Huristak, kerajaan / Prov. Sumatera Utara – kab. Tapanuli Selatan

Kerajaan Batak Tua, Huristak, terletak di kab. Tapanuli Selatan, prov. Sumatera Utara. Ini kerajaan di Tanah Batak.
Kerajaan Huristak adalah dua fase:
2 M-1650 M, kerajaan Batak Tua.
1650 – sekarang, kerajaan Huristak, bergabung dengan NKRI 1947.

The kingdom of Batak Tua, Huristak, is located in kab. Tapanuli Selatan, prov. Sumatera Utara. This kingdom is a kingdom of the Batak People.
Kingdom of Huristak: century 2-1650, kingdom of Batak Tua. 1650 – today.
For english, click here

Kab. Tapanuli Selatan, prov. Sumatera Utara


* Foto kerajaan Huristak: link


Garis kerajaan-kerajaan di Sumatera: link


Foto kerajaan-kerajaan di Sumatera

* Foto sultan dan raja yang masih ada di Sumatera: link
* Foto sultan dan raja di Sumatera dulu: link


Video sejarah kerajaan / kesultanan di Sumatera

* Video sejarah kerajaan di Sumatera, 75.000 SM – sekarang: link
* Video sejarah kerajaan di Sumatera Utara, 0 M – sekarang: link
*
Video sejarah kerajaan di Sumatera Barat, 0 M – sekarang, link


KERAJAAN HURISTAK

Raja kerajaan Huristak (2017)

Pada 2002, tampuk kekuasaan diteruskan oleh Patuan Nagalan Hasibuan, yang memimpin hingga 2015. Setelah itu hingga saat ini, kerajaan Huristak diwakilkan kepada Patuan Tondi Hasibuan.

Sejak 2015: Raja Tondi Hasibuan gelar Patuan Daulat Sultan Palaon, Raja Huristak ke-12.

—————–
Patuan Nagalan Hasibuan, sampai 2015


Sejarah kerajaan Huristak

– Sumber: https://www.kompas.com/stori/read/2021/11/26/080000579/huristak-kerajaan-yang-tidak-tersentuh-bangsa-penjajah?page=all

Kerajaan Huristak adalah salah satu kerajaan batak yang pernah berdiri di Kecamatan Huristak, Kabupaten Padang Lawas, Sumatera Utara. Ketika didirikan pada abad ke-16 oleh keturunan Kekaisaran Kushan dari India, kerajaan ini bercorak Buddha seperti leluhurnya. Pengaruh Islam kemudian masuk pada abad ke-19 dan secara resmi mengubah corak kerajaan ketika rajanya menjadi Muslim.
Meski namanya tidak sepopuler kerajaan-kerajaan besar di Sumatera, kerajaan Huristak ternyata tidak pernah tersentuh oleh bangsa penjajah. Hal itu kemudian dimanfaatkan oleh penguasanya untuk menjadikan Huristak sebagai basis perjuangan dalam meraih kemerdekaan Indonesia.

Sejarah awal kerajaan Huristak

Sebelum berdiri kerajaan Huristak, jauh pada abad pertama Masehi telah berdiri kerajaan Batak, yang telah menjalin hubungan dagang dengan bangsa asing dari berbagai negara, salah satunya dengan pedagang India. Kerajaan Huristak sendiri bersilsilah langsung kepada Kekaisaran Kushan di India Utara, yang rajanya melakukan ekspansi hingga ke Nusantara. Kerajaan ini didirikan oleh cucu Raja Soduguron (Kerajaan Batta Pannai) pada abad ke-16 dan diperintah oleh Ompu Suhataon sebagai raja pertamanya.
Horistak bercirikan Batak-Melayu Tua dan berasimilasi dengan kebudayaan Orissa di India Utara yang bercorak Buddha Siwa. Pada periode kekuasaan raja kedua, kerajaan ini terlibat perang dengan Sultan Siak dan berhasil meraih kemenangan. Kemenangan tersebut membuat wilayah kekuasaan kerajaan Huristak semakin luas hingga mencakup empat kabupaten. Wilayah yang berada di bawah kekuasaannya adalah Padang Lawas, Padang Lawas Utara, serta dua kabupaten di Provinsi Riau, yakni Rokan Hulu dan sebagain Rokan Hilir sekarang.

Berubah menjadi kerajaan Islam

Pengaruh Islam mulai masuk ke kerajaan Huristak pada abad ke-19, tepatnya pada sekitar 1825 M. Lambat laut, Islam mulai diterima oleh keluarga kerajaan dan rakyatnya setelah Raja Kali Omar menjadi seorang Muslim. Sejak itu, kerajaan Huristak resmi bercorak Islam dan menjalin relasi dengan kerajaan-kerajaan di sekitarnya, termasuk kerajaan Siak Sri Indrapura, yang pernah terlibat dalam peperangan. Hubungan tersebut terbukti menjadikan keislaman di Huristak semakin bertambah kuat.

Hubungan dengan bangsa penjajah

Meski Indonesia telah dijajah bangsa Belanda sejak awal abad ke-17, kerajaan Huristak masih dapat hidup damai hingga abad ke-19. Pemerintah Hindia Belanda baru masuk ke wilayah kerajaan pada sekitar 1840, ketika Kali Omar duduk di singgasana. Kendati demikian, kerajaan Huristak tidak takluk, tetapi justru mendapatkan pengakuan dari Belanda.
Pada 1885, Sutan Palaon bahkan mendapatkan pengakuan sebagai raja yang membawahi sejumlah wilayah di Padang Lawas. Pengakuan seperti ini terus didapatkan raja-raja Huristak, bahkan hingga masa pendudukan Jepang. Bahkan kerajaan ini menjadi penyuplai makanan bagi Tentara Republik Indonesia ketika melawan Belanda dan Jepang.
Rajanya, Patuan Barumun, juga terjun memimpin peperangan hingga menaklukkan pasukan Jepang. Oleh Patuan Barumun, pasukan Jepang yang kalah lantas diminta membuat jembatan di Tapanuli Selatan. Bergabung dengan NKRI kerajaan Huristak mampu bertahan hingga Indonesia merdeka dan bergabung dengan NKRI pada 1947. Sutan Managor, yang meneruskan takhta Patuan Barumun, kemudian meneruskan kerajaan secara adat dan budaya.

Pada 2002, tampuk kekuasaan diteruskan oleh Patuan Nagalan Hasibuan, yang memimpin hingga 2015. Setelah itu hingga saat ini, Kerajaan Huristak diwakilkan kepada Patuan Tondi Hasibuan.

Kerajaan Huristak sendiri memiliki sejarah luhat-luhat (wilayah) yang juga masih jarang diketahui publik. Sejarah luhat-luhat tersebut dibagi menjadi:
1) 1840. Jaman Raja Kali Omar (Raja Huristak VII)
Di jaman ini belum dikenal istilah barat seperti onderafdeeling dan onder district. Di jaman ini kerajaan Huristak masih memakai sistem Haradjaon, dimana batas-batas sungai dijaga administrasinya oleh Datuk dan Pandito yang ditunjuk raja.

2) 1885. Jaman Raja Sutan Palaon (Raja Huristak VIII)
Administrasi Hindia Belanda telah masuk ke wilayah kerajaan Huristak. Belanda mengakui Sutan Palaon sebagai Raja van Hoeristak dan juga pemilik tanah di tiga luhat (Luhat Huristak, Luhat Simangambat dan Luhat Ujung Batu).
Secara administrasi Belanda adalah onderdistricthoofd tetapi secara administrasi internal kerajaan tetap memakai sistem lama. Terbukti ditemukan surat pembelian budak dan dengan tegas Sutan Palaon menyebut Kesultanan Kotapinang sebagai Luhat Kotapinang saja sebagai bentuk protes beliau kepada Belanda.

3) 1914. Jaman Raja Patuan Barumun (Raja Huristak IX)
Ketiga luhat (Huristak, Simangambat, Ujung batu) masih menghadap paduka dan wajib membayar pajak dan lain lain, dimana kepemilikan tanah tetap diatur oleh Patuan Barumun. Di luar itu Belanda mulai membuat banyak luhat demi membendung Patuan Barumun. Terdapat surat protes Patuan terhadap Belanda bahwa Luhat Gunung Tua dulunya juga merupakan tanah pemberian kakeknya setelah dikeluarkan dari peta administrasi kerajaan, Belanda malah membuat semakin banyak luhat.

Bagas Godang Huristak. Bagas Godang adalah Rumah adat atau arsitektur tradisional Suku Mandailing. Rumah besar ini dahulu sebagai tempat tinggal atau tempat istirahat raja.


Silsilah raja-raja Huristak

Raja-raja Huristak di Padang Lawas 1650 – sekarang

* 1650: Raja Huristak I: Raja Soritaon (ompu suhataon) – prasasti soritaon
* 1700: Raja Huristak II: Sutan gadoe mulia tandang
* Raja Huristak III: Raja Malengkung,
* Raja Huristak IV: Mangaradja Lela I,
* Raja Huristak V: Raja Barita
* Raja Huristak VI: Mangaradja Lela II
* 1840: Raja Huristak VII: Kali Omar (Sutan Barumun),
* 1885: Raja Huristak VIII: Sutan Palaon,
* 1914: Raja Huristak IX: Patuan Barumun,
* 1947: Raja Huristak X: Sutan Managor,
* Raja Huristak XI: Patuan Barumun,
* Raja Huristak XII: Raja Tondi Hasibuan gelar Patuan Daulat Sultan Palaon, dilantik sutan managor 1986

– Sumber: https://www.facebook.com/kerajaanhuristak/?fref=nf

Makam raja Huristak

Tentang Raja Patuan Barumun, Raja Huristak ke-9, 1884 – 1966

HUT ke-72 RI menjadi momen untuk kembali mengenang jejak pejuang kemerdekaan yang sudah merebut kemerdekaan. Salah satunya adalah Patuan Barumun (1884-1966), Raja ke IX dari kerajaan Huristak, Padang Lawas, Sumatera Utara.

Patuan Barumun, Raja ke-9 dari kerajaan Huristak – Padang Lawas, dilahirkan di Bagas Godang Huristak tahun 1884, semenjak muda Patuan Barumun sudah rajin menemani ayahnya (Sutan Palaon- Raja Huristak ke-8) dalam tugas-tugas kenegaraan, Patuan Barumun sering mewakili Sutan Palaon bila bertemu controleur Hindia-Belanda dan ikut memberikan pandangan dan sikap atas permasalahan-permasalahan kerajaan.

Patuan Barumun sudah dipersiapkan ayahnya dari semenjak muda, dan dinobatkan sebagai penggantinya, walaupun dia mengalami pergolakan batin antara menjaga  adat dan kezuhudannya dalam beragama.
– Sumber dan lengkap: https://www.facebook.com/kerajaanhuristak/posts/patuan-barumun-1884-19661884-patuan-barumun-raja-ke-ix-dari-kerajaan-huristak-pa/1506261439500860/

Raja Patuan Barumun, Raja Huristak ke-9


Peta-peta kuno Sumatera

Untuk peta kuno Sumatera (1565, 1588, 1598, 1601, 1616, 1620, 1707, 1725, 1760), klik di sini

Sumatera, tahun 1707


Sumber

– Sejarah kerajaan Huristak: http://showbiz.liputan6.com/read/2423470/kerajaan-huristak-salah-satu-kerajaan-tertua-di-kebudayaan-batak
– Sejarah kerajaan Huristak: http://budaya-info.blogspot.co.id/2013/01/sejarah-batak-dan-kerajaan-yang-pernah.html
– Silsilah raja-raja Huristak: https://www.facebook.com/kerajaanhuristak/?fref=nf

Facebook

Kerajaan Huristak di Facebook



Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: