Patipi, kerajaan / Prov. Papua Barat – kab. Fak Fak

Kerajaan Patipi; terletak di semenanjung Onin, di ujung barat Semenanjung Onin, kab. Fak Fak, prov. Papua Barat.

The kingdom of Patipi is located on the peninsula Onin, district of Fak Fak prov. Papua Barat.
For english, click here

Lokasi prov. Papua Barat

——————

Lokasi Patipi, kab. Fak Fak


* Foto raja-raja di Papua yang masih ada: link
* Foto kerajaan Papua dulu: link
* Foto situs kuno di Papua: link
* Foto suku suku Papua: link


Tentang Raja kerajaan Patipi

Raja ke-15 kerajaan Patipi (2019): Achmad Iba


Tentang dinasti kerajaan Patipi

Dalam timur dari semenanjung Bomberay di Papua terletak daerah Namatota, atau Kowiai. Raja Namaotota, yang tinggal di ibukota Namatota adalah sama dengan raja Rumbati raja yang paling penting dari semenanjung.
Salah satu mantan vasalkerajaan Rumbati adalah Patipi. Sudah lama punya penguasa sendiri. Ini dikenal karena keinginan penguasa mereka untuk membawa islam untuk masyarakat sekitarnya. Dinasti raja ini adalah dinasti ke-2, yang pernah memerintah Patipi.
Dinasti raja yang pertama masih dalam suasana pemerintahan di abad ke-20 dan bahkan disampaikan 2 raja pada waktu itu, ketika dinasti ke-2 sudah memerintah. Raja sekarang hanya bupati-raja Paitpi: BupatiRaja Ahmad Iba dan dianggap sebagai penguasa ke-16 Patipi. Ketika saudaranya Raja Usman Iba meninggal, ia menjadi bupati, karena putera mahkota (putra raja almarhum) kemudian masih belajar: Raja Muda Atarai Iba. Tidak diketahui, ketika puetra mahkota akan dilantik sebagai raja baru. Bupati adalah seorang pejabat pensiunan departemen perikanan kabupaten Fak Fak.

Raja Achmat dari Patipi, memerintah 1903-19.. Sumber foto: Donald Tick, Facebook


Sejarah kerajaan Patipi

Kerajaan Patipi terletak di semenanjung Onin, di ujung barat Semenanjung Onin, kab. Fak Fak, prov. Papua Barat.

Islam masuk ke Kerajaan Patipi pada 1224. Kerajaan Patipi terdapat di daerah Papua. Pemimpin yang terkenal dari kerajaan Patipi adalah Ahmad Iba yang merupakan Raja Patipi ke-15. Dahulu, Semenanjung Onim adalah wilayah yang dikuasai tiga kerajaan besar, yaitu kerajaan patipi, Kerajaan Rumbati, Kerajaan Fatagar. Sebelum berdiri menjadi kerajaan sendiri. Patipi merupakan bagian dari kerajaan Rumbati. Patipi memutuskan untuk melepasakan diri dari kerajaan Rumbati pada tahun 1898 yaitu ketika Pax Neerlandica. Untuk sekarang ini, kerajaan Patipi masih diaku secra adat. Kerajaan Patipi mempunyai wilayah beberapa kampung yang tiap kampung dipimpin oleh “kapitan”. Kerajaan Patipi terletak di barat Semenanjung Onim.

Silsilah raja-raja Kerajaan Patipi berasal dari Batinginwanas. Orang pertama dari keturunan ini yang menerima gelar  raja dari Sultan Tidore adalah Daulak.
Setelah Daulak, berturut-turut Ruminggi dan Sabtu menjadi  raja. Pada saat Sabtu meninggal, putranya Mooi berada di Seram. Kesempatan ini digunakan oleh seseorang bernama Semeni, pada saat itu menjadi Imam di Patipi, untuk merebut gelar raja bagi dirinya dan keturunannya. Setelah itu keturunan raja asli ditolak haknya dan pangkat raja tetap dimiliki oleh keturunan Semeni. Dari garis pria dia berasal dari gunung Koman dan dari garis wanita berasal dari gunung Iba atau Kowet.
Kemudian Semeni digantikan oleh adiknya Abdulrachim alias Aterey yang putranya, Usmaila, menjadi raja Patipi. Pengangkatan Abdulrachim sebagai raja Patipi didasarkan pada sebuah keputusan pengangkatan menjadi raja  Patipi, yang diberikan kepadanya pada tanggal 15 Juni 1896  oleh residen Ternate. Pengangkatan Abdulrachim sebagai raja juga didasarkan pada nasihat dari Mohamad Tahir Alting Pangeran Tidore dan raja Misool Abdulmajij.

Raja kerajaan Patipi (2014): Achmad Iba


Raja Rumbati dan raja Patipi

Salah satu raja mantan raja dari kerajaan Rumbati adalah Patipi. Beliau sudah memerintah sejak lama. Beliau dikenal karena keinginannya memperkenalkan dan membawa Islam kepada orang-orang disekitarnya. Keberadaan dinasti raja ini adalah dinasti kedua yang mana pernah memerintah di Patipi. Raja pertama masih dalam pemerintahan di abad ke-20 bahkan sempat diperintah olehnya selama dua kali periode raja pada wakktu itu, ketika dinasti kedua memerintah.
Raja yang memerintah kini adalah sebatas wilayah Raja Bupati, yaitu Raja Patipi ketika Raja Bupati, Ahmad Iba dianggap sebagai penguasa ke-16 kerajaan Patipi. Ketika saudara kandungnya Raja Usman Iba meninggal, ia menjadi bupati karena anak raja mewariskannya sebagai penerus atau ahli waris (putra raja almarhum) disaat ia masih mempelajari yaitu Raja Muda Atarai Iba. Hal ini tidak diketahui, ketika ahli waris tahta akan dinobatkan sebagai raja baru. Bupati adalah pensiunan pegawai dari departemen perikanan kabupaten Fak Fak.

– Sumber: http://rudolphrainer007.blogspot.co.id/2015/02/islam-2.html

Raja Oesmaila of Patipi 1902


Daftar raja kerajaan Patipi

* ……. – 200?:  Usman Iba (d. 200.)
* 2003 – …… :  Achmad Iba (b. 1939)

– Sumber: http://www.worldstatesmen.org/Indonesia_princely_states2.html

Silsilah Raja-Raja Patipi. Sumber: Miedema, J dan W.A.L. Stokhof  (eds.). 1992. Irian Jaya Source Materials No. 3 Series A-No.2: Memories van Overgave van de Afdeeling West Nieuw Guinea. Leiden: DSALCUL/IRIS


Kerajaan kerajaan di Papua Barat

1) Kabupaten Kaimana

Kerajaan Aiduma
Kerajaan Kaimana / Raja Komisi
Kerajaan Kowiai/kerajaan Namatota

2) Kabupaten Fak Fak

Kerajaan Fatagar (marga Uswanas)
Kerajaan Rumbati (marga Bauw)
Kerajaan Atiati (marga Kerewaindżai)
Kerajaan Patipi
Kerajaan Sekar (marga Rumgesan)
Kerajaan Wertuar (marga Heremba)
Kerajaan Arguni

3) Kabupaten Raja Empat

Kerajaan Waigeo
Kerajaan Misool/Lilinta (marga Dekamboe)
Kerajaan Salawati (marga Arfan)
Kerajaan Sailolof/Waigama (marga Tafalas)
Kerajaan Waigama


Sejarah kerajaan-kerajaan di Fak Fak, Papua Barat

Di Fakfak, Papua Barat berdiri 7 kerajaan Islam yang dalam bahasa setempat disebut dengan pertuanan. Masing-masing pertuanan (kerajaan) ini dipimpin oleh seorang raja.
Tujuh pertuanan ini yaitu:
Pertuanan Atiati di Werpigan,
Pertuanan Fatagar di Fakfak,
Pertuanan Arguni di Arguni,
Pertuanan Sekar di Kokas,
Pertuanan Wertuar di Kokas,
Pertuanan Rumbati di Rumbati dan
Pertuanan Patipi di Patipi Pasir.
Tujuh pertuanan ini terdiri dari beberapa suku yaitu Suku Mbaham, Suku Ma’ta, Suku Mor, Suku Onim, Suku Irarrutu dan Suku Arguni yang masing-masih memiliki bahasa sendiri.

Wilayah masing-masing pertuanan sangat erat kaitannya dengan adat istiadat pertuanan. Pertuanan Ati-Ati wilayah adatnya di Distrik Fakfak Barat, Distrik Wartutin, Distrik Fakfak Timur, Distrik Karas dan Distrik Fakfak Timur Tengah.
Pertuanan Fatagar wilayah adatnya di Distrik Fakfak dan Distrik Pariwari, Pertuanan Arguni wilayah adatnya mulai dari pesisir Pantai Arguni hingga kawasan Distrik Bomberay.
Pertuanan Sekar dan Wertuar dengan wilayah adatnya di Distrik Kokas, Distrik Kayauni dan Distrik Kramongmongga. Pertuanan Patipi dan Rumbati dengan wilayah adat di Distrik Teluk Patipi dan Distrik Furwage.

Sejarah pertuanan ini terbentuk pada abad ke-16, saat itu tokoh-tokoh penting Semenanjung Onin, di kawasan Teluk Berau mengunjungi Kerajaan Bacan, di Maluku Utara. Dari kunjungan itu terbentuklah kerajaan-kerajaan atau pertuanan di Fakfak.
Pada awalnya, letak pusat-pusat pertuanan tersebut saling berdampingan di ujung barat Semenanjung Onin. Namun, pada tahun 1878, pertuanan Fatagar dan Atiati bergeser ke Pulau Ega.

Dalam perkembangannya selanjutnya, Raja Atiati memindahkan pusat pertuanan ke suatu tempat di Semenanjung Onin, berdekatan dengan Pulau Ega. Pusat pertuanan yang baru ini kemudian disebut dengan Atiati sesuai nama raja. Sedangkan Raja Fatagar memindahkan pusat pertuanannya ke Merapi, sebelah timur Distrik Fakfak sekarang.

– Sejarah lengkap kerajaan di Papua: https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/wp-content/uploads/sites/17/2015/03/Kerajaan-Fatagar-Dalam-Sejarah-Kerajaan-Kerajaan-Di-Fakfak-Papua-Barat.pdf

In 1952 the raja of Patipi died and not directly a new raja could be installed, so the districtchief of Kokas (left) became the temporary-raja for a short time. Sumber foto: donald tick, Facebook


Sejarah kerajaan-kerajaan di Raja Empat, Papua Barat

Asal usul Raja Ampat tak bisa dilepaskan dari suku asli yang mendiami pulau terbesar di Raja Ampat, Waigeu, yakni suku Maya. Hingga saat ini suku asli Raja Ampat ini masih berdiam di pulau Waigeu.  Namun mereka tidak tinggal di Waisei yang merupakan Ibukota Kabupaten Raja Ampat, suku Maya memilih tetap tinggal di pedalaman. Menurut Yohanes yang kini menjabat sekretaris dewan adat suku Maya, kisah asal usul Raja Ampat tak bisa dipisahkan dari cerita munculnya raja-raja dari suku Maya.
Terdapat beberapa versi cerita mengenai asal-usul nama Raja Ampat yang diwariskan turun-temurun dari didalam kehidupan masyarakat asli kepulauan Raja Ampat.
Salah satu versi dari cerita ini adalah sebagai berikut. Raja Ampat ditinjau dari sisi sejarah ditinjau dari sisi sejarah, Kepulauan Raja Ampat di abad ke-15 merupakan bagian dari kekuasaan kesultanan Tidore, sebuah kerajaan besar yang berpusat di Kepulauan Maluku.
Untuk menjalankan pemerintahannya, kesultanan Tidore ini menunjuk 4 orang Raja lokal untuk berkuasa di pulau Waigeo, Batanta, Salawati dan Misool yang merupakan 4 pulau terbesar dalam jajaran kepulauan Raja Ampat sampai sekarang ini. Istilah 4 orang Raja dalam yang memerintah di gugusan kepulauan itulah yang menjadi awal dari nama Raja Ampat.

Berdasarkan sejarah, di Kepulauan Raja Ampat terdapat empat kerajaan tradisional, masing-masing yaitu:
* Kerajaan Waigeo, dengan pusat kekuasaannya di Wewayai, pulau Waigeo; penguasa kerajaan Waigeo (sejak zaman ke-16 bawahan kesultanan Ternate):
– Gandżun (1900-1918)
* Kerajaan Salawati, dengan pusat kekuasaan di Samate, pulau Salawati Utara; penguasa kerajaan Salawati (sejak zaman ke-16 bawahan kesultanan Ternate):
– Abd al-Kasim (1873-1890)
– Muhammad Amin (1900-1918)
– Bahar ad-Din Arfan (1918-1935)
– Abu’l-Kasim Arfan (1935-?)
* kerajaan Waigama/Sailolof dengan pusat kekuasaan di Sailolof, pulau Salawati Selatan; penguasa kerajaan Waigama (sejak zaman ke-16 bawahan kerajaan Bacan):
– Abd ar-Rahman (1872-1891)
– Hasan (1891/1900-1916)
– Syams ad-Din Tafalas (1916-1953)
* kerajaan Misool/Lilinta, dengan pusat kekuasaan di Lilinta, pulau Misol; penguasa kerajaan Lilinta/Misol (sejak zaman ke-16 bawahan kerajaan Bacan):
– Abd al-Majid {1872-1904)
– Jamal ad-Din (1904-1945)
– Bahar ad-Din Dekamboe (1945 – )

– Sejarah lengkap kerajaan di Papua: https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/wp-content/uploads/sites/17/2015/03/Kerajaan-Fatagar-Dalam-Sejarah-Kerajaan-Kerajaan-Di-Fakfak-Papua-Barat.pdf

Fort Belanda, du Bus tahun 1828


Peta-peta kuno Papua

Untuk peta-peta kuno Papua tahun, 1493, 1600, 1699, 1700-an, 1740, 1857 1857 , klik di sini

Peta tahun 1493


Sumber

Daftar raja Patipi: link

Sejarah kerajaan2 Papua Barat: https://id.wikipedia.org/wiki/Papua_Barat_%28wilayah%29
– Sejarah kerajaan2 di Papua Barat lengkap: https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/
– Sejarah kerajaan2 di Semenanjung Onin: https://id.wikipedia.org/wiki/Semenanjung_Onin
– Sistem kerajaan2 tradisional di Papua: http://papuaweb.org/dlib/s123/mansoben/05.pdf
– Sejarah kerajaan2 di Papua Barat: http://marlinapuspita3.blogspot.co.id/2013/11/papua-barat-wilayah_22.html
– Kerajaan2 di Semenanjung Bomberai: https://id.wikipedia.org/wiki/Semenanjung_Bomberai
Kerajaan2 di kepulauan Raja empat: https://id.wikipedia.org/wiki/Kepulauan_Raja_Ampat


Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: