Natal (Ranah Nata), kerajaan / Prov. Sumatera Utara – kab. Mandailing Natal

Kerjaan Natal (Ranah Nata) terletak di Sumatera, kab. Mandailing Natal, prov. Sumatera Utara.

The kingdom of Natal (Ranah Nata) was located on Sumatera, District Mandailing Natal, prov. Sumatera Utara.
For english, click here

Kabupaten Mandailing Natal, prov. Sumatera Utara


* Foto sultan dan raja yang masih ada di Sumatera: link
* Foto sultan dan raja di Sumatera dulu: link

* Foto raja-raja di Simalungun dulu: link
* Foto raja-raja kerajaan kecil di Aceh dulu: link

* Foto suku Minangkabau: link
* Foto suku Batak: link
* Foto situs kuno di Sumatera: link


Sejarah kerajaan Natal / Ranah Nata

Sejarah 1

Berdirilah kerajaan besar di bibir pantai Pulau Sumatera yang dipimpin oleh Raja Tuanku Besar Datuk Imam. Beliau adalah seorang pangeran dari Kerajaan yang bernama Ujung Gading yang sekarang adalah Kabupaten Pasaman propinsi Sumatera Barat. Pengembaraan Datuk Imam meninggalkan Kerajaan pimpinannya dengan maksud mencari dan menemukan daerah baru telah berhasil mendirikan sebuah Kerajaan besar dengan wilayah yang cukup luas di pesisir Barat Sumatera yang diberi nama “Ranah Nan Data”. Kelak nama ini akan berubah menjadi “Ranah Nata”, dan karena kedatangan para saudagar-saudagar asing akhirnya berganti menjadi Natal. Pengembaraan ini adalah tawaran dari pangeran Indra Sutan, seorang pangeran muda dari Kerajaan Pagaruyung (di Sumatera Barat) yang juga tengah mencari daerah baru untuk dijadikan kerajaan.

Pangeran Indra Sutan dan Datuk Imam telah menjadi sahabat karib dalam pengembaraan dan pencarian mereka akan daerah baru tersebut hingga akhirnya mereka menemukan dataran luas yang cocok untuk dijadikan sebuah wilayah kerajaan. Setelah menemukan dan mulai mendirikan sebuah perkampungan, Pangeran Indra Sutan terus menyusuri wilayah sekitarnya ke arah hulu sungai hingga wilayah Kerajaan menjadi bertambah luas. Kemudian Pangeran Indra Sutan berniat untuk mendirikan lagi sebuah kerajaan baru di wilayah hulu Kerajaan Natal yang diberi nama Kerajaan Lingga Bayu. Sejak mendirikan dan memimpin Kerajaan Lingga Bayu, Pangeran Indra Sutan dan Datuk Imam membagi wilayah yang telah mereka kuasai itu menjadi dua bagian untuk dipimpin oleh masing-masing mereka sebagai Raja-nya.

Setelah Kerajaan Ranah Nata di ‘mekarkan’ menjadi dua kerajaan, yaitu Kerajaan Natal dan Kerajaan Lingga Bayu, dan juga karena kehadiran Belanda yang terus menciutkan wilayah kerajaan Natal. Disebutkan bahwa wilayah Kerajaan Natal bersepadan di sebelah timur dengan Muaro (muara) Sungai Batang Natal hingga ke Muaro Selayan (sekarang di Kelurahan Tapus, dan sekarang telah menjadi bagian dari wilayah kecamatan Lingga Bayu), sebelah utara berbatasan dengan Batang Panggautan (sebuah desa yang masih termasuk dalam kecamatan Natal sekarang ini, berjarak sekitar tiga kilometer dari Natal), sebelah selatan berbatasan dengan Batang Sinunukan (sekarang di Kecamatan Sinunukan), sebelah barat berbatasan dengan Samudera Hindia di pinggir pantai barat Sumatera yang termasuk dalam propinsi Sumatera Utara.

Tuanku Besar Datuk Imam menetap dan memimpin Kerajaan Natal hingga akhir hayatnya. Ia mangkat di Natal. Belasan keturunannya meneruskan serta memimpin Kerajaan Natal hingga pada tahun 1947 saat terbentuknya Dewan Negeri yang menghapuskan daerah “Swatantra” atau daerah-daerah yang mengatur dirinya sendiri.

Sejarah 2

Kerajaan Lingga Bayu adalah satu dari dua kerajaan yang didirikan oleh dua pangeran yang datang dari Minangkabau. Mereka adalah tuanku besar Indra Sutan dan tuanku besar Datuk Imam. Secara bersamaan mereka mendirikan kerajaan di tanah Natal. Perjalanan menyusuri dan meneliti hulu Sungai Batang Natal telah menemukan lagi daerah hunian yang dianggap cocok untuk dijadikan sebuah kerajaan baru hingga diberi nama Kerajaan Lingga Bajoe (Lingga Bayu) yang artinya adalah Alat Penempah Besi.

Setelah mendirikan kerajaan pertama di Natal, pangeran Indra Sutan dan Datuk Imam beserta rombongan dikemudian hari kembali melanjutkan perjalanan untuk meneliti ke hulu sungai Batang Natal yang muaranya direncanakan akan dijadikan pelabuhan. Dalam perjalanan ke arah hulu, mereka menemukan banyak bonggol dan kulit jagung hanyut. Mereka berfikir, di hulu tentu sudah ada pemukiman manusia. Di tepi sungai, mereka bertemu dengan para peladang yang mengaku dari Suku Tabuyong. Suku Tabuyong adalah kelompok suku Kubu yang disebut juga suku Siladang. Mereka tidak pernah bergaul dengan masyarakat luar. Pangeran Indra Sutan meminta bantuan suku Tabuyong untuk dipertemukan dengan masyarakat kubu. Untunglah, mereka bersedia menjadi juru bahasa. Pangeran Indra Sutan lalu menyampaikan niatnya bahwa ia hendak mendirikan sebuah kerajaan di pedalaman dan meminta suku kubu menjadi rakyatnya. Masyarakat suku Tabuyong tidak keberatan, dengan syarat mereka boleh tetap hidup bebas seperti kehidupan mereka sebelumnya, dan pangeran Indra Sutan menerima syarat itu.

Perjalanan menyusuri sungai batang natal terus dilanjutkan, dan sampailah dua pangeran tersebut bersama rombongan disuatu tempat yang dianggap cocok untuk dijadikan daerah hunian, dimana rombongan pangeran menemukan bongkahan-bongkahan emas. Hal itulah mendorong pangeran Indra Sutan untuk mendirikan kerajaan Lingga Bayu. selanjutnya pangeran Indra Sutan diangkat sebagai raja pertama di kerajaan Lingga Bayu dengan gelar Rajo Putih yang berkedudukan di kampung Malako.

Dengan telah berdirinya dua kerajaan, kerajaan Natal dan kerajaan Lingga Bayu tidak ditemui keterangan, apakah antara dua kerajaan tersebut pernah terjadi persaingan atau permusuhan seperti yang sering terjadi antara dua kerajaan yang bertetangga.


Nama 13 Raja-Raja yang memerintah kerajaan Natal

– Sumber: https://minangel.wordpress.com/2014/04/30/natal-mandailing-adalah-minangkabau-punya/

* Tuanku Besar Datuk Imam; Tuanku Besar Datuk Imam mempunyai empat orang saudara perempuan. Dua orang di antaranya bernama Puti Ratiah dan Puti Rani (Puti artinya adalah putri, panggilan untuk putri keluarga bangsawan).

* Tuanku Besar Datuk Basa Nan Tuo; adalah putra dari Puti Ratiah yang diangkat menjadi Tuanku Besar (Raja) Natal ke-2 menggantikan pamannya, Tuanku Besar Datuk Imam.

* Tuanku Besar Datuk Basa Nan Mudo; adalah saudara Tuanku Besar Datuk Basa Nan Tuo.

* Tuanku Besar Tama Musi, bergelar Tuanku Nan Kusuik; adalah saudara sepupu dari Tuanku Besar Datuk Basa Nan Mudo.

* Tuanku Besar Sutan Sailan; Puti Rani mempunyai putri bernama Puti Tuo, Puti Tuo mempunyai tiga orang anak, Puti Tune, Puti Rumbuk dan Sutan Sailan, Puti Tune mempunyai putri bernama Puti Nan Kalam.

* Tuanku Besar Sutan Gembok; adalah anak dari Puti Nan Kalam atau cucu Puti Tune. Jadi Tuanku Besar Sutan Gembok adalah keturunan ke-5 dari Tuanku Besar Datuk Imam.

* Tuanku Besar Si Intan; adalah adik dari Tuanku Besar Sutan Gembok. Pada masa pemerintahan Tuanku Si Intan inilah perahu-perahu layar bangsa Portugis mulai singgah di Pelabuhan Natal untuk mencari lada dan emas. Tuanku Besar Si Intan mempunyai dua orang isteri, yaitu Putri Nai Mangatas dan Uci Siti. Putri Nai Mangatas berasal dari kerajaan Pidoli Lombang, sebuah kerajaan di daerah Mandailing. Setelah kawin, namanya diganti menjadi Puti Junjung. Ia melahirkan seorang putra bernama Sutan Mohammad Natal. Sedangkan Uci Siti berasal dari Jambua Aceh. Jambua adalah kelompok masyarakat atau suku tertentu di luar kerabat Diraja yang menempati salah satu kampung di Natal. Masyarakatnya dipimpin oleh seorang Datuk. Misalnya, Jambua Aceh untuk kelompok suku Aceh dipimpin oleh Datuk Aceh. Jambua Rao dipimpin oleh Datuk Rao. Pada 22 Mei 1823, Tuanku Besar Si Intan mangkat.

Setelah mangkatnya Tuanku Besar Si Intan, putranya Sutan Mohammad Natal ketika itu masih kecil sehingga belum dapat menjalankan pemerintahan. Oleh sebab itu ibunya, Puti Junjung diangkat sebagai wali yang memegang tampuk kekuasaan memerintah Kerajaan Natal. Kemudian Puti Junjung menikah lagi dengan Sutan Salim. Sutan Salim selalu menyusahkan Belanda, sehingga ia tidak disukai pemerintah Belanda. Sutan Salim ditangkap dan dibuang ke Cianjur. Sutan Salim tidak pernah kembali ke Natal, ia meninggal dalam pembuangan.

* Tuanku Besar Sutan Mohammad Natal; adalah putra dari Tuanku Besar Si Intan, pada masa pemerintahan Sutan Mohammad Natal, daerah kekuasaannya diciutkan oleh Belanda yang mulai menancapkan kekuasaannya di wilayah Sumatera, termasuk Minangkabau. Karena Sutan Mohammad Natal sering bentrok dengan Belanda, ia bernasib sama dengan ayah tirinya, dibuang ke Sibolga. Sejak itu, tamatlah riwayat Tuanku-Tuanku Besar di Natal yang bebas dari pengaruh Belanda. Kemudian Belanda membagi kerajaan Natal menjadi tiga daerah yang masing-masing dikepalai oleh seorang Kuria yang diangkat oleh Belanda, ditempatkan di Nata, Singkuang dan Batahan. Kepala kuria yang pertama di Natal bernama Datuk Mohammad Saleh. Ia adalah Datuk suku Minangkabau atau Datuk Jambua Minangkabau.

* Tuanku Besar Rajo Hidayat; adalah putra Puti Junjung dengan Sutan Sailan.

* Tuanku Besar Mohammad Saleh.

* Tuanku Besar Sutan Marah Ahmad; diangkat pemerintah Belanda berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Hindia Belanda yang waktu itu berkedudukan di Padang.

* Tuanku Besar Sutan Sridewa; adalah suami Puti Siti Zahara yang masih kemenakan Tuanku Besar Sutan Marah Ahmad. Tuanku Besar Sutan Sridewa adalah Raja Natal yang terakhir di zaman kolonial hingga terbentuklah Dewan Negeri yang menghapuskan daerah Swatantra.


Wilayah Suku Mandailing di prov. Sumatera Utara


Sumber

– Sejarah kerajaan Natal: https://id.wikipedia.org/wiki/Natal,_Mandailing_Natal
– Sejarah kerajaan Natal: https://daerah.sindonews.com/read/1284994/29/sejarah-berdirinya-kerajaan-natal-di-sumatera-utara-1519545620
– Sejarah kerajaan Natal: https://minangel.wordpress.com/2014/04/30/natal-mandailing-adalah-minangkabau-punya/

– Sejarah kerajaan Natal / Lingga Bayu: https://id.wikipedia.org/wiki/Natal,_Mandailing_Natal
– Sejarah kerajaan Natal / Lingga Bayu: https://daerah.sindonews.com/read/1284994/29/sejarah-berdirinya-kerajaan-natal-di-sumatera-utara-1519545620
– Sejarah kerajaan Natal / Lingga Bayu: https://minangel.wordpress.com/2014/04/30/natal-mandailing-adalah-minangkabau-punya/
– Sejarah kerajaan Natal / Lingga Bayu: http://rizal-reyz.blogspot.com/2010/05/kerajaan-lingga-bayu.html?utm_source=feedburner&utm_medium=feed&utm_campaign=Feed:+Reyz_blog+(Reyz_blog)&m=1


 

Blog at WordPress.com.

<span>%d</span> bloggers like this: