Beringkit, kerajaan / Bali – kab. Tabanan

Kerajaan / Desa Beringkit terletak di kecamatan Marga, kabupaten Tabanan, prov. Bali.

Lokasi  kab. Tabanan

——————–
Lokasi pulau Bali


* Foto foto Bali dulu: link
* Foto foto situs kuno di Bali: link
* Foto foto puputan Denpasar, 1906: link
* Foto foto puputan Klungkung, 1908: link


Sejarah kerajaan / desa Beringkit

– Sumber: http://desaberingkitbelayu.blogspot.com/p/sejarah-desa_12.html

Ada keturunan Dalem Beringkit bernama I Gusti Bajang Gede atau juga dikenal dengan gelarnya I Gusti Bale Agung, bermigrasi ke Beringkit Belayu, ini kemudian mendirikan kerajaan dan berkuasa. Begitu besar kekuasaannya sehingga menimbulkan rasa dengki yang pada waktu itu berkuasa di Kapal. Setelah mempersiapkan pasukannya, berangkatlah I Gusti Arya Kutawaringin berserta tentaranya di suatu tempat yang kini disebut celuk, di tepi timur Desa Beringkit. Utusanpun dikirim untuk menantang perang kepada I Gusti Bajang Gede. Singkat cerita tantanganpun diterima dan perangpun kemudian berkecamuk disuatu daratan yang kini lebih dikenal dengan sebutan Carik Kerobokan, disebelah selatan banjar Jebaud atau di antara banjar Bajera Pagebegan dengan Bajera Belayu. Hanya satu semboyan mereka yang ber”yudha” pada waktu itu, membunuh atau dibunuh, sampai pada akhirnya tentara kerajaan Beringkit musnah, satu persatu tewas dalam peperangan dan I Gusti Bajang Gede sendiri tewas ditangan I Gusti Arya Kuta Waringin disuatu tempat yang kini dikenal dengan sebutan Setra Bajangan.

I Gusti Arya Kuta Waringin kemudian melanjutkan terornya memusnahkan keturunan I Gusti Bajang Gede sampai ke anak cucunya yang belum dan tak pernah mengenal dosa namun menjadi korban keganasan perang. Hanya beberapa orang saja yang berhasil meloloskan diri.

Konon seusai perang, I Gusti Arya Kuta Waringin mengadakan pemeriksaan terhadap “Wadya Balanya” aneh tak ada seorangpun yang terluka ataupun tewas. Maka untuk memperingati hal tersebut disebutlah tempat ini “Bala Ayu” tentara yang mendapatkan perlindungan dari Tuhan, yang kemudian dikenal dengan Belayu sampai saat ini.

Seperti yang telah kami tuliskan peninggalan-peninggalan yang menjadi bukti akan pernah adanya kerajaan serta peristiwa-peristiwa yang mengikutinya masih dapat dilihat dan disaksikan sampai saat penulisan profil ini.

Kerajaan di Bali, sekitar tahun 1900.


Puri di Bali

Puri di pulau Bali adalah nama sebutan untuk tempat tinggal bangsawan Bali, khususnya mereka yang masih merupakan keluarga dekat dari raja-raja Bali. Berdasarkan sistem pembagian triwangsa atau kasta, maka puri ditempati oleh bangsawan berwangsa ksatria.

Puri-puri di Bali dipimpin oleh seorang keturunan raja, yang umumnya dipilih oleh lembaga kekerabatan puri. Pemimpin puri yang umumnya sekaligus pemimpin lembaga kekerabatan puri, biasanya disebut sebagai Penglingsir atau Pemucuk. Para keturunan raja tersebut dapat dikenali melalui gelar yang ada pada nama mereka, misalnya Ida I Dewa Agung, I Gusti Ngurah Agung, Cokorda, Anak Agung Ngurah, Ratu Agung, Ratu Bagus dan lain-lain untuk pria; serta Ida I Dewa Agung Istri, Dewa Ayu, Cokorda Istri, Anak Agung Istri, dan lain-lain untuk wanita.

Daerah atau wilayah kekuasaan puri-puri di Bali zaman dahulu, tidak berbeda jauh dengan wilayah administratif pemerintahan kabupaten dan kota di Provinsi Bali. Setelah Kerajaan Gelgel mulai terpecah pada pertengahan abad ke-18, terdapat beberapa kerajaan, yaitu Badung (termasuk Denpasar), Mengwi, Tabanan, Gianyar, Karangasem, Klungkung, Buleleng, Bangli dan Jembrana. Persaingan antardinasti dan antaranggota dinasti pada akhirnya menyebabkan Belanda dapat menguasai Bali dengan tuntas pada awal abad ke-20.

Setelah masa kolonial Belanda, Jepang dan masa kemerdekaan Indonesia, kekuasaan puri berubah menjadi lebih bersifat simbolis. Peranan berbagai puri di Bali umumnya masih tinggi sebagai panutan terhadap berbagai pelaksanaan aktivitas adat dan ritual Agama Hindu Dharma oleh masyarakat banyak.


Sejarah singkat kerajaan-kerajaan di Bali

Kerajaan Bali merupakan istilah untuk serangkaian kerajaan Hindu-Budha yang pernah memerintah di Bali, di Kepulauan Sunda Kecil, Indonesia. Adapun kerajaan-kerajaan tersebut terbagi dalam beberapa masa sesuai dinasti yang memerintah saat itu. Dengan sejarah kerajaan asli Bali yang terbentang dari awal abad ke-10 hingga awal abad ke-20, kerajaan Bali menunjukkan budaya istana Bali yang canggih di mana unsur-unsur roh dan penghormatan leluhur dikombinasikan dengan pengaruh Hindu, yang diadopsi dari India melalui perantara Jawa kuno, berkembang, memperkaya, dan membentuk budaya Bali.

Karena kedekatan dan hubungan budaya yang erat dengan pulau Jawa yang berdekatan selama periode Hindu-Budha Indonesia, sejarah Kerajaan Bali sering terjalin dan sangat dipengaruhi oleh kerajaan di Jawa, dari kerajaan Medang pada abad ke-9 sampai ke kerajaan Majapahit pada abad ke-13 hingga 15. Budaya, bahasa, seni, dan arsitektur di pulau Bali dipengaruhi oleh Jawa. Pengaruh dan kehadiran orang Jawa semakin kuat dengan jatuhnya kerajaan Majapahit pada akhir abad ke-15.
Setelah kekaisaran jatuh di bawah Kesultanan Muslim Demak, sejumlah abdi dalem Hindu, bangsawan, pendeta, dan pengrajin, menemukan tempat perlindungan di pulau Bali. Akibatnya, Bali menjadi apa yang digambarkan oleh sejarawan Ramesh Chandra Majumdar sebagai benteng terakhir budaya dan peradaban Indo-Jawa.
Kerajaan Bali pada abad-abad berikutnya memperluas pengaruhnya ke pulau-pulau tetangga. Kerajaan Gelgel Bali misalnya memperluas pengaruh mereka ke wilayah Blambangan di ujung timur Jawa, pulau tetangga Lombok, hingga bagian barat pulau Sumbawa, sementara Karangasem mendirikan kekuasaan mereka di Lombok Barat pada periode selanjutnya.

Sejak pertengahan abad ke-19, negara kolonial Hindia Belanda mulai terlibat di Bali, ketika mereka meluncurkan kampanye mereka melawan kerajaan kecil Bali satu per satu. Pada awal abad ke-20, Belanda telah menaklukkan Bali karena kerajaan-kerajaan kecil ini jatuh di bawah kendali mereka, baik dengan kekerasan atau dengan pertempuran, diikuti dengan ritual massal bunuh diri, atau menyerah dengan damai kepada Belanda. Dengan kata lain, meskipun beberapa penerus kerajaan Bali masih hidup, peristiwa-peristiwa ini mengakhiri masa kerajaan independen asli Bali, karena pemerintah daerah berubah menjadi pemerintahan kolonial Belanda, dan kemudian pemerintah Bali di dalam Republik Indonesia.


Peta kuno Bali

Klik di sini untuk peta kuno Bali1618, 1683, 1700-an, 1750, 1800-an, 1856, abad ke-19.

 Bali abad ke-16 ?


Sumber

– Sejarah desa / kerajaan Beringkit: http://desaberingkitbelayu.blogspot.com/p/sejarah-desa_12.html
– Sejarah Kuramas / Beringkit: http://kesusastraandanbudayabali.blogspot.com/2013/12/asal-usul-pura-masceti-di-desa-keramas.html
– Sejarah Kuramas / Beringkit: https://kawitanpusakka.blogspot.com/p/patihagung-maruti-melarikan-diri-patih.html