Pulungan, kerajaan / Prov. Sumatera Utara – kab. Mandailing Natal

Kerajaan Pulungan terletak di prov. Sumatera Utara, kab. Mandailing Natal, kec. Hutabargot.

Lokasi kab. Mandailing Natal


Sejarah kerajaan Pulungan

Kurang ada info tentang kerajaan ini

Mpu Prapanca menyebut belahan timur adalah Melayu, termasuk di dalamnya; Mandailing, Pane (Panai), Toba, Barus dan lain-lain. Saat itu Toba, Mandailing dan Barus dikategorikan rumpun Melayu.
Tidak ada BATAK pada saat itu. Istilah Batak muncul kemudian dari orang-orang pesisir yang merasa lebih beradab, batak adalah istilah untuk orang pedalaman. Tidak ada kata Batak dalam kosa kata kuno (Sanskerta).
Peradaban berpusat di tepian sungai Barumun, dan Sungai Batang Pane. Dan Mandailing yang tidak terlalu besar berpusat di Kerajaan Pulungan, tepi Sungai Batang Gadis.

Marga Rangkuti dan marga Pulungan di antara marga-marga yang lain yang mempunyai kerjaan di Mandailing, maka yang pertama sekali mempunyai kerajaan di Mandailing diantara kedua marga itu adalah marga Pulungan dan satu generasi kemudian barulah marga Rangkuti.
Pulungan mendiririkan kerajaan di Hutabargot dan Kerajaan Rangkuti di Runding kedua-dua kerajaan itu berdekatan dan berhadap-hadapan di seberang Batanggadis sebelah barat Panyabungan.

Kedatangan Pulungan dan Rangkuti di Mandailing itu adalah kira-kira pada pertengahan anad ke-11.

Raja Pulungan memutuskan untuk memindahkan pusat kerajaannya ke Sayurmatinggi saat ini, dan beberapa keturunannya pindah ke wilayah lain dan membuka huta dan menjadi raja di wilayahnya kemudian diantaranya anak raja bernama Jabargot membuka hutabargot dan menjadi raja di Hutabargot, Jamalagi membuka huta Simalagi dan menjadi raja di Simalagi, dan satu bernama Japanabari membuka huta di Panabari dan menjadi raja di Panabari Tano Tombangan. Sedangkan keluarga raja lainnya ada yang berpindah ke wilayah lainnya dan menyebar hingga ke utara.

Raja pertama Kerajaan Pulungan setelah dipindahkan ke Sayurmatinggi ialah Raja Gadombang yang memerintah hingga tahun 1831. Ia kemudian digantikan oleh anaknya Sutan Kumala yang kemudian menyerahkan tahtanya karena usia lanjut kepada putranya Baginda Gadombang Parlaungan yang dikemudian hari dikenal dengan sebutan Kuria Hop dan wafat tahun 1952.


Sumber

– Sejarah kerajaan Pulungan: http://www.mandailingonline.com/putri-sayak/