Sejarah lengkap kerajaan Gunung Sahilan

PERJALANAN SEJARAH KERAJAAN RANTAU KAMPAR KIRI GUNUNG SAHILAN

Oleh : Zaldi Ismet, S.Sos ( Muwazir Istana Gunung Sahilan Darussalam)
https://www.facebook.com/1706236102941742/posts/

———————————————-

  1. ASAL MULA BERDIRINYA KERAJAAN

Tengku Haji Ibrahim Ibnu Tengku Abdul Jalil yang dipertuan Hitam, Wazir Kerajaan Kampar Kiri, menjelaskan di dalam Kitab Sejarah Kerajaan Kampar kiri Bahwa, diI’lankannya Kerajaan Gunung Sahilan dilakukan melalui Sumpah Sotie/ Bait Umum di Muara Bio oleh Para Khalifah, Para Pembesar, Para Ninik mamak Serantau Kampar kiri pada abad ke 16 Masehi. Di dalam tambo adat disebut pada hari Senin nama tahun Alif.

Menurut Keterangan para tetuo Adat disebutkan bahwa lahirnya Kerajaan Rantau Kampar Kiri yang beribu Kota di Negeri Gunung Sahilan, tidak dapat dipisahkan dengan peristiwa “Fatra” atau terputusnya Kepemimpinan bagi Rakyat dan Umat Islam di Rantau Kampar Kiri, setelah Runtuhnya Kerajaan Islam Kuntu Kampar. Masa Fatra ini berlansung sekitar 200 tahun lamanya.

  1. DAKWAH DAN TAMADDUN

Kerajaan Kuntu Kampar adalah kerajaan Islam yang didirikan oleh Umat Islam di Rantau Kampar Kiri sebagai Buah dari Pohon Syajaroh Dakwah yang berlansung ratusan tahun Semenjak Nabi Muhammad Beserta Kaum Muhajirin dan Kaum Ashar bersepakat dalam untuk bersama-sama menegakkan Islam melalui Bai’ah Aqobah Tsani di Bukit Aqobah Mekkah. Sehingga pada hari Jumat Tahun ke 13 dari Kenabian maka berdirilah MADINATUNNABI di Yatrib Tanah Kaum Ansyar. Dari Kota Madinah itu Dakwah diseruhkan keseluruh Alam sehingg sampai di daerah Maghrib Islam, Tanah Rantau Kampar Kiri.

Dakwah dan Harakah adalah Manhaj Kenabian dalam mendirikan Tamaddun Islam, Addien wa Tamaddun adalah satu konsepsi Tauhid yang utuh. Jalan lurus mewujudkan peradaban adalah dakwah dan Harakah. Semenjak abad 1 Hijeriyah para Para Khalifah Rasyidah, para Sahabat, paraTthabiin melalui wadah Daulah Madinah, Daulah Bani Umayyah, Daulah Bani Abbasyah, Daulah Fatimiyyah, Daulah Mamalik serta Daulah Aaliyah Ustamaniyah menjadi wadah bagi Dakwah menuju Rahmatan Lil alamin.

Menurut buku Sejarah Riau yang disusun oleh tim penulis dari Universitas Riau terbitan tahun 1998/1999, Kuntu adalah daerah yang pertama-tama di Riau yang berhubungan dengan pedagang-pedagang asing dari Cina, India, Arab dan Persia. Kuntu juga daerah pertama yang memainkan peranan dalam sejarah Riau, karena daerah lembah Sungai Kampar Kiri adalah daerah penghasil lada terpenting wilayah Timur Sumatera dalam periode antara 500-1400 masehi. Zaman dahulu, Kuntu yang nama awalnya Koto Tenggi Teluk Bandaruhum, dikenal sebagai daerah yang subur dan berperan sebagai gudang penyedia bahan baku lada, rempah-rempah dan hasil hutan. Pelabuhan ekspornya adalah Samudra Pasai, dengan pasar besarnya di Gujarat. Kuntu juga adalah wilayah yang strategis sebab terletak terbuka ke Selat Melaka, tanpa dirintangi pegunungan.

Didalam catatan sejarah dakwah yang ditulis para sejawaran, Islam masuk ketanah Malayu di Propinsi Riau, jejak-jejaknya bisa di temukan melalui surat surat yang dikirimkan oleh Para Khalifah kepada para raja-raja Malayu pada masa lalu. Khalifah Muawiyyah Bin Abu Sofyan, Khalifah Sulaiman Abdul Majid telah berkirim surat dakwah, kepada raja-raja dari Bangsa Malayu. Kesimpulan isi surat itu adalah “Aslam Anta” berislamlah kamu niscaya kamu akan selamat. Surat – surat ini masih tersimpan rapi dimusim Kota Madrid Negara Spanyol.

Pengiriman Surat-surat dakwah diringi oleh diutusnya para Ulama untuk berdakwah, sehingga seorang ulama bernama Syekh Burhanuddin wali Ullah Qadi Mekkatul Mukarramah menjadi Bukti Kehadiran para Dai, para Syekh, para Warisatul Anbiyah di tanah Kampar Kiri. Bukti bukti peningglaan beliau masih ada, Kitab Fikih Fhutul Wahab, karangan Syekh Abdul Wahab Syaarni, Kitab Fikih Islam Mazhab Syafii, Kitab Alquran Tulisan tangan, Cap Mohor Syek Burhanuddin, Pedang Jinawi, Kuburan atau makan beliau dan keluarganya di Negeri Kuntu Kampar Kiri berangka tahun menurut para ahli sejarah 1111 Masehi.

Hasil dari dakwah tersebut pada abd ke 10-11 Masehi Tamaddun Islam sudah berdiri di tanah Malayu di Kampar kiri yakni di Kuntu sebagai Madinah dengan Sulthan pertama bernama Sulthan Muhammad Amrullah dengan didampingi oleh seolah Ulama Syeikh Al Islam Haji Fadilullah sebagaimana di tulis dalam Buku Sejarah Minangkabau dari Masyur MD dan kawan-kawan.

Tamaddun Islam yang berdiri ini mengahadapi cobaan dengan kedatangan Ekpedisi Pamalayu dibawah Komando Panglima Mahesa Anabrang dari Kerajaan Singhasari Hindu, pada Tahun 1286 Masehi. Raja Kertanegara mengirimkan tentara Menaklukkan Kerajanan Islam Kuntu Kampar. Maka Bibit Tamaddun tersebut runtuh. Pada 1301 Masehi, Kesultanan Aru Barumun dari Batang gadis Langkat yang berasal dari Pecahan Kerajan Samudra Pasai di Aceh, berhasil menguasai Rantau Kampar kiri. Sehingga praktis monopoli lada di Sungai Kampar Kiri-Kanan serta Sungai Batanghari, dikuasai oleh Kesultanan Aru Barumun, Kesultanan Aru kembali mendirikan kerajaan Islam di Kuntu Kampar Kiri dengan nama Dinasti Perkasa Alam selama beberapa Dekade dengan 4 orang Sulthan yang berkubur di Tanah Kuntu Kampar Kiri.

Pertarungan Politik, ekonomi dan peradaban pada masa tersebut, tidaklah berhenti sebagai sebuah Sunatullah, Kerajaan Majapahit yang merupakan Pelanjut estapeta Kerajaan Singasari, di bawah Komando Uparaja Adityawarman di Sumatera yang berpusat di Palembang menyerang dan menaklukkan Kesultanan Kuntu Kampar Dinasti Perkasa Alam pada tahun 1349 Masehi. Dengan ditaklukkannya Kesultanan Kuntu Kampar Dinasti Perkasa Alam, Adityawarman telah Merebut Sumber Perekonomian kerajaan Islam di Sumatera yakni perdagangan Lada yaitu Sungai Kampar Kanan-Kiri dan Sungai Batanghari. Dengan kekuatan Ekonomi tersebut Panglima Adityawarman Tuan Suruaso Kanakamadinindra mampu mendirikan Kerajaan bercorak Hindu Budha dengan nama Malayu Pura, yang kelak pada keturunan yang menerima ajaran Islam nya berganti nama menjadi Kerajaan Pagaruyung.

Dari abad ke 14 Masehi sampai abad ke 16 masehi maka terjadilah masa fatra kepemimpinan Islam di tanah Kampar kiri. Kepemimpinan umat Islam berada dibawah komando Kerajaan Malayu Pura serta Kerajaan Pagaruyung. Pada masa kepimpinan Raja Islam Pagaruyung ke IV yang bergelar Sulthan Sembahyang IV Sulthan Arifin Muningysah maka datanglah utusan dari Para Khalifah nan berempat beserta Ninik Mamak 13 Koto di Rantau Kampar Kiri dengan maksud hendak menyambung nan terputus, merangkai nan terserak dari Tamaddun di Rantau Kampar Kiri.

Hasil Musyawarah Mufakat Para Khalifah dan Ninik mamak Serantau Kampar Kiri di Negeri Kuntu adalah sebuah Syuro Siyasah dengan tujuan hendak mendirikan kembali Daulah Islam di Rantau Kampar Kiri. Syuro Syiyasah atau musyawarah Politik ini dilakukan di Negeri Kuntu tempat kedudukan Khalifah Adat Rantau Kampar Kiri. Berdasarkan riwayat tutur para Tateuo maka Datuk Indomo kemenakan Datuk Bandaro Khalifah Kuntu berhasil Mendapatkan seorang anak Raja Pagaruyung bernama Yang Dipetuan Muda Raja Mangiang untuk dijadikan Raja di Rantau Kampar Kiri dengan Gelar Datuk Bujang Sati Raja Mangiang.

Dalam Syuro Siyasah yang dilakukan di Muara Subangi Negeri Domo, kemudian Delegasi Masyarakat Adat Rantau Kampar Kiri yang diwakili oleh Datuk Bandaharo Hitam Negeri Pangkalan Serai bertemu dengan Delegasi Kerajaan Pagaruyung yang diwakili oleh Datuk Besar dan Datuk Godang sebagai Mamak dan penasehat Raja Muda Datuk Bujang Sati dari Kerajaan Pagaruyung, maka dibuatlah suatu kesepakatan bersama yang menjadi Mitsa Al Madinah ( Piagam Madinah), Piagam inilah yang kemudian di tulis pada sebuah Batu dan tulisan tersebut dibacakan di Pulau Angkako di Muara Bio, yang disebut dengan nama Sumpah Sotie atau Sumpah Setia Masyarakat Rantau Kampar Kiri.

Hasil dari Piagam Adat itu adalah Para Khalifah nan berempat beserta Ninik-Mamak Rantau Kampar kiri memberikan Tempat kedudukan Raja Muda Pagaruyung ini adalah Negeri Gunung Sahilan di dalam Luhak Kampar Kiri dengan batas kepala Koto adalah Negeri Lipatkain dan Ulak Koto adalah Negeri Mentulik, kawasan ini disebut Rantau Daulat, sebagai Pusat Kerajaan. Dengan di kawal oleh para Khalifah nan berempat dimudik, Datuk Godang dan Datuk Besar, Datuk Sanjayo dan Datuk Singo, Para Orang Besar Raja, sebagai Andiko Besar, Suluh Rantau serta dipagar oleh para Ninik-Mamak Andiko Selapan Batu/Suku di Negeri Gunung Sahilan. Maka didirkanlah “ rumah Dalam” sebagai Pusat Kerajaan, yang hari ini bernama Istana Darussalam.

Sementara Luhak nan tigo yakni Luak Singingi, Luak Sibayang dan Luak Sitingkai adalah Rantau Andiko yang berada dibawah perintah Para penghulu Luhak masing-masing serta tunduk dan patuh kepada Yang Dipertuan Besar Raja Rantau Kampar kiri di Gunung Sahilan.

Adapun dasar filosofis pentingnya hidup beraja atau hidup berkepemimpinan adalah menurut kepada Tambo Rantau Kampar kiri yang ditulis oleh wazir kerajaan Gunung Sahilan dan disahkan oleh Raja Adat dan Raja Ibadat kerajaan Kampar kiri Gung sahilan adalah : Tujuan adat beraja adalah dalam rangka menegakkan Adat dan Syara’ yaitu adat Basondi Syarak, Syarak Basondi Kitabullah. Fungsi Raja adalah mengantikan fungi Nabi dalam, Tanfizul Hukmi ( Menegakkah Hukum Islam), Tanfidzul Amni (menjaga Kemanan Umat) serta Al Masalihul Maslaha Ummah ( mewujudkan Kesejahteraan Ummat). Untuk mewujudkan Tujuan tersebut maka Raja mengatur Adat ( Pemerintahan) sebab raja adalah nan bertulang kuat, sedangkan ulama adalah penganti fungsi Nabi dalam dalam bidang Syarak, sebab para ulama yang bermato nyolang becermin terus. Sehingga Adat dan Ibadat, antara Raja dan Ulama adalah sepasang wadah untuk menjalankan funsi kenabian ( Tasdik Musyaddik).

Di dalam kerajaan Gunung Sahilan karena keterbatasan kemampuan, maka jabatan kepemimpinan dibagi mejadi dua bagian yakni Raja Adat dan Raja Ibadat, Raja Yang dipertuan Besar menurpakan gelar bagi raja Adat dan Raja Yang Dipertuan Sati adalah gelar bagi raja Ibadat, kedua raja tersebut adalah pelanjut dari risalah kenabian.

Menurut Kitab sejarah Adat Kampar kiri, Pada masa kenabian Adat dan Syarak berada ditangan Nabi Muhammad SAW. Pangkat Kepemimpinan yang memengan Adat dan Syarak dalam satu kepemimpinan dilanjutkan oleh para Khalifah berempat dan berakhir pada masa Khalifah Kelima yakni Sayidina Hasan Ibnu Ali.

Setelah berakhirnya Kekhalifaan Sayidina Hasan maka Pangkat Kekhalifaan dibagi menjadi dua bagian yakni Kekhalifaan Adat ditangan Para Raja dan Kekhalifaan Syarak ditangan para Ulama. Inilah tatanan adat yang menyatukan antara Umara dan Ulama dalam satu sistem kepemimpinan bernegara.

Raja-raja yang yang berna berkuasa di Kerajaan Gunung Sahilan Rantau Kampar Kiri adalah, antara lain :

  1. Raja I (1700-1740) Tengku Yang Dipertuan (TYD) Bujang Sati,
  2. Raja II (1740-1780) TYD Elok,
  3. Raja III (1780-1810) TYD Muda,
  4. Raja IV (1810-1850) TYD Hitam. Hitam sebagai pengemban amanah memimpin selama kurang lebih 40 tahun.
  5. Raja V (1850-1880) TYD Abdul Jalil,
  6. Raja VI (1880-1905) TYD Daulat,
  7. Raja VII (1905-1930) Tengku Abdurrahman Yang Dipertuan Besar
  8. Raja VIII TYD Sulung atau Tengku Sulung (1930-1941).
  9. Raja IX Tengku Haji Abdullah yang Dipertuan Sati ( 1941-1946) Kerajaan bergabung kedalam Negara Republik Indonesia dengan Status Kewedanaan Kampar Kiri.
  10. T Ghazali ( Putra Mahkota ) Tidak Dinobat menjadi Raja karena Sisitem Pemerintahan Republik menghapus hak-hak Kepemimpinan Raja di Propinsi Riau.

Perjalanan sejarah Daulah Rantau Kampar Kiri Gunung Sahilan, berjalan seiring dengan berjalannya zaman. Setiap zaman memiliki kisahnya sendiri sendiri. Pada abad ke 18 Masehi Kerajaan Pagaruyung mengalami intervensi dari kekuatan luar yakni Kaum Kapitalis VOC dan kaum Kolonialis Pemerintah Belanda. Interpensi tersebut pada ujungnya menimbulna perang saudara sehingga runtuhnya kerajaan Pagaruyung serta tunduknya kerajan tersebut kepada pemerintah belanja melalui Plakat Panjang.

Inetrvensi dan pembulatan tanah jajahan antara kaum –kaum kolonialis atas bumi Malayu tidak berhenti, melalui Traktat London antara Kerajaan Ingris dan Kerajaan Belanda telah membuat kesepakatan pembualatan tanah jajahan, dimana Pemerintah Belanda mendapat restu dari semua kekuatan Eropa dan vatikan utuk menaklukkan semua Bumi Malayu termasuk Rantau Kampar Kiri. Untuk menaklukkan tanah malayu di Sumatera Tengah kerajaan Belanja masuk melaui dua Pintu, pintu sebelah barat melalaui Painan ( Painan Kontrak) dan pintu sebelah Timur melalui Tumasik ( Singapura).

Setelah menguasai Kerajaan Pagaruyung melalui taktik pecah belah dan kuasai ( Devide and Rule) maka melalui sisitem penguasaan Indirecrule pemerintah Belanda memasuki Rantau Kampar Kiri melalaui hulu Singingi dan menguasai Logas. Tantangan intervensi kekuatan luar melalui taktik pecah belah ini menimbulkan konflik diantara Luhak dan Rantau di Kampar kiri yang diakhiri oleh perjanjian antara Pemerintah Kerajaan Belanda dengan kerajaan Kampar kiri yang di wakili oleh Datuk Bandaro Khalifah Kuntu disebut dengan Piagam Kuntu. Pada tahun 1898 Masehi.

Kesepakatan ini didalam arsif pemerintah kerajaan belanda disebut dengan sebutan Korte Verklaring ( Plakat Pendek) Gunung Sahilan end Onder Horigeden Verklaring dimana Kerajaan Belanda mengakui kedaulatan Kerajaan Gunung sahilan beserta seluruh wilayah kerajaannya dan menjalin persekutuan dalam Bentuk perserikatan. Perjanjian ini ditandatangani oleh Raja Tengku Abdul Jalil Yang dipertuan Besar pada 27 Februari 1905 dan Mr.IL. O’brien mewakili Residen Belanda di Bengkalis serta Jendral Van Huet sebagai Gubernur Jendral Hindia Belanda mewakili Ratu Kerajaan BelandaWilhelmina.

Pada tanggal 29 Mei 1907 pemerintah Kerajaan Belanda melakukan intervensi melalui terbitnya Regeling Reglemen/ Wet de Bestuur ( Undang-Undang pemerintahan Belanda) tentang otonomi daerah dengan menjadikan Kerajaan Gunung Sahilan sebagai sebuah Kabupaten/ Onder Afdeling dalam tanah jajahan di Hindia Belanda di Residen Sumatera Timur dengan Pusat di Medan sedangkan Riau yang disebut Afdeling Riau ibu Kota di Bengkalis. Dengan stastus daerah Onder Afdeling maka wilayah kerajaan Gunung Sahilan dikurangi, dimana Luhak Singingi dibawah Kontrol Residen Padang Darat ( Padangche Boven landan) Residen west Sumatera, sehingga wilayah kekuasaan kerajaan Gunung sahilan hanya Rantau Daulat di Kampar Kiri dan Rantau Andiko di Subayang.

Disamping itu Kerajaan Belanda Juga mencabut hak hukum kerajaan, dimana Kewenangan Kerajaan untuk menegakkan hukum adat dalam Sidang kerajaan dibatasi, dimana 4 jenis tindakan pidana berat yakni Hudud dan Qisos tidak boleh dijalankan lagi oleh Kerajaan Gunung dan itu hanya boleh dihukum menurut hukum Kanonik pemerintah Kerajaan Belanda, perjanjian ini disebut dengan Gunung Sahilan Verklaring II ditandatangani oleh Raja Tengku Abdurrahaman Yang dipertuan Besar pada tanggal 11 Juli 1909 Masehi.

Pada tahun 1942 masehi kekuasaan pemerintah Kolonial digantikan oleh Kolonial baru yakni Kekaisaran Jepang selama 3, 5 tahun pada masa ini Kerajan Gunung Sahilan dan menjadi daerah perlintasan utama Jalur kereta api Trans Sumatera Tengah dari Kota Pekanbaru ke Muara Sijunjung dalam rangka pengerukan Sumberdaya Alam serta pertahanan militer dalam perang Asia Timur Raya, Bekas bekas sebagai bukti sejarah ini masih dapat dibuktikan baik secara fisik maupun tulisan para sejarawan. Pada masah ini kekuasaan Kerajaan Gunung Sahilan masih diakaui oleh pemerintah Militer Jepang dalam serah terima di Bengkalis yang diwakili oleh Demang Kampar Kiri Haji Muhammad Saleh ayahnda dari bapak alm. A. Anwar Saleh.

Pada masa revolusi kemerdekaan tahun 1945 sampai tahun 1949 masehi. Dukungan beridirnya Republik juga diberikan oleh kerajaan Gunung Sahilan, Raja Ibadat yang juga memengan keuasa sebagai raja Adat pada masi ini Tengku haji Abdullah yang Dipertuan Sati, mengrim kawat dukungan kepada Pemerintah Indonesia. Wujud dukungan ini adalah dengan pengakuan atas kerajaan Gunung Sahilan sebagai sebuah Kewedanaan dengan ibu Kota di Lipatkain. Dan Tengku Haji Abdullah adalah Wedana Pertama Kerajaan Gunung Sahilan Rantau Kampar Kiri Propinsi Sumatera.

Pada masa terbentuknya Propinsi Sumatera Tengah, maka Kewedanaan Kampar Kiri digabungkan ke dalam Kewedaaan Pekanbaru Luar Kota bersama Siak Hulu dan Langgam yang pada akhirnya bersama sama dengan Kewedaaan Pasir Pangaraian, Kewedaaan Bangkinang dan Kewedanaan Pangkalan Kerinci membentuk Kabupaten Kampar.

Perubahan sistem ketatanegaraan menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia semenjak 17 Agustus 1950 Masehi dan berakhirnya Perang Revolusi kemerdekaan, berdasarkan KMB di Denhak, diikuti oleh hilangnya pengakuan sebagai daerah istimewa terhadap Zelberstuurder Landeschap berdasarkan penjelasan UUD1945 menjadikan Kerajaan Gunung Sahilan Rantau Kampar Kiri hilang ditelan zaman selama lebih Kurang 70 tahun. Status wilayah eks kerajaan Gunung Sahilan semenjak itu adlah Wilayah administrasi Kecamatan Kampar kiri didalam Kabupaten Tingkat II Kampar dengan Ibukota di Bangkinang. Pada tahun 1999 sampai dengan Tahun 20018 Masehi Kecamatan Kampar Kiri telah dimekarkan menjadi 5 wilayah Administrasi Kecamatan di dalam wilayah otonom Kabupaten Kampar Propinsi Riau.

Pada tahun 2016 Masehi, setelah kepemimpinan adat beraja yang telah terputus selama 70 tahun, berdasarkan musywarah mufakat ‘ Bulek aiegh dek pambotung, bulek kato dek mufokat. Masyarakat adat, Para Kahlifah dan Para orang Besar beserta Ninik Mamak Serantau Kampar Kiri kembali menobatkan Pewaris Raja di Kerajaan Rantau Kampar Kiri sebagai sebuah kekuatan Sosial kemasyarakatan yang bernapaskan Islam ( Masyarakat Madani/ Civil Sosienty) dengan Tujuan “ Membangkik Batang Taondam Menjunjung Marwah Negeri” Beliau adalah Tengku Muhammad Nizar Yang Dipertuan Agung, Ibnu Tengku Ghazali Putra Mahkota, Ibnu Tengku Haji Ibrahim, Ibnu Tengku Abdul Jalil yang dipertuan Hitam.

III. PENUTUP

Demikianlah riwayat jejak perjalanan Tamaddun Islam di Tanah Rantau Kampar kiri zaman berzaman, satu pepatah di Kampar Kiri disebutkan “ Balando Babenteng Bosi, Rantau Kampar Kiri Berbenteng Adat”. Adat lamo Pisoko Usang, Lapuok dikajangi usang diperbaharui.” Wallhumuafik. Wassalam.