Rappang, kerajaan / Prov. Sulawesi Selatan – kab. Sidenreng-Rappang

Kerajaan Rappang adalah kerajaan Suku Bugis; terletak di Sulawesi, Kab. Sidenreng-Rappang, prov. Sulawesi Selatan.
Sidenreng Rappang awalnya terdiri dari dua kerajaan, masing-masing Kerajaan Sidenreng dan Kerajaan Rappang.
Kerajaan Rappang masuk Konfederasi Ajatappareng.
Raja bergelar Arung.

The kingdom of Rappang was a kingdom of the Bugis People; located in Kab. Sidenreng-Rappang. South Sulawesi. This kingdom was part of the Confederation of Ajatappareng.
Sidenreng Rappang originally consisted of two kingdoms, the Kingdom of Sidenreng and the Kingdom of Rappang.
The title of the king is Arung.
For english, click here

Lokasi kabupaten Sidenreng Rappang


* Foto foto kerajaan Rappang: di bawah

* Foto foto kerajaan2 di wilayah Poso: link
* Foto foto raja2 di Sulawesi dulu: link
* Foto foto situs kuno di Sulawesi: link


Present Raja

Tidak ada info tentang keturunan kerajaan Rappang.


Sejarah / History kerajaan Rappang

1) Ajattappareng atau yang pada masa lampau dikenal dengan  nama Tanah di Barat Danau adalah wilayah geographis dalam istilah politiknya berhubungan dengan bentuk persekutuan konfederasi lima kerajaan Bugis yang terletak pada barat dan utara danau Tempe dan Sidenreng di semenanjung barat daya Sulawesi Selatan. Kerajaan Ini antara lain Sidenreng, Sawitto, Suppa, Rappang dan Alitta. Kelima kerajaan Ajattappareng ini berjaya sekitar tahun 1700-an dengan hasil bumi yang melimpah sehingga pada akhirnya menjadi rebutan bagi kerajaan-kerajaan besar yakni kerajaan Luwu, kerajaan Bone dan kerajaan Gowa. Dalam persaingan ini kerajaan Gowa akhirnya berhasil mengintervensi sistem pemerintahan dan menjadikan persekutuan lima kerajaan Ajatappareng ini di bawah perlindungannya.

2) Menurut sejarah, Sidenreng Rappang awalnya terdiri dari dua kerajaan, masing-masing Kerajaan Sidenreng dan Kerajaan Rappang. Kedua kerajaan ini sangat akrab. Begitu akrabnya, sehingga sulit ditemukan batas pemisah. Bahkan dalam urusan pergantian kursi kerajaan, keduanya dapat saling mengisi. Seringkali pemangku adat Sidenreng justru mengisi kursi kerajaan dengan memilih dari komunitas orang Rappang. Begitu pula sebaliknya, bila kursi kerajaan Rappang kosong, mereka dapat memilih dari kerajaan Sidenreng. Itu pula sebabnya, sulit untuk mencari garis pembeda dari dua kerajaan tersebut. Dialek bahasanya sama, bentuk fisiknya tidak beda, bahasa sehari-harinya juga mirip. Kalaupun ada perbedaan yang menonjol, hanya dari posisi geografisnya saja. Wilayah Rappang menempati posisi sebelah Utara, sedangkan kerajaan Sidenreng berada di bagian Selatan.

Kedua kerajaan tersebut masing-masing memiliki sistem pemerintahan sendiri. Di kerajaan Sidenreng kepala pemerintahannya bergelar Addatuang. Pada pemerintahan Addatuang, keputusan berasal dari tiga sumber yaitu, raja, pemangku adat dan rakyat. Sedangkan di Kerajaan Rappang rajanya bergelar Arung Rappang dan menyandarkan sendi pemerintahanya pada aspirasi rakyat. Demokrasi sudah terlaksana pada setiap pengambilan kebijakan. Demokrasi bagi kerajaan Rappang adalah sesuatu yang sangat penting, salah satu bentuk demokrasinya adalah penolakan diskriminasi gender.
Sumber: Wiki.

Asal Usul nama serta sejarah kemunculan kerajaan Sidenreng dan Rappang, klik di sini

Peta Sulawesi selatan (incl. Sidenreng / Rappang) tahun 1909



Daftar Raja / List of kings (Adatuang)

– Sumber: http://bugissidenreng.blogspot.com/2010/12/silsilah-kerajaan-rappang.html

* Arung Rappeng I, We Tipu Uleng, saudara kandung La Mallibureng (Addaowang Sidenreng II)
* Arung Rappeng II, We Pawowoi, putri We Tipulinge (Addaowang IV Sidenreng)
* Arung Rappeng III, La Makkarawi, anak La Pute Bulu Datu Suppa
* Arung Rappeng IV, Songkokpulawengnge, anak Manurungnge ri Lowa (Addaowang II Sidenreng)
* Arung Rappeng V, We Cinang

* Arung Rappeng VI, La Pasampoi, putra La Batara (Addaowang VI Sidenreng)
* Arung Rappeng VII, Pancaitana, anak dari Lampe Welua Datu Suppa VI
* Arung Rappeng VIII, La Pakolongi, anak dari Pancaitana. Raja inilah yang pertama memeluk Islam, tahun 1607/1608
* Arung Rappeng IX, We Dangkau, putra dari La Pakolongi
* Arung Rappeng X, Tonee

* Arung Rappeng XI, We Tasi, putra dari Tonee
* Arung Rappeng XII, Todani, anak dari we Tasi dengan La Bila Datu Citta
* Arung Rappeng XIII, La Tenri Tatta, menantu Todani
* Arung Rappeng XIV, La Toware, anak dari La Tenri Tatta
* Arung Rappeng XV, We Tenri Paonang, anak dari La Cella Datu Bongngo Arung Rappeng dengan I Sompa Arung Rappeng I

* Arung Rappeng XVI, La Pabittei, anak dari I Tenri Paonang dengan La Kasi Ponggawae ri Bone
* Arung Rappeng XVII, I Madditana, putri dari La Pabittei
* Arung Rappeng XVIII, I Bangki, putri dari I Madditana dengan La Makkulawu Arung Gilireng
* Arung Rappeng XIX, La Panguriseng, anak dari Muhammad Arsyad Petta Cambangnge, Arung Malolo Sidenreng
* Arung Rappeng XX, La Sadapotto, merangkap Addatuang Sidenreng XII. Raja inilah yang menandatangani Korteverklaring (pernyataan pendek) dengan Belanda setelah mengalami kekalahan perang pada tahun 1906 M.
* Arung Rappeng XXI, I Tenri Fatimah, merangkap Addatuang Sawitto, sebagai Arung Rappeng terakhir, anak dari La Sadapotto


Tentang pengangkatan dan pemberhentian Arung Rappeng

– Sumber: http://bugissidenreng.blogspot.com/2010/12/silsilah-kerajaan-rappang.html

Dalam prosesi pengangkatan dan pemberhentian Arung Rappeng, terdapat sebuah lembaga adat yang bernama Pampawa Ade (pemangku adat) yang berfungsi memilih dan mengangkat Arung Rappeng. Dimana Pampawa Ade (pemangku adat) menggunakan sistem perwakilan calon dan diutamakan berasal dari keturunan Arung Rappeng. Namun jika tidak ada atau tidak memenuhi syarat-syarat yang ditentukan adat, yaitu:

* Melempui Namatette, yaitu jujur dan tidak plin-plan
* Makurangngi Cai-na, yaitu tidak pemarah atau lalim
* Magettengngi ri ada-adanna, yaitu tegas dalam mengambil keputusan
* Makurang Pauwi ri Ada-ada Temmaggunae, yaitu tidak senang mengumbar kata-kata yang kurang bermanfaat atau hati-hati dalam ucapan
* Waranipi Linuri Ada-adanna, yaitu berani dan konsekuen dalam tindakan dan ucapan.

Maka Pampawa Ade (pemangku adat) boleh mencari calon lain diluar Rappang atau Sidenreng. Dengan demikian Arung Rappeng tidak harus berasal dari keturunannya. Dalam lontaraq ditegaskan bahwa Imana Mua Tenri Appamanareng, yang maksudnya jabatan raja bisa diwarisi, tetapi tidak diwariskan.


Sistem pemerintahan Kerajaan Rappang

– Sumber: http://bugissidenreng.blogspot.com/2010/12/silsilah-kerajaan-rappang.html

Arung Rappeng, sebagai pimpinan tertinggi yang melaksanakan pemerintahan kerajaan berdasarkan mandat dari rakyat. Dalam lontaraq ditulis Assamaiyako Muabbulo Sipeppa Mupaenrekengnga Inanre Manasu, yang artinya : Bermusyawarahlah dan bermufakatlah, kemudian apa yang engkau (pemangku adat dan rakyat) putuskan itulah yang saya (raja) jalankan:
* Sulewatang, yang secara harfiah berarti Pengganti Diri, tugasnya melaksanakan pemerintahan sehari-hari dan bertanggung jawab kepada Arung Rappeng
* Pabbicara, sebagai lembaga yang membantu raja dalam mengambil keputusan, terutama jika timbul masalah-masalah, baik menyangkut pemerintahan maupun kemasyarakatan. Pabbicara juga menjadi koordinator Pampawa Ade (pemangku adat)

Kerajaan-kerajaan lokal, disamping sebagai kepala wilayah, juga mewakili daerahnya sebagai Pampawa Ade (pemangku adat). Ada 4 (empat) kerajaan lokal atau Pampawa Ade, yaitu:
1) Arung Lelebata
2) Arung Benteng
3) Arung Passeno
4) Arung Kulo

Kerajaan-kerajaan ini mempunyai otonomi, dalam lontaraq disebut Napoade-adena, Tenri Cellengi Bicaranna, yang berarti adatnya yang berlaku dan tidak diintervensi keputusannya. Setelah masuknya Pemerintah Kolonial Belanda pada Tahun 1905 di Kerajaan Sidenreng dan Kerajaan Rappang, maka pengangkatan pejabat-pejabat penting harus direstui oleh Pemerintah Hindia Belanda. Dengan kondisi ini, maka berangsur pula kekuasaan kerajaan dan diambil alih oleh pemerintah kolonial Belanda.


Konfederasi Ajatappareng

Konfederasi Ajatappareng terdiri atas kerajaan Suppa, Sawitto, Sidenreng, Rappang dan Alitta.
Konfederasi Ajatappareng merupakan salah satu bentuk perjanjian persekutuan antara kerajaan di Sulawesi Selatan.
Konfederasi ini terjadi abad ke-16.
Persekutuan Lima Ajatappareng atau Konfederasi Ajatappareng dibentuk untuk mewujudkan kesejahteraan dan ketenteraman dalam rangka menata kehidupan bersama di wilayah Ajatappareng.
Sejarah lengkap Konfederasi Ajatappareng: link


Peta-peta Sulawesi masa dulu

Untuk peta peta kuno (1606, 1633, 1683, 1700, 1757, 1872, abad ke-19): klik di sini

Peta Sulawesi dan Maluku, tahun 1683


Sumber / Source

– Sejarah Sidenreng Rappang di Wiki: Wiki
Sejarah Rappang: http://bugissidenreng.blogspot.com/2010/12/silsilah-kerajaan-rappang.html
Sejarah Sidenreng Rappang: http://bugis.iwopop.com/Kerajaan-Sidenreng

Daftar Raja Rappang: http://bugissidenreng.blogspot.com/2010/12/silsilah-kerajaan-rappang.html

Kerajaan Sidenreng: https://sultansinindonesieblog.wordpress.com/sulawesi/raja-of-rappang/
– Suku Bugis di Wiki: link


Foto foto kerajaan Rappang

Aru La Taritoe, pabicara dari Rappang, 1905-1906.
Sumber foto: donald tick, Facebook

———————————-
Foto jembatan Lautang Salo Rappang tahun 1905

Foto jembatan Lautang Salo Rappang tahun 1905

————————————-
Foto Mesjid Raya Rappang tahun 1905

Foto Mesjid Raya Rappang tahun 1905

———————————
Rappang – Pasar 1905

Rappang - Pasar 1905


 

Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s