Sanggar, kerajaan / P. Sumbawa – Prov. Nusa Tenggara Barat

Kerajaan Sanggar terletak di pulau Sumbawa, di lereng gunung Tambora, kab. Dompu. Dihancur akibat letusan Tambora tahun 1815. Kerajaan ini sudah ada abad ke-16.
Keturunan kerajaan Sanggar sampai sekarang (2019) masih ada.

The kingdom of Sanggar was located on the island of Sumbawa; destroyed together with the kingdoms of Pekat and Tambora in 1815 because of the eruption of mount Tambora. 16th Century.
For english, click here

Lokasi pulau Sumbawa

————————–
Lokasi Sanggar di Pulau Sumbawa


* Foto kerajaan Sanggar: link


Foto kerajaan-kerajaan di P. Sumbawa

* Foto raja-raja dulu di P. Sumbawa: link
* Foto raja-raja yang masih ada di P. Sumbawa: link
* Foto istana di P. Sumbawa: link

* Foto situs kuno di P. Sumbawa: link


* Video sejarah Sumbawa dan NTB, 40.000 SM – sekarang: link


* Garis kerajaan-kerajaan di Sumbawa: link


KERAJAAN  SANGGAR

Tentang Raja sekarang (2019)

Sekarang (2019) ada 2 putera dari Putera Mahkota, Abdul Azis: Mahmud Azis dan Abdul Azis.

Raja Sanggar Abdullah Samsuddin Daeng Manggalai (1900-1926), yang melepaskan jabatannya sebagai Raja dan memutuskan untuk bergabung bersama Bima tahun 1928, untuk sebuah alasan yaitu “BERSATU”, sejak dulu masyarakat Sanggar mengenal konsep bersatu yang dapat dilihat paska meletusnya gunung tambora 1815, yaitu terbentuknya kembali sanggar setelah meletusnya Tambora di desa Kaboro, Kaboro yang mempunyai makna bersatu atau dalam bahasa setempat bersama.

Upaya sedang dilakukan sekarang (2019) untuk hidup kembali Kerajaan Sanggar.

Mahmud Azis, putera dari putera mahkota kerajaan Sanggar, Abdul Azis.

Abdul Azis, putera dari putera mahkota kerajaan Sanggar, Abdul Azis.


Lokasi kerajaan Pekat, kerajaan Sanggar dan kerajaan Tambora


Sejarah kerajaan Sanggar, abad ke-16

Nama Sanggar sudah masuk dalam peta sejarah Nusantara sejak abad 16, dimana Sanggar mempunyai hubungan diplomasi dengan Ternate yang dipimpin oleh Sultan Baabullah (1570-1583). dibawah tongkat kekuasaan Sultan Baabullah ada 72 pulau yang dikuasai salah satunya adalah Sanggar.

– Sumber: http://www.mbojoklopedia.com/2019/04/jejak-kerajaan-sanggar-di-nggembe.html

Raja Sanggar Abdullah tahun 1915, Raja terakhir Sanggar.


Pemerintahan Kerajaan Sanggar

Kerajaan Sanggar menggunakan sistem pemerintahan Monarki, kerajaan dipimpin oleh seorang Raja dan wakil raja adalah seorang dengan gelar Bumi Tarupong. pejabat lainnya juga bergelar Djeneli dan Gelarang pengaruh sistem kerajaan Gowa. Tercatat dalam kontrak Sanggar, bahwa raja Sanggar pertama tertulis adalah Hasanuddin (1700-1704). Jumlah raja yang pernah memimpin kerajaan Sanggar ada 15 orang. (Peter Truhart, 2004).
.

Detik-detik bergabungnya Sanggar dengan Bima.
.
Berawal dari pembentukan Neo Landschap keresidenan timur tahun 1920,dan daerah Manggarai mulai bergejolak para Dalu yang dibawah kekuasaan kesultanan Bima mulai memberontak di pimpin oleh Dalu Todo. Tahun 1920 Bima dengan resmi melepaskan Manggarai kepada Dalu Todo dan tahun 1929 Manggarai dan sekitarnya menjadi Neo Landschap, 14 November 1930 Alexander van Baroek diangkat menjadi Raja di ruteng untuk menjadi raja Neo Landschap Manggarai.

Sebagai gantinya Residen timur menawarkan kerajaan Sanggar untuk dileburkan ke dalam Bima sebagai daerah neo landschap karena dinilai tidak memberikan keuntungan dan sudah tidak mampu lagi mengembangkan perdagangan sesuai dengan isi kontrak tahun 1901.
Raja Abdullah (1900-1926) karena dinilai sudah tidak mampu lagi mengembangkan perdagangan kerajaan, oleh residen timur Anthony Hendrik Spaan menyarankan kepada Gubernemen Hindia Belanda di Makassar untuk menggabungkan Sanggar ke Bima. Ketika itu pemerintah Hindia Belanda dilanda oleh krisis keuangan akibat perang Aceh. Jadi, ketika kerajaan yang dinilai tidak menguntungkan akan dileburkan ke kerajaan besar yang dinilai bisa mengelola wilayahnya.
Tahun 1926 Raja Abdullah menandatangani penyerahan Kerajaan Sanggar di Bima didampingi oleh Bumi Tarupong, dan kesultanan Bima di wakili oleh Sultan Muhammad Salahuddin didampingi oleh Bumi Luma Rasanae Muhammad Yakub. Serta pejabat residen timur ikut menyaksikan penyerahan Kerajaan Sanggar ke Bima.


Daftar raja raja

C. 1700: kerajaan Sanggar dibentuk / founded.

1926: Gabungkan / Merged with kesultanan Bima.

* c.1700 – 1704: Kalongkong Hasanuddin
* 1704 – c.1764: Daeng Pamalie
* 1765 – 17….: Muhammad Johan Syah
* 17…. – 1790: Adam Safiallah
* 1790 – 1805: Muhammad Sulaiman
* 1805 – 18…. :Ismail Ali
* 18…. – 1836: La Lisa Daeng Jaie
* 1836 – 1845: Daeng Malabba
* 1845 – 1869: Manga Daeng Manasse
* 1869 – 22 Dec 1900: La Kamena Daeng Anjong (b. c.1820 – d. 1900)
* 22 Dec 1900 – 1901 Regency
* 1901 – 1926: Abdullah Siamsuddin Daeng Manggala (d. c.1928)

– Sumber / Source: http://www.kerajaansanggar.com/p/sejarah.html

Sketsa kerajaan Sanggar tahun 1788:
– Sumber: https://alanmalingi.wordpress.com/2016/11/21/peta-kerajaan-sanggar-yang-misterius/

—————————————
Peta lokasi kerajaan-kerajaan di pulau Sumbawa


Bendera kerajaan Sanggar

Bendera Sanggar salah satu bukti eksisnya kerajaan tersebut. pada bendera terdapat lafadz Al-Quran, dan sekarang tersimpan di Museum NTB.

Bendera masih terpajang hingga sekarang di Museum NTB.

Afbeeldingsresultaat voor bendera kerajaan sanggar


Sanggar dan Tambora setelah letusan 1815

Ditulis Fahru Rizki, FB

Awalnya di wilayah Semenanjung Sanggar hanya ada dua nama pada abad 16 yaitu Sangar dan Kengkelu. Awal abad 17 Kengkelu di dikalahkan oleh Bumi Soro Jamaludin dari Gowa membentuk Tambora, juga di Dompu di tempatkan juga seorang Bumi Soro sebagai Sultan.
Paska letusan 1815 wilayah Tambora menjadi tanah tak bertuan, diberikan pada Daeng Manrangka wilayah pekat dan wilayah Tambora untuk Sanggar.

1865 semua wilayah Tambora diberikan pada Sanggar, lalu ada yang iri dan protes karena wilayah Sanggar sangat besar menguasai hampir seluruh semenanjung.
1866 wilayah Tambora dibagi menjadi dua: Selatan untuk Dompu dan Utara untuk Sanggar. Hingga tahun 1926 Sanggar digabungkan dengan Bima.
1935 wilayah Tambora selatan dan Utara diberikan pada Bima dan juga wilayah Dompu diserahkan pada Bima sebagai daerah kejenelian hingga 1947. Memasuki masa kemerdekaan Tambora dibagi menjadi dua mengikuti kontrak Bosch 1866 antara Tambora dan Sanggar (Bima) dan Pekat (Dompu).

Letusan Gunung Tambora 1815


Sejarah singkat kerajaan-kerajaan di pulau Sumbawa

Abad ke-13: kerajaan2 kecil yang merupakan permulaan sejarah Samawa (Sumbawa), kerajaan2 kecil tersebut sudah ada sekitar abad ke-13 masehi oleh kerajaan2 hindu pengaruh dari majapahit. Kerajaan2 kecil di Tana Samawa adalah:

Kerajaan Gunung Setia di Sumbawa
Kerajaan Ai Renung di Batu Tering, Moyo Hulu
Kerajaan Dewa Mas Kuning di selesek, Ropang
– Kerajaan Dewa Awan Kuning di Sampar Semulan
Kerajaan Perumpak dekat pernek
Kerajaan Gunung Galesa di Moyo Hilir
Kerajaan Tangko di Empang
– Kerajaan Kolong di Plampang
– Kerajaan Alas di Alas
Kerajaan Seran di Seteluk
Kerajaan Taliwang di Taliwang
Kerajaan Jereweh di Jereweh

Kerajaan2 kecil di Tana Samawa di persatukan menjadi satu kerajaan pada tahun 1623, pada masa pemerintahan Raja Goa I Mangarangi Daeng Manrabia, Sultan Alauddin TU Menanga RI Gaukanna.

Abad ke 14 dan 15: di Sumbawa terdapat sekitar 8 buah kerajaan besar dengan masing-masing memiliki kerajaan satelit, yaitu:

1) Kerajaan Utan Kadali di Utan,
2) Kerajaan Seran di Seteluk, KSB,
3) Kerajaan Taliwang, di KSB,
4) Kerajaan Jereweh di KSB,
5) Kerajaan Ngali, di Lape,
6) Kerajaan Sampar Samulan di Moyo Hulu.
7) Kerajaan Gunung Galesa, di Olat Po Moyo Hilir,
8) Kerajaan Gunung Setia di Sumbawa.

Dari kedelapan kerajaan yang disebut di atas, 5 (lima) diantaranya merupakan kerajaan tertua, yaitu:
Kerajaan Ngali,
Kerajaan Utan Kadali,
Kerajaan Sampar Samulan,
Kerajaan Seran, dan
Kerajaan Taliwang.
Kerajaan Ngali diperkirakan berdiri pada abad ke-5 M. Kerajaan ini merupakan kerajaan paling tua dan terbesar di Sumbawa pada saat itu dengan wilayah kekuasaan mencakup wilayah Sumbawa Timur dan sebagian Sumbawa Selatan.

Nagarakretagama abad ke-14 menyebutkan beberapa kerajaan yang berada di Sumbawa: Dompu, Bima, Sape dan Sang Hyang Api. Empat kerajaan kecil di Sumbawa barat merupakan ketergantungan kekaisaran Majapahit di Jawa Timur. Karena sumber daya alam, Sumbawa sering diserang oleh kekuatan luar – dari Jawa, Bali, Makassar, Belanda dan Jepang.

Kelahiran Dompu sebagai cikal bakal kerajaan telah dimulai sejak abad ke-7 yaitu pada zaman Sriwijaya. Menjadi kesultanan tahun 1545.
Kerajaan Bima abad ke14 – ke15 adalah salah satu wilayah di bawah kekuasaan Majapahit. Kesultanan Bima didirikan tahun 1640.
Kerajaan Sumbawa sudah ada abad ke-14. Kerajaan ini menjadi kesultanan tahun ca 1650.

Belanda pertama kali tiba di Sumbawa pada tahun 1605, namun tidak secara efektif memerintah Sumbawa sampai awal abad ke-20.

Kerajaan Gelgel  di Bali memerintah Sumbawa barat untuk waktu yang singkat juga. Bagian timur pulau itu juga merupakan rumah bagi kesultanan Bima, sebuah pemerintahan Islam yang memiliki hubungan dengan orang Bugis dan Makasar di Sulawesi Selatan, serta kepolisian Melayu-Islam lainnya di nusantara.

Bukti sejarah menunjukkan bahwa orang-orang di pulau Sumbawa dikenal di Hindia Belanda karena madu, kuda, kayu sappan mereka untuk memproduksi pewarna merah, dan kayu cendana digunakan untuk dupa dan obat-obatan. Kawasan itu dianggap sangat produktif secara pertanian.
Pada abad ke-18, Belanda mengenalkan perkebunan kopi di lereng barat Gunung Tambora, sebuah gunung berapi di sisi utara Sumbawa, sehingga menciptakan varian kopi Tambora.
Letusan kolosal Tambora pada tahun 1815 adalah salah satu yang paling kuat sepanjang masa, mendepak 150 kilometer kubik  abu dan puing ke atmosfer. Letusan tersebut menewaskan hingga 71.000 orang dan memicu periode pendinginan global yang dikenal sebagai “Tahun Tanpa Musim Panas” pada tahun 1816. Ini juga tampaknya menghancurkan budaya kecil afinitas Asia Tenggara, yang dikenal oleh para arkeolog sebagai “budaya Tambora”. Akibat letusan Gunung Tambora 3 kerjaan di Sumbawa dihancur: kerajaan Sanggar, kerajaan Tambora dan kerajaan Pekat.


Peta kuno pulau Sumbawa (Cambaua)

Klik di sini untuk peta pulau Sumbawa tahun 1598, 1606 Sumbawa / Nusantara, 1614, 1615, 1697 Sumbawa / Nusantara 1800-an, 1856, 1856, 1910.

Pulau Sumbawa 1615


Sumber Sanggar

Website resmi kerajaan Sanggar: http://www.kerajaansanggar.com/

– Sejarah kerajaan Sanggar:  https://id.wikipedia.org/wiki/Kerajaan_Sanggar
– Sanggar bukan Bima: http://doonjuan.blogspot.co.id/2009/05/sanggar-bukan-bima.html
– Kerajaan Sanggar paska letusan Gunung Tambora: http://www.mbojoklopedia.com/2015/02/kerajaan-sanggar-paska-letusan-gunung.html
– Sanggar, bekas kerajaan yang menolak lupa: http://travel.detik.com/read/2014/11/17/101708/2749978/1519/sanggar-bekas-kerajaan-yang-menolak-lupa-di-kaki-tambora
Tentang kerajaan Sanggar: http://www.beritaaktual.com/1895/menolak-lupa-kerajaan-sanggar-di-kaki-gunung-tambora
Daftar Raja Sanggar: http://www.kerajaansanggar.com/p/sejarah.html
– Sistem pemerintahan kerajaan Sanggar pasca letusan Gunung Tambora: http://lklisanggar.blogspot.co.id/2016/02/sistem-pemerintahan-kerajaan-sanggar.html

Sumber letusan Tambora

– Sejarah letusan Tambora dan hilangnya 3 kerajaan: link
Sejarah letusan Tambora, 3 kerajaan terkubur: link
– Letusan Gunung Tambora di Wiki: https://id.wikipedia.org/wiki/Gunung_Tambora#Letusan_tahun_1815
Gunung Tambora sebelum dan sesudah letusan 1815: http://tamborachallenge.com/2015/04/08/gunung-berapi-tambora-sebelum-dan-sesudah-1815/
Peringatan 2 abad meletusnya Gunung Tambora: http://tamborachallenge.com/2015/04/08/gunung-berapi-tambora-sebelum-dan-sesudah-1815/


Gambar gambar letusan Gunung Tambora tahun 1815

Letusan Gunung Tambora 1815

Letusan Gunung Tambora 1815


Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: