Salurang, kerajaan / P. Sangihe – Prov. Sulawesi Utara

Kerajaan Salurang terletak di pulau Sangihe, Kab. Kepulauan Sangihe, provinsi Sulawesi Utara.
Kerajaan Saluran yang berpusat di Manuwe pada tahun 1500 dibawah pemerintahan Kulane Bulega Langi putra Kulane Melintang Nusa.

The kingdom of Salurang was located on the island of Sangihe, Kab. Kepulauan Sangihe, provinsi Sulawesi Utara.
The centre of this kingdom was in Manuwe around 1500 and under the rule of Kulane Bulega Langi son of Kulane Melintang Nusa.
For english, click here

Lokasi P. Sangihe

Pulau Sangihe

Pulau Sangihe

 

 

 

 

 

 

 

 


* Foto foto kepulauan Sangihe: link


Sejarah kerajaan Salurang

Adapun sebagai Kulano (Raja) yang pertama sekali di Tampunganlawo (Pulau Sangihe) adalah bernama Gumansalangi mempunyai istri bernama Ondoasa yang disebut juga Sangiangkonda atau Kondowulaeng.

Gumansalangi adalah seorang Putra Mahkota dari Sultan di Kotabato (Mindanao Selatan) akhir abad ke-12. Menurut pesan ayahnya, bahwa Gumansalangi bersama dengan istrinya Ondaasa, keduanya harus pindah dari Kotabato dengan maksud supaya mereka dapat mendirikan Kerajaan baru disebelah Timur.

Untuk mematuhi perintah ayahnya, maka keduanya berangkat dari Kotabato dengan memakai Perahu ULAR SAKTI singgah di Wiarulung (Pulau Balut), kemudian menuju arah selatan sampai di Pulau Mandolokang (Tagulandang), dan di Pulau ini mereka tidak turun, langsung melewati Pulau Siau, terus ke Tampunganglawo yaitu di Tabukan Selatan. Dalam perjalanan ini ikut pula saudara laki-laki dari Andoasa yang bernama Pangeran Bawangunglara.
Di Tabukan Selatan mereka turun mendarat di sebuah tempat yang disebut Pantai Saluhe. Oleh karena Gumansalangi adalah seorang Kulano atau Raja, maka tempat mereka mendarat itu berubah namanya oleh penduduk disitu menjadi SALUHANG yang berarti dielu-elukan dan dipelihara supaya ia bertumbuh dengan baik dan subur.
Dari kata SALUHANG kemudian diubah menjadi SALURANG hingga sekarang.

Pada abad ke-13, mereka mendirikan sebuah Kerajaan baru di Salurang dan wilayahnya sampai di Marulang.

Setelah kerajaan Salurang telah berdiri dengan baik, maka Pangeran Bawangunglaro dengan perahu ULAR SAKTInya berangkat lagi melanjutkan perjalanannya kearah Timur Laut dan ia sampai di Talaud yaitu di Pulau Kabaruan pada salah satu tempat yang mulai sejak itu tempat tersebut diberi nama Pangeran sampai sekarang.

Setelah keberangkatan Bawangunglaro ke Talaud, Gumansalangi bersama istrinya tidak menetap lagi di Salurang, dan tempat itu hanya dijadikan Pusat Pemerintahan saja. Keduanya pindah ke Puncak Gunung Sahendarumang dan menetap disana.
Setelah keduanya berada di tempat ini maka selalu kedengaran bunyi guntur dan sinar cahaya kilat yang memancar dari Puncak Gunung itu, sehingga Gumansalangi diberi nama MEDELLU yang berarti GUNTUR yang berbunyi dan Ondaasa diberi nama MEKILA yang berarti KILAT yang bercahaya dan sampai saat ini kedua nama tersebut sudah tidak diubah lagi. Gumansalangi dan Ondaasa mempunyai 2 orang anak yaitu Melintang Nusa dan Meliku Nusa.

Setelah kedua anaknya menjadi dewasa, maka Pemerintah Kerajaan Salurang diserahkan kepada anaknya yang sulung yaitu Melintang Nusa dalam Tahun 1350, sedangkan anaknya yang bungsu yaitu Meliku Nusa pergi mengembara ke Selatan dan sampai di Bolaangmangondow, ia menikah dengan Menongsangiang (Putri Bolaangmangondow) dan ia menetap disana sampai meninggal.

– Sumber: http://sangihekab.go.id/home/index.php?document_srl=855&mid=Sejarah


Sejarah kerajaan-kerajaan di P. Sangihe

Sejak abad 15 di P. Sangihe muncul pemerintahan lokal/tradisional. Pertama kali, dibuktikan lewat catatan jurutulis Magellan tahun 1421, Antonio Pigaffeta. Di Sangihe, Pigafetta mencatat ada empat raja. Dua di Siau dan satu di Tagulandang. Tapi sumber sejarah tiga abad sesudahnya, hasil tulisan F. Valentijn yang datang ke Sangihe awal abad ke-18, menyebut awalnya hanya dua saja kerajaan di Sangihe, yaitu Tabukan dan Kalongan. Menurutnya, nanti kira-kira tahun 1670 muncul sembilan kerajaan di Sangihe, yaitu:
* Kerajaan Kendahe,
* Kerajaan Taruna,
* Kerajaan Kolongan,
* Kerajaan Manganitu (Kauhis),
* Kerajaan Limau,
* Kerajaan Tabukan,
* Kerajaan Sawang (Saban) dan
* Kerajaan Tamako.

Namun, kemudian kerajaan yang terakhir (Tamako) menjadi bagian Siau. Sementara, Raja Limau ditumpas pasukan kiriman Padtbrugge. Kerajaan ini hancur lebur. Dan, Sawang bergabung dengan Kerajaan Taruna dan Kerajaan Kolongan. Sedangkan Kauhis bergabung dengan Manganitu.

Pada tahun 1898 Kerajaan Kendahe dan Kerajaan Taruna digabung menjadi satu. Di dua wilayah inilah tahun 1919 Raja Soleman Ponto memerintah dengan pusatnya di Kota Tahuna kini. Artinya, pada tahun 1900-an tersisa empat kerajaan saja: Tabukan, Manganitu, Siau dan Kendahe-Taruna.
– Sumber: http://thekawanua.blogspot.co.id/2010/02/kerajaan-kendahe-dan-sekitarnya.html


Sumber kerajaan Salurang

– Sejarah kerajaan Salurang: http://sangihekab.go.id/home/index.php?document_srl=855&mid=Sejarah

Sumber kerajaan-kerajaan di P. Sangihe

Sejarah kerajaan di Sangihe: http://9soputan9.blogspot.co.id/2013/11/kerajaan-sangihe-talaud.html
Sejarah kerajaan di Sangihe: http://dhevinadalinda.blogspot.co.id/2014/10/cerita-sejarah-raja-gumansalangi-raja.html
Sejarah kerajaan di Sangihe: http://sangihekab.go.id/home/index.php?document_srl=855&mid=Sejarah
Sejarah kerajaan di Sangihe: http://manado.tribunnews.com/2013/06/25/asal-usul-manado-siau-dan-sangihe-talaud
– Raja raja Sangihe Talaud: http://raja-rajasangihetalaud.blogspot.co.id/2016/08/800×600-normal-0-false-false-false-en.html
– Sejarah kerajaan-kerajaan di Sulawesi Utara: https://arkeologiriset.wordpress.com/2017/11/01/sejarah-sangihe-pilipina/


Peta kuno Sangihe, Talaud dan Tagulandang

Kepulauan Sangihe, Talaud dan Tagulandang di Sulawesi Utara, tahun 1700.

——————————-

Peta Sangir dan Talaud, tahun 1724

————————————-

Peta Sangihe, Talaud dan Tagulandang tahun 1894


 

Advertisements