Lebbotengngae, kerajaan2 / Prov. Sulawesi Selatan – kab. Maros

Kerajaan-kerajaan Lebbotengngae adalah kerajaan-kerajaan yang berada di wilayah Pegunungan Maros. Nama Lebbotengngae sendiri bermakna daerah dataran di tengah daerah ketinggian. Prov. Sulawesi Selatan, kabupaten Maros.
Posisi wilayah ini adalah pegunungan di bagian Barat Kerajaan Bone yang membentang ke Selatan berbatasan dengan Kerajaan Gowa.

Lokasi Lebbotengngae, kab. Maros


Sejarah kerajaan2 di wilayah Lebbotengngae

– Sumber: https://palontaraq.id/2019/08/03/pitu-bila-bila-awal-sejarah-lebbotengngae/amp/?fbclid=IwAR0VV6CmzBcN8zXE68Sv0i4fpV-CN3iiWqlMyh9pxpqOkhuFsHkGzZqSWJU

Kerajaan-kerajaan Lebbotengngae adalah kerajaan-kerajaan yang berada di wilayah Pegunungan Maros. Nama Lebbotengngae sendiri bermakna daerah dataran di tengah daerah ketinggian. Posisi wilayah ini adalah pegunungan di bagian Barat Kerajaan Bone yang membentang ke Selatan berbatasan dengan Kerajaan Gowa.

Sebagaimana sejarah masa lalu kerajaan-kerajaan yang ada di Sulawesi Selatan, Lebbotengngae pun mengawali sejarahnya dengan kedatangan Tomanurung, diceritakan dalam Lontaraq, konfederasi Kerajaan Lebbo TengngaE berasal dari Manurunge Ri Pasaka yang menikah dengan Manurunge ri Leppa tellang, Maddeppa-e ri Tellang pulaweng.

Generasi dari kedua Tomanurung inilah yang kemudian beranak Pinak yang masing masing mendirikan kerajaannya. Kerajaan kerajaan yang telah terbentuk pada masa itu antara lain, Mallawa, Camba, Cenrana, Reatoa, Mario, Ciborong, Uludaya, Pattiro, Campulili, Saolampe, dan lain-lain.

Dalam perkembangannya kemudian kerajaan yang terpisah pisah ini, melebur ke dalam satu pemerintahan. Hingga dari sekian banyak kerajaan kecil tersebut tersisa beberapa saja, antara lain Camba, Mallawa, Cenrana, Lanniti, Bongga, Laiya, dan Balocci.

Dari beberapa Kerajaan yang tersisa tersebut inilah kemudian tercipta adanya tujuh kelompok komunitas bangsawan di Lebbotengngae yang membentuk sebuah Konfederasi yang disebut “Pitu Bila-bila”, artinya tujuh kesatuan komunitas serumpun, yang terdiri dari To Cara’de di Mallawa, To Barani di Bongga, To Ruga di Cenrana, To Ruga di Lanniti, To Ruga di Labuaja, To Pa’da di Laiya, dan To Pada’da di Balocci.

Andi Tari Karaeng Laiya, salah satu karaeng di awal tahun 1900 dalam wilayah (foto: dok.pribadi A. Fachry M)

Image result for Lebbotengngae

Dikemudian hari komposisi dari konfederasi Pitu Bila Bila ini mengalami perubahan yaitu: Cenrana, Camba, Mallawa, Bengo, Labuaja, Laiya, dan Balocci.

Bagaimana awal terbentuknya dan perkembangan Kerajaan Kerajaan yang ada di daerah Lebbo Tengngae tersebut tercatat dalam sebuah naskah Lontaraq tua yang ditemukan oleh Controleur Bergregentschappen pada saat melakukan penggeledahan di daerah Mario Camba pada Tahun 1904, Yang isinya masih ditulis dengan menggunakan daun Lontar.

Selanjutnya oleh Controleur memerintahkan kepada seorang laki-laki bernama l Sangkala berdomisili di daerah Mario dan dibantu oleh seorang Melayu bernama lnce Muhiddin untuk menerjemahkannya kedalam bahasa Melayu. Kandungan isi Lontara tsb kami jadikan referensi Bab tentang Lebbo Tengngae dalam buku yang akan segera kami terbitkan.

Demikianlah sedikit sejarah daerah Lebbo Tengngae pada masa masa awal perkembangan daerah ini, berdasarkan lontara’ ini, dapat diketahui bahwa Kerajaan Kerajaan Lebbo Tengngae telah ada disekitar tahun 1300-1400 an.

Dalam lontara’ Gowa disebutkan beberapa kerajaan yang ada di daerah ini berhasil ditaklukkan dan dikuasai oleh Raja Gowa Karaeng Tumaparisi Kallongna (Raja Gowa IX) seperti Camba, Cenrana, Bengo dan Saumata.

Dalam catatan Lontara’ Patturioloanga Ri Gowa disebutkan bahwa I Manriwagau’ Daeng Bonto Karaeng Lakiung Tunipallangga Niagangi manai’ ri Tumarusuka nabetai Samanggi, Cenrana, Bengo nanapare palili, Saumata. Camba nialle Sabbukatina nide’deki lima kati lima tai’ (Artinya: Pada masa pemerintahan Raja Gowa I Manriwagau Daeng Bonto Karaeng Lakiung Tunipallangga, dengan ditemani Laskar Marusu berhasil mengalahkan daerah Samanggi, Cenrana, Bengo, Saumata, Camba dan dijadikan palili Gowa).

Adapun Saumata dan Camba didenda dengan membayar upeti perang dengan jumlah Lima kati Lima tai’.Kati’ dan Tai’ adalah mata uang kuno daerah Sulawesi Selatan.
Cristian Pelras dalam bukunya Manusia Bugis menulis Satu Kati senilai 66 Ringgit, sama dengan 88 riyal, 8 uang (8/20 riyal) dan 8 duit (8/12 uang). Adapun pemberian status Palili dengan membayar denda perang (sabbukati) tergantung tingkat kesulitan atau biaya yang dikeluarkan selama peperangan.

Lebbotengngae pada era pasca To Manurung adalah merupakan wilayah yang dikuasai oleh Kerajaan Bone, namun selanjutnya dapat ditaklukkan dan direbut Kerajaan Gowa dan dimasukkan ke dalam wilayah yang dikuasai oleh Kerajaan Marusu, kecuali Kerajaan Cenrana yang akhirnya dikembalikan kepada Kerajaan Bone sebagaimana hasil-hasil kesepakatan yang dicapai dalam Ulu Adae ri Caleppa yang dilakukan oleh I Mappataka’ tana Daeng Padulung (Raja Tallo/Mangkubumi Gowa) dengan La Tenri Rawe Bongkange Raja Bone VII (1569-1584) yang didampingi oleh Penasehatnya, Kajao Laliddong.

Ketika terjadi perang antara Gowa vs Belanda dan sekutunya Bone 1667-1669, kerajaan kerajaan yang berada di daerah Lebbo Tengngae ini adalah pendukung Kerajaan Gowa, karena sebagaimana telah dijelaskan di atas kerajaan kerajaan Lebbo Tengngae telah lama dijadikan Palili (negeri bawahan Gowa).

Sehingga ketika perang berakhir dengan ditandatanganinya Perjanjian Bungaya 1667, maka sesuai pasal 20 perjanjian tersebut Kerajaan-kerajaan di Lebbo Tengngae sama dengan Toddo Limayya juga dimasukkan sebagai Kerajaan yang dikuasai oleh Belanda. Yang masuk dalam pemerintahan administratif Afdeeling Noordern Districten dalam bentuk Distrik Adat Gemenschaap.

Meskipun kerajaan-kerajaan Lebbo Tengngae telah masuk dalam wilayah kekuasaan Kompeni dan sekutunya Bone, tetapi tidak serta-merta membuat kerajaan yang ada didaerah ini langsung tunduk terhadap pasal 20 perjanjian Bungaya tersebut. Terbukti ketika Arung Palakka meminta Kerajaan kerajaan Lebbo Tengngae mengirim orang orangnya ke Makassar, Kerajaan kerajaan ini menolak karena marah daerah mereka diluluh lantakkan dan dijarah ketika Arung Palakka dan pasukannya yang mondar mandir melewati daerah ini selama perang Makassar berlangsung.

Ketika terjadi penataan pemerintahan pada awal Tahun 1900-an, maka Distrik Adat yang ada di Lebbo Tengngae adalah: Cenrana, Camba, Mallawa, Laiya, Wanua Waru, dan Gantarang Matinggi.
Balocci yang tadinya bagian dari pitu bila-bila dialihkan masuk menjadi bagian dari onderafdeling Pangkajene

Deskripsi lengkap tentang bagaimana selanjutnya susana pemerintahan dan Kekuasaan Kerajaan-kerajaan Lebbo Tengngae tersebut menjadi salah satu bagian pokok Buku Sejarah Maros yang akan kami terbitkan.