Muko Muko, kerajaan / Sumatera – Prov. Bengkulu, kab. Mukomuko

Kerajaan Muko Muko terletak di Sumatera, Kab. Mukomuko, Prov. Bengkulu. Kerajaan ini berdiri abad ke-14.

The Kingdom of Muko Muko was located in Kab. Mukomuko, province of Bengkulu, Sumatera. 14th Century.
For english, click here

Lokasi kab. Mukomuko, prov. Bengkulu, Sumatera


Garis kerajaan-kerajaan di Sumatera: link


Foto kerajaan-kerajaan di Sumatera

* Foto sultan dan raja yang masih ada di Sumatera: link
* Foto sultan dan raja di Sumatera dulu: link


Video sejarah kerajaan / kesultanan di Sumatera

* Video sejarah kerajaan di Sumatera, 75.000 SM – sekarang: link
* Video sejarah kerajaan di Sumatera Utara, 0 M – sekarang: link
*
Video sejarah kerajaan di Sumatera Barat, 0 M – sekarang, link


KERAJAAN MUKO MUKO

Tentang Raja sekarang

2 juni 2018
Sultan Bangsa, Sultan Mukomuko Bengkulu dengan gelar Tuanku Gulamatsyah II meninggal pada 2 juni 2018. Beliau dikukuhkan menjadi Ketua Kaum Agung Pekal pada 2017.

29 juli 2017
Sultan Bangsa didaulat menjadi Pemangku Sultan Mukomuko Bengkulu dengan gelar Tuanku Gulamatsyah II. Penobatan dilakukan Daulat Yang Di Pertuan Raja Alam Minangkabau Sultan Taufik Thaib. Kesultanan Mukomuko memiliki hubungan yang erat dengan kerajaan Pagaruyung Minangkabau.


Sejarah kerajaan Muko Muko, abad ke-14

Asal nama Mukomuko

Sumber: http://herijunaidi.blogspot.com/2009/10/sejarah-mukomuko.html

Ada dua versi kisah sejarah asal nama Mukomuko.
Kedua versi ada kesamaannya, dan ada perbedaannya.

Versi 1

Penduduk Mukomuko pada mulanya bertempat tinggal di suatu daerah yang diberi nama Padang Ribunribun. Penduduknya terdiri dari dua kelompok yang tergabung dalam 7 (tujuh) nenek:
1) Nenek bergelar Maharajo Namrah,
2) Nenek bergelar Maharajo Terang,
3) Nenek bergelar Mahajajo Laksamana,
4) Nenek bergelar Rajo tiangso
5) Nenek bergelar Koto Pahlawan
6) Nenek bergelar Rajo mangkuto.

Para sesepuh ini kemudian membentuk suatu negeri yang dikepalai oleh seorang Penghulu Adat sebagai kepala dari seluruh suku tersebut yang di sebut Datuk. Setelah beberapa puluh tahun, muncullah sebutan untuk daerah ini, yaitu Teluk Kuala Banda Ramai. Sebutan ini diberikan oleh seorang pendatang dari Kerinci.
Pendatang itu adalah seorang pedagang, yang membawa barang dagangan melalui jalan Sungai Ipuh dan menelusuri Sungai Selagon dengan menggunakan rakit hingga ke muara. Karena nama Teluk Kuala Banda Rami dibuat oleh kaum pendatang, maka para kepala suku mengadakan musyawarah di Padang Ribunribun untuk mencari nama yang sesuai bagi daerahnya. Lebih kurang selama 6 (enam) purnama mereka bermusyawarah, belum juga ada kesepakatan tentang nama. Pada purnama ke 7 (tujuh), mereka kedatangan 3 (tiga) tamu dari Pagarruyung tamu tersebut adalah:
* Paduko Rajo
* Marajo nan Kayo
* Marajo Gedang

Setelah berbasa-basi, salah seorang dari tamu tadi bertanya kepada pimpinan musyawarah, yaitu Maharajo Namrah tentang musyawarah yang tengah mereka lakukan dengan cara duduk bertahap-hadapan ini. Maharajo Namrah juga menambahkan bahwa malam ini adalah malam yang ketujuh mereka bermusyawarah untuk mencari nama yang sesuai bagi daerah ini.

Mendengar pernyataan itu, maka tamu tadi berkomentar, “Berarti sudah tujuh purnama kamu ini bertahapan muka saja (bermukomuko)” Mendengar ucapan tamu tadi, serentak para Kepala Suku menjawab, “kalau demikian, negeri ini kita beri saja nama mukomuko” Sejak itulah Padang Ribunribun berubah namanya menjadi Mukomuko.

Versi 2

Nama Mukomuko menurut versi kedua menguraikanya sebagai berikut ini. Dahulunya mukomuko bernama kerajaan Talang Kayu Embun.
Pada tahun 1529 terjadi keributan antara kerajaan Kerinci dengan Kayu Emban tentang batas-batas kerajaan. Untuk itu Sultan Firmansyah Rajo Indrapuro diperintah dan diatur di mukomuko/ bermusyawarah bertempat di Rumah Gedang Lunang, yang dihadiri oleh tokoh, yaitu yang berikut:

  1. Pemangku Lima, dan Kerinci Depati Empat
  2. Depati Laut Tawaran, dari Mukomuko
  3. Sultan Muhammad Syah, dari Indrapura
  4. Penghulu Delapan dan Lunang

Hasil musyawarah bermukomuko di rumah Gedang Lunang pada hari Senin sepuluh Maret 1529 adalah resminya nama Mukomuko dan resminya batas kerajaan Mukomuko dengan Kerinci, yaitu dari Renah Sianiet sampai Bukit Sitinjauh Laut. Sejak saat itu pula adat istiadat budaya pegang pakai Mukomuko diberlakukan.

Agaknya versi pertama lebih tua dari pada versi kedua. Ini berarti bahwa sangat mungkin istilah Mukomuko sudah digunakan jauh sebelum tahun 1529. dengan demikian, sejarah asal nama Mukomuko dapat dikembalikan ke abad sebelumnya, yaitu abad ke-14 atau bahkan ke-13.

Sebelum kedatangan bangsa asing ke Bengkulu sekitar abad ke-14, di Bengkulu sudah berdiri kerajaan-kerajaan seperti kerajaan Sungai Serut, yang diganti dengan kerajaan Sungai Lemau di Sungai Hitam, kerajaan Balai Buntar di Pondok Kelapa, Bengkulu Tengah dengan beberapa bagiannya seperti kerajaan Bagian Parit Lawang Seketeng di Dusun Raja. Begitu juga di Lebong, berdiri kerajaan Pat Petulai. Baik kerajaan Sungai Lemau, kerajaan Balai Buntar, dan kerajaan Pat Petulai mayoritas penduduknya adalah Suku Rejang. Selain itu terdapat juga kerajaan lainnya, seperti di Bengkulu Selatan dan Mukomuko.

Sejarah kerajaan Mukomuko

Di Mukomuko sejak tahun 1772 terjadi protes dan para petani selalu mengadakan rapat-rapat untuk menentang inggris.
Pada tahun 1798, sultan Mukomuko mengadu ke fort Marlborough mengenai kekejaman residen inggris, Jhon Campbell, dan meminta supaya residen tersebut di berhentikan.
Pada masa Stanfort Thomas Raffles di Bengkulu pada tanggal 4 Juni 1818 menghapus system tanam paksa lada yang di lakukan oleh komisaris Ewer yang kenyataannya sangat memberatkan rakyat sehingga rakyat merasa betul-betul di eksploitasai oleh para pejabat kompeni. Kemudian sultan Mukomuko, pangeran Sungai Lemau, dan pangeran Sungai Hitam di jadikan pejabat pemerintah colonial dengan gaji tertentu. Setiap keluarga memebayar 1 Dollar spanyol setiap tahunnya sebagai ganti rugi dari penghampusan system tanam paksa.
Terhadap kerajaan Mukomuko, pos residen inggris dihapuskan dan pemerintah kerajaan diserahkan kepada Sultan Mukomuko, Hidayat Syah (1789-1828), dengan diberi 600 ringgit sebulan.
.
Stempel kerajaan Muko Muko


Daftar Raja

Hasil musyawarah, pada hari senin 10 Maret 1529 adalah resminya nama Mukomuko dan resminya batas Mukomuko dengan Kerinci, ialah darei renah sianit sampai bukit setinjau laut.
Raja pertama di Mukomuko adalah Raja Adil, raja ke dua Rajo mudo kawin penekan sang depati laut tawar, raja ke tiga Maharaja gedang dengan penakan sang depati laut tawar.

*1681 – 1761: Tuanku Paduko Sarie Maharaja, Sultan Gadam Sah
* 1761 – 1806: Tuanku Sultan Sarie Maharaja, Pasissir Barat Sah
* 1806 – 1833: Tuanku Sarie Maharaja Sultan, Chalipattullah Indijat Sah
* 1833 – 1836: Tuanku Sarie Maharaja Sultan, Hidaijat Tula Sah
* 1836 – 1859: Tuanku Sarie Maharaja Sultan, Takadir Chalipattullah Sah

Sumber: http://www.worldstatesmen.org/Indonesia_princely_states1.html

Sultan Indrapura ke-38 (dari 42 rajo/ sultan) Sultan Abdul Muthalib gelar Sultan Taqdir Chalifatullah Syah, kemudian menjadi Regen di Muko-muko, pensiun tahun 1870.


Sejarah kerajaan-kerajaan di Bengkulu

Di Bengkulu dahulunya pernah berdiri kerajaan – kerajaan yang berdasarkan etnis/suku, seperti:

Kerajaan Anak Sungai
Kerajaan Sungai Serut,
Kerajaan Selebar,
Kerajaan Pat Petulai,
Kerajaan Balai Buntar,
Kerajaan Sungai Lemau,
Kerajaan Sekiris,
Kerajaan Gedung Agung,
Kerajaan Marau Riang.
Kerajaan Kaur
Kerajaan Muko Muko
Kerajaan Pepinau
Kerajaan Serawai
Kerajaan Sungai Hitam

Wilayah Bengkulu pernah menjadi sasaran kerajaan Budha Sriwijaya pada abad ke-8. Kerajaan Shailendra dan kerajaan Singosari menggantikan Sriwijaya tetapi tidak jelas apakah mereka menyebarkan pengaruhnya atas Bengkulu. Majapahit juga memiliki sedikit pengaruh atas Bengkulu.

Sampai pada akhir abad ke-15 kerajaan-kerajaan di daerah Bengkulu berada di bawah pengaruh Kerajaan Majapahit yang mengalahkan Sriwijaya pada abad ke-13. Dalam periode ini kerajaan-kerajaan di daerah Bengkulu, khususnya di daerah Rejang Lebong, dipimpin oleh para biksu (pimpinan agama Budha) yang datang dari kerajaan Sriwijaya. Setelah kekuasaan kerajaan Majapahit mundur pada pertengahan abad ke-16 kerajaan-kerajaan di daerah Bengkulu masuk ke dalam pengaruh kesultanan Banten.

Di sebagian daerah Bengkulu ini, juga pernah berada dibawah kekuasaan kerajaan Inderapura semenjak abad ke-17.

British East India Company (EIC) sejak 1685 mendirikan pusat perdagangan lada Bencoolen/Coolen yang berasal dari bahasa inggris “Cut Land” yang berarti tanah patah, karena daerah bengkulu ini merupakan daerah patahan gempa bumi yang paling aktif di dunia dan kemudian gudang penyimpanan di tempat yang sekarang menjadi Kota Bengkulu.

Pada waktu itu, ekspedisi EIC dipimpin oleh Ralph Ord dan William Cowley untuk mencari pengganti pusat perdagnagn lada setelah pelabuhan Banten jatuh ke tangan VOC, dan EIC dilarang berdagang di sana. Traktat dengan kerajaan Selebar pada tanggal 12 Juli 1685 mengizinkan Inggris untuk mendirikan benteng dan berbagai gedung perdagangan. Benteng York didirikan pada tahun 1685 di sekitar muara Sungai Serut.

Sejak 1714, dibangunlah sebuah benteng yang bernama Marlborough dan selesai dibangun pada tanun 1719 yang hingga sekarang masih berdiri. Namun, perusahaan ini lama kelamaan menyadari tempat itu tidak menguntungkan karena tidak menghasilkan lada dalam jumlah yang mencukupi.

Sejak dilaksanakannya Perjanjian London pada tahun 1824, Bengkulu diserahkan ke Belanda dengan imbalan Malaka sekaligus penegasan atas kepemilikan Tumasik/Singapura dan Pulau Belitung. Sejak perjanjian itu Bengkulu menjadi bagian dari Hindia Belanda.

Penemuan deposit emas didaerah Rejang Lebong pada paruh kedua abad ke-19 menjadikan tempat itu sebagai pusat penambangan emas hingga abad ke-20. Sekarang, kegiatan penambangan komersial telah dihentikan semenjak habisnya deposit.


Peta-peta kuno Sumatera

Untuk peta kuno Sumatera (1565, 1588, 1598, 1601, 1616, 1620, 1707, 1725, 1760), klik di sini

Sumatera, tahun 1707


Sumber

– Sejarah kerajaan Mukomuko: http://pemuda-pelajar-mukomuko.blogspot.co.id/2009/07/sekilas-sejarah-kabupaten-mukomuko.html
– Sejarah kerajaan Mukomuko: https://media.neliti.com/media/publications/317164-orang-minangkabau-di-mukomuko-dalam-pers-b84bad51.pdf
– Sejarah kerajaan Mukomuko: http://herijunaidi.blogspot.co.id/2009/10/sejarah-mukomuko.html
Regen Muko Muko 1900: http://niadilova.blogdetik.com/2012/12/24/minang-saisuak-116-regen-muko-mukosultan-inderapura-m-rusli-sultan-abdullah-1891-1911
Daftar raja: http://www.worldstatesmen.org/Indonesia_princely_states1.html


Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: