Suku Tolare / Prov. Sulawesi Tengah

Suku Tolare adalah kelompok suku terasing yang mendiami wilayah territorial Desa Mantikole, Kecamatan Dolo, Kabupaten Tingkat II, Kabupaten Donggala, Provinsi Sulawesi Tengah.

Lokasi Kabupaten Donggala, prov. Sulawesi Tengah


Sumber dan lengkap: https://id.wikipedia.org/wiki/Suku_Tolare

Umum

Seluruh kelompok Suku Tolare yang mendiami wilayah ini umumnya memiliki garis keturunan sekaligus sejarah sosial dan kultural yang sama. Awalnya, wilayah tempat tinggal Suku Tolare tersebut terbagi menjadi dua bagian, yaitu dusun Balamoa dan dusun Bambarimbi. Pada tahun 1972, Desa Balamoa kemudian dimekarkan menjadi dua, yaitu Desa Balamoa dan Desa Mantikole. Mantikole diambil dari nama sebuah pohon yang sangat besar yang sangat ditakuti oleh masyarakat di sekitar daerah tersebut.

Agama dan kepercayaan

Agama dan kepercayaan yang dianut oleh Suku Tolare dimulai dengan kepercayaan pada kekuatan-kekuatan alam atau animisme. Penjelasan lebih jauh tentang kepercayaan mereka adalah sebagai berikut:

– Fase animisme. Menurut berbagai cerita rakyat yang berkembang, dewa-dewa dan roh-roh nenek moyang mereka menempati seluruh ruang yang ada di muka bumi, seperti rumpun-rumpun bambu, pohon-pohon besar, gunung-gunung, dan di seluruh alam raya. Semua tempat tersebut mereka jadikan sebagai tempat pemujaan untuk meminta berkah, keselamatan, dan rezeki.

– Fase masuknya agama. Proses masuknya agama di kehidupan Suku Tolare berbeda-beda. Suku Tolare yang bermukim di wilayah dataran rendah umumnya menganut agama Islam. Hal itu dilatarbelakangi oleh letak geografis tempat tinggal mereka yang terletak di jalur transportasi strategis, yaitu menuju pada konsentrasi penyebaran Islam di lembah Kota Palu. Penerimaan mereka terhadap ajaran Islam didukung oleh hubungan dekat mereka dengan dunia luar yang telah berlangsung selama puluhan tahun.
Sementara untuk Suku Tolare yang tinggal di dataran tinggi sebagian besar menganut ajaran Kristen.

Sistem kekerabatan

Sistem kekerabatan antar kelompok Suku Tolare dijelaskan dengan istilah Ngata Sintuvu. Menurut kepercayaan mereka, keberadaan Suku Tolare di pemukimannya saat ini merupakan amanat dari leluhur yang harus dipertahankan. Meskipun salah satu anggota keluarga mereka ada yang memilih untuk tinggal di lokasi lain atau lokasi baru, tempat tinggal awalnya tetap akan dianggap sebagai rumah mereka yang sesungguhnya. Sehingga, apabila kelompok keluarga tersebut suatu ketika kembali ke tempat asalnya, Suku Tolare tidak akan menganggapnya sebagai orang asing.

Keterikatan mereka dengan kerabatnya dalam Ngata sintuvu menimbulkan kesadaran yang amat tinggi yang memungkinkan lahirnya etnosentrisme. Mereka amat membanggakan nilai-nilai dan tradisi yang diwariskan nenek moyang mereka sehingga mengendap sebagai kebudayaan immaterial di dalam diri mereka. Hal ini menjadikan pola hubungan sosial dan pola produksi yang mereka lakukan bersifat subsisten. Aktivitas ekonomi yang mereka lakukan hanya berorientasi untuk memenuhi kebutuhan dalam kelompok mereka saja, tanpa ada niatan untuk memperoleh keuntungan maksimal. Sehingga, Suku Tolare tidak mengenal sistem pertukuran mata uang, mereka menggunakan sistem pertukuran dengan cara barter.