Sindangkasih, kerajaan / Prov. Jawa Barat – kab. Majalengka

Kerajaan Sindangkasih (masih ada abad ke-16) merupakan kerajaan Hindu terakhir di wilayah Majalengka. Kerajaan ini berdiri sekitar tahun 1480, di Desa Sindangkasih (3 Km dari kota Majalengka ke Selatan) dengan daerahnya meliputi Sindangkasih, Kulur, Kawunghilir, Cieurih, Cicenang, Cigasong, Babakanjawa, Munjul dan Cijati.

Lokasi kab. Majalengka, prov. Jawa Barat


Garis kerajaan-kerajaan di Jawa: link


Foto sejarah kerajaan-kerajaan di Jawa

* Foto sultan dan raja, yang masih ada di Jawa: link
* Foto keraton di Jawa, yang masih ada: link
* Foto Batavia (Jakarta) masa dulu: link
* Foto Jawa masa dulu: link
* Penyerbuan Batavia oleh Sultan Agung, 1628/1628: link
* Foto perang Diponegoro, 1825: link
* Foto situs kuno di Jawa: link


Video sejarah kerajaan-kerajaan di Jawa

– Garis dan daftar sejarah kerajaan-kerajaan di Jawa: link
– Daftar Penguasa Monarki kesultanan Jawa Mataram, 1556 – 2020: link
– Peta sejarah kesultanan Mataram, 1576-2020: link
– Peta sejarah kerajaan Medang Mataram Hindu: link
– Peta sejarah kerajaan Majapahit, 1293 sampai 1527: link
– Daftar raja-raja Majapahit hingga ke Mataram, 1293 – 1587: link
– Peta sejarah kerajaan Jawa Timur, 1.5jt SM sampai 2020: link
– Peta sejarah kerajaan Jawa Barat, 3000 SM sampai 2020: link
– Peta sejarah kerajaan Jawa Tengah, 1.5jt SM sampai 2020: link


Sejarah kerajaan Sindangkasih, abad ke-16

Sejarah 1

Raja dari Kerajaan Sindangkasih yang terkenal adalah bernama Nyi Ambet Kasih (istri Prabu Sliliwangi) yang masih teguh memeluk Agama Hindu. Kerajaan ini juga merupakan kerajaan bawahan dari kerajaan Pajajaran.

Pada saat Pajajaran runtuh, Kerajaan Sindangkasih beralih statusnya menjadi kerajaan dibawah kekuasaan kerajaan Sumedanglarang. Namun, pada perkembangan selanjutnya, tepatnya pada tahun 1583, wilayah Kerajaan Sindangkasih diserahkan Sumedanglarang pada Kesultanan Cirebon dikarenakan untuk mencegah pertikaian yang lebih besar antara Sumedanglarang dengan Kesultanan Cirebon.

Asal usul

Kerajaan Sindangkasih keberadaanya hanya dikaitkan dengan proses penyebaran Islam dari Cirebon. Ternyata penelusuran sejarah keberadaan Sindangkasih seharusnya dari Kerajaan Sumedang Larang dan Kerajaan Galuh. Sindangkasih disebutkan dalam Naskah Sunda Kuno (NSK) oleh Undang A Darsa sebagai salah satu dari 73 Ke-Mandala-an Sunda di Tatar Pasundan. Mandala adalah tempat suci keagamaan bagi Urang Sunda. Selain itu, tempat suci juga ada yang disebut dengan Kabuyutan. Di Tatar Pasundan, terdapat 800 Kabuyutan.

Sindangkasih adalah ke-Raja Mandala-an seperti tertulis dalam sejarah Kerajaan Tarumanagara. Bagi masyarakat awam seringkali menyamakan istilah ka-Mandala-an atau Kabuyutan dengan kerajaan. Serta pemimpin Mandala sering disebut Rajaresi, selain Rajamandala.

Sejarah 2

Pada zaman kerajaan Hindu sampai dengan abad ke-15 di wilayah Kabupaten Majalengka terbagi menjadi 3 kerajaan:
1 Kerajaan Talaga dipegang oleh Sunan Corenda atau lebih dikenal dengan sebutan Sunan Parung,
2 Kerajaan Rajagaluh dipegang oleh Prabu Cakraningrat,
3 Kerajaan Sindangkasih, rajanya adalah seorang puteri bernama Nyi Rambutkasih.

Terdapat banyak cerita rakyat tentang ke-3 kerajaan tersebut yang sampai dengan saat ini masih hidup di kalangan masyarakat Majalengka. Selain cerita rakyat yang masih diyakini juga terdapat situs, makam-makam dan benda-benda purbakala, yang kesemuanya itu selain menjadi kekayaan daerah juga dapat digunakan sebagai sumber sejarah.

Kerajaan Sindangkasih rajanya seorang putri yang memiliki paras nan cantik dan molek bemama Nyi Rambutkasih adalah seorang yang beragama Hindu fanatic. Kerajaan ini terletak secara geografis berada di Majalengka. Nama Sindangkasih diambil dari Mandala Sindangkasih yang semula tempat merupakan tempat kedudukan Ki Gedeng Sindangkasih yang dijabat oleh puteranya yang bernama Ki Ageng Surawijaya.

Semula nama tempat ini terdapat di wilayah Cirebon yang kemudian dibawa oleh penguasa yang disebut Ki Gedeng Sindangkasih yang lama berkedudukan di Sumedang Larang yaitu Majalengka sekarang. Nyi Gedeng Sindangkasih atau disebut juga Nyi Ambetkasih dan lebih dikenal lagi adalah Nyi Rambutkasih adalah seorang ratu yang cantik molek, memiliki kemampuan dan keterampilan yang tinggi, dikagumi serta sangat dihormati oleh rakyatnya adalah istri Prabu Siliwangi. la adalah orang yang dipercaya oleh Prabu Siliwangi untuk memimpin rombongan yang bermaksud pindah ke Pakuwan Pajajaran (Bogor sekarang), kemudian ia menjadi penguasa di Sindangkasih sebagai ibukota Sumedang Larang.

Penguasa di Sindangkasih sebagaimana disebutkan di atas adalah Nyi Rambutkasih. Sejak sekian lama Nyi Rambutkasih mencium akan datangnya Pangeran Muhamad disertai ayahnya Pangeran Panjunan di Sindangkasih dalam rangka mengadakan kegiatan penyebarluasan ajaran agama Islam dan kegiatan ini disambut baik oleh, masyarakat setempat. Di Padepokan Sindangkasih, Rambutkasih tengah mengadakan pertemuan dengan semua perwira tinggi kerajaan sehubungan dengan adanya kegiatan yang dilakukan oleh Pangeran Muhamad. Ketika rapat khusus itu sedang berlangsung datanglah Pangeran Muhamad bersama rombongan dengan maksud ingin ketemu dengan Nyi Rambutkasih selaku ratu di Kerajaan Sindangkasih.  Dengan ucapan Alhamdulillahirrobiralamin, yang maksudnya Pangeran Muhamad merasa bersyukur serta bahagia dapat bertemu dengan seorang putri cantrk dan sebagai penguasa di Sumedang Larang, tetapi dengan tidak diduga dalam sekejap Nyi Rambutkasih menghilang.
Bersamaan dengan itu terlontarlah ucapan Pangeran Muhamad: “Madya Langka” yang artinya putri cantik telah hilang (tidak ada), sehingga dari kata-kata itu kemudian orang menyebutnya Majalengka. Sejak itulah kemudian Pangeran Muhamad yang didampingi ayahnya Pangeran Panjunan memerintah di Sumedang Larang/Sindangkasih, selanjutnya pada tanggal 7 Juni 1490 M, sesuai dengan perintah Sunan Gunung Jati yang berkedudukan di Cirebon menetapkan Pangeran Muhamad.

Pada masa tuanya Pangeran Muhamad menetap di lereng gunung yang berada di sebelah selatan Majalengka sampai akhir hayatnya gunung tersebut kini dikenal dengan sebutan Gunung Margatapa. Adapun Siti Armilah istri Pangeran Muhamad dimakamkan di belakang pendopo (kantor Pemda) Kabupaten Majalengka, yang dikenal dengan sebutan Nyi Gedeng Badori.


Peta kuno Jawa

Klik di sini untuk peta kuno Jawa tahun 1598, 1612, 1614, 1659, 1660, 1706, 1800-an, awal abad ke-18, 1840.

Jawa, awal abad ke-18

1234


Sumber

– Sejarah kerajaan Sindangkasih: https://www.facebook.com/notes/dpd-gema-sunda-majalengka-remaja/sejarah-majalengka/312104375547347/
– Sejarah kerajaan Sindangkasih: http://westjavakingdom.blogspot.com/2011/07/kerajaan-sindangkasih.html
– Sejarah kerajaan Sindangkasih: https://id.wikipedia.org/wiki/Kerajaan_Sindangkasih


Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: