raja Pagutan, Gusti Ketut Putradengan beberapa orang keluarganya tewas. Hingga perang usai, bantuan dari Raja Kuripan Dene’ Laki Batu tidak kunjung datang.

  • Penghancuran Kekuasaan Sasak

Peristiwa peperangan tersebut sangat disesalkan oleh Mataram. Semua itu terjadi karena ulah Kuripan. Akhirnya Mataram mencabut hak otonomi yang diberikan kepada seluruhdesa-desa termasuk Kuripan,Praya, Kopang, Mantang, Rarang dan lain-lainnya. Mataram beranggapan bahwa pemberian otonomi itu pada akhirnya akan menimbulkan malapetaka bagi pemerintahan Mataram. Mataram menjadi sangat hati-hati karena ia menyadari betul apabila kekuatan Sasak bersatu di bawah kekuatan Islam maka bisa menimbulkan malapetaka bagi Mataram. Kemudian Mataram melakukan upaya adu-domba. Peperangan Kuripan Siasat tersebut kemudian mulai dijalankan. Satu persatu kerajaan Sasak ditaklukan. Pertama diawali dari Kuripan. Kuripan diundang oleh Mataram akan tetapi Dene’ Laki Batu dan Dene’ Batu Galiran membawa para patih dan punggawa. Dalam pertemuan tersebut pihak Mataram menyerahkan wilayah sebelah timur sungai Belimbing menjadi bagian dari kekuasaan Kuripan, sedangkan wilayah sebelah barat sungai itu akan dikurangi. Kuripan minta waktu untuk berpikir. Setelah pulang mereka sepakat untuk menolak permintaan tersebut. Pada undangan yang kedua Dene’ Laki Batu dan Dene’ Laki Galiran dapat dibunuh pada tahun 1840 M. Wilayah Kuripan diperintah langsung oleh kedua putri Dene’ Laki Batu, masing-masing Dende Rada dan Dende Sumekar yang selanjutnya dibawa ke Mataram, sedangkan anak laki-laki Dene’ Laki Batumeng hilang.

  • Perang Praya I

Penaklukan selanjutnya diarahkan ke Praya yang dipimpinoleh Raden Wiracandra. Berkali-kali Raden Wiracandra ke Mataram, tetapi setiap kedatangannya selalu membawa pengiring yang sangat banyak dan bersenjata lengkap. Praya sudah menyadari bahwa malapetaka bagi dirinya hanya menunggu giliran saja. Praya sudah tidak tahan lagi memelihara persahabatan dengan Mataram. Beberapa hal yang menjadi sebab perang Praya I ini antaralain: a.Kerajaan Mataram merobek-merobek (melanggar) perjanjian antara Arya Banjar Getas dengan I Gusti Ketut Karangasem.
b.Daerah kekuasaan Banjar Getas sejak lama telah digerogotisedikit demi sedikit dengan mendirikan desa-desa otonom dibawah perintah langsung dari Mataram.
c.Dalam usahanya untuk menguasai seluruh Lombok, Kerajaan Mataram selalu menjalankan politik adu domba antara para pemimpin Sasak.
d. Raden Wiracandra difitnah akan menyerang Mataram. Usaha terakhir Mataram untuk menaklukkan Praya secara halus, adalah dengan melamar putri Raden Wiracandra yang ditolak oleh Praya. Maka untuk menyerang Praya, raja Mataram menghasut desa-desa tetangganya untuk memusuhi Praya. Akibat hasutan Mataram itu, seolah-olah Kopang dan Batukliang itu menjadi musuh utama bagi Praya, maka Praya menyerang Batukliang dan Kopang. Kedua desa itu mendapat bantuan dari Mataram di bawah pimpinan Ratu Gde Wanasara yang didampingi oleh I Made Rai dan Gusti Made Kaler. Untuk menghindari korban yang lebih banyak, terutama anak-anak dan wanita, maka raja Mataram memerintahkan supaya Praya ditunggu di perbatasan Praya dan Batukliang. Wilayah Praya dikepung oleh pasukan Batukliang, Kopang dan Mataram serta diperkuat pasukandari Batujai, Suradadi, Penujak, Jonggat Puyung, Rarang, dan Sakra.
Hampir setengah tahun lamanya terjadi perang tiada berkesudahan,sehingga menimbulkan bencana kelaparan. Beberapa orang pasukan yang keluar untuk mencari makanan dibunuh oleh para musuh. Halitu menyebabkan Raden Wiracandra dan pembantunya gelisah. Mereka bertekad untuk perang fisabilillah. Pada peperangan tersebut, Raden Wiracandra tewas. Pasukan rakyat yang fanatik, dibawah pimpinan Haji Umar menjalani perang fisabilillah. Semuanya gugur di medan perang. Raden Tunggul, putra dari Raden Wiracandra dapat meloloskan diri dan pergi ke Bugis. Para putri- putri Raden Wiracandra dan tawanan yang lain dan sebagian lagi dibuang ke Bali dan Tanjung (Lombok Utara), beberapa dari mereka ada pula yang dibunuh. Sejak itu Praya berada di bawah kekuasaan Anak Agung Gde Ngurah, raja Karangasem. Sedangkan di Praya diangkat seorang pimpinan dari keturunan Banjar Getas bernama Mamiq Sapian. Hancurnya kerajaan Praya menambah martabat Kopang dan Batukliang. Hal ini tidak menyenangkan raja Mataram. Politik pecah-belah terus dijalankan. Beberapa tahun setelah perang Praya pertama, Jero Wirasari pimpinan Kopang, dipanggil ke Mataram. Ketika Jero Wirasari berangkat bersama para pengiringnya, iadidakwa dan difitnah akan memberontak ke Mataram. Raja memerintahkannya untuk ke Pemenang (Lombok Utara) dan tanpa disadari kemudian dikeroyok dan dibunuh oleh pasukan Mataram di bawah pimpinan Gusti Ketut Ning. Jenazahnya dimakamkan oleh para pengiringnya di Pemenang. Sejak saat itu Kopang mengalami kemunduran. Rencana Raja Mataram untuk menguasai desa demi desasemakin menjadi jadi, sehingga ia tidak lagi membedakan kawanatau lawan, yang penting tujuannya tercapai dengan mudah dancepat. Satu-persatu sekutunya dihancurkan. Hal ini sangat menggelisahkan para pemimpin Sasak. Mereka tidak dapat bersatuakibat politik Mataram yang sangat cerdik. Lima bulan setelah Kopang, tiba giliran Batukliang menuai masalah. Raden Sumintang diminta datang ke Mataram. Para bangsawan dan pembantunnya melarang beliau datang ke Mataramuntuk memenuhi surat panggilan dari Anak Agung Mataram itu. Setelah tiga kali surat diterima dan tidak dihiraukan juga; maka Mataram mengirim pasukan di bawah pimpinan Gusti Made Sangka untuk menangkap Raden Sumintang dalam keadaan hidup atau mati. Agar Batukliang tidak bernasib seperti Praya, Raden Sumintang menyerahkan diri di Aik Gering kepada pasukan yang akan menangkapnya. Disitulah beliau dibunuh oleh Gusti Made Sangka. Melihat Radennya dibunuh, para pengiringnya bernama Tati’Engkis tidak dapat menahan diri lalu mengamuk. Tetapi baru dapat menewaskan seorang musuh, ia pun tewas. Jenazah Raden Sumintang dimakamkan di Batukliang.

  • Perang Kalijaga
  • Sebab-Sebab Terjadinya sebelum dilantik menjadi raja, AnakAgung Gde Ngurah Karangasem berfikir bagaimana cara agar dua golongan yang berbeda agama bisa berdamai. Atas petunjuk gaib dalam pertapaan di Batu Bolong, ia bermimpi saat itu kejatuhan bulan di Kalijaga. Anak Agung Gede Ngurah Karangasem bersama Gusti Gde Wanasara kemudian melamar Dende Aminah dari Desa Kalijaga Lombok Timur. Dende Aminah dipercaya sebagai pemegang Wahyu Kedaton Selaparang. Dende Aminah merupakan putri dari Dea Guru, seorang pemuka Islam yang terkenal shaleh. Baliau adalah saudara dari Dea Meraja, pemimpin desa Kalijaga. Dea Guru dan Dea Meraja menolak lamaran itu karena sudah dijanjikan bantuan oleh Raja Amir dari Desa Mamben dan Raden Kardiyu dari Korleko bila nantinya diserang oleh Mataram.Anak Agung Gde Ngurah berkirim surat kepada Dea Gurudan Dea Mraja untuk datang ke Mataram, tetapi undangan itu ditolak, karena datang ke Mataram berarti mati. Penolakan surat tersebut sangat menyakitkan hati raja. Maka siasat lamapun dijalankan, “Pecah dan Kuasai”.
  • Perlawanan Kalijaga Atas berbagai pertimbangan, akhirnya surat pemanggilan tersebut dipenuhi. Maka diutuslah Raden Kardiyu dim Raden Amir ke Mataram. Sesampainya di Mataram, mereka diterima oleh Patih Gusti Wanasara. Meskipun tanpa bukti, mereka dituduhmemberontak. Kemudian mereka diikat dan dibawa ke Sema(Kuburan Bali) untuk menjalani hukuman mati. Ternyata merekatidak mempan senjata. Gusti Wanara melaporkan kejadian yang sangat aneh ini kepada Raja. Rajapun mengampuni keduanya dengan syarat agar supaya mereka berdua bersedia menangkap Dea Raja dan Dea Guru dalam keadaan hidup atau mati. Demikianlah, Mamben dan Korleko pun menyerang Kalijaga. Namun serangan itu dapat ditahan oleh Kalijaga. Raden Amir dan Raden Kardiyu tersadar, bahwa mereka harus berpihak kepada Kalijaga. Akhirnya mereka pun berbalik melawan Mataram. Mereka berencana menyerang kedudukan Mataram di Pringgasela dengan beberapa strategi: -Dari Barat Daya dipimpin oleh Dea Mraja dibantu oleh Raden Kardiyu, Mamiq Lisah, Mamiq Putra, Pun Kebiandan Raden Nuna Darmasih.-Dari Arah Timur dipimpin oleh Dea Guru dibantu ol,eh Raden Amir, Pe Sumping, Mamiq-Dalu, Papuq Lokah, Amaq Kedian, Mamiq Mesir, dan Pe Rumah.Ketika peperangan berlangsung, Raden Amir dan RadenKardiyu ingat janjinya sehingga berbalik melawan Kalijaga. Raden Amir, Raden Kardiyu, Pe Sriyaman yang membela Mataram memukul mundur pasukan. Kalijaga untuk kemudian membakar  Dea Meraja dan puterinya Raden Muna Darmasih melarikan diri naik perahu ke Bima, sedangkan Dea Guru bersama putrinya, Dende Aminah dan beberapa orang pengiringnya bersembunyi di dalam sebuah goa di hutan Bungus Bawi, namun musuh dapat menemukannya, sehingga mereka dapat dibunuh.
    • Mataram Menegakkan Kekuasaan

Sistem pemerintahari yang digunakan pada masa itu adalah pemberian hak otonomi terbatas kepada desa di wilayah Timur Juring. Setiap desa mengangkat para pemuka desa untuk memungut upeti dan pajak, tetapi mereka mendapat pengawasan langsung dari seorang Bali.Untuk memantapkan dan menegakkan kekuasaannya, Anak Agung membuat peraturan- peraturan sebagai berikut:

  • Peraturan tentang pertanahan.
  • Menghapus gelar “Raden” bagiorang Sasak.
  • Menghapus prasasti dan silsilah bagi orang Sasak
  • Memperluas perjudian sabung Ayam. Pembagian harta peninggalan didasarkan patriarkat dalam pengertian bahwa jika seseorang meninggal dengan tidak mempunyai anak laki-laki, maka harta peninggalannya itu menjadi hak milik raja).
  • Pemberian gelar “Jero” bagi pimpinan Sasak.
  • Pemerasan tenaga kerja untuk pengabdian kepada raja.
    • Runtuhnya Kerajaan Mataram

Atas Kondisi tersebut, parapemuka Sasak memintapemerintah Hindia-Belanda untuk ikut campur dalam menangarii perang Lombok. Setelah menerima permintaan bantuan persenjataan bagirakyat Sasak, pemerintah Belanda mengirimkan utusannya untuk melihat secara langsung keadaan orang-orang Sasak. Dalam peninjauannya di Pulau Lombok itu, Liefrinck melaporkan keadaanyang sesungguhnya, yaitu terjadi berbagai penderitaan seperti terjadinya bencana kelaparan dan wabah penyakit yang menimpa orang-orang Sasak. Laporan dari Liefrinck, utusan pemerintah Belanda tersebut, sangat berpengaruh atas pemerintahan dan kekuasaan Bali di Lombok. Laporan ini ditanggapi dengan sangat teliti oleh pemerintah Belanda di Batavia. Belanda pun sangat perlu untuk ikut campur menyelesaikan perang Lombok. Belanda berupaya untuk mempertemukan orang Sasak dan Mataram, akan tetapi menemui jalan buntu. Akhirnya Belanda mengeluarkan ultimatum yang memberatkan Mataram. Padamulanya Mataram menolak permintaan tersebut, akan tetapi kemudian meminta menunda jawaban. Pihak Mataram selalu mengulur-ulur waktu. Melihat gelagat tersebut, Belanda mendaratkan pasukannya di Ampenan. Maka man tidak mau, ultimatum tersebut harus diterima. Setelah itu, Belanda menggelar pasukannya dan memindahkan markasnya di tanah lapang di muka Pura Meru agar  pembicaraan berjalan cepat dan lancar. Belanda memaksa pihak Mataram untuk menandatangani surat perjanjian yang disaksikan oleh pemuka-pemuka Sasak. Jenderal Van Ham menemui para pemuka Sasak tersebut di Sisik Labuhan Haji, dan meminta mereka agar datang ke Cakranegara. Akan tetapi pemuka-pemuka Sasak menolak undangan tersebut. Setelah mendapat penjelasan secara langsung dari Panglima pasukan, akhirnya para pemuka Sasak menyepakati untuk datang ke Mataram dengan mengirim dua orang utusan. Adapun isi perjanjian antara Mataram dan Belanda yang tertanggal 7 Juni 1843 sebagai berikut:

  1. Mataram mengakui kedaulatan Belanda atas pulau Lombok.
  2. Mataram tidak lagi melakukan hak adat tawan karang.
  3. Mataram akan melindungi kepentingan perdagangan Belanda
  4. Mataram tidak lagi kontak atau melakukan perjanjian dengan bangsa kulit putih lainnya.
  5. Sebagai imbalan-Mataram diberi hak otonomi penuh oleh Belanda dalam melaksanakan pemerintahan di Lombok. Kedatangan utusan Sasak tersebut justru meninggalkan permasalahan baru. Mereka justru meninggalkan tempat perundingandan memulai peperangan. Keadaan ini menyebabkan banyak pasukan Belanda meninggal, salah satunya Jenderal Belanda adalah Jenderal Van Ham. Pada tahap selanjutnya, Belanda mengirim ekspedisi yangsempurna dan melakukan penyerangan terhadap Mataram dari berbagai penjuru. Serangan Pada tahun 1894 tersebut berhasil menghancurkan dan membakar puri hingga hampir rata dengan tanah. Mataram kemudian dapat ditaklukkan. Peristiwa penting yang terjadi pada waktu itu ialah ditemukannya keropak(naskah lontar) Desa warnama yang kemudian terkenal dengan nama Negarakertagama. Menurut Brandes, naskahini diketahui sebagai satu-satunya naskah yang berisi gambaran paling lengkap tentang kerajaan Majapahit.