Pat Petulai, kerajaan / Sumatera – Prov. Bengkulu

Kerajaan Pat Petulai letaknya di provinsi Bengkulu, Sumatera.

The kingdom of Pat Petulai was located on Sumatera, provinsi Bengkulu.
For english, click here

Provinsi Bengkulu


* Foto foto situs kuno dan suku-suku di Sumatera dan Sumatera dulu: link


Sejarah kerajaan Pat Petulai
.
Pat Petulai berasal dari kata Pat Petu Loi yang artinya Empat Pintu Besar. Tanah rejang dulunya bernama Renah Sekalawi dan telah diduduki oleh Bangsa Rejang. Saat itu rajanya bergelar Ajai yang dipercayai untuk memimpin sekelompok manusia. Lama kelamaan dari keempat Ajai dan tempat tersebut, rakyat masing-masing terus berkembang, maka keempat Ajai dari empat daerah ini bersepakat mengadakan rapat untuk menentukan batas kekuasaan masing-masing daerah, yang akhirnya disebutlah dengan nama Jang Pat Petuloi.
Diantara raja-raja tersebut nama dan tempatnya masih dikenali sampai saat ini adalah :
1. Ajai Bitang  di Dusun Pelabai (Pelabi) Lebong (Marga  Suku IX sekarang),
2. Ajai Begeleng Mato di Kutai Belek Tebo Lebong (Marga Suku VIII sekarang),
3. Ajai Siang di Dusun Siang Lekat Lebong (Marga Jurukalang)
4. Ajai Tiea Keteko di Dusun Bandar Agung Lebong (Marga Suku IX sekarang).
Berakhirlah zaman Ajai kemudian timbul zaman Biku/Bikau (Biksu). Sekitar abad ke 12 atau 13 atau sekitar 600 dan 700 tahun lalu datanglah keempat Biku ini ke Renah Sekalawi (Lebong) dari Kerajaan Majapahit. Konon, keempat orang ini merupakan putra-putra raja Majapahit. Keempat orang ini dikawal oleh para pengawal dan tujuan mereka datang ke Renah Sekalawi (Lebong) Pinang Belapis menurut riwayat adalah ingin mencari negeri dan akan dipimpin oleh masing-masing empat putra-putra Raja Majapahit.

Sejarah kerajaan di Bengkulu

Di Bengkulu dahulunya pernah berdiri kerajaan – kerajaan yang berdasarkan etnis/suku, seperti :
Dibawah Kesultanan Banten dan mereka menjadi vazal ( Terikat/Daerah Taklukan). Di Sebagian daerah Bengkulu ini, juga pernah berada dibawah kekuasaan Kerajaan Inderapura semenjak abad ke-17. British East India Company (EIC) sejak 1685 mendirikan pusat perdagangan lada Bencoolen/Coolen yang berasal dari bahasa inggris “Cut Land” yang berarti tanah patah, karena daerah bengkulu ini merupakan daerah patahan gempa bumi yang paling aktif di dunia dan kemudian gudang penyimpanan di tempat yang sekarang menjadi Kota Bengkulu.
Pada waktu itu, ekspedisi EIC dipimpin oleh Ralph Ord dan William Cowley untuk mencari pengganti pusat perdagnagn lada setelah Pelabuhan Banten jatuh ke tangan VOC, dan EIC dilarang berdagang di sana. Traktat dengan Kerajaan Selebar pada tanggal 12 Juli 1685 mengizinkan Inggris untuk mendirikan benteng dan berbagai gedung perdagangan. Benteng York didirikan pada tahun 1685 di sekitar muara Sungai Serut.
Sejak 1714, dibangunlah sebuah benteng yang bernama Marlborough dan selesai dibangun pada tanun 1719 yang hingga sekarang masih berdiri. Namun, perusahaan ini lama kelamaan menyadari tempat itu tidak menguntungkan karena tidak menghasilkan lada dalam jumlah yang mencukupi.
Sejak dilaksanakannya Perjanjian London pada tahun 1824, Bengkulu diserahkan ke Belanda dengan imbalan Malaka sekaligus penegasan atas kepemilikan Tumasik/Singapura dan Pulau Belitung. Sejak perjanjian itu Bengkulu menjadi bagian dari Hindia Belanda.
Penemuan deposit emas didaerah Rejang Lebong pada paruh kedua abad ke-19 menjadikan tempat itu sebagai pusat penambangan emas hingga abad ke-20. Sekarang, kegiatan penambangan komersial telah dihentikan semenjak habisnya deposit.

Peta-peta kuno Sumatera

Untuk peta kuno Sumatera (1565, 1588, 1598, 1601, 1616, 1620, 1707, 1725, 1760), klik di sini

Sumatera, tahun 1707


Sumber

– Sejarah kerajaan Pat Petulai: http://blogkasihpunya.blogspot.nl/2017/01/kerajaan-pat-petulai-bengkulu.html
– Tentang Pat Petulai: https://frisztado.wordpress.com/2010/10/21/tembo-sejarah-suku-rejang-bagian-2/
– Sejarah Bengkulu: https://id.wikipedia.org/wiki/Bengkulu


 

Advertisements

Blog at WordPress.com.