* Daftar kerajaan-kerajaan di P. Flores dan sejarah P. Flores

Kerajaan-kerajaan di pulau Flores, 1300 M


Garis kerajaan-kerajaan di P. Flores

Abad ke – 10:               Kerajaan KangaE

Abad ke – 14:               Kerajaan Tana Ai

Abad ke – 16:               Dalu (kerajaan) Bajo
Abad ke – 16:               Dalu (kerajaan) Cibal
Abad ke – 16:               Dalu Reo
Abad ke – 16:               Dalu Todo

Abad ke – 17:               Kerajaan Ende
Abad ke – 17 (1600):   Kerajaan Larantuka
Abad ke – 17:               Kerajaan Nita
Abad ke – 17:               Kerajaan Sikka

Abad ke – 19:               Kerajaan Nage

Abad ke – 20 (1917):    Kerajaan Keo
Abad ke – 20 (1917):    Kerajaan Lio
Abad ke – 20 (1925):    Kerajaan Manggarai
Abad ke – 20 (1919):    Kerajaan NageKeo
Abad ke – 20 (1917):    Kerajaan Ndona
Abad ke – 20 (1917):    Kerajaan Ngada
Abad ke – 20 (1917):    Kerajaan Riung
Abad ke – 20 (1917):    Kerajaan Tanah Koenoe V
Abad ke – 20 (1917):    Kerajaan Tanah Rea


Sejarah P. Flores

Nama Pulau Flores berasal dari Bahasa Portugis “Cabo de Flores” yang berarti “Tanjung Bunga”. Nama ini semula diberikan oleh S. M. Cabot untuk menyebut wilayah paling timur dari Pulau Flores. Nama ini kemudian dipakai secara resmi sejak tahun 1636 oleh Gubenur Jenderal Hindia Belanda Hendrik Brouwer. Nama Flores yang sudah hidup hampir empat abad ini sesungguhnya tidak mencerminkan kekayaan Flora yang dikandung oleh pulau ini. Karena itu, lewat sebuah studi yang cukup mendalam Orinbao (1969) mengungkapkan bahwa nama asli Pulau Flores adalah Nusa Nipa (yang artinya Pulau Ular). Dari sudut Antropologi, istilah ini lebih bermanfaat karena mengandung berbagai makna filosofis, kultural dan ritual masyarakat Flores.

Pulau Flores, Alor dan Pantar merupakan lanjutan dari rangkaian Sunda System yang bergunung api. Flores memiliki musim penghujan yang pendek dan musim kemarau yang panjang.

Sejarah kependudukan masyarakat Flores menunjukkan bahwa Pulau ini dihuni oleh berbagai kelompok etnik yang hidup dalam komunitas-komunitas yang hampir-hampir eksklusif sifatnya. Masing-masing etnis menempati wilayah tertentu lengkap dengan pranata sosial budaya dan ideologi yang mengikat anggota masyarakatnya secara utuh (Barlow, 1989; Taum, 1997b). Heterogenitas penduduk Flores terlihat dalam sejarah asal-usul, suku, bahasa, filsafat dan pandangan dunia.

Ada beberapa suku-suku yang terdapat di Pulau Flores yang terdiri dari delapan suku besar antara lain:

  1. Suku Lio
  2. Riung
  3. Ngada
  4. Nage-Keo
  5. Suku Ende
  6. Suku Manggarai
  7. Suku Sikka
  8. Suku Lamaholot (Larantuka)
  9. Lembata

Perbedaan kebudayaan antara sub-suku-bangsa Riung, Nage-Keo, Ende, Lio dan Sikka tidaklah amat besar. Tetapi, Perbedaan antara kelompok sub-suku-bangsa tersebut dengan orang Manggarai dan Bajawa termasuk besar. Seperti halnya dari segi bentuk fisik, ada satu perbedaan yang mencolok. Penduduk Flores mulai dari orang-orang Riung makin ke Timur menunjukkan lebih banyak cirri-ciri Melanesia, seperti penduduk Papua, sedangkan orang Manggarai dan Bajawa (Ngada) lebih banyak menunjukkan ciri-ciri Mongoloid-Melayu. Adapun sub-suku-bangsa Larantuka berbeda dari yang lain. Hal ini dikarenakan mereka lebih tercampur dengan mendapat pengaruh unsur-unsur kebudayaan dari lain-lain suku-bangsa Indonesia yang dating dan bercampur di kota Larantuka.

Kristianitas, khususnya Katolik, sudah dikenal penduduk Pulau Flores sejak abad ke-16. Tahun 1556 Portugis tiba pertama kali di Solor. Tahun 1561 Uskup Malaka mengirim empat misionaris Dominikan untuk mendirikan misi permanen di sana. Tahun 1566 Pastor Antonio da Cruz membangun sebuah benteng di Solor dan sebuah Seminari di dekat kota Larantuka. Tahun 1577 saja sudah ada sekitar 50.000 orang Katolik di Flores (Pinto, 2000: 33-37).
Kemudian tahun 1641 terjadi migrasi besar-besaran penduduk Melayu Kristen ke Larantuka ketika Portugis ditaklukkan Belanda di Malaka. Sejak itulah kebanyakan penduduk Flores mulai mengenal kristianitas, dimulai dari Pulau Solor dan Larantuka di Flores Timur kemudian menyebar ke seluruh daratan Flores dan Timor. Dengan demikian, berbeda dari penduduk di daerah-daerah lain di Indonesia, mayoritas masyarakat Pulau Flores memeluk agama Katolik.

Orang Flores memiliki kepercayaan tradisional pada Dewa Matahari-Bulan-Bumi. Kepercayaan yang bersifat astral dan kosmologis ini berasal dari pengalaman hidup mereka yang agraris, yang hidup dari kebaikan langit (hujan) dan bumi (tanaman) (Fernandez, 1990). Lahan pertanian yang cenderung tandus membuat orang Flores sungguh-sungguh berharap pada penyelenggaraan Dewa Langit dan Dewi Bumi. Selain itu juga, wilayah laut kini akhirnya dapat dijadikan sebagai lahan pendapatan masyarakat Flores yang tinggal di pesisir pantai.


Sumber sejarah P. Flores

– Sejarah P. Flores: https://id.wikipedia.org/
– Sejarah P. Flores: https://www.tourfloreskomodo.com/
– Sejarah P. Flores:  http://sastra-indonesia.com/

Kerajaan-kerajaan di pulau Flores, 1300 M

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: