Muna (Wuna), kerajaan / Prov. Sulawesi Tenggara – kab. Muna

Kerajaan Muna: 1371 – 1956.
Kerajaan Muna atau Wuna merupakan salah satu kerajaan besar yang berada di wilayah Sulawesi Tenggara yang didirikan pada tahun 1371 hingga tahun 1956. Kerajaan ini terletak di Bagian Utara Pulau Muna dan beribukota di Kotano Wuna (kini Kecamatan Tongkuno), dengan Raja pertamanya La Eli alias Baidhuldhamani gelar Bheteno ne Tombula Alias Remang Rilangiq yang menikah dengan Watandriabeng adik Sawerigading.

The kingdom of Muna: 1371 – 1956. Located on the island of Muna. South East Sulawesi. The first king, La Eli alias Baidhuldhamani, had the title Bheteno ne Tombula, alias Remang Rilangiq, who married Watandriabeng, sister of Sawerigading.
For english, click here

Lokasi kabupaten Muna


* Foto kerajaan Muna: link

* Foto sultan dan raja yang masih ada di Sulawesi: link
* Foto sultan dan raja di Sulawesi dulu: link

* Foto kerajaan2 di wilayah Poso: link
* Foto suku Bugis: link
* Foto suku Toraja: link
* Foto situs kuno di Sulawesi: link


Garis kerajaan-kerajaan di Sulawesi: link


Foto kerajaan-kerajaan di Sulawesi

* Foto sultan dan raja yang masih ada di Sulawesi: link
* Foto sultan dan raja di Sulawesi dulu: link
* Foto situs kuno di Sulawesi: link


Video sejarah kerajaan-kerajaan di Sulawesi

– Video sejarah kerajaan2 di Sulawesi, 40.000 SM – 2018: link
– Video sejarah kerajaan2 di Sulawesi Selatan, 1M – 2020: link
– Video sejarah kerajaan2 di Sulawesi Tenggara, 50.000 SM – 2020: link
– Video sejarah kerajaan2 di Sulawesi Utara, 4000 SM – sekarang: link


KERAJAAN MUNA

1) Tentang Raja

Sejak 2012: Ketua Lembaga Adat Muna: La Ode Sirad Imbo, pejabat Raja Muna.

  La Ode Sirad Imbo


2) Sejarah kerajaan Muna

Kerajaan Muna atau Wuna merupakan salah satu kerajaan besar yang berada di wilayah Sulawesi tenggara, yang didirikan pada tahun 1332 hingga tahun 1956. Kerajaan ini terletak di Bagian Utara Pulau Muna dan beribukota di Kotano Wuna (kini Kecamatan Tongkuno).
Sejarah kerajaan Muna dimulai setelah dilantiknya La Eli alias Baidhuldhamani gelar Bheteno ne Tombula sebagai Raja Muna pertama.
Setelah dilantiknya La Eli bergelar Bheteno Ne Tombula sebagai Raja Muna I, kerajaan Muna baru dapat dikatakan sebagai sebuah kerajaan berdaulat karena telah memenuhi syarakat-syarat sebagai sebuah negara yaitu telah memiliki Rakyat, Wilayah dan pemerintahan yang berdaulat dan seluruh perangkat masyarakat bersepakat untuk mengikat diri dalam sebuah pemerintahan dengan segala aturannya yang bernama Kerajaan Muna.
Setelah pemerintahan Bheteno Ne Tombula berakhir, kerajaan Muna dipimpin oleh Sugi. Sugi bagi masyarakat Muna berarti Yang Dipertuan atau Yang Mulia.
Sepanjang sejarah kerajaan Muna ada lima orang Sugi yang perna memimpin kerajaan Muna. Mereka itu adalah Sugi Patola, Sugi Ambona, Sugi Patani, Sugi La Ende dan Sugi Manuru.
Dari kelima sugi yang pernah memimpin kerajaan Muna, Sugi Manuru-lah yang dianggap berhasil membawa banyak perubahan di kerajaan Muna dalam berbagai aspek.

Kerajaan Muna melakukan konfrontasi dengan penjajah dimulai dengan keterlibatan Lakilaponto Raja Muna ke-7 (1517-1520) menumpas armada bajak laut Banggai Labolontio yang selalu menggangu keamanan kerajaan-kerajaan tetangga disekitarnya. Selain itu, Lakilaponto juga setelah bertahta di Buton tahun (1520-1564) dan memeluk Islam yang dibawah oleh Syeikh Abdul Wahid dari Mekah (Daulah Turky Usmani), beliau berperan aktif menghalau Portugis di Tenggara Sulawesi, Banggai, Selayar, Maluku, dan Solor NTT, sehingga penjajahan Portugis tidak terlihat di Tenggara Sulawesi .

Pada masa Raja Muna ke-10 La Titakono (1600-1625) kerajaan Muna menolak campur tangan VOC di Buton karena dapat mengancam keutuhan dan persatuan kesultanan Butuni Darusalam setelah mengetahui gelagat VOC di Buton. Namun pada akhirnya Sultan Buton tetap melakukan perjanjian pada tahun 1613 di bawah pimpinan Sultan Dayanu Iksanudin (Laelangi), dengan adanya perjanjian tersebut maka hubungan persaudaraan yang telah dibina oleh para pendahulu kedua kerajaan ini menjadi renggang, dan akhirnya menimbulkan peperangan antara Muna dan Buton dibawah pimpinan Raja Muna-12 yaitu Sangia Kaendea (1626-1667). Pada awalnya kerajaan Muna memenangi peperangan tersebut, namun setelah Buton mendapat bantuan dari VOC maka pasukan kerajaan Muna harus mundur. Selang beberapa waktu, pasukan Buton yang diperkuat oleh armada Kapal VOC berlabuh di perairan pulau lima tepatnya di depan Lohia, pihak Buton dan VOC kemudian mengirim utusan untuk menemui Raja Muna dengan alasan perundingan perdamaian diantara kedua belah pihak.
Mula-mula La Ode Ngakdiri/ Sangia Kaendea meragukan hal tersebut, namun karena terbujuk oleh alasan persaudaraan akhirnya iapun turut serta dalam melakukan perundingan itu. Sesampainya di pulau lima Raja Muna tidak diajak untuk berunding seperti apa yang diberitahukan semula, melainkan beliau ditangkap dengan tipu muslihat oleh Buton dan VOC dan diasingkan ke Ternate, setelah beberapa lama kemudian Raja Muna tersebut diselamatkan kembali oleh Pihak kerajaan Muna dan kembali menduduki tahta kerajaan Muna.

Perlawanan Raja Muna berikutnya dilakukan oleh La Ode Saete (1816-1630) yang melakukan peperangan dengan pihak Belanda dan Buton sehingga banyak menghancurkan kapal-kapal Belanda dan Buton di Muna, selain itu Raja Muna tersebut mengorganisir semua kekuatan tempur yang ada dan melakukan perang semesta melawan penjajah sehingga beliau mampu mempertahankan kerajaan Muna dari serangan musuh yang datang bertubi-tubi. Perjuangan kerajaan Muna berikutnya dipelopori oleh La Ode Pulu (1914-1918), beliau menentang keras perjanjian Korte Verklaring tahun 1906 antara Buton dan Belanda.

1947. Pemerintahan Muna berstatus Swapraja dengan raja yang terakhir Laode Pandu yang dilantik oleh pemangku adat menjadi Raja Muna tanggal 24 Februari 1947 di Kota Muna.

Sumber: Wiki

Raja Muna XXXV – La Ode Rere (1926-1928 )


3) Pemerintahan kerajaan Muna

Pada dasarnya, sistem monarki (kerajaan) biasanya di daerah-daerah lain adalah jabatan turun-temurun akan tetapi di Kerajaan Muna. Rajanya dipilih oleh suatu Dewan Kerajaan (yang disebut Dewan Sara). Dewan Sara ini dijabat oleh Golongan Walaka. Dewan sara ini bertugas memilih, mengangkat dan memberhentikan raja.

Proses pemilihan raja biasanya diawali dengan pertemuan Dewan Sara (mungkin semacam Sidang Umum MPR di negara kita sebelum pemilihan predisen secara langsung). Dari sidang Dewan Sara inilah dipilih siapa yang berhak menjadi raja. Namun yang berhak menjadi Raja adalah tetap golongan Kaomu sebab golongan inilah yang mendominasi jabatan eksekutif. Sedangkan jabatan legislatif dijabat oleh golongan Walaka dan terkadang Walaka ini dinamakan golongan Sara. Dalam pemilihan raja, biasanya calon raja diusulkan oleh para anggota dewan yang mengakili aspirasi masyarakat. Akan tetapi jika calon raja hanya satu orang, maka calon raja tersebut langsung dinobatkan sebagai raja. Kerajaan Muna Juga mengenal sistem putra mahkota.

Raja yang terpilih sebelum dilantik, diambil sumpahnya terlebih dahulu. Pada masa Islam, raja yang akan dilantik harus mengucapkan dua kalimat sahadat dahulu, kemudian dilanjutkan dengan mengucapkan sumpah raja, yang berisi sebagai berikut:

  • Hansu-hansuruana badha somano konohansuru liwu, artinya biarlah badan hancur (binasa) asalkan negara tetap berdaulat.
  • Hansu-hansuruana Liwu somano konohansuru sara, artinya biarlah negara porak-poranda asalkan pemerintahan tetap tegak
  • Hansu-hansuruana sara somano konohansuru adhati, artinya biarlah pemerintahan bubar/goyah asalkan adat tetap ada.
  • Hansu-hansuruana adhati somano konohansuru tangka agama, artinya biarlah adat hancur/tidak terpakai lagi asalkan agama tetap ada

Selain itu pemerintahan Kerajaan Muna terdiri Dewan Kerajaan yakni

    1. Omputo (Raja)
    2. Bhonto Bhalano
    3. Mintarano Bhitara
    4. Kapita Lau 2 orang
    5. Kapita 1 orang
    6. Koghoerano 4 orang

Fatolindono 4 orang.

– Sumber: https://id.wikipedia.org/wiki/Kerajaan_Muna#Pemerintahan

Lakilaponto, Sultan Murhum – Haluoleo, Raja Muna VII, 1530-1538, Sultan Buton, 1538-1587.


4) Daftar Raja

Sumpah Raja Muna: klik di sini

Sumber – http://id.wikipedia.org/wiki/Kerajaan_Muna#Daftar_Raja-Raja_Muna

1371-1395: La Eli alias Baidhuldhamani Gelar Bheteno Ne Tombula,alias Remang Rilangiq (Menjadi Raja Luwuk Purba sebagai Soloweta Raja = Raja Pengganti di Kerajaan Luwuk Purba Menggantikan Sawerigading.
1395-1420: La Patola/ La Aka / Kaghua Bangkano Fotu Gelar Sugi Patola.
1420-1455: La Mbona Gelar Sugi Ambona
1455-1470: La Patani gelar Sugi Patani
1470-1501: Sugi La Ende

1501-1517: Sugi Manuru gelar Omputo Mepasokino Adhati
1507-1520: Lakilaponto Alias Murhum di Buton atau La Tolalaka di Kendari Sultan Buton I dengan nama Sultan Kaimuddin Khalifatul Khamis
1520-1551: La Posasu gelar Kobangkuduno
1551-1600: Rampeisomba gelar Karawawono
1600-1625: Titakono

1625-1626: La Ode Sa’adudin
1626-1667: La Ode Ngkadiri gelar Sangia Kaindea
1667-1668: Wa Ode Wakelu
1668-1671: La Ode Muh. Idris (Soloweta Raja)
1671-1716: La Ode Abd. Rahman gelar Sangia Latugho

1716-1758, 1764-1767: La Ode Husaini gelar Omputo Sangia
1758: La Ode Pontimasa Kapitalao Wolowa di Buton
1758-1764: La Ode Kentu Koda gelar Omputo Kantolalo
La Ode Umara gelar Omputo Nigege
La Ode Mursali gelar Sangia Gola
La Ode Tumowu Kapitalao Lakologou di Buton (Soloweta Raja)
La Ode Ngkumabusi (Soloweta Raja)
La Ode Sumaeli gelar Omputo Nisombo

1816-1830: La Ode Saete gelar Omputo Sorano Masigi
La Ode Malei (Soloweta Raja)
1830-1861: La Ode Bulae gelar Sangia Laghada
1861-1864: La Ode Ali gelar Sangia Rahia (Soloweta Raja 1861 – 1864)
1864-1866: La Aka Alias Yaro Kapala (Bhonto Balano / Perdana Menteri Merangkap Raja Muna

1866-1906: La Ode Ngkaili
1906-1914: La Ode Ahmad Maktubu gelar Omputo Milano we Kaleleha
1914-1919: La Ode Pulu
1919-1922: La Ode Safiu gelar Oputa Motembana Karoona / Oputa Moilana Yi Waara (1919 – 1922), Sultan Buton ke 36 (1922 – 1924)

1926-1928: La Ode Rere gelar Omputo Aro Muna
1930-1938, La Ode Dika gelar Omputo Komasigino
1938 – 1947 terjadi Kekosongan kekuasaan di Kerajaan Muna
1947-1956: La Ode Pandu gelar Omputo Milano te Kosundano

Sejak 2012: La Ode Sirad Imbo (Pelaksana Sementara)

Raja Muna ke-36 – La Ode Dika gelar Omputo Komasigino (1930- 1938).


5) Peta-peta Sulawesi masa dulu

Untuk peta peta kuno (1606, 1633, 1683, 1700, 1757, 1872, abad ke-19): klik di sini

Peta Sulawesi dan Maluku, tahun 1683


6) Sumber / Source

– Sejarah kerajaan Muna di Wiki: link
– Sejarah kerajaan Muna: http://dzakirmunaisland.blogspot.co.id/
– Sejarah kerajaan Muna:
http://www.bimbie.com/sejarah-kerajaan-muna.htm
Daftar raja Muna Wiki: http://id.wikipedia.org/wiki/Kerajaan_Muna#Daftar_Raja-Raja_Muna
– Perang saudara kerajaan Muna: https://id.wikipedia.org/wiki/Perang_Saudara_Kerajaan_Muna
Daftar raja Muna di formuna wordpress: https://formuna.wordpress.com/raja-raja-muna/raja-raja-wuna/

– Pemerintahan kerajaan: https://id.wikipedia.org/wiki/Kerajaan_Muna#Pemerintahan

– Rumah adat dan sejarah kerajaan:  https://lawalangy.wordpress.com/2007/11/14/rumah-adat-kerajaan-muna/
Eksistensi Kerajaan Muna yang berdaulat:  https://00kendarinews.wordpress.com/2012/02/08/eksistensi-kerajaan-muna-yang-berdaulat/
Cucu cucu mantan raja Muna dipingit (2007): link



Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: