Sekar, kerajaan / Prov. Papua Barat – Semenanjung Onin

Kerajaan Sekar adalah kerajaan marga Rumagesan; terletak di semenanjung Onin, Teluk Berau, prov. Papua Barat.

The kingdom of Sekar is a kingdom of the Rumagesan Clan; located on the peninsula Onin, prov. Papua Barat.
For english, click here

Klik foto untuk besar !

Lingkaran merah: Semenanjung Onin.
Lingkaran kuning: Semenanjung Bomberai

Provinsi Papua Barat

Peta satelite Sekar / Teluk Berau: http://www.earth-3d.com/?eid=1649037_ID_HBAY_39&title=Teluk-Berau-Indonesia


* Foto kerajaan Sekar: link
* Foto situs kuno di Papua: link
* Foto Papua: link


Tentang Raja / About the King

Regent Ratu: Sejak / Since 2007: Regent-Ratu Hajjah Rustutih Rumagesan

Ketika ayahnya meninggal, paman menjadi raja kerajaan itu, tapi ada perebutan kekuasaan dengan 3 pamannya yang lain dan ia diminta untuk menjadi bupati.
– Sumber/ Source (2010): link


Sejarah kerajaan Sekar

Sejak 700 tahun lalu Kerajaan Sekar Fak Fak dan kerajaan lainnya telah berdiri di pulau tersebut menyebarkan agama Islam yang memiliki aturan tegas dalam berbagai hal, termasuk berpakaian.

Menurut Putri Raja Al Alam Ugar Pik-Pik Sekar, Hj DR Rustuty Rumagesan, di Palembang, ketika menghadiri acara Festival Keraton Nusantara VII di kota tersebut, mengatakan meskipun mereka berbeda dengan kerajaan lain di Papua — karena memiliki keyakinan yang lain dan berpakaian tertutup — tetap bisa hidup tentram dan saling menghargai sesama. “Hal itu, membuktikan kalau bangsa Papua bangsa yang beragam dan saling menghargai,” kata perempuan berkerudung ini.
Dia menjelaskan, saat ini keraton kerajaan mereka sudah tidak ada lagi bentuknya, karena dibom pada masa penjajahan Jepang.Namun berbagai peninggalan kerajaan masih ditemui di daerah tersebut mulai dari tempat pendidikan dan tentunya masjid, ujarnya.
Rustuty menambahkan, di Kabupaten Fak-Fak terdapat sembilan kerajaan yang semuanya menyiarkan agama Islam, [yaitu: Kerajaan Namatota; Kerajaan Komisi; Kerajaan Fatagar; Kerajaan Ati-Ati; Kerajaan Rumbati; Kerajaan Pattipi;  Kerajaan Sekar;  Kerajaan Wertuar; dan Kerajaan Arguni.]. Karena itu, 90 persen warga Fak Fak memeluk agama Islam, tambah perempuan berkulit kuning langsat ini.
.
Sumber: link

Sejarah kerajaan kerajaan di Semenanjang Onin

Di Semenanjung Onin terdapat tiga kerajaan tradisional, yaitu:
kerajaan Rumbati,
kerajaan Fatagar, dan
kerajaan Atiati.
Kerajaan Rumbati, di Rumbati dan sekitarnya dan marga Rajanya adalah Bauw. Pada mulanya pusat-pusat kekuasaan ketiga kerajaan tersebut berdampingan letaknya di ujung barat Semenanjung Onin, tetapi oleh karena peperangan yang timbul antara kerajaan Rumbati di satu pihak melawan kerajaan Fatagar dan kerajaan Atiati pada pihak yang lain pada tahun 1878 (Cator l942:81) maka kerajaan Fatagar dan kerajaan Atiati memindahkan pusat kekuasaannya ke pulau Ega.
Beberapa waktu kemudian terjadi lagi perselisihan antara raja Fatagar dengan raja Atiati, menyebabkan raja Atiati memindahkan pusat kekuasaannya ke suatu tempat di pantai daratan Semenanjung Onin, yang kemudian disebut Atiati, letaknya berseberangan dengan pulau Ega. Sedangkan raja Fatagar oleh karena perselisihan tersebut memindahkan pusat kekuasaannya ke suatu tempat bernama Merapi, terletak di sebelah timur kota Fakfak sekarang.

Di samping tiga kerajaan tersebut di atas ada pula beberapa kerajaan lain yaitu kerajaan-kerajaan yang pada mulanya berada di bawah kekuasaan kerajaan Rumbati, tetapi kemudian berhasil memperoleh pengakuan sebagai kerajaan tersendiri terutama pada masa awai pax neerlandica (1898)
* kerajaan Patipi,
* kerajaan Sekar,
* kerajaan Wertuar dan
* kerajaan Arguni.

Sumber: https://id.wikipedia.org/wiki/Semenanjung_Onin


Kerajaan kerajaan di prov. Papua Barat

1) Semenanjung Bomberai

Kerajaan Aiduma
Kerajaan Kowiai/kerajaan Namatota

2) Semenanjung Onin

Kerajaan Fatagar (marga Uswanas)
Kerajaan Rumbati (marga Bauw)
Kerajaan Atiati (marga Kerewaindżai)
Kerajaan Patipi
Kerajaan Sekar (marga Rumgesan)
Kerajaan Wertuar (marga Heremba)
Kerajaan Arguni

3) Raja Empat

Kerajaan Waigeo
Kerajaan Misool/Lilinta (marga Dekamboe)
Kerajaan Salawati (marga Arfan)
Kerajaan Sailolof/Waigama (marga Tafalas)
Kerajaan Waigama

4) Papua Barat, kab. Kaimana

Kerajaan Kaimana


Sejarah kerajaan-kerajaan di Papua Barat

Menurut Kakawin Nagarakretagama yang ditulis antara bulan September-Oktober tahun 1365, daerah Wwanin/Onin (Kabupaten Fakfak) merupakan daerah pengaruh mandala Kerajaan Majapahit, kawasan ini mungkin bagian dari koloni kerajaan Hindu di Kepulauan Maluku yang diakui ditaklukan Majapahit.

Dalam bukunya “Neiuw Guinea”, WC. Klein juga menjelaskan fakta awal mula pengaruh kerajaan Bacan di tanah Papua. Di sana dia menulis: pada tahun 1569 pemimpin-pemimpin Papua mengunjungi kerajaan Bacan di mana dari kunjungan terebut terbentuklah kerajaan-kerajaan). Menurut sejarah lisan orang Biak, dulu ada hubungan dan pernikahan antara para kepala suku mereka dan para sultan Tidore. Suku Biak merupakan suku Melanesia terbanyak yang menyebar di pantai utara Papua, karena itu bahasa Biak juga terbanyak digunakan dan dianggap sebagai bahasa persatuan Papua. Akibat hubungan daerah-daerah pesisir Papua dengan Sultan-Sultan Maluku maka terdapat beberapa kerajaan lokal (pertuanan) di pulau ini, yang menunjukkan masuknya sistem feodalisme yang merupakan bukan budaya asli etnik Papua.

Di Kepulauan Raja Ampat yang terletak di lepas pantai pulau Papua terdapat empat kerajaan tradisional yang termasuk wilayah mandala kesultanan Bacan dan kesultanan Ternate, masing-masing adalah kerajaan Waigeo, dengan pusat kekuasaannya di Wewayai, pulau Waigeo; kerajaan Salawati, dengan pusat kekuasaan di Samate, pulau Salawati Utara; kerajaan Sailolof dengan pusat kekuasaan di Sailolof, pulau Salawati Selatan, dan kerajaan Misol, dengan pusat kekuasaan di Lilinta, pulau Misol.

Tahun 1660, VOC memang sempat menandatangani perjanjian dengan sultan Tidore di mana Tidore mengakui protektorat Belanda atas penduduk Irian barat. Perjanjian ini jelas meliputi penduduk kepulauan antara Maluku dan Irian. Yang jelas juga, Tidore sebenarnya tidak pernah menguasai Irian. Jadi protektorat Belanda hanya merupakan fiksi hukum.

Tidore menganggap dirinya atasan Biak. Pada masa itu, pedagang Melayu mulai mengunjungi pulau Irian. Justru pandangan Tidore ini yang menjadi alasan Belanda menganggap bagian barat pulau ini adalah bagian dari Hindia Belanda.

Sejak abad ke-16, selain di Kepulauan Raja Ampat yang termasuk wilayah kekuasaan Sultan Bacan dan Sultan Ternate, kawasan lain di Papua yaitu daerah pesisir Papua dari pulau Biak (serta daerah sebaran orang Biak) sampai Mimika merupakan bagian dari wilayah mandala Kesultanan Tidore, sebuah kerajaan besar yang berdekatan dengan wilayah Papua. Tidore menganut adat Uli-Siwa (Persekutuan Sembilan), sehingga provinsi-provinsi Tidore seperti Biak, Fakfak dan sebagainya juga dibagi dalam sembilan distrik (pertuanan).

Tahun 1826 Pieter Merkus, gubernur Belanda untuk Maluku, mendengar kabar angin bahwa Inggris mulai masuk pantai Irian di sebelah timur Kepulauan Aru. Dia mengutuskan rombongan untuk menjajagi pantai tersebut sampai Pulau Dolak. Dua tahun kemudian, Belanda membangun Fort Du Bus, yang sekarang menjadi kota Lobo, dengan tujuan utama menghadang kekuatan Eropa lain mendarat di Irian barat. Fort Du Bus ditinggalkan tahun 1836.

Tahun 1872, Tidore mengakui kekuasaan Kerajaan Belanda atasnya.

Belanda baru kembali ke Irian tahun 1898. Irian dibagi antara Belanda, Jerman (bagian utara Irian timur) dan Inggris (bagian selatan Irian timur). Garis busur 141 diakui sebagai batas timur Irian barat. Pada 1898 – 1949, Papua bagian barat dikenal sebagai Nugini Belanda.


Peta-peta kuno Papua

Untuk peta-peta kuno Papua tahun, 1493, 1600, 1699, 1700-an, 1740, 1857 1857, klik di sini

Peta tahun 1493


Sumber

Sejarah kerajaan2 Papua Barat: https://id.wikipedia.org/wiki/Papua_Barat_%28wilayah%29
– Kerajaan2 Islam di Papua: http://www.gurusejarah.com/2015/01/kerajaan-kerajaan-islam-di-papua.html
– Kerajaan2 di Semenanjung Onin: https://id.wikipedia.org/wiki/Semenanjung_Onin
– Sistem kerajaan2 tradisional di Papua: http://papuaweb.org/dlib/s123/mansoben/05.pdf
– Sejarah kerajaan2 di Papua Barat: http://marlinapuspita3.blogspot.co.id/2013/11/papua-barat-wilayah_22.html
– Kerajaan2 di Semenanjung Bomberai: https://id.wikipedia.org/wiki/Semenanjung_Bomberai
Kerajaan2 di kepulauan Raja empat: https://id.wikipedia.org/wiki/Kepulauan_Raja_Ampat
– Sejarah kepulauan Raja empat: http://www.marikoworld.com/travels/indonesia/raja-ampat/

* Foto kerajaan Sekar: link
 .

2010: Sri Ratu Saadong Vii menjadi tetamu khas bagi acara pernikahan adinda Dr.Hjh Rustuty Rumagesan , Ratu Kerajaan Sekar, Fak-Fak , Papua. Sumber: sriratusaadongvii.blogspot.com/2010/11/sri-ratu-saadong-m…


 

Advertisements
Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s