Insana, kerajaan / P. Timor – prov. Nusa Tenggara Timur

Kerajaan Insana terletak di pulau Timor, Kabupaten Timur Tengah Utara, prov. Nusa Tenggara Timor.

The kingdom of Insana is located on the island of Timor, Kabupaten Timur Tengah Utara, prov. Nusa Tenggara Timor.
For english, click here

Kabupaten Timor Tengah Utara

————————

Lokasi pulau Timor


* Foto kerajaan Insana: link

* Foto raja-raja sekarang di Timor: link
* Foto raja-raja dulu di Timor: link

* Foto situs kuno pulau Timor: link
* Foto suku Timor: link


Raja kerajaan Insana (2019)

Taolin adalah nama dinasti kerajaan Insana.
Raja kerajaan Insana (2021): Raja Usif Thoedorus Lorenzo Taolin.

Raja Usif Thoedorus Lorenzo Taolin (foto 2019)


Sejarah kerajaan Insana

Kerajaan Insana yang berpusat di daerah Oelolok pada masa kejayaannya dikenal dengan pemerintahan yang maju dibidang pendidikan karena prinsip dari raja Taolin yang mengedepankan kemajuan bagi rakyatnya terutama dibidang pendidikan. Raja Taolin juga memiliki perhatian terhadap seni budaya terutama tarian dan seni pahat. Hal ini dibuktikan dengan beberapa tarian yang dimodifikasi baik gerakan maupun komponen pendukung tarian yang diberikan sentuhan baru oleh raja. Sedangkan untuk seni pahat, raja Taolin mempunyai kemampuan dalam mendesain pahatan. Hasil desain dari raja Taolin ini masih dapat kita saksikan di panel-panel yang dipajang di dinding Istananya.
Rasa hormat masyarakat akan kebesaran rerajaan dan raja Taolin masih berbekas hingga sekarang, hal ini ditunjukan dengan masih setianya masyarakat atau rakyat untuk datang ke Istana baik untuk berkunjung atau menyelesaikan masalah di Lopo yang terletak disamping istana. Simbol kerajaan yang masih tersisa hingga kini adalah adanya simbol Hitu, Taboy, Saijo dan Banusu yang terletak empat bagian di halaman depan istana yang melambangkan 4 amaf (marga) yang berada dibawah pemerintahan kerajaan Insana.
Makam raja Taolin terletak tepat dibelakang Istana yang berada di Desa Oelolok Kabupaten Timur Tengah Utara. Terdapat juga makam orang tua raja, istri dan beberapa anak raja Taolin yang telah wafat. Saat ini Istana raja Taolin ditempati dan juga dirawat oleh anak raja Taolin yang pertama yaitu Th. L. Taolin.

Berdasarkan struktur pemerintahan kekuasaan pemerintahan Hindia Belanda tersebut maka Onderafdeeling Noord Miden Timor membawa 3 kepala swapraja, 18 kefetoran dan 176 temungkung.

  • Swapraja Miomaffo (Kepala Swapraja : G. A. Kono) memiliki 8 kefetoran masing-masing kefetoran Tunbaba, Manamas, Bikomi, noemuti, Nilulat, Noeltoko, Naktimun dan Aplal.
  • Swapraja Insana (Kepala Swapraja : L. A. N. Taolin) memiliki 5 kefetoran masing-masing kefetoran Oelolok, Ainan, Maubesi, Subun dan Fafinesu.
  • Swapraja Biboki (Kepala Swapraja L. T. Manlea) memiliki 5 kefetoran masing-masing kefetoran Ustetu, Oetasi, Bukifan, Taitoh dan Harneno.

Raja VIII, Dominikus A. Un. Taolin. 1936


Daftar raja kerajaan Insana

1761: Tana Mende
1765: Taku
Malafu Neno
Malafu Pa [putra]
1880-1901: Malafu Tasaeb [putra]
1902-1914: Usi Nila (Nila Ela Taiboko)
1915-1934: Kahalasi Taolin
1934-1936: Tasaeb Malafu [cicit Malafu Tasaeb]
1936-1938: Afu Tasaeb [putra]
1938-1940: Dominicus Taolin (meninggal 1974) [putra Kahalesi Taolin]
1940-1942: Petrus Atolan Tasaeb (meninggal tahun 1989) [cucu Tasaeb Malafu]
1942-1962: Lorencius Taolin [saudara laki-laki Dominicus Taolin]
– Sumber: https://id.melayukini.net/wiki/List_of_rulers_of_Timor#Kings_of_Insana[45]

Raja, Laurentius Taolin


Istana kerajaan Insana

Palace, Sonai Oelolok. Rumah raja Taolin terletak di Oelolok, berjarak 35 km dari kota Kefamenanu.


Sejarah pulau Timor

Pulau Timor dihuni sebagai bagian dari migrasi manusia yang telah membentuk Australasia secara lebih umum. Pada tahun 2011, bukti ditemukan pada manusia di Timor Timur pada 42.000 tahun yang lalu, di lokasi gua Jerimalai.
Sekitar 3000 SM, migrasi kedua membawa orang Melanesia. Orang-orang Veddo-Australoid sebelumnya mengundurkan diri saat ini ke pedalaman pegunungan. Akhirnya, proto-Melayu tiba dari Cina selatan dan Indocina utara.

Catatan sejarah paling awal tentang pulau Timor adalah Nagarakretagama abad ke-14, Canto 14, yang mengidentifikasi Timur sebagai pulau di dalam wilayah Majapahit. Timor dimasukkan ke dalam jaringan perdagangan Jawa, Cina, dan India kuno pada abad ke-14 sebagai pengekspor cendana aromatik, budak, madu dan lilin, dan diselesaikan oleh Portugis, pada akhir abad ke-16, dan Belanda, yang berbasis di Kupang, pada pertengahan abad ke-17.

Pulau Timor dijajah oleh Portugis pada abad ke-16; mengklaim pada tahun 1520. Para pelaut Portugis mungkin pertama kali tiba di Timor Timur sekitar tahun 1514. Penjelajah Eropa menemui beberapa kerajaan kecil di awal abad ke-16. Yang paling penting adalah Wehale di Timor Tengah. Pada waktu itu, lereng-lereng bukit diliputi hutan kayu cendana. Perdagangan kayu cendana sangat menguntungkan, dan pohon-pohon ini saja sudah cukup menjadi alasan bagi orang Portugis untuk mendirikan pos perdagangan. Gereja Katolik juga berminat pada daerah itu dan ingin mengirim para misionaris untuk menobatkan penduduk pribumi. Kedua faktor ini menggerakkan orang Portugis untuk mulai menjadikan pulau ini jajahan mereka pada tahun 1556.
VOC Belanda tiba pada tahun 1640, mendesak Portugis ke Timor Lorosa’e dan bentuk koloni Belanda-Timor.
Pertengkaran antara Belanda dan Portugal akhirnya menghasilkan sebuah perjanjian tahun 1859 dimana Portugal menyerahkan bagian barat pulau tersebut ke Belanda.

Makam raja Taolin terletak tepat dibelakang Istana yang berada di Desa Oelolok Kabupaten Timur Tengah Utara. Terdapat juga makam orang tua raja, istri dan beberapa anak raja Taolin yang telah wafat.

Makan Raja Taolin

Zaman kebangkitan nasional (1900-1942)

Pada masa sesudah tahun 1900, kerajaan-kerajaan yang ada di Nusa Tenggara Timur pada umumnya telah berubah status menjadi status menjadi Swapraja. Swapraja-swapraja tersebut, 10 berada di Pulau Timor (Kupang, Amarasi, Fatuleu, Amfoang, Molo, Amanuban, Amanatun, Mio mafo, Biboki, Insana). Swapraja-swapraja tersebut terbagi lagi menjadi bagian-bagian yang wilayahnya lebih kecil. Wilayah-wilayah kecil itu disebut Kafetoran-kafetoran.

Zaman pemerintahan Hindia Belanda

Wilayah Nusa Tenggara Timur pada waktu itu merupakan wilayah hukum dari keresidenan Timor dan daerah takluknya. Keresidenan Timor dan daerah bagian barat (Timor Indonesia pada waktu itu, Flores, Sumba, Sumbawa serta pulau-pulau kecil sekitarnya seperti Rote, Sabu, Alor, Pantar, Lomblen, Adonara, Solor).

Keresidenan Timor dan daerah takluknya berpusat di Kupang, yang memiliki wilayah terdiri dari tiga afdeling (Timor, Flores, Sumba dan Sumbawa), 15 onderafdeeling dan 48 Swapraja. Afdeeling Timor dan pulau-pulau terdiri dari 6 onderafdeeling dengan ibukotanya di Kupang. Afdeeling Flores terdiri dari 5 onder afdeeling dengan ibukotanya di Ende. Yang ketiga adalah Afdeeling Sumbawa dan Sumba dengan ibukota di Raba (Bima). Afdeeling Sumbawa dan Sumba ini tediri dari 4 oder afdeeling.

Keresidenan Timor dan daerah takluknya dipimpin oleh seorang residen, sedangkan afdeeling di pimpin oleh seorang asisten residen. Asisten residen ini membawahi Kontrolir atau Controleur dan Gezaghebber sebagai pemimpin Onder afdeeling. Asisten residen, kontrolir dan gezaghebber adalah pamong praja Kolonial Belanda. Para kepala onder afdeling yakni kontrolir dibantu oleh pamong praja bumi putra ber pangkat Bestuurs assistant. (Ch. Kana, 1969,hal . 49-51).

Zaman kemerdekaan (1945-1975).

Setelah Jepang menyerah, Kepala Pemerintahan Jepang (Ken Kanrikan) di Kupang memutuskan untuk menyerahkan pemerintahan atas Kota Kupang kepada tiga orang yakni Dr.A.Gakeler sebagai walikota, Tom Pello dan I.H.Doko. Namun hal ini tidak berlangsung lama, karena pasukan NICA segera mengambil alih pemerintahan sipil di NTT, dimana susunan pemerintahan dan pejabat-pejabatnya sebagian besar adalah pejabat Belanda sebelum perang dunia II.
Dengan demikian NTT menjadi daerah kekuasaan Belanda lagi, sistem pemerintahan sebelum masa perang ditegakkan kembali. Pada tahun 1945 kaum pergerakan secara sembunyi-sembunyi telah mengetahui perjuangan Republik Indonesia melalui radio. Oleh karena itu kaum pegerakan menghidupkan kembali Partai Perserikatan Kebangsaan Timor yang berdiri sejak tahun 1937 dan kemudian berubah menjadi Partai Demokrasi Indonesia (PDI).

Perjuangan politik terus berlanjut, sampai pada tahun 1950 dimulai pase baru dengan dihapusnya dewan raja-raja. Pada bulan Mei 1951 Menteri Dalam Negeri NIT mengangkat Y.S. Amalo menjadi Kepala Daerah Timor dan kepulauannya menggantikan H.A.Koroh yang wafat pada tanggal 30 Maret 1951. Pada waktu itu daerah Nusa Tenggara Timur termasuk dalam wilayah Propinsi Sunda Kecil.

Kerajaan-kerajaan di Timor tahun 1900


Sumber / Source

– Sejarah kerajaan Insana: http://insanaku.blogspot.co.id/2015/05/sejarah-kabupaten-timor-tengah-utara_13.html
– Tentang Raja Insana (2011):
  http://www.kerajaannusantara.com/id/news/404-Raja-Insana-Kunjungi-BKPBM-
Tentang Raja Insana, Taolin:  http://travel.detik.com/read/2010/12/09/090728/1512817/1025/mengenal-kerajaan-insana-dan-istana-raja-taolin
– Tentang dinasti Taolin: http://riaulingga.blogspot.co.id/2005/08/insana-west-timor-ntt.html
– Sejarah Kab. Timor Tengah Utara: https://id.wikipedia.org/wiki/Kabupaten_Timor_Tengah_Utara


 

Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: