Sejarah lengkap kerajaan Nanga Bunut

Sejarah diambil dari: https://www.facebook.com/PasakNangaBunut/posts/riwayat-berdirinya-kerajaan-nanga-bunutsejarah-berdirinya-kerajaan-bunut-atas-pr/395278574204433/


Sejarah berdirinya Kerajaan Bunut atas prakarsa musyawarah mufakat 3 (tiga) orang yaitu ;

1. Raden Suma Abang Manduh berasal dari Batang Pilin (Kecamatan Bunut Hilir sekarang)
2. Raden Setia Abang Berita berasal dari Nanga Lipat (Kecamatan Bunut Hilir sekarang)
3. Kiyai Mangku Abang Ubal berasal dari Embaloh

Dari musyawarah mufakat tersebut maka diputuskan kesepakatan mendirikan Negeri Nanga Bunut, dan di mufakatkan juga oleh Raden Suma Abang Manduh serta Kiyai Mangku Abang Ubal, bahwa Raden Setia Abang Berita dijadikan Raja memerintah Negeri Nanga Bunut, Raden Setia Abang Berita bergelar Penembahan Adipati Paku Negara. Abang Berita merupakan anak dari Kiyai Pati Turan.

Raden Setia Abang Berita menikah dengan seorang puteri Pangeran Suma Ali Djaya Mangku Negara III (Abang Tella) dari Selimbau. Raden Setia Abang Berita dinobatkan jadi Raja Bunut tahun 1815 – 1855, beliau turun tahta karena sudah tua dan beliau tidak mewariskan penerus (Putra Mahkota) kerajaan.

Raden Setia Abang Berita juga menikah dengan Dayang Emban dari Piasak dari perkawinan itu tidak dikaruniai anak. Menantunya menjadi penerusnya karena dia tidak memiliki anak laki-laki, ketika dia meninggal penerusnya adalah menantunya Abang Serian Pangeran Pati Bunut bergelar Pangeran Adipati Mangku Negara I, Abang Serian adalah anak Raden Suma Abang Manduh, Abang Serian Pangeran Pati Bunut menikah dengan Dayang Rabaiyah anak dari Raden Setia Abang Berita Panembahan Adipati Paku Negara, Abang Serian Pangeran Pati Bunut memerintah 1855 sampai meninggal 1859. Kemudian diteruskan anaknya Abang Uti yang juga dikenal sebagai Raden Putra, 1853 jumlah penduduk Bunut sekitar 1.700 orang, pada tahun 1855 Belanda masuk ke Bunut.

Abang Uti ( Raden Putra) memerintah 1859 – 1876 dengan gelar Pangeran Adipati Mangku Negara II, diteruskan oleh putranya Gusti Ahmad Pangeran Adipati Mangku Negara III yang dikenal sebagai Abang Tella. Abang Tella mulai digulingkan oleh Belanda pada bulan juni 1884. Abang Tella menikah dengan Dayang Massurai putri Pangeran Oesman Diradja Kesoema (Piasak). Pada tanggal 20-06-1885 Belanda memutuskan untuk mengasingkan Abang Tella ke Jawa, dan pada tanggal 28-06-1885 ia benar-benar digulingkan sebagai raja dan diasingkan ke Jawa bertepatan dengan hari dimana anaknya dinobatkan sebagai raja, pengasingan Abang Tella ke Jawa oleh Belanda dikarenakan pengaruhnya akan memberikan kesulitan / dampak yang buruk untuk situasi politik Belanda di Bunut, juga dikarenakan Abang Tella tidak mau bekerjasama dan menandatangani kontrak.

Diceritakan / digambarkan Abang Tella adalah seorang yang tidak benar-benar kurus, dan dia adalah seorang lelaki yang ramah, Abang Tella meninggal di pengasingan. Anak pertamanya Gusti Muhammad Hasan terpilih menjadi raja baru 18-03-1885. Raja baru Gusti Muhammad Hasan bergelar Pangeran Ratu Adi Paku Negara mulai tidak mau bekerjasama dengan Belanda sebab mereka mengasingkan / membuang ayahnya. Raja baru dikenal sebagai Abang Tana lahir tahun 1860. Belanda sangat tidak senang dengan pemerintahannya. Belanda mendorong itu tahun 1906, Gusti Muhammad Hasan meminta untuk turun tahta sebagai raja. Pada waktu itu kerajaan tidak ada penerus yang sudah disiapkan dengan baik menjadi raja. Raja terakhir digulingkan 01-01-1910.

Berdirinya Kampung Nanga Bunut pada tanggal 29 Januari tahun 1877, dengan Surat Asisten Residen Sintang Nomor 91 tahun 1877 tanggal 29 Januari. Menyatakan Negeri Nanga Bunut telah berdiri 62 tahun dengan penduduk kurang lebih 1000 orang,

Dari surat yang dikirim Abang Tella Gusti Ahmad Pangeran AdiPati Mangku Negara Raja Bunut kepada Abang Tana Gusti Muhammad Hasan Pangeran Ratu Adi Pati Paku Negara tertera tanggal 5 April Ahad 1896 Masehi , 24 Syawal Ahad 1313 Hijriah Manon Jaya (Tasikmalaya).