Suku Batak Mandailing – prov. Sumatera Utara

Suku Mandailing adalah salah satu sub kelompok dari suku bangsa Batak yang daerah asalnya termasuk dalam Provinsi Sumatera Utara. Orang Mandailing punya daerah asal yang lebih khusus, yang sekarang merupakan wilayah Kabupaten Tapanuli Selatan.
Jumlah orang Mandailing tidak dapat diketahui secara pasti. Sensus penduduk tahun 1990 mencatat jumlah penduduk Kabupaten Tapanuli Selatan sebesar 954.332.

Kabupaten-kabupaten di Sumatera Utara yang diwarnai, memiliki mayoritas penduduk Batak.


Sumber : Ensiklopedi Suku Bangsa Di Indonesia oleh M. Junus Melalatoa

Pola Perkampungan Suku Mandailing

Mereka yang berdiam di pegunungan di sela-sela pegunungan Bukit Barisan di sebut Mandailing Julu, sedangkan yang berdiam di dataran rendah disebut Mandailing Godang. Yang bermukim di kampung-kampung atau dea (huta) umumnya mendiami rumah-rumah (bagas) tradisional. Rumah adat disebut  bagas godang. Sebagai kediaman kepala kampung, sebuah desa biasanya mempunyai balai desa dan sopo godang, tempat melaksanakan pertemuan atau musyawarah.

Dahulu, wilayah kampung (huta) tidak terlalu luas, sehingga kini sebuah desa merupakan gabungan dari beberapa kampung. Oleh sebab itu sebuah desa memiliki beberapa rumah adat. Sebuah huta di masa lalu itu di huni oleh kelompok-kelompok kerabat yang terdiri dari kelompok yang mewakili unsur dalihan na tolu.

Kehidupan Suku Mandailing

Kelahiran anak merupakan satu peristiwa penting. Menurut adat, orang yang pertama menjenguknya adalah mora atau pihak ibunya, kemudian baru disusul pihak kelompok anak boru, yakni kelompok “penerima wanita”. Pihak mora tadi biasanya membawa makanan khas, berupa nasi bungkus dengan tiga butir telur dengan sedikit garam.

Selanjutnya, rentang kehidupan anak ini masih saja diliputi aturan adat dan kebiasaan lainnya. Ketika sang bayi sudah mulai kuat ia dibawah ke rumah mora untuk menerima “kaing penggendong” (parompa sadun) dengan tata cara tertentu pula. Pada waktunya, seorang anak di haruskan mempelajari aksara Batak, dan setelah masuk Islam belajar bahasa Arab di surau.

Daur hidup lainnya yang penting ialah perkawinan. Mereka berpegang pada adat eksogami marga dalam hal pemilihan jodoh. Pasangan yang ideal bagi seorang adalah anak perempuan dari saudara laki-laki ibunya (tulang). Anak perempuan itu disebut boru tulang, sedangkan laki-laki itu disebut oleh anak perempuan dengan istilah anak namboru. itulah sebabnya sejak kecil seorang anak laki-laki sudah dibudayakan untuk menghormati tulangnya itu.

Upacara perkawinan mempunyai kaitan penting dengan unsur-unsur dari dalihan na tolu tadi. Unsur-unsur itu adalah kelompok kerabat sendiri (kahanggi), kelompok kerabat pemberi wanita (mora) dan kelompok kerabat penerima wanita (anak boru). Berbagai tata cara dilaksanakan dalam upacara perkawinan ini dengan berbagai hak dan kewajiban dari kelompok-kelompok kerabat tadi.

Orang Mandailing pernah mengenal suatu adat sehubungan dengan kematian. Apabila yang meninggal itu berusia lanjut dan yang dihormati masyarakat, upacara biasanya dilaksanakan secara lengkap (pasidung ari). Upacara ini biasanya menelan biaya yang besar. Biasa itu biasanya ditanggung oleh keluarga, kahanggi, dan anak boru.

Agama dan Kepercayaan Suku Mandailing

Orang Mandailing umumnya beragama Islam. Ajaran agama Islam ini konon masuknya melalui Minangkabau (Sumatera Barat). Orang Mandailing adalah pemeluk agama Islam yang taat, sehingga unsur-unsur kepercayaan leluhur (permalin) menjadi tergeser atau hampir tidak ada lagi.


Sumber

– Suku Batak Mandailing: https://id.wikipedia.org/wiki/Suku_Mandailing
– Suku Batak Mandailing: http://suku-dunia.blogspot.com/2016/08/sejarah-suku-mandailing.html
– Suku Batak Mandailing: https://www.hitabatak.com/mengenal-lebih-dekat-batak-mandailing/