Sekilas sejarah kerajaan Bambapuan, kerajaan tertua di Sulawesi Selatan

Penulis: Muh. Muchtar. Ro-E

https://www.facebook.com/groups/sejarahsulawesi/permalink/3314303225252319/

———————————————–

LETTOMI ERAN DI LANGI TALLANGMI LONDONGNA LURA

(Patahlah tangga ke langit Tenggelamlah kerajaan Bambapuang di Lura).

Pada umumnya kerajaan di Sulawesi-Selatan mengenal istilah TOMANURUNG di mana pada Lontara di Endekan Massenrempulu Tomanurung di Bambapuang yang memerintah dan bersemayam di puncak Gunung Bambapuang dimana pada zaman itu/

zaman prasejarah gunung Bambapuang merupakan gunung tertinggi di Sulawesi Selatan.

Di atas Puncak Gunung Bambapuang oleh Dewata telah menurunkan 3 orang Tomanurung yang utus kebumi dan berkembang menjadi keluarga besar.
Ketiga Tomanurung tersebut masing-masing Tomanurung Wellangdilangi, Tomanurung Tomborilangi dan Tomanurung Embongbulan. (wanita).

Bahwa umur manusia pada zaman itu rata-rata dapat mencapai sampai seribu tahun, maka ketiga Tomanurung tersebut setelah Dewasa mereka mempunyai rencana untuk hidup mandiri.

Pada suatu Hari ketiganya meminta kepada dewata agar mereka dapat meninggalkan Puncak gunung Bambapuang dan sekaligus meminta diberi bekal kehidupan di dunia dan oleh dewata ditetapkan sebagai berikut:

  1. Tomanurung Wellangdilangi tetap tinggal di puncak gunung Bambapuang dan kepadanya diberikan bekal untuk hidup di dunia berupa makanan yang cepat basi (padi). Tomanurung Wellangdilangi kawin dengan Maccirangka dan keluarga inilah yang turun temurun dan merupakan turunan keluarga raja-raja dari Bugis Makassar dan Mandar.
  2. Tomanurung Tomborilangi diberi kesempatan boleh meninggalkan puncak Gunung Bambapuang dan memilih menuju ke negeri Matarikallo/Tana Toraja disana kawin Dengan Sondabilik yang telah menjadi keturunan raja-raja di Matarikkallo/Tana Toraja Puang Makale.
  3. Tomanurung Embongbulan/wanita diberi kesempatan meninggalkan puncak gunung

Bambapuang dan memilih menyeberangi lautan dan menuju ke Kaluppini di sana kawin dengan Pallipada dan inilah menjadi turunan Sawerigading dan raja-raja di Luwuk (Palopo). Dijelaskan bahwa pada zaman tersebut di kaki gunung Bambapuang/kampung mendatte adalah masih merupakan pantai yang berseberangan dengan Kaluppini. Mengingat Tomanurung Embongbulan seorang Putri maka oleh Dewata diberi bekal makanan yang tidak basi/Tabaro (terdapat di Luwu) dan diberi pula bekal untuk pembelaan diri sebagai ahli ilmu sihir.

Adapun Tomanurung Wellangdilangi yang menetap dipuncak gunung Bambapuang kawin dengan Maccirakkang anak-anak mereka dapat kawin-kawin bersaudara dan iniberlangsung sampai generasi ketujuh.

Setelah generasi ke tujuh inilah mereka telah berkembang menjadi keluarga besar maka oleh Dewata diberikan ketentuan sebgai berikut:

  1. Tidak diperkenankan lagi kawin bersaudara tetapi boleh kawin dengan sepupu-sepupu sekali.
  2. Apabila terjadi pelanggaran tersebut maka akan terjadi musibah dan gunung Bambapuang akan tumbang.
  3. Kelak dimana puncak Bambapuang tumbang maka rakyat disana akan tetap memegang Aluktojolo serta mereka menjadikan negeri kaya, ternyata puncak gunung Bambapuang tumbang persis sampai di negeri Matarikallo/Tana Toraja

Dewata ini dikenal dengan SUMPAH. ENDEKAN TANA DIGALLA TANA DIKABUSUNGGI artinya siapa saja rakyat dan apabila melanggar sumpah tersebut maka ia akan takut, bingung dan gelisah di dalam menghadapi masa depan.

Alkisah pada generasi ketujuh ini terjadi percintaan antara seorang putri raja Dileluwa dengan seorang putra raja Dimendatte/daerah pinggiran pantai pada waktu itu. Percintaan mereka sangat erat sekali sehingga kasih sayang mereka ini dijabarkan dalam syair rakyat pada waktu itu sebagai beriku;t

Tangkedaunmi tolamba
Tangkencolin cendana
Nauladundun
Naletei ceppaga

Ceppagana rileluwa
Sappangna rimendate
Sidendang-dendang
Tamabamban suruga

Surugana bambapuang
Angina butu gajang
Simbongimai
Angkuaalako pammai

Pammai dilamunbatu
Dilamunlatangnga tondok
Burukkibatu
Tangburuk topenawa

Artinya dalam bahasa Indonesia:

Habislah daun pohon beringin
Tak berpucuklah pohon cendana
Dilalui ayam betina
Dan ayam jantan

Ayam Betina dari Leluwa
Ayam Jantan dari Mendatte
Berkasih-kasihan
Menuju pintu surga

Surga digunung Bambapuang
Angin sepoi-sepoi dari Buntu Gajang
Bertiuplah engkau
Untuk kujadikan pelipur lara

Budi baik dikubur bersama batu
Dikubur di tengah rumah
Hancur batu
Tidak akan hancur budi baik

Oleh karena mereka sudah sangat intim sekali maka disepakatilah oleh kedua bela pihak keluarga untuk diadakan perkawinan.
Perkawinan ini berlangsung di Lura dikaki gunung Bambapuang selama tujuh hari tujuh malam dengan pesta yang sangat meriah sehingga kedua bela pihak keluarga semua tuurut bersuka cita.

Pada hari ke tujuh saat pesta perkawinan sudah akan berakhir kedua bela pihak keluarga baru mengingat akan pesan Dewata dari puncak gunung Bambapuang bahwa perkawinan bersaudara dilarang, oleh karena itu sisilah keluarga kedua penganting tersebut di telusuri dan pada akhirnya diketahui dengan jelas bahwa kedua pengantin tersebut ditelusuri dan pada akhirnya diketahui dengan jelas bahwa kedua sejoli tersebut ternyata masih bersaudara satu Bapak.

Oleh karena itu adalah merupakan suatu pelanggaran dari perintah Dewata di puncak gunung Bambapuang maka tiba-tiba keadaan berubah menjadi gempa, turun, hujan deras, terjadi, ombak yang besar disertai gemuruh kilat hal ini berganti siang dan malam selama kurang lebih 40 hari 40 malam.

Pada malam terakhir malam ke 40 gunung Bambapuang yang menjulang tinggi ke langit tumbang dan puncak Gunung Bambapuang persis jatuh di negeri Matarikkallo/Tanah Toraja dan didalam perjalanan perjalanan mereka apabila ada penduduk atau binatang yang menoleh ke belakang melihat ke gunung Bambapuang semuanya berubah menjadi batu dan peninggalan tersebut sampai sekarang masih ada di kampung Kota/ berdekatan dengan kampung Cakke Sossok.

Penduduk yang lari dan sempat sampai ke negeri Marikkallo/Tana Toraja mereka tetap memegang adat Aluk jolo,adat leluhur yang berasal dari puncak gunung Bambapuang dengan melaksanakan acara Rambusolo atau pesta kematian, acara ini dilaksanakan secara besar-besaran dan ini langsung sampai saat ini.

Penduduk di negeri Matarikkalo/Tana Toraja dalam acara Rambutuka atau pesta perkawinan hanya dilaksanakan dalam acara yang sangat sederhana karena apabila diadakan secara besar-besaran mereka takut mendapat kutukan sama yang terjadi Lura Bambapuang.

HUBUNGAN KELUARGA ENDEKAN BAMBAPUANG DENGAN KELUARGA MATARIKKALLO/TANA TORAJA

Keluarga Tomanurung Wellangdilangi dari generasi ke generasi berkembang terus dan memulai proses alamiah air laut yang tadinya di kampung Mendatte menjadi surut dan timbullah kota Endekan Rappang Pare-pare dan kota lainnya di Sulawesi-Selatan maka lahirlah seorang putra Endekan di kampung Lekkong dengan nama Puang Tomaraju anak Puang kota gelar La Tanro Puang Buttu.

Demikian pula keluarga Tomanurung Tamborolangi di negeri Matarikkalo/Tana Toraja berkembang terus dari generasi ke generasi sehingga pada suatu saat lahirlah seorang putri dari turunan Puang Makale/sangngalla yang bernama Puang Landorundun yang cantik.

Pada suatu waktu putri Puang Landorundun mandi di sungai Sa’dang dan sesudah mandi rambutnya dimasukkan dalam kendi terbuat dari buah bila dan dialirkan melaui sungai Sa’dang , sungai ini mempunyai pertemuan dengan sungai Mata Allo di Endekan dan oleh Puang Tomaraaju di Endekan pada suatu waktu sempat mengambil kendi tersebut dan didapatkan berisi rambut yang panjangnya 7 depa 7 hasta dan tujuh jengkal.

Setelah itu Puang Tomaraju Puang Endekan ke I dari Endekan segera menelusuri sungai Saddang sampai ke negeri Matarikkalo/Tana Toraja dan sempat bertemu dengan putri Puang Landorundun akhirnya keduanya dapat hidup berkeluarga dimana pada akhirnya mereka berdua meninggal dan dikebumikandi Endekan kuburan Puang Buttu kembali Hubungan kekeluargaan Endekan Bambapuang/Wellangdilangi dengan keluarga Tomborolangi/Puang Makale di negeri Matarikkalo/Tana Toraja.

HUBUNGAN KELUARGA ENDEKAN BAMBAPUANG DENGAN RAJA-RAJA BONE DAN GOA

Pada waktu Bapak Andi pangerang Pettarani menjadi Gubernur Sulawesi-selatan maka oleh keluarga Puang Makale/Bapak Ir.Puang Tandilangi berkeinginan untuk menjalin hubungan kekeluargaan dengan keluarga raja Goa, pada waktu itu diadakan lamaran oleh keluarga Puang Makale dari Matarikkalo/Tana Toraja tetapi pinangan mereka sementara ditolak karena belum jelas hubungan keluarga antara keluarga raja Goa dengan keluarga Puang Makale.

Karena penolakan tersebut maka oleh keluarga Puang Makale menghubungi La Sellang Puang Tobalu anak La Tanro Puang Buttu di kampung Lura Bambapuang yang merupakan keluarga terdekat dari Puang Makale Matarikkalo/Tana Toraja. Olehnya itu maka di utuslah La Sellang Puang Tobalu bersama La Tangsa bekas Sulewatang Endekan Ro-E Puang Papi melakukan pelamaran kepada Bapak Andi Pangeran Pettrani yang dihadiri juga Bapak Karaengijo Andi Loang raja Goa.

Dalam pertemuan tersebut La Sellang Puang Tobalu menjelaskan bahwa keluarga Puang Makale masih mempunyai hubungan kekeluargaan dengan Raja GOWA dan BONE dari nenek moyang mereka dari Bambapuang ialah To Manurung Wellangdilangi dan turunan Tomanurung Tamborolangi , dijelaskan pula oleh La Sellang Puang Tobalu dalam bahasa Bugis sebagai berikut:

Degaga Goa nakko degga Bone nadetto gaga Bone narekko dengan Luwu nadetto gaga Luwu narekko Degaga Matarikkalo/Tana Toraja narekko degaga Endekan Massenrempulu.

Artinya :

Tidak ada kerajaan Goa kalau tidak ada kerajaan Bone dan tidak ada kerajaan Bone kalu tidak ada kerajaan Luwu serta tidak ada kerajaan Luwu kalau tidak ada kerajaan Matarikkalo/Tana Toraja, dan tidak ada kerajaan Matarikkalo/Tana Toraja kalau tidak ada kerajaan Endekan dari Bambapuang. ini berarti bahwa semua kerajaan yang ada di Sulawesi-Selatan masih mmpunyai hubungan dari keluarga dengan keluarga kerajaan di Bambapuang.

Dengan adanya penjelasan tersebut maka penjelasan oleh keluarga Raja Goa yang diwakili Oleh Andi Pangeran Pettarani langsung menyatakan bahwa lamaran keluarga dari Matarikkalo/keluarga Puang Makale Bapak Ir. Puang Tandilangi dapat diterima perkawinan berlangsung atas dasar kekeluargaan kedua pihak.

Menurut Prof. Dr. Andi Zainal Abidin kerajaan Tertua di Sulawesi-Selatan terdapat di Bambapuang yang merupakan asal turun raja-raja di Sulawesi – Selatan.
Demikian sekilas sejarah Bambapuang yang dapat kita sampaikan pada malam SURUGANNA BAMBAPUANG pada acara di Taman Mini Indonesia Indah tanggal 15 April 1995.