Jawa, perang Diponegoro, 1825-1830

.

.
Foto perang Diponegoro, Jawa: link
——————————————————————————————————————-

Perang Diponegoro / perang Jawa, 1825-1830

Perang Diponegoro yang juga dikenal dengan sebutan Perang Jawa (Inggris:The Java War, Belanda: De Java Oorlog adalah perang besar dan berlangsung selama lima tahun (1825-1830) di Pulau Jawa, Hindia Belanda (sekarang Indonesia). Perang ini merupakan salah satu pertempuran terbesar yang pernah dialami oleh Belanda selama masa pendudukannya di Nusantara, melibatkan pasukan Belanda di bawah pimpinan Jendral De Kock yang berusaha meredam perlawanan penduduk Jawa di bawah pimpinan Pangeran Diponegoro. Akibat perang ini, penduduk Jawa yang tewas mencapai 200.000 jiwa, sementara korban tewas di pihak Belanda berjumlah 8.000 tentara Belanda dan 7000 serdadu pribumi. Akhir perang menegaskan penguasaan Belanda atas Pulau Jawa.

Berkebalikan dari perang yang dipimpin oleh Raden Ronggo sekitar 15 tahun sebelumnya, pasukan Jawa juga menempatkan masyarakat Tionghoa di tanah Jawa sebagai target penyerangan. Namun, meskipun Pangeran Diponegoro secara tegas melarang pasukannya untuk bersekutu dengan masyarakat Tionghoa, sebagian pasukan Jawa yang berada di pesisir utara (sekitar Rembang dan Lasem) menerima bantuan dari penduduk Tionghoa setempat yang rata-rata beragama Islam.

28 Maret 1830 Dipanegara menemui Jenderal de Kock di Magelang. De Kock memaksa mengadakan perundingan dan mendesak Dipanegara agar menghentikan perang. Permintaan itu ditolak Dipanegara. Tetapi Belanda telah menyiapkan penyergapan dengan teliti. Hari itu juga Dipanegara ditangkap dan diasingkan ke Ungaran, kemudian dibawa ke Gedung Karesidenan Semarang, dan langsung ke Batavia menggunakan kapal Pollux pada 5 April.

30 April 1830 keputusan pun keluar. Pangeran Dipanegara, Raden Ayu Retnaningsih, Tumenggung Dipasana dan istri, serta para pengikut lainnya seperti Mertaleksana, Banteng Wereng, dan Nyai Sotaruna akan dibuang ke Manado.
1834 dipindahkan ke benteng Rotterdam di Makassar, Sulawesi Selatan.
8 Januari 1855 Dipanegara wafat dan dimakamkan di Makassar

—————————————————————————————————————
Sumber

– Perang Diponegoro: https://id.wikipedia.org/wiki/Perang_Diponegoro
– Perang Diponegoro: http://sejarahbudayanusantara.weebly.com/perang-diponegoro.html
– Perang Diponegoro: http://www.sejarah-negara.com/perang-diponegoro-terjadi-tahun-1825/

– Pangeran Diponegoro: https://id.wikipedia.org/wiki/Diponegoro

——————
The Java War or Diponegoro War was fought in Java between 1825 and 1830. It started as a rebellion led by Prince Diponegoro: a leading member of the Javanese aristocracy who had previously cooperated with the Dutch.
The rebellion finally ended in 1830, after Prince Diponegoro was tricked into entering Dutch controlled territory near Magelang, believing he was there for negotiations for a possible cease-fire. He was captured through treachery and deported to Manado and then to Makassar, where he died in 1855.
Because of heavy losses amongst the Dutch forces, the colonial government decided to enlist African recruits in Gold Coast: the so-called “Belanda Hitam” (“Black Dutchmen”), to augment its East Indian and European troops.

Source: Wiki
———————————————————————————————————-

Lukisan Peristiwa Penangkapan Pangeran Diponegoro oleh Nicolaas Pieneman

Lukisan Peristiwa Penangkapan Pangeran Diponegoro oleh Nicolaas Pieneman

———————————————————————————————————————-

Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: