Pebato, kerajaan / Prov. Sulawesi Tengah – wilayah Poso

Kerajaan Pebato: kerajaan di wilayah Poso, prov. Sulawesi Tengah. Kerajaan bawahan dari kerajaan Poso.

Kingdom of Pebato: located in the region of Poso, prov. Sulawesi Tengah. This kingdom was under kerajaan Poso.
For english, click here

Lokasi kabupaten Poso


* Foto foto kerajaan Pebato: link
* Foto kerajaan2 di wilayah Poso: link

* Foto sultan dan raja yang masih ada di Sulawesi: link
* Foto sultan dan raja di Sulawesi dulu: link

* Foto suku Bugis: link
* Foto suku Toraja: link
* Foto situs kuno di Sulawesi: link


Tentang kerajaan Pebato

Pada awal abad ke-17, Kerajaan Luwu di selatan mulai mencapai puncak kejayaannya. Pengaruh Luwu yang kuat di selatan mulai tersebar ke utara dan memasuki wilayah Poso.

Kekuasaan Datu Luwu hanya dititikberatkan pada penaklukan saja.
Kekuasaan penting lainnya adalah ialah Kerajaan Sigi yang berkedudukan di Bora. Pengaruh Kerajaan Sigi kental dirasakan di bagian barat suku-suku di Poso.

Mokole Papa mI Woente of Pebato-Poso area (ruled until 1940 probably). Sumber foto: Komunitas Historia Tana Poso, FB.

Mokole Papa mI Woente of Pebato-Poso area.(ruled until 1940 probably).Kom Historia Tana Poso

Demikianlah orang-orang Pebato harus mengakui dua tuan, yakni Luwu dan Sigi”. To Napu sepertinya memiliki naluri perang yang tinggi. Mereka sering kedapatan merajalela di bagian wilayah lain yang sebenarnya merupakan pelanggaran keras pada waktu itu. Mereka merajalela di dilayah Pebato, Lage, Onda’e dan Wingke mPoso. Ada dugaan bahwa agresi yang dilakukan To Napu merupakan tekanan dari Raja Sigi yang berambisi menguasai seluruh wilayah Sulawesi bagian tengah untuk melepaskan diri dari pengaruh Kerajaan Luwu dan mendirikan imperium baru. Namun rencana ini gagal, karena tidak semua rakyat Lore mendukung sebab yang pertalian kekerabatan dengan To Poso.

Dalam situasi tarik-menarik dua kekuata besar ini, maka To Onda’e memiliki peranan yang penting, demikian juga To Napu. To Napu tidak pernah menembus wilayah pertahanan To Onda’e. Oleh To Onda’e, To Napu merupakan ancaman terselubung. Situasi ini sering memicu ketegangan antara Onda’e dan Pebato yang memberikan kebebasan To Napu berkeliaran di wilayahnya. Sehingga muncul niat mengajak To Lage untuk menekan To Pebato. Memegang peran demikian maka dua suku ini menjadi “anak emas” dari dua kerajaan yang memiliki kepentingan politik. Luwu dengan To Onda’e-nya dan Sigi dengan To Napu – nya. Sementara To Pebato dan To Lage berada di tengah sebagai “penengah”.

Selanjutnya, keberadaan mereka sebagai penengah inilah yang menghadirkan tokoh-tokoh berpengaruh di suku-suku Poso. Meminjam istilah sekarang, orang-orang yang matang dalam politik praktis. Dugaan yang muncul, inilah alasan Kruyt banyak bergaul dengan Papa I Wunte di Pebato, Pap I Melempo dari Tomasa, Papa I Ndori dan Talasa yaitu pemimpin-pemimpin To Lage di Kalingua, selain untuk memuluskan misi pekabaran injil.

Radja Lage, Radja Pebato dan Karadja Ondae.


Peta To Pebato, 1893

Peta ini di bawah dibuat pada tahun 1893…. kurang lebih setelah satu setegah tahun Kruyt menetap di Mapane peta ini bisa selesai.

Nampak jalan tua yang juga menjadi jalan utama saat itu.
Jalan itu di mulai dari Mapane atau biasa disebut Takule oleh orang asli Posso.
Dari Mapane menyusur sungai kita akan mendapati Lipu Panta yang kabosenya adalah Papa I Wunte.
Dari situ naik ke selatan menyusuri Sungai Mapane akan bertemu dengan Lipu Bujumbajau.
Dari Lipu Bujumbajau naik terus ke atas akan ketemu lipu Jajaki.
Dari Lipu Jajaki akan ketemu Lipu Polega njara dan naik terus akan ketemu lipu Tamungku (sulewana).

Diatasnya sudah menjadi tempat bagi To Wingke mPosso.
Peta ini juga menunjukkan wilayah adat To Pebato.
Dari Sulewana sampe pantai minus Mapane.


Kerajaan kerajaan di wilayah Poso

Pada mulanya penduduk yang mendiami daerah Poso berada di bawah kekuasaan Pemerintah Raja-Raja yang terdiri dari:
* kerajaan Poso,
* kerajaan Napu,
* kerajaan Mori,
* kerajaan Tojo,
* kerajaan Una Una dan
* kerajaan Bungku
Kerajaan kerajaan ini satu sama lain tidak ada hubungannya.

Keenam wilayah kerajaan tersebut di atas pengaruh tiga kerajaan, yakni:
* Kerajaan Luwu,
* Kerajaan Sigi,
* Kesultanan Ternate.

Sejak tahun 1880 Pemerintah Hindia Belanda di Sulawesi Bagian Utara mulai menguasai Sulawesi Tengah dan secara berangsur-angsur berusaha untuk melepaskan pengaruh Raja Luwu dan Raja Sigi di daerah Poso.
Dari tahun 1880-an pemerintah Hindia Belanda mulai mengatur pemerintahan di Poso. Belanda berusaha meminimalkan pengaruh kerajaan-kerajaan lokal yang ada waktu itu yaitu kerajaan Poso, Napu, Mori, Tojo, Una Una, dan kerajaan Bungku.
Pada 1919 seluruh wilayah Sulawesi Tengah yang waktu itu masih tergabung dalam Keresidenan Manado dibagi menjadi dua wilayah Barat dan Timur yang disebut Afdeeling, yaitu: Afdeeling Donggala dengan ibu kotanya Donggala dan Afdeeling Poso dengan ibu kotanya kota Poso.

Di wilayah Poso ada beberapa kerajaan kerajaan kecil, yaitu:
* kerajaan Napu,
* kerajaan Bada,
* kerajaan Besoa,
* kerajaan Bancea,
* kerajaan Bakekau,
* kerajaan Leboni,
* kerajaan Watutau,
* kerajaan Ondae,
* kerajaan Pebato,
* kerajaan Lage,
* kerajaan Lore,
* kerajaan Pamona,
* kerajaan Lamusa.

To Pebato jelang perang


Peta-peta Sulawesi masa dulu

Untuk peta peta kuno (1606, 1633, 1683, 1700, 1757, 1872, abad ke-19): klik di sini

Peta Sulawesi dan Maluku, tahun 1683


Peta kerajaan-kerajaan Sulawesi utara, 1909 M


 

Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

<span>%d</span> bloggers like this: