Rappang, kerajaan / Prov. Sulawesi Selatan – kab. Sidenreng-Rappang

Kerajaan Rappang (abad ke-16 sampai 1950 ?).
Kerajaan Rappang adalah kerajaan Suku Bugis; terletak di Sulawesi, Kab. Sidenreng-Rappang, prov. Sulawesi Selatan.
Kerajaan Rappang berdiri abad ke-14 sampai 1950 (?).
Kerajaan Rappang dan Kerajaan Sidenreng adalah kerajaan kembar yang diperintah oleh dua orang Raja, kakak beradik. Oleh karena itu, tidak ada batas yang tegas pemisah kedua wilayah kerajaan tersebut.
Kerajaan Rappang masuk Konfederasi Ajatappareng.

The kingdom of Rappang (16th century – 1950 ?) was a kingdom of the Bugis People; located in Kab. Sidenreng-Rappang. South Sulawesi.
The Rappang Kingdom and the Sidenreng Kingdom are twin kingdoms ruled by two kings, brothers. Therefore, there is no clear boundary separating the two kingdoms. The Rappang Kingdom entered the Ajatappareng Confederation (16th century).
The title of the king is Arung.
For english, click here

Lokasi kabupaten Sidenreng Rappang


Garis kerajaan-kerajaan di Sulawesi: link


Foto kerajaan-kerajaan di Sulawesi

* Foto sultan dan raja yang masih ada di Sulawesi: link
* Foto sultan dan raja di Sulawesi dulu: link
* Foto situs kuno di Sulawesi: link


Video sejarah kerajaan-kerajaan di Sulawesi

– Video sejarah kerajaan2 di Sulawesi, 40.000 SM – 2018: link
– Video sejarah kerajaan2 di Sulawesi Selatan, 1M – 2020: link
– Video sejarah kerajaan2 di Sulawesi Tenggara, 50.000 SM – 2020: link
– Video sejarah kerajaan2 di Sulawesi Utara, 4000 SM – sekarang: link


Present Raja

Tidak ada info tentang keturunan kerajaan Rappang.


KERAJAAN RAPPANG

Sejarah kerajaan Rappang

Sejarah kerajaan Sidenreng dan kerajaan Rappang

Kerajaan Rappang dan Kerajaan Sidenreng adalah kerajaan kembar.
Di kerajaan Sidenreng kepala pemerintahannya bergelar Addatuang. Pada pemerintahan Addatuang, keputusan berasal dari tiga sumber yaitu, raja, pemangku adat dan rakyat.
Di Kerajaan Rappang rajanya bergelar Arung Rappang dan menyandarkan sendi pemerintahanya pada aspirasi rakyat.

Sidenreng Rappang atau yang lebih akrab disingkat SIDRAP, memiliki sejarah panjang sebagai kerajaan Bugis yang cukup disegani di Sulawesi Selatan sejak abad ke-14, disamping kerajaan Luwu, kerajaan Bone dan kerajaan Gowa, Soppeng, dan Wajo. Sidenreng merupakan salah satu dari sedikit kerajaan yang tercatak dalam kitab La Galigo yang amat melegenda. Sementara masa La Galigo, menurut Christian Pelras yang menulis buku Manusia Bugis, berlangsung pada periode abad ke-11 dan abad ke-13 Masehi. Ini berarti Sidenreng merupakan salah satu kerajaan kuno atau pertama di Sulawesi Selatan.

Di abad selajutnya, kerajaan Sidenreng yang berpusat di sekitar danau besar (Tappareng karaja) menjadi salah satu negeri yang ramai dan terkenal hingga ke benua lain. Ini sesuai dengan catatan seorang Portugis di abad ke-16 M yang menuliskan Sidereng sebagai “…sebuah kota besar dan terkenal, berpusat di sebuah danau yang dapat dilayari, dan dikelilingi tempat-tempat pemukiman.” (Tiele 1880, IV;413).

Manuel Pinto, seorang berkebangsaan Portugsi lainnya malah sempat menetap selama delapan bulan di kerajaan Sidenreng dan merekam suasana tahun 1548 M. Pinto menggambarkan Sidenreng sebagai sebuah negeri yang ramai dengan penduduk sekitar 300.000 orang.

Sejarawan lainnya mencatat, “Sidenreng adalah perbatasan wilayah pengaruh Luwu dan Siang, terletak di antara dataran yang merupakan satu-satunya celah alami antara gugusan gunung yang memisahkan pantai barat dan timur semenanjung Sulawesi Selatan.” (Andaya 2004, Warisan Arung Palakka, Sejarah Sulawesi di abad ke-17).

Dalam literatur lain, Rappang disebutkan sebagai kerajaan yang menguasai daerah hilir Sungai Saddang di abad ke-15 M. Bersama dengan Sidenreng, Sawitto, Alitta, Suppa, dan Bacukiki, mereka membentuk persekutuan Aja’Tappareng (wilayah barat danau) untuk membendung dominasi Luwu. Persekutuan itu kemudian diikatkan dalam perkawinan antar keluarga raja-raja mereka.

Ada beberapa versi mengenai cikal bakal kerajaan Sidenreng dan Rappang.
Meski memiliki perbedaan, namun versi-versi menggambarkan pertautan antara Sidenreng dan Rappang sudah ada sejak awal. Itu sebabnya, kedua kerajaan memiliki hubungan yang sangat erat. Terbukti dengan sumpah kedua kerajaan yang dipegang teguh hingga Addatuang Sidenreng terakhir, yakni: Mate Elei Sidenreng, Mate Arewengngi Rappang (bahasa Bugis), artinya, Jika Sidenreng mati dipagi hari, sorenya Rappang akan menyusul. Sebuah ikrar solidaritas sehidup semati yang dipegang teguh setiap raja atau arung yang memerintah di kedua kerajaan.

Walau demikian, kedua kerajaan ini juga memiliki perbedaan yang sangat mendasar dalam sistem pemerintahan.
Kerajaan Sidenreng menerapkan sistem yang Top Down yang dalam bahasa Bugis disebut Massorong Pao, sedangkan kerajaan Rappang justru sudah lebih maju dalam menerapkan demokrasi dengan menganut sistem Mangelle Pasang (Buttom Up). Namu perbedaan itu tidak memisahkan hubungan keduanya.

Malah, pada 1889, kerajaan Sidenreng dan kerajaan Rappang justru diperintah oleh seorang raja bernama Lapanguriseng. Ia menjadi Addatuang ke-10 sekaligus Arung Rappang ke-19. Hal yang sama juga diteruskan oleh putranya, Lasadapotto, Addatuan Sidenreng ke-12 yang naik tahta menggantikan saudaranya, Sumangerukka, yang tidak memiliki keturunan.

Dalam perjalanannya, kerajaan Sidenreng dan Rappang mengalami pasang surut pemerintahan, hingga tahun 1906 kedua kerajaan yang ketika itu diperintah La Sadapotto, Addatuang Sidenreng ke-12 sekaligus Arung Rappang ke-20, akhirnya dipaksa tunduk kepada kolonial Belanda setelah melalui perlawanan yang sengit. Wilayah kedua kerajaan ini kemudian berstatus distrik dalam wilayah onderafdeling Parepare.
Selanjutnya pada 1917 kedua wilayah tersebut digabung menjadi satu, sebagai bagian dari wilayah pemerintahan Afdeling Parepare.

– Untuk sejarah lengkap, klik di sini

Kerajaan Rappang dan federasi Ajattapareng

Ajattappareng atau yang pada masa lampau dikenal dengan  nama Tanah di Barat Danau adalah wilayah geographis dalam istilah politiknya berhubungan dengan bentuk persekutuan konfederasi lima kerajaan Bugis yang terletak pada barat dan utara danau Tempe dan Sidenreng di semenanjung barat daya Sulawesi Selatan. Kerajaan ini antara lain:
Sidenreng,
Sawitto,
Suppa,
Rappang dan
Alitta.
Kelima kerajaan Ajattappareng ini berjaya sekitar tahun 1700-an dengan hasil bumi yang melimpah sehingga pada akhirnya menjadi rebutan bagi kerajaan-kerajaan besar yakni kerajaan Luwu, kerajaan Bone dan kerajaan Gowa. Dalam persaingan ini kerajaan Gowa akhirnya berhasil mengintervensi sistem pemerintahan dan menjadikan persekutuan lima kerajaan Ajatappareng ini di bawah perlindungannya.

Aru La Taritoe, pabicara dari Rappang, 1905-1906.
Sumber foto: donald tick, Facebook


Daftar Raja (Adatuang)

– Sumber: http://bugissidenreng.blogspot.com/2010/12/silsilah-kerajaan-rappang.html

* Arung Rappeng I, We Tipu Uleng, saudara kandung La Mallibureng (Addaowang Sidenreng II)
* Arung Rappeng II, We Pawowoi, putri We Tipulinge (Addaowang IV Sidenreng)
* Arung Rappeng III, La Makkarawi, anak La Pute Bulu Datu Suppa
* Arung Rappeng IV, Songkokpulawengnge, anak Manurungnge ri Lowa (Addaowang II Sidenreng)
* Arung Rappeng V, We Cinang

* Arung Rappeng VI, La Pasampoi, putra La Batara (Addaowang VI Sidenreng)
* Arung Rappeng VII, Pancaitana, anak dari Lampe Welua Datu Suppa VI
* Arung Rappeng VIII, La Pakolongi, anak dari Pancaitana. Raja inilah yang pertama memeluk Islam, tahun 1607/1608
* Arung Rappeng IX, We Dangkau, putra dari La Pakolongi
* Arung Rappeng X, Tonee

* Arung Rappeng XI, We Tasi, putra dari Tonee
* Arung Rappeng XII, Todani, anak dari we Tasi dengan La Bila Datu Citta
*1681-c.1700:  Arung Rappeng XIII, La Tenri Tatta, menantu Todani
* 1700-c.1770: Arung Rappeng XIV, La Toware, anak dari La Tenri Tatta
* c.1770-1800: Arung Rappeng XV, We Tenri Paonang, anak dari La Cella Datu Bongngo Arung Rappeng dengan I Sompa Arung Rappeng I

* 1800-1830: Arung Rappeng XVI, La Pabittei, anak dari I Tenri Paonang dengan La Kasi Ponggawae ri Bone
* 1830-1860: Arung Rappeng XVII, I Madditana, putri dari La Pabittei
* 1860-1870: Arung Rappeng XVIII, I Bangki, putri dari I Madditana dengan La Makkulawu Arung Gilireng
* 1870-1889: Arung Rappeng XIX, La Panguriseng, anak dari Muhammad Arsyad Petta Cambangnge, Arung Malolo Sidenreng
* 1889-1900: Sumanga Rukka
* 1900-1906: Arung Rappeng XX, La Sadapotto, merangkap Addatuang Sidenreng XII. Raja inilah yang menandatangani Korteverklaring (pernyataan pendek) dengan Belanda setelah mengalami kekalahan perang pada tahun 1906 M.
* 1905-1908: I Njilitimo
* 1908-1942: Arung Rappeng XXI, I Tenri Fatimah, merangkap Addatuang Sawitto, sebagai Arung Rappeng terakhir, anak dari La Sadapotto
* 1942-1950: Council of Pampawa Ade.


Tentang pengangkatan dan pemberhentian Arung Rappeng

– Sumber: http://bugissidenreng.blogspot.com/2010/12/silsilah-kerajaan-rappang.html

Dalam prosesi pengangkatan dan pemberhentian Arung Rappeng, terdapat sebuah lembaga adat yang bernama Pampawa Ade (pemangku adat) yang berfungsi memilih dan mengangkat Arung Rappeng. Dimana Pampawa Ade (pemangku adat) menggunakan sistem perwakilan calon dan diutamakan berasal dari keturunan Arung Rappeng. Namun jika tidak ada atau tidak memenuhi syarat-syarat yang ditentukan adat, yaitu:

* Melempui Namatette, yaitu jujur dan tidak plin-plan
* Makurangngi Cai-na, yaitu tidak pemarah atau lalim
* Magettengngi ri ada-adanna, yaitu tegas dalam mengambil keputusan
* Makurang Pauwi ri Ada-ada Temmaggunae, yaitu tidak senang mengumbar kata-kata yang kurang bermanfaat atau hati-hati dalam ucapan
* Waranipi Linuri Ada-adanna, yaitu berani dan konsekuen dalam tindakan dan ucapan.

Maka Pampawa Ade (pemangku adat) boleh mencari calon lain diluar Rappang atau Sidenreng. Dengan demikian Arung Rappeng tidak harus berasal dari keturunannya. Dalam lontaraq ditegaskan bahwa Imana Mua Tenri Appamanareng, yang maksudnya jabatan raja bisa diwarisi, tetapi tidak diwariskan.


Sistem pemerintahan Kerajaan Rappang

– Sumber: http://bugissidenreng.blogspot.com/2010/12/silsilah-kerajaan-rappang.html

Arung Rappeng, sebagai pimpinan tertinggi yang melaksanakan pemerintahan kerajaan berdasarkan mandat dari rakyat. Dalam lontaraq ditulis Assamaiyako Muabbulo Sipeppa Mupaenrekengnga Inanre Manasu, yang artinya : Bermusyawarahlah dan bermufakatlah, kemudian apa yang engkau (pemangku adat dan rakyat) putuskan itulah yang saya (raja) jalankan:
* Sulewatang, yang secara harfiah berarti Pengganti Diri, tugasnya melaksanakan pemerintahan sehari-hari dan bertanggung jawab kepada Arung Rappeng
* Pabbicara, sebagai lembaga yang membantu raja dalam mengambil keputusan, terutama jika timbul masalah-masalah, baik menyangkut pemerintahan maupun kemasyarakatan. Pabbicara juga menjadi koordinator Pampawa Ade (pemangku adat)

Kerajaan-kerajaan lokal, disamping sebagai kepala wilayah, juga mewakili daerahnya sebagai Pampawa Ade (pemangku adat). Ada 4 (empat) kerajaan lokal atau Pampawa Ade, yaitu:
1) Arung Lelebata
2) Arung Benteng
3) Arung Passeno
4) Arung Kulo

Kerajaan-kerajaan ini mempunyai otonomi, dalam lontaraq disebut Napoade-adena, Tenri Cellengi Bicaranna, yang berarti adatnya yang berlaku dan tidak diintervensi keputusannya. Setelah masuknya Pemerintah Kolonial Belanda pada Tahun 1905 di Kerajaan Sidenreng dan Kerajaan Rappang, maka pengangkatan pejabat-pejabat penting harus direstui oleh Pemerintah Hindia Belanda. Dengan kondisi ini, maka berangsur pula kekuasaan kerajaan dan diambil alih oleh pemerintah kolonial Belanda.


Konfederasi Ajatappareng

Konfederasi Ajatappareng terdiri atas kerajaan Suppa, Sawitto, Sidenreng, Rappang dan Alitta.
Konfederasi Ajatappareng merupakan salah satu bentuk perjanjian persekutuan antara kerajaan di Sulawesi Selatan.
Konfederasi ini terjadi abad ke-16.
Persekutuan Lima Ajatappareng atau Konfederasi Ajatappareng dibentuk untuk mewujudkan kesejahteraan dan ketenteraman dalam rangka menata kehidupan bersama di wilayah Ajatappareng.
Sejarah lengkap Konfederasi Ajatappareng: link


Peta-peta Sulawesi masa dulu

Untuk peta peta kuno (1606, 1633, 1683, 1700, 1757, 1872, abad ke-19): klik di sini

Peta Sulawesi dan Maluku, tahun 1683


Sumber / Source

– Sejarah Sidenreng Rappang di Wiki: Wiki
Sejarah Rappang: http://bugissidenreng.blogspot.com/2010/12/silsilah-kerajaan-rappang.html
Sejarah Sidenreng Rappang: http://bugis.iwopop.com/Kerajaan-Sidenreng

Daftar Raja Rappang: http://bugissidenreng.blogspot.com/2010/12/silsilah-kerajaan-rappang.html

Kerajaan Sidenreng: https://sultansinindonesieblog.wordpress.com/sulawesi/raja-of-rappang/
– Suku Bugis di Wiki: link


Peta Sulawesi selatan (incl. Sidenreng / Rappang) tahun 1909


Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: