Sejarah lengkap kerajaan Maiwa

Sejarah kerajaan Maiwa di ambil dari: https://www.facebook.com/groups/sejarahsulawesi/permalink/2760350067314307/


Kerajaan Maiwa adalah kerajaan sebagai Lili/bawahan atau taklukan dari Kerajaan Sidenreng & Rappang (Sidrap).

Di Kabupaten Enrekang Sulawesi Selatan terdapat sebuah kecamatan Maiwa dimana dulunya di Kecamatan berdiri sebuah Kerajaan yang diperintah oleh seorang raja bernama Latakkebuku yang berkedudukan di Bantilang. Pada masa pemerintahan pua’ta Latakkebuku kerajaan ini mencapai masa kejayaannya , sehingga banyak dari kerajaan yang ada disekitarnya merasa cemburu dan ingin menguasainya.

Salah satu kerajaan yang pernah menyerang Kerajaan ini adalah Kerajaan Bone dan Sidenreng. Namun serangan itu dapat di patahkan oleh pasukan Takkebuku. Karena kegigihan pasukan-pasukan Latakkebuku dalam mempertahankan Kerajaan orang-orang Sidenreng kemudian menyebutnya dengan istilah to Mewa, artinya orang yang melawan, to Mewa itulah kemudian berubah menjadi To Maiwang dan akhirnya berubah menjadi to Maiwa yang berpusat di Battilang dan kemudian dipindahkan ke Tapong.

Sebelum adanya penamaan Kerajaan Maiwa terhadap kerajaan ini dulunya kerajaan ini terdiri dari dua kerajaan yang masing-masing dipimpin oleh saudara Latakkebuku. Kerajaan itu adalah Kerajaan Limbuang dan kerajaan Lullung sedangkan Latakkebuku pada masa itu di jadikan sebagai raja di raja dari kedua saudarannya ini.

Sepeninggal pua’ta Latakkebuku beliau di gantikan oleh anaknya I Bantilan. Pada masa pemerintahannya beliau dipersunting oleh salah seorang keturunan Raja Bone yang kemudian hal inilah merupakan awal terjalinnya hubungan baik dan harmonis antara Kerajaan Maiwa dan Kerajaan Bone.
Maiwa merupakan suatu kerajaan kecil yang diperintah oleh seorang Raja (Arung) sebelum tergabung dalam Konfederasi Massenrempulu. Kerajaan ini sudah berkembang terutama dalam bidang keagamaan dimana pada masa kepemimpinan Pua’ta Lundu (1602-1625) merupakan pertama kali masuknya agama islam. Masuknya islam dalam Kerajaan ini berhubungan erat dengan masuknya islam di Sidenreng dimana disebutkan dalam Lontara Gowa Tallo bahwa wilayah Sidenreng Rappang masuk islam pada tahun 1609 sementara salah seorang putra raja Maiwa yakni Janggo ridi kembali dari Gowa membawa ajaran agama islam pada tahun 1608. Janggo ridi adalah orang pertama menerima islam, karena setelah beliau kemudian ada utusanRaja untuk mempelajari islam seperti I pua’ dan Matindoi di Langgara’na.

Pada masa itu agama islam menjadi agama kerajaan dan sekaligus disebarkan ke kerajaan-kerajaan tetangganya seperti Enrekang, duri dan bahkan tana toraja. Penyebaran agam islam itu sudah berlangsung sejak tahun 1615 sampai dengan tahun 1620 seperti ke Kerajaan Duri dan Kerajaan Enrekang.

Jadi sebelum tergabung dalam Konfederasi Massenrempulu hubungan Kerajaan Maiwa dengan Kerajaan yang termasuk dalam Konfederasi Massenrempulu seperti Duri dan Enrekang telah terjalin sangat baik.

Peran raja-raja Maiwa di Tapong dalam menyiarkan islam dilakukan secara bersama dengan kerajaan Sidenreng Rappang. Itulah sebabnya sehingga persahabatan antara Kerajaan Maiwa dan Sidenreng Rappang sangat erat. Dan menjadi bahagian dari Kerajaan Sidenreng Rappang dengan status lili.

Jadi sebelum tergabung dalam Konfederasi Massenrempulu kerajaan ini merupakan lili dari kerajaan Sidenreng Rappang. Selain itu karena hubungan kekeluargaan dengan Kerajaan Bone baik, maka kerajaan Maiwa juga merupakan sahabat Kerajaan Bone. Adapun sistem pemerintahan Kerajaan secara skematis dapat digambarkan sebagai berikut:

– Raja
– Sullebatang – Pabbicara
– Tarata & To Matoa Kampong

Rakyat Dalam masyarakat maiwa juga dikenal adanya kepala-kepala tingkat bawah seperti Indo Guru, Jannang dan suro. Setelah masuknya pengaruh islam dan bahkan agama islam menjadi agama kerajaan system pemerintahan kerajaan berubah dengan memasukkan unsur syarak sebagai bagian dari pemerintahan Kerajaan. Pejabat syarak seperti Kadhi yang bertugas mengajar seluk beluk agama islam memimpin pelaksanaan ibadah, membina mesjid, mengatur pemungutan pajak dan zakat,dan mengatur penyelenggaraan pernikahan., Bilal bertugas menyuarakan azan. Imam dan guru bertugas mengurus dan melayani kegiatan-kegiatan keagamaan bagi warga kampung.

Dalam bidang social kerajaan maiwa mengusahakan kemakmuran rakyatnya dengan mengusahakan lapangan pertanian bagi rakyatnya.

Kerajaan Maiwa dalam Konfederasi Massenrempulu

Konfederasi massenrempulu didirikan Bone pada waktu Bissu Tonang Arung Enrekang Ke III sekitar abad XVI M.
Pada awal pembentukan konfederasi ini terdapat tujuh kerajaan didalamnnya sehingga disebut Pitue Massenrempulu yang terdiri dari:

1) Kerajaan Endekan yang dipimpin oleh Arung/Puang Endekan
2) Kerajaan Kassa yang dipimpin oleh Arung Kassa’
3) Kerajaan Batulappa’ yang dipimpin oleh Arung Batulappa’
4) Kerajaan Tallu Batu Papan (Duri) yang merupakan gabungan dari Buntu Batu, Malua, Alla’. Buntu Batu dipimpin oleh Arung/Puang Buntu Batu, Malua oleh Arung/Puang Malua, Alla’ oleh Arung Alla’
5) Kerajaan pituriase
6) Kerajaan Letta’ yang dipimpin oleh Arung Letta’
7) Kerajaan Binuang yang dipimpin oleh Arung Binuang

Karena terjadinya perang antara Bone dan Wajo yang dimenangkan oleh Arungpone dalam pertempuran itu maka Binuang dimasukkan kedalam Baqbana binanga dan untuk kerajaan Pituriase penulis tidak mendapatkan penjelasan mengenai keluarnya dari federasi massenrempulu sehingga Konfederasi Pitue massenrempulu berubah menjadi Limae massenrempulu karena kerajaan yang tergabung dalam konfederasi tersebut tinggal lima kerajaan yaitu : Enrekang, Batulappa, Kassa, Letta, dan Duri. Akan tetapi pada tahun 1685 Letta ditaklukkan oleh Bone yang pada saat itu diperintah oleh Aru Palakka Petta Malampe’E Gemme’na. hal ini disebabkan oleh tindakan gegabah dan kurang perhitungan membunuh utusan dari Bone. Tindakan ini ditanggapi bone sebagai suatu penghinaan yang harus diberikan ganjaran. Kerajaan Bone bersama dengan wajo, soppeng dan sidenreng mengangkat senjata memerangi Letta

Akibat dari peperangan tersebut tidak hanya dirasakan oleh kerajaan Letta, tetapi kerajaan yang ada disekitarnya seperti lili dari kerajaan sawitto juga ikut dihancurkan, sedangkan orang-orang yang ditawan dinyatakan sebagai hamba dan dibagi kepada empat raja yang bersangkutan.Tahun 1685 Masehi La Tenri Tatta Petta Risompae Daeng. Serang Arung Palakka Malampe’E Gemme’na Raja Bone mengeluarkan Letta dari gabungan Massenrempulu

Pada kesempatan itu Maiwa yang tadinya menjadi lili dari sidenreng, oleh keempat raja tersebut ditingkatkan kedudukannya menjadi kerajaan yang berdaulat kemudian dimasukkan kedalam federasi massenrempulu menggantikan Letta yang telah ditaklukkannya itu. Sedangkan Bilokka, cerowalie, awanio, dan WettaE yang tadinya berada dibawah kekuasaan soppeng dimasukkan menjadi lili dari kerajaan Sidenreng.

Setelah Letta digantikan oleh Maiwa maka konfederasi Limae massenrempulu terdiri dari kerajaan Enrekang, Batulappa, Kassa, Maiwa, dan Duri. Didalam federasi massenrempulu Arung Buttu lebih luas wewenangnya dari arung Enrekang, karena Arung Buttu sebagai panglima tentara gabungan Massenrempulu dan sebagai pemimpin rapat Federasi yang diadakan di Enrekang sebagai pusat Massenrempulu. Dimana, rapat federasi ini sering dihadiri oleh Raja Bone. Pada tahun 1685 Kerajaan Letta di taklukkan oleh Kerajaan Bone hal ini disebabkan oleh tindakan gegabah dan kurang perhitungan yang dilakukan oleh Kerajaan Letta membunuh utusan dari Bone. Tindakan ini ditanggapi Kerajaan Bone sebagai suatu penghinaan yang harus diberikan ganjaran. Kerajaan Bone bersama dengan wajo, soppeng dan Sidenreng mengangkat senjata memerangi Kerajaan Letta.

Akibat dari peperangan tersebut tidak hanya dirasakan oleh kerajaan Letta, tetapi kerajaan yang ada disekitarnya seperti lili dari kerajaan Sawitto juga ikut dihancurkan, sedangkan orang-orang yang ditawan dinyatakan sebagai hamba dan dibagi kepada empat raja yang bersangkutan.

Tahun 1685 M La Tenri Tatta Petta Risompae Daeng Serang Arung Palakka Malampe’E Gemme’na Raja Bone mengeluarkan Letta dari gabungan Massenrempulu

Pada kesempatan itu Kerajaan Maiwa yang tadinya menjadi lili dari Sidenreng, oleh keempat raja tersebut ditingkatkan kedudukannya menjadi kerajaan yang berdaulat kemudian dimasukkan kedalam federasi Masserempulu menggantikan Letta yang telah ditaklukkannya itu. Sedangkan Bilokka, cerowalie, wanio, dan Wette’E yang tadinya berada dibawah kekuasaan Soppeng dimasukkan menjadi lili dari kerajaan Sidenreng.

——————————————————–

[1] Hasil Wawancara dengan Anonim, 29 agustus 2012
[2] Laporan pengumpulan data,Peninggalan Sejarah Dan Purbakala Kabupaten Enrekang, (Enrekang : Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala Sulawesi Selatan, 1986), hlm. 37
[3] Silla sarang, Sejarah Pemerintahan di wilayah Maiwa. (Enrekang : Sarasehan Sejarah Pemerintahan Kabupaten Enrekang, 1993 ), hlm.5.
[4] Laporan penelitian, Sejarah Kerajaan-Kerajaan Local di Massenrempulu (Enrekang : Kantor Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten ENrekang, 2005 ), hlm. 69.
[5] Ibid, hlm 68.
[6] Mappasanda, Massenrempulu Menurut Catatan D.F Van Braam Morris (terjemahan, 1991). hlm. 1.
[7] Laporan penelitian, Sejarah Kerajaan-Kerajaan Local di Massenrempulu (Enrekang : Kantor Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten ENrekang, 2005 ), hlm. 65.
[8] Palisuri, Sejarah pemerintahan wilayah kerajaan Enrekang Dari Abad XV s/d XX M. ( Enrekang: serasehan sejarah pemerintahan Kabupaten Enrekang 1993), hlm. 7
[9] Ibid. hlm. 7.
[10]Mappasanda, Massenrempulu Menurut catatan D.F. Van Braam Morris (terjemahan, 1991). Hlm. 1.
[11] Palisuri. 1993. Op. Cit. hlm. 7
[12]Mappasanda, Massenrempulu Menurut catatan D.F. Van Braam Morris (terjemahan, 1991). Hlm. 1.
[13] Palisuri,Sejarah Pemerintahan Wilayah Kerajaan Enrekang Dari Abad XV s/d XX M. (Enrekang : serasehan sejarah pemerintahan Kabupaten Enrekang 1993 ) . hlm. 7.

Sumber: blog Mirnawati.