Suku Tengger – Prov. Jawa Timur

Suku Tengger atau juga disebut wong Tengger atau wong Brama adalah suku yang mendiami dataran tinggi sekitaran kawasan pegunungan Bromo-Tengger-Semeru, Jawa Timur. Penduduk suku Tengger menempati sebagian wilayah Kabupaten Pasuruan, Kabupaten Lumajang, Kabupaten Probolinggo, dan Kabupaten Malang.

Lokasi Jawa Timur


Asal nama

Ada 3 teori yang menjelaskan asal nama Tengger:

  • Tengger berarti berdiri tegak atau berdiam tanpa gerak, yang melambangkan watak orang Tengger yang berbudi pekerti luhur, yang harus tercermin dalam segala aspek kehidupan.
  • Tengger bermakna pegunungan, yang sesuai dengan daerah kediaman suku Tengger.
  • Tengger berasal dari gabungan nama leluhur suku Tengger, yakni Rara Anteng dan Jaka Seger.

Upacara Melasti Suku Tengger di Bromo.


Masyarakat Suku Tengger

– Sumber: http://suku-dunia.blogspot.com/2015/02/sejarah-suku-tengger.html

Masing-masing desa dipimpin seorang kepala desa yang mereka sebut petinggi. Ia dibantu oleh yang disebut caik, yaitu juru tulis kantor desa. Tokoh penting dalam kehidupan sosio religius mereka adalah para dhukun, yang tidak lain adalah para pemimpin upacara dalam agama Hindu Darma yang mereka anut, sekaligus sebagai pemimpin adat kelompok dukuh masing-masing. Seorang dhukun dibantu oleh dua orang yaitu seorang wong sepuh yang bertugas mengurus upacara adat kematian dan menyediakan segala macam sesaji dan seorang legen yang bertugas mengurus upacara perkawinan dan menyiapkan perlengkapannya.

Seorang petinggi juga dibant oleh sejumlah aparat, yaitu kampung polisi yang bertugas menjaga keamanan dan ketenteraman desa. Kampung gawe bertugas sebagai penghubung/pesuruh desa. Kampung cacar yang bertugas di bidang kesehatan masyarakat, dan seorang kebayan latar yang bertugas di bidang kebersihan desa.

Orang Tengger memiliki sistem kekerabaran yang bilateral sifatnya. Keluarga-keluarga inti memang menonjol perannya dalam kehidupan sehari-hari, tetapi dalam urusan sosial yang lebih bsar kelompok kekerabatan bilateral menjadi lebih penting artinya. Sistem pewarisannya sama seperti pada masyarakat Jawa, yang diperhitungkan menurut ungkapan sepikul segendongan, sepikul untuk anak laki-laki, dan segendongan untuk anak perempuan, artinya sama-sama banyak sumbangannya. Dalam kehidupan sosial masyarakat ini tidak mengenal perbedaan status yang tajam.

Pada masa sekarang orang Tengger menggolongkan kepercayaan mereka ke dalam agama Hindu Darma. Kepercayaan mereka lebih dipengaruhi oleh kepercayaan setempat. Mereka percaya kepada Sang Hyang Agung, roh para leluhur, hukum karma, reinkarnasi dan moksa.

Kepercayaan mereka kepada roh dipersonifikasikan antara lain sebagai danyang (makhluk halus penunggu desa atau tempat tertentu) yang dipuja disebuah tempat yang disebut punden. Biasanya di bawah pohon besar atau batu besar. Roh leluhur pendiri desa sering mendapat pemujaan yang lebih besar dan dalam kehidupan sehari-hari dipuja di sanggar pemujaan. Sekali setahun diadakan pemujaan roh leluhur di Kawah Gunung Bromo. Upacara itu lebih dikenal dengan Kasodo. Ajaran agama itu mereka satukan dalam kitab suci yang disebut primbon yang aslinya ditulis di atas daun lontar.

Dalam kepercayaan mereka, orang Tengger sepanjang tahun menjalankan sejumlah upacara yang bersifat massal maupun individu, antara lain upacara Kasodo, Unan-unan, Pujan, Barikan, Nglukat atau Entas-Entas. Semua dilaksanakan menurut waktu yang telah ditetapkan berdasarkan perhitungan tradisional mereka. Orang Tengger membagi satu tahun menjadi dua belas bulan : Kasa, Karo, Katiga, Kapat, Kalima, Kanem, Kapitu, Kawolu, Kasanga, Kasepuluh, Kadesta, dan Kasodo.


Agama

Orang-orang suku Tengger dikenal taat dengan aturan dan agama Hindu. Penduduk suku Tengger diyakini merupakan keturunan langsung dari Kerajaan Majapahit. Nama Tengger berasal dari legenda Rara Anteng dan Jaka Seger yang diyakini sebagai asal usul nama Tengger, yaitu “Teng” akhiran nama Rara An-“teng” dan “ger” akhiran nama dari Jaka Se-“ger”.

Perasaan sebagai satu saudara dan satu keturunan Rara Anteng-Jaka Seger inilah yang menyebabkan suku Tengger tidak menerapkan sistem kasta dalam kehidupan sehari-hari.


Budaya

Bagi suku Tengger, Gunung Bromo atau Gunung Brahma dipercaya sebagai gunung suci. Setahun sekali masyarakat Tengger mengadakan upacara Yadnya Kasada atau Kasodo. Upacara ini bertempat di sebuah pura yang berada di bawah kaki Gunung Bromo utara yakni Pura Luhur Poten Bromo dan dilanjutkan ke puncak gunung Bromo. Upacara diadakan pada tengah malam hingga dini hari setiap bulan purnama sekitar tanggal 14 atau 15 di bulan kasodo (kesepuluh) menurut penanggalan Jawa.

Upacara adat lain yang diamalkan masyarakat Tengger adalah unan-unan, leliwet, entas-entas, dll.


Sumber

– Suku Tengger: https://id.wikipedia.org/wiki/Suku_Tengger
– Suku Tengger: https://way4x.wordpress.com/cerita-tanah-leluhur/sejarah-suku-tengger/
– Suku Tengger: https://www.akupaham.com/suku-tengger/
– Suku Tengger: http://suku-dunia.blogspot.com/2015/02/sejarah-suku-tengger.html


—————————–

———————————-