Sejarah lengkap Kerajaan Kabaena

Sejarah ini ditulis oleh Mokole Kabaena: Anakia Kotu’a Day Tonga Lere XVI (Pewaris Trah Day Tonga Lere).


Isi tulisan ini:

1) Penduduk Asli Pulau Kabaena
2)
Sejarah Kerajaan Kabaena
3)
Hubungan Gowa dan Kabaena
4)
Hubungan Kabaena dan Buton
5)
Kotu’A sebagai pusat Pemerintahan
6)
Struktur pemerintahan Kamokoleá (kerajaan) Kabaena
7)
Kesenian dan tarian 

———————————————————————————

 1) Penduduk Asli Pulau Kabaena

Penduduk asli yang mendiami pulau Kabaena adalah Suku Moronene, yang merupakan penduduk yang tertua mendiami jazirah Sulawesi Tenggara. Suku ini mempunyai pertalian darah  (ras) dengan suku Wawonii, Minui, Kulisusu, Morowali dan Moro di Philipina Selatan. Dalam penelitian ditemukan bahwa suku Moronene ini yang menyebar di wilayah Sulawesi diperkirakan berasal dari Moro Philipina memasuki daratan Sulawesi melalui Sulawesi Utara bergeser ke Sulawesi Tengah kemudian berdiam di sekitar sungai Lasolo, danau Towuti dan dan Danau Matana.

Dari Sungai Lasolo inilah suku Moronene menyebar memasuki wilayah Bombana dan sekarang di kenal dengan istilah Wilayah Moronene yang meliputi Towari , batu Bangga wilayah Kolaka, dan Poleang Rumbia dan Kabaena wilayah Kabupaten Bombana.
Bahasa yang digunakan adalah Bahasa Moronene dialek Kabaena.

2) Sejarah Kerajaan Kabaena 

Pada mulanya setelah suku Tomoronene mendiami Bombana, di perintah oleh seorang Raja yang bernama DENDEANGI. Kerajaan ini diperkirakan berdiri sejak tahun 720 M. DENDEANGI di beri gelar dengan Nama “TONGKI PU’U WONUA TAMANO MORONENE ” (SESEPUH  RAJA-RAJA WILAYAH MORONENE SEBAGAI DAULAT YANG DIPERTUAN AGUNG).

Wilayah kekuasaan kerajaan Tomoronene masa lampau di tandai dengan batas tumbuhan bambu berduri  (Tari), pohon bambu ini sampai sekarang ini hanya dapat di temukan di wilayah Moronene eks kekuasaan Dendeangi yakni Poleang, Rumbia dan Kabaena.

Setelah Dendeangi wafat, beliau digantikan oleh puteranya yang bernama Luku Berese yang memerintah sampai akhir Abad IX. Sangia Luku Berese mempunyai permaisuri yang bernama Lelewula dan mempunyai seorang putera tunggal yang bernama Nungkulangi.

Nungkulangi kemudian dinobatkan sebagai Raja Moronene dan pada Masa akhir pemerintahannya, Mokole Nungkulangi membagi kerajaan Moronene menjadi 3 kerajaan kepada putradan putrinya yakni

  1. Kerajaan Keuwia yang sekarang dikenal dengan nama Rumbia di serahkan kepada i Ntina Sio Ropa
  2. Kerajaan Lembopari yang sekarang dikenal dengan nama Poleang di serahkan kepada Ririsao
  3. Kerajaan Tokotu’a yang sekarang di kenal dengan nama Kabaena diserahkan kepada Walu Ea.

Alkisah di tuturkan bahwa Walu ea dan Suaminya yang bernama Donsiolangi ketika menyeberangi Kabaena di bawa oleh kapal layar milik Sawerigading dan mereka berlabuh di Sikeli selanjutnya mendiami wilayah Wumbu Geresa di seputaran Mata Air Wataroda.

Rombongan Walu Ea ini berjumlah sembilan orang, Sewaktu mereka mendiami pulau Kabaena, di Kabaena telah ada penduduk asli namun belum memiliki budaya, penduduk asli ini kemudian menyingkir dan mendiami pedalaman di hutan-hutan dan konon sampai sekarang masih ada. Mereka inilah yang di kenal dengan nama KOWONUANO  ( pemilik negeri)

Selanjutnya dikisahkan dalam babad Kabaena bahwa keberadaan Walu Ea dan suaminya serta rombongannya, mereka mulai melakukan aktivitas kehidupan dengan bercocok tanam dan berburu serta menyelenggarakan ritual-ritual masa itu. Walhasil, setelah musim panen dengan hasil yang melimpah ruah Walu Ea kemudian hendak menyelenggarakan pesta Panen  (Kokaaha Ndondo Ua). Diperintahkanlah kepada masyarakat untuk berburu binatang sebagai pelengkap  bahan pangan dan ketika para pemburu berada di sekitar Gunung Batu Sangia, perolehan binatang buruan telah banyak dan para pemburu ini kemudian menebas bambu kuning, konon dalam bambu itu ditemukan manusia, yang kemungkinan orang ini dikenal dengan nama Mokole Wakaa-kaa,

Mokole Wakaa-kaa ini dalam sejarah Kabaena, di nobatkan sebagai pemangku adat yang mengatur tata cara tradisi aktivitas kehidupan masyarakat  (adat istiadat ) dan yang menobatkan Mokole  (RAJA), Beliaulah yang menerima Pusaka Keris yang diyakini sebagai keris Wahyu Bumi Kabaena.

Demikian pula dikisahkan bahwa sekelompok masyarakat Kabaena yang lainnya yang berada di Wilayah Tabaro, Kabaena Selatan sekarang. Mereka menemukan seorang laki-laki di dalam Bambu  ( tari), yang konon berpakaian kebesaran Raja lengkap dengan kerisnya, Keris ini kemudian di kenal dengan nama TOBO TONGKI WONUA, yakni keris Kabaena dalam arti bahwa syarat syahnya Mokole  Kabaena adalah dengan disematkan keris ini pada saat penobatan Mokole  ( Pohombunia).

Pria yang di temukan ini setelah penobatan di anugerahi gelar DA TEBOTA TULANGGADI.

Demikian pula di kisahkan bahwa sekelompok wanita kala itu turun ke Mata air Wataroda untuk mengambil air namun mereka menemukan seorang wanita di sela-sela bunga pohon Waru juga memiliki Kalung yang di sebut Palonda, wanita ini kemudian di beri gelar DA TEBOTA WULELE WARU.

singkat cerita, dalam acara pesta panen itu dilaksanakan musyawarah untuk penyelenggaraan pemerintahan kala itu.

Dalam musyawarah di sepakati bahwa antara TEBOTA TULANGGADI  dan TEBOTA WULELE WARU, dinikahkan oleh Wakaa-kaa, dengan syarat TEBOTA WULELE WARU, berpantang untuk memegang najis termasuk membersihkan anak mereka kelak jika membuang kotoran  (bab), syarat ini dipenuhi oleh TEBOTA TULANGGADI, di atur pula bahwa Mokole Wakaa-kaa ditunjuk sebagai pemangku adat yang salah satu kewajibannya adalah menobatkan Mokole.

Simpulannya TEBOTA TULANGGADI DAN ISTERINYA Dinobatkan jadi Raja, Wakaa-kaa sebagai pemangku adat yang kemudian hari  menjadi DEWAN SYARA, serta rombongan Walu Ea menjadi Limbo dalam makna masyarakat umum yang dinisbatkan boleh menjadi perangkat kerajaan.

Tradisi penobatan Mokole  (Raja) dalam tatanan hidup masyarakat Kabaena dinamakan “POHOMBUNIA MOKOLE”, Sebagai sesuatu yang sakral dalam simbol manusia digdaya yang menerima anugerah langit untuk menjadi penguasa alam. Demikian pula Mokole I Kabaena Da Tebota Tulanggadi dinobatkan oleh Wakaa-kaa untuk menjadi Mokole. Dalam musyawarah kemudian ditetapkan bahwa Wakaa-kaa sebagai penerima wahyu Kabaena dengan simbol “Keris Tobo Kiamba Parewano Sangia” mendiami Kampung Rahadopi sebagai pusat penyelenggaraan Adat dan budaya serta tempat untuk mengontrol aktivitas pemerintahan yang di emban oleh Mokole.

Sedangkan Tebota Tulanggadi beserta keluarga dan pengawal perangkat kerajaan mendiami E’e Mpu’u di Kampung Tangkeno sebagai pusat kerajaan Kabaena masa itu dengan keris “Tobo Tongkiwonua” sebagai simbol pemegang kekuasaan dan penerima anugerah langit.

Tebota Tulanggadi meninggalkan dua orang putera yakni Lapati dan Malijani.

Dalam permusyawaratan adat di Rahadopi yang terpilih menjadi Mokole selanjutnya adalah Lapati. Lapati masih dinobatkan oleh Wakaa-kaa. Tertib pemerintahan semakin baik dengan datangnya seorang penyiar agama Islam yang bernama Abdurrahman Saleh bin Abdullah dengan gelar Tebota Orima.

3) Hubungan Gowa dan Kabaena

Alkisah dijelaskan bahwa Setelah Mokole Lapati menjelang usia Tua, dan roda pemerintah telah berjalan dengan baik, beliau ingin mengundurkan diri dari jabatan sebagai Mokole namun sayang salah satu putranya yang merupakan calon terkuat untuk menggantikannya telah lama meninggalkan Kabaena merantau entah kemana negeri yang di pijaknya.

Akhirnya Mokole Lapati menyerahkan jabatan sementara pada adiknya Malijani untuk memangku Mokole, kemudian beliau berlayar mencari anaknya yang bernama Labatara.

Dalam perjalanan masa pencariannya, Mokole Lapati sampai di Tanah Gowa.

Alkisah diceritakan bahwa sesampainya di hadapan Somba Gowa, oleh Somba Gowa menanyakan maksud dan tujuannya ke Gowa, oleh Mokole Lapati menjelaskan tujuannya bahwa kedatangannya di Gowa adalah untuk mencari anaknya yang telah lama merantau, oleh Somba disampaikan pula bahwa tidak ada pendatang baru orang rantau yang datang ke Gowa. Mokole Lapati selanjutnya pamit pulang.

Namun, sebelum sampai di perahu datang utusan Somba untuk mengajaknya kembali ke balla lompoa. Mokole Lapati mengikuti kehendak Sombaya, setelah berapa lama tinggal di Gowa, Mokole Lapati menikah dengan kemenakan Sombaya, pada saat isterinya hamil, Mokole Lapati pamit untuk pulang ke Kabaena dan berpesan pada isterinya bahwa jika anaknya telah lahir dan berjenis kelamin laki-laki, jika setelah dewasa ingin mencari negeri ayahnya maka berlayarlah ke timur dan bila melihat negeri atau pula yang gunungnya berbentuk layar maka itulah negerinya Kabaena.

Singkat cerita putera Mokole Lapati di Gowa bernama Daeng Masaro, setelah dewasa berangkat menuju Timur mencari ayahanda namun sayang ketika mendarat di Kabaena terjadi kesalahpahaman antara Daeng Masaro dan penjaga pantai sehingga terjadi perang dan daeng Masaro mati terbunuh tempat daeng Masaro wafat dikenal dengan nama One Nidundu, dan konon cincin  emas kawin ayahnya yang dilemparkan ke tanah sebelum wafat memunculkan mata air yang bergelumbung seperti mendidih, mata air itu kini dikenal dengan nama E’E KOBURA-BURA.

4) Hubungan Kabaena dan Buton

Sebagaimana dikisahkan sebelumnya, bahwa putra Mokole Lapati yang bernama Labatara Sangia Daila, merantau tak diketahui kemana negeri yang di diami, rupanya Labatara tertawan oleh Bajak laut Tobelo dan di serahkan pada kesultanan Ternate dan dijadikan pengawal Sultan. Dan pada saat konflik Ternate dan Buton, Labatara tertawan oleh pasukan Buton dan di ikat di Ngangana umala  (daerah pantai di Bau-Bau). Dan oleh orang Buton di beri nama Mia yi kalo  (orang terikat).

Dalam konflik  pemisahan antara Buton dan Ternate Labatara Sangia Daila alias Mia yi Kalo mempunyai peranan yang penting sebab sedikit banyaknya mengetahui bagaimana strategi Ternate dalam menguasai atau ekspansi ke kerajaan lain, berhubung Labatara dimasa sebelumnya merupakan pengawal sultan Ternate dan merupakan kepercayaan Sultan.

Sesudah urusan pemisahan kesultanan Buton dan Ternate selesai, oleh Raja Mulae, Labatara dikawinkan dengan puterinya. Setelah perkawinan kedua mempelai mengalami intrik politik sehingga ia dan isterinya membuang diri ke ke daratan Pulau Kabaena tetapi tidak langsung kembali ke keluarganya di Tangkeno (Kabaena). Hal ini dilakukannya karena tahu bahwa pemisahan diri Buton dan Ternate belum tuntas, Labatara tahu betul bahwa sultan Ternate tidak akan mentolerir pemisahan itu dan dia yakin akan terjadi lagi suatu pertikaian ataupun peperangan.

Ramalannya terbukti. Pada saat itulah Bontona Beropa dan Bontona Baluwu memperingatkan bahwa satu-satunya manusia yang bisa menyelamatkan Buton adalah anak mantu Raja Mulae sendiri yang sebenarnya adalah pangeran dari Kabaena. Akhirnya Bontona Baluwu dan Bontona Beropa oleh Raja diperintahkan untuk mencari Labatara dan ditemukan di Wae Kalimbungu daratan Kabaena, dan di ajak pulang ke Buton, namun Labatara sebelum ke Buton terlebih dahulu mampir pamit pada ayahnya di Tangkeno dan di bekali dengan Trisula, Trisula ini menjadi salah satu alat perangkat kebesaran Sultan.

Setelah permasalahan tuntas Labatara di angkat oleh dewan syarat kesultanan Buton menjadi Sapati dengan gelar SAPATI MANJAWARI.

Setelah menjabat Sapati, Manjawari alias Labatara Mengajak saudara kandungnya Sugilara Mokole Kabaena untuk bergabung dengan Buton, namun oleh Mokole Sugilara mengusulkan untuk mengajak serta pula saudara serumpun Moronene yakni Polea dan Rumbia untuk bersama-sama bergabung dengan Buton sebagai federasi kerajaan. Hal ini dilakukan demi tercapainya kekuatan yang sempurna untuk kelak menghadapi ancaman kesultanan Ternate dan Gowa dan terutama sekali untuk menghadapi bajak laut Mindanao saat itu yang pada zaman itu menjadikan pulau Morotai dan Tobelo pusat kekuasaan Bajak laut kawasan timur besar  (zee rovers domeijn in de groote Oost).

Ketiga Kamokole’a  (kerajaan) Moronene tersebut setuju dengan federasi yang di ikat dengan perjanjian,

  1. Jabatan Sapati di Buton harus di jabat oleh pangeran dari Kabaena mewakili kerajaan-kerajaan Moronene, namun sayangnya ketentuan ini hanya terjadi pada masa Manjawari jadi Sapati.
  2. Wolio dalam hal ini kesultanan Buton sebagai pemimpin pertahanan keamanan dan bila ada serangan dari luar secara bersama-sama menyiapkan pasukan angkatan perang.
  3. Kerajaan Rumbia jika sewaktu-waktu dibutuhkan oleh Buton  agar mensuplai bahan-bahan bangunan mulai dari atap Rumbia sampai ramuan kayu
  4. Kerajaan Polea dijadikan sebagai pusat wisata berburu, sebab sifat kesultanan Buton yang tertutup maka daerah Pajongang di Poleang dijadikan pusat berburu bila ada tamu kesultanan baik dari kerajaan Barat Bone dan Gowa maupun dari kerajaan Utara, Luwu, Mekongga dan Konawe.
  5. Kerajaan Kabaena sebagai suplier beras untuk kesultanan berhubung karena Kabaena merupakan daerah yang subur dan Makmur dimasa lalu.

Selanjutnya dalam sidang-sidang dewan federasi kesultanan ditetapkan bahwa Lakina-lakina kerajaan Wolio duduk melingkar berhadapan dengan Sultan sebagai ketua Majelis sedangkan ketiga Mokole dari kerajaan Moronene duduk di luar lingkaran sebagai Opu/Laki Sambali (Kerajaan anggota Federasi kesultanan).

Masa pemerintahan Kamokole’a di Tangkeno sebagai pucuk pemegang kekuasaan eksekutif tertinggi berakhir pada tahun 1664, setelah Mokole La Nota membagi wilayah Kabaena menjadi 3 wilayah otonom yaitu Tangkeno, Lengora dan Kotu’a. Pembagian 3 wilayah otonom ini berhubung karena pergolakan yang terjadi baik secara internal maupun eksternal Kamokole’a Kabaena sendiri. Secara eksternal akibat dari peningkatan jumlah penduduk yang tinggi saat itu sehingga di pandang perlu untuk membagi 3 wilayah juga di karenakan penduduk pulau kabaena saat itu akibat perang tidak taat dalam pembayaran pajak yang besar sehingga banyak yang mangkir, secara eksternal akibat perang Gowa dengan Belanda yang melibatkan Buton juga ekspansi Ternate yang tajam terhadap kesultanan Buton, sehingga untuk meningkatkan keamanan tiap wilayah di bagi menjadi tiga wilayah.

Adapun yang pernah menjabat Mokole Tangkeno adalah sebagai berikut:

  1. Da Tebota Tulanggadi
  2. Mokoke Lapati
  3. Mokole Malijani
  4. Mokole Sugilara
  5. Mokole Hendi Karama
  6. Mokole Hendi Bara
  7. Mokole La Somba
  8. Mokole La Hadi
  9. Mokole La Wadi
  10. Mokole Ambara
  11. Mokole Wadurani Intataha
  12. Mokole La Nota.

5) Kotu’A sebagai pusat Pemerintahan

Alkisah dalam pembagian wilayah Kabaena menjadi tiga bagian, maka masing-masing wilayah di berikan pusaka sebagai simbol pemegang Kekuasaan kepala negeri atau Mokole. Untuk Wilayah Lengora pusaka pegangan adalah Tobo Tandu Tina Mela  (keris Tanduk Rusa Betina) keris ini berhulukan Tandu Rusa Betina.

Untuk wilayah Tangkeno pusaka kebesarannya adalah Palonda yakni Kalung yang digunakan oleh Da Tebota Wulele Waru ketika pertama ditemukan. Sedangkan wilayah Kotu’a diserahkan Tobo Tangki Wonua yakni keris Pusaka turun temurun yang di mandatkan sebagai Mokole.

Dalam putusan itu disepakati bahwa yang di berikan kuasa untuk mengurus ketiga wilayah adalah Mokole Kotu’a dan juga sebagai yang mewakili Kabaena untuk urusan-urusan luar negeri dan yang duduk sebagai perwakilan ketiga wilayah untuk menghadiri rapat federasi dengan kesultanan Buton.

Oleh karenanya, Mokole pertama Kotu’a yakni i Mbue Pokuru dengan Gelar Insusura jabatan sebagai pemuka agama dan Adat sebelum dinobatkan menjadi Mokole, setelah penobatan di gelar pula Sangia Day Tongalere.

Dengan demikian, dua pusaka Kabaena yakni Tobo Kiamba Parewano Sangia, dan Tobo Tongki Wonua sampai sekarang di pegang oleh penerus Trah Day Tongalere.

Langkah pembenahan yang dilakukan oleh Day Tongalere adalah

  1. Karena sebelum di angkat jadi Mokole Kekuasaan adat tertinggi berada di Dewan Sara da Motu’a berkedudukan diwilayah Kotu’a Rahadopi dan Sangia Tongalere sebagai pemangku Sara, maka untuk membentuk dewan baru di Tunjuklah da Motu’a di Kampung Poo sebagai Dewan Sara da Motu’a untuk menobatkan dan memakzulkan Mokole serta sebagai dewan perwakilan Rakyat. Dengan demikian Kedudukan Mokole tetap di awasi oleh lembaga yang berkompeten.
  2. Menambah jabatan Baru Hakim Kerajaan yang dinamakan Tuankali, inilah peradilan tingkat banding sebelum sampai pada kasasi yang berada dalam kekuasaan Mokole.
  3. Melakukan perbaikan dengan menunjuk seorang sekretaris Mokole yang mengatur tata cara pemerintahan sebagai pendamping Mangkuta Ala  ( perdana menteri ). Aturan ini berlaku sampai kemerdekaan negara Republik Indonesia.

Adapun yang menjadi Mokole Kabaena periode Kotu’a adalah sebagai berikut:

  1. Pokuru gelar Mbue Ntama Day (Singkat MND) Tonga lere/insusura
  2. Haji Camara Gelar MND Salama Hadia
  3. Umara Gelar MND. Carambau/poumeti
  4. Jamaluddin Gelar MND. Rapa Masigi
  5. I Ncoalu Haji Muhammad Yasin Gelar MND. Pu’uroda
  6. Intawu H. Muhammad Yasir Gelar MND Salama Olaro Mbue Olondoro
  7. Icoke Haji Muhammad Natsir Gelar MND Watekule
  8. H. Muhammad Hasan Gelar MND Pedoomi
  9. Incoalu Haji Muhammad Yasin Gelar MND Pu’uroda
  10. Injula Haji Muhammad Arsyad MN Tamano Jama
  11. Haji Abdul Mukti MND Entotosi satu-satunya Mokole yang menggunakan gelar dengan nama kecilnya karena nangkokonto ihi matano hi poonto miano,
  12. I Mokanda Haji Jamaluddin Gelar MN Motu’a
  13. Idode Haji Muhammad Said Gelar Sulewatang
  14. Anakoda Haji Muhammad Ali Gelar MND Dama
  15. Haji Abdurrahim Gelar MND Raha/Boba.

6) Struktur pemerintahan Kamokoleá (kerajaan) Kabaena

  1. Sara Da Motu’a

Merupakan Lembaga perwakilan rakyat yang bertugas:

  1. Dewan yang bertugas menyeleksi dan menyaring Anakia untuk dicalonkan jadi Mokole
  2. Memilih, menobatkan, dan memakzulkan Mokole
  3. Dewan yang menimbang dan memutuskan bagian-bagian tanah ulayat yang dimiliki oleh masing-masing Anakia
  4. Dewan yang bertugas memberi pertimbangan pada Mokole dalam hal tata pemerintahan, pernyataan perang dan keputusan adat istiadat
  5. Dewan yang menyusun dan menferifikasi silsilah dan nasab
  6. Anakia

Kelompok Bangsawan yang terbagi dalam dua kelompok, yaitu :

  1. Anakia Motaha yakni ayah dan ibunya adalah bangsawan tulen yang berhak atas takhta dan mahkota
  2. Anakia Sabo bangsawan yang tidak berhak atas mahkota dan takhta tetapi berhak duduk dalam pemerintahan disebabkan karena salah satu dari ayah dan ibunya bukan bangsawan

III. MOKOLE

Fungsi mengatur tata pemerintahan sekaligus sebagai kepala negara yang di bantu oleh tiga pejabat tinggi negara, yaitu :

  1. Sekretaris kerajaan sebagai pejabat yang berwenang mengatur sistem administrasi kerajaan juga merangkap sebagai juru tulis dan juru bahasa
  2. Mangkuta Ala (perdana menteri )

Membawahi

  1. Kapala  (puu tobu) , pejabat tertinggi masing-masing kampung yang melaksanakan fungsi kepala adat Da Rapaiho Adati, mengelola tata pemerintahan dalam kampung Tobu serta melaksanakan fungsi yudikatif sebagai pengadilan tingkat pertama sebelum banding yang di ajukan pada Tuankali
  2. Pabitara

Sebagai juru bicara yang bertanggung jawab kepada Mangkuta Ala yakni sabda Raja setelah diumumkan harus di laporkan kepada Mangkuta Ala setelah di sampaikan secara resmi di “Laica Tompunani Sumpa Tumpua Lele” rumah khusus di samping istana yang juga berfungsi sebagai tempat menyambut tamu dan menabuh gendang tarian saat pesta

  1. Tolea

Berfungsi sebagai duta adat, baik sebagai utusan untuk urusan negara maupun dalam urusan perkawinan. Tolea beranggotakan, Potulu, pengacara urusan protokoler, Sara da Motu’a totoro’a Adati, orang yang ahli dalam bidang adat. Da Rapaiho Sara, perwakilan kerapatan adat yang terkecil dalam satu kampung dan Da Rapaiho Adati kepala adat.

  1. Kapita

Pejabat negara sebagai sahbandar dan kepala pajak.

  1. Palima-limano Mokole yakni perangkat protokoler istana.
  2. Bisa

Sebagai tabib istana juga penyelenggara seremoni adat.

  1. Tuankali

Sebagai lembaga yudikatif yang terdiri dari Yarona, pu’uno Adati/limbo mardica, hatibi, modi dan doda

  1. Tamalaki

Sebagai Panglima Angkatan bersenjata yang Membawahi, Lampi O’o yaitu pasukan pengawal Mokole, Tama Mo’anu yakni Pasukan perang dan Toria Ngapa yakni pasukan penjaga pantai.

7) Kesenian dan tarian 

  1. Tari Lumense
  2. Tari Lulo Alu
  3. Tari Lulo
  4. Tari Momani  (tarian perang)
  5. Mansa tari beladiri

Kesenian yakni

  1. Musik Bambu
  2. Ore-ore
  3. Kada nyanyian kisah epos terancam punah
  4. Ohohi pantun cinta juga terancam punah.

Tradisi yang masih ada

  1. Meoli yakni tradisi seremoni untuk membersihkan negeri dari bala bencana sekali setahun
  2. Tradisi adat perkawinan
  3. Seremoni adat pembukaan lahan pertanian yakni Motasu, mobelai kinaa dan puhu
  4. Pontula yakni tradisi pesta setelah panen
  5. Mangkilo tradisi ini hampir punah yakni proses pengislaman anak-anak setelah memasuki usia remaja yang di bimbing oleh guru Mangkilo.
  6. Tradisi Maulu’a Tradisi memperingati kelahiran Rasulullah
  7. Tradisi Mikraji’a
  8. Tebasano sipu yakni Tradisi Nishfu Sya’ban sekaligus pencucian benda-benda pusaka kerajaan

9 Mompaka Ana elu, tradisi ini sudah tidak ada yakni Mokole pada saat setelah sholat idul fitri, mengundang seluruh anak yatim, piatu dan yatim piatu dan duduk bersama-sama Raja Makan secara melingkar setelah itu di berikan sumbangan berupa pakaian dan uang untuk sekedar biaya hidup. Tradisi ini lenyap seiring dengan miskinnya raja-raja kabaena setelah peristiwa DI/TII, Karena semua kekayaan di sumbangkan untuk kebutuhan pemerintahan setelah merdeka.