Tambusai, Kerajaan / Sumatera – Riau, Kab. Rokan Hulu

Kerajaan Tambusai, terletak di Sumatera, Kabupaten Rokan Hulu di propinsi Riau.

The kingdom of Tambusai was located in Kab. Rokan Hulu, province of Riau.

Klik foto untuk besar!

Rokan Hulu

Rokan Hulu

Provinsi Riau (hijau)

Provinsi Riau (hijau)


* Foto kerajaan-kerajaan di Sumatera: link
*
Foto situs kuno di Sumatera:
link


1) Sejarah kerajaan-kerajaan Rokan

Rokan adalah nama sebuah sungai yang membelah Pulau Sumatera dibagian tengah, bermuara kebagian Utara Pulau tersebut (Selat Malaka). Daerah ini adalah kawasan Kerajaan Rokan Tua, diketahui keberadaannya abad ke-13, saat itu tercatat dalam “Negara Kertagama” karangan Prapanca, yang ditulis pada tahun 1364 M.
Sampai saat ini nama Rokan juga tetap eksis sebagaimana yang dapat dilihat dalam perkembangan kerajaan Rokan Tua itu sampai sekarang. Menurut Muchtar Lutfi, Wan Saleh dalam sejarah Riau, bahwa yang menjadi Raja Rokan abad ke-14-15 adalah keturunan dari Sultan Sidi saudara Sultan Sujak yang dijelaskan dalam buku Sulalatus Salatin, yang menyatakan bahwa raja Rokan itu anak Sultan Sidi saudara Sultan Sujak.
Kerajaan Rokan ini berpusat di Koto Intan, suatu tempat dekat Kotolamo dan berpindah-pindah ke Pekaitan dan akhirnya pindah ke Rantau Kasai (di Siarang-arang). Setelah itu tidak ada lagi disebut-sebut nama Kerajaan Rokan lagi.
Sampailah diketahui bahwa wilayah Rokan itu mekar menjadi Rokan Hilir dan Rokan Kanan.
Rokan Hilir terbagi 3 kerajaan yaitu :
* Kerajaan Kubu, ibunegerinya Teluk Merbau,
* Kerajaan Bangko ibunegerinya Bantaian,
* Kerajaan Tanah Putih, ibunegerinya Tanah Putih.

Rokan Hulu terdiri dari 5 kerajaan, yaitu :
* Kerajaan Tambusai ibunegerinya Dalu-dalu,
* Kerajaan Rambah ibunegerinya Pasirpengarayan,
* Kerajaan Kepenuhan ibunegerinya Kototongah,
* Kerajaan Rokan IV Koto, ibunegerinya Rokan,
* Kerajaan Kuntodarussalam ibunegerinya Kotolamo.

Pada masa kolonial wilayah Rokan Hulu dibagi menjadi dua yaitu:
Wilayah Rokan Kanan terdiri dari 3 kerajaan
* Kerajaan Tambusai,
* Kerajaan Rambah,
* Kerajaan Kepenuhan.

Wilayah Rokan Kiri menjadi 2 kerajaan yaitu :
* Kerajaan Rokan IV Koto,
* Kerajaan Kuntodarussalam, dan ditambah kampung dari Kerajaan Siak yaitu Kewalian Tandun dan Kabun.

Sampailah saat ini wilayah terbagi dalam Kabupaten Rokan Hilir dan Kabupaten Rokan Hulu. Pada abad ke-17-18 ada keinginan dari seorang pejuang bernama Sultan Zainal Abidin Syah untuk mempersatukan masyarakat Rokan ini dari Hulu sampai ke Hilir, namun mendapat perlawanan dari Kerajaan Siak atas adu domba Kolonial Belanda. Maka dengan keadan demikian terjadilah penangkapan Sultan Zainal Abidin Syah hingga di bawa ke Madiun dan mangkat disana.

———————
Historically, the area Rokan Hulu was known as Rantau Rokan or Luhak Rokan Hulu, because it is an area of the  Minangkabau People in West Sumatra
Before independence, during the Dutch colonial period, Rokan Hulu region was divided into two areas:
* Rokan Kanan region, consisting of the Kingdoms of Tambusai, Rambah and Kepenuhan.
* Rokan Kiri region, consisting of the Kingdoms of Rokan IV Koto, Kunto Darussalam as well as some villages of Siak.
Kingdoms above are now known as Lima Lukah.
In 1905, the kingdoms, mentioned above,  made an agreement with the Dutch. Kingdoms with the status of “Landschap” were founded. Any rules of the rulers of the kingdoms needed approval of the Netherlands.


2)  Sejarah / History kerajaan Tambusai

Dahulunya, daerah Rokan Hulu dikenal dengan nama Rantau Rokan atau Luhak Rokan Hulu, karena merupakan daerah tempat perantauan suku Minangkabau yang ada di daerah Sumatera Barat
Sebelum kemerdekaan yakni pada masa penjajahan Belanda, wilayah Rokan Hulu terbagi atas dua daerah:
* wilayah Rokan Kanan yang terdiri dari Kerajaan Tambusai, Kerajaan Rambah dan Kerajaan Kepenuhan.
* wilayah Rokan Kiri yang terdiri dari Kerajaan Rokan IV Koto, Kerajaan Kunto Darussalam serta beberapa kampung dari Kerajaan Siak (Kewalian negeri Tandun dan kewalian Kabun)

Kerajaan-kerajaan di atas sekarang dikenal dengan sebutan Lima Lukah.
Pada tahun 1905, kerajaan-kerajaan di atas mengikat perjanjian dengan pihak Belanda. Diakuilah berdirinya kerajaan-kerajaan tersebut sebagai landscape. Setiap peraturan yang dibuat kerajaan mendapat pengesahan dari pihak Belanda.

Sumber:  http://www.riaudailyphoto.com/2013/03/profil-kabupaten-rokan-hulu.html


3) Kerajaan-kerajaan di Riau abad ke-19, incl. Tambusai


4) Wilayah Rokan


5) Daftar Raja / list of kings

* 850-951: Raja I. Sultan Mahyudin Gelar Mohamad Kahar
* Raja II. Sultan Zainal
* Raja III. Sultan Ahmad
* Raja IV. Sultan Abdullah
* Raja V. Sultan Syaifuddin
.
* Raja VI. Sultan Abdurahaman
* Raja VII. Sultan Duli Yang Dipertuan Tua
* Raja VIII. Sultan Duli Yang Dipertuan Akhir Zaman
* Raja IX. Sultan Duli Yang Dipertuan Saidi Muhamil
* Raja X. Sultan Duli Yang Dipertuan Sakti
.
* Raja XI. Sultan Duli Yang Dipertuan Ngagap
* Raja XII. Sultan Duli Yang Dipertuan Akhir Zaman
* Raja XIII. Sultan Duli Yang Dipertuan Djumadil Alam (Abdul Hamid)
* Raja XIV. Sultan Duli Yang Dipertuan Besar
* 1864-1887: Raja XV. Sultan Abdul Wahid
.
* 1887-1916: Raja XVI.Sultan Zainal Abidin
* 1916: Raja XVII. Sultan Ahmad (Glr T. Muhamad Silung 1916)
* Raja XVIII. Yang Dipertuan Tengku Muhammad Yudo
* Raja XIX. Tengku Ilyas Gelar Tengku Sulung.

– Sumber / Source: http://www.riaudailyphoto.com/2010/02/kerajaan-tambusai.html

(Disusun dari sumber tertulis Terombo Siri pegangan Raja Tambusai dalam memimpin kerajaan, disimpan oleh Haji Tengku Ilyas, Gelar Tengku Sulung Raja Tambusai XIX).
Raja I s.d ke-4 kedudukan di Karang Besar, Raja ke-5 Pindah ke Tambusai lalu ke Dalu-dalu, pada masa Raja VII Sultan Yang Dipertuan Tua dibentuklah Datuk Non Berempat: Datuk Bendaharo, Datuk Rangkayo Maharajo, Datuk Paduko Sumarajo, Datuk Paduko Majolelo
Raja XV Sultan Abdul Wahid, mendirikan Istana darurat di Rantau Binuang, setelah di nobatkan Sultan Mohammad Zainal Abidin sebagai raja XVI Tambusai berkedudukan di Istana II di Rantau Kasai.

Sumber:  http://www.riaudailyphoto.com/2010/02/kerajaan-tambusai.html


6) Peta-peta kuno Sumatera

Untuk peta kuno Sumatera (1565, 1588, 1598, 1601, 1616, 1620, 1707, 1725, 1760), klik di sini

Sumatera, tahun 1707


7) Sumber / Source

– Tuanku Tambusai di Wiki: link
Kerajaan Tambusai:  http://www.riaudailyphoto.com/2011/02/kerajaan-di-riau.html
– Daftar raja kerajaan Tambusai: http://www.riaudailyphoto.com/2010/02/kerajaan-tambusai.html

– Sejarah Kab. Rokan Hulu: http://www.riaudailyphoto.com/2013/03/profil-kabupaten-rokan-hulu.html
– Kab. Rokan Hulu di Wiki: https://id.wikipedia.org/wiki/Kabupaten_Rokan_Hulu
– Asal mulanya Kab. Rokan Hulu: http://herwandisahputra.blogspot.co.id/2014/10/kabupaten-rokan-hulu-adalah-kabupaten.html

– Sejarah Kab. Rokan Hilir: http://www.riaudailyphoto.com/2013/03/profil-kabupaten-rokan-hilir.html
– Kab. Rokan Hilir di Wiki:  https://id.wikipedia.org/wiki/Kabupaten_Rokan_Hilir
– Sejarah Rokan Hilir: http://www.putramelayu.web.id/2014/05/sekelumit-sejarah-rokan-hilir.html


Tuanku Tambusai

Tuanku Tambusai


Rantau Kasa
3 Comments

3 thoughts on “Tambusai, Kerajaan / Sumatera – Riau, Kab. Rokan Hulu

  1. Dear Sir; Thanks.Having from arhive Holland also many info about raja2 Tambusai.Look also for more and about present chief dynaty.I am sejarahwam kerajaan2 Indonesia.Thank you.

  2. shamsukma

    KESAH “BUJANG KELANA” :Bujang Kelana (nama asalnya dirahsiakan) adalah keturunan Raja Tembusai, Sumatera Indonesia yang memerintah tiga buah daerah iaitu Tembusai, Dedalu dan Sedingin. Raja Tembusai yang bernama Sutan Malim Maharaja Lela mempunyai 3 orang anak ; yang pertama lelaki, kedua perempuan dan ketiga ‘Bujang Kelana’.Apabila Raja Tembusai mangkat, berlakulah perebutan kuasa antara anak sulung dengan ‘Bujang Kelana’. Masing-masing ingin menjadi Raja Tembusai. Namun bagi mencari penyelesaiannya Abang Sulung telah menawarkan suatu pertaruhan pelik antara dia dengan “Bujang Kelana”. Pertaruhannya ialah ‘Bujang Kelana’ hendaklah mengambil seulas durian yang hendak dibuat lempuk dan dicincang  lumat dan ditanam. Sekirannya biji durian itu tumbuh, maka beliaulah yang layak menjadi Raja Tembusai. Manakala abang sulungnya pula perlu mengambil seulas durian dalam kawah yang sedang menggelegak panas untuk dibuat lempuk dan menanamkannya. Sekiranya biji durian itu tumbuh, maka beliaulah yang layak menjadi Raja Tembusai. ‘Bujang Kelana’ menolak tawaran ini lalu berkelana ke Tanah Melayu.’Bujang Kelana’ dengan perasaan marah, nekad dan tercabar lalu mengambil sebuah perahu lalu berseru kepada Abang dan Kakaknya serta rakyat Tembusai, ” Mulai saat ini nama hamba ialah ‘BUJANG’. Aku merentas Selat Melaka yang luas ini ke Tanah Melayu. Aku pasrah kepada Illahi. Dimana sahaja aku terdampar kelak di situlah aku mengabdikan diri dan sujud kepada Illahi. Namun balik ke Tembusai tidak sekali. Selamat tinggal kekandaku berdua dan selamat tinggal tanah tumpah darahku Tembusai dan rakyat sekelian.Pelayaran ‘Bujang Kelana’ akhirnya sampai ke Kelang. Sebelum beliau naik ke darat beliau telah menerajang perahunya sambil berkata “Hanyutlah kamu kemana sahaja di bawa arus lautan luas ini dan aku akan ber’Kelana’ di daratan tanpa ku ketahui kemana arahnya. Aku pasrah kepada Tuhan yang maha Esa di mana sahaja rezekiku ditentukan oleh Illahi di situlah aku akan sujud dan mengabdikan diri di bumi bertuah itu nanti.Perjalanan ‘Bujang Kelana’  di daratan akhiranya sampai ke kampung Lubuk Salak Selangor dalam tahun 1870. ‘Bujang Kelana’ adalah seorang yang kacak, rajin, baik budibahasanya, pandai ilmu agama dan ilmu persilatan. Sifat-sifat terpuji ‘Bujang Kelana’ telah mendapat perhatian Tok Menteri Husain, Orang Besar Daerah Hulu Selangor lalu mengahwinkanya dengan anaknya, Cik Andak Jiwa.

    Saudara, saya telah membaca catatan saudara yang sekelian banyak catatan mengenai kerajaan Tambusai. Nah, saya juga adalah sebahgian keturunan raja Tambusai satu ketika dahulu. Tetapi yang menjadi musykilnya ialah kami masih lagi tidak dapat menjejak susur galur keturunan kami. Di sini saya perturunkan catatan yg pernah dibuat oleh pewaris di;
    Kami cuma perlu mencari ‘the missing link’ agar kami bisa tahu sejarah keluarga. Jueteru itu kami amat berharap andainya ada sahabat-sahabat di sana yang mengetahui bagaiman boleh kami menjejaki susur galur ini agar tidak luput dari ingatan.’

    • Sultans in Indonesia

      KYT,

      Terima kasih atas kommen anda. Interesting story.
      Kami sudah masukkan kommen anda di website kami.

      Dengan hormat,
      Paul

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: