Todo, dalu (kerajaan) / P. Flores – prov. Nusa Tenggara Timur

Dalu (Kerajaan) Todo terletak di pulau Flores, Kab. Manggarai, Kecamatan Satar Mese Barat, prov. Nusa Tenggara Timur.

The kingdom (Dalu) of Todo was located on the island of Flores, District Manggarai, prov. Nusa Tenggara Timur.
For english, click here

Pulau Flores, kab. Manggarai

———————-
Lokasi pulau Flores


* Foto wilayah dan kerajaan kerajaan di Manggarai: link
* Foto Flores dulu dan situs kuno: link


Tentang Todo dan Dalu

Sosiolog Universitas Indonesia(UI), Robert MZ Lawang menyebut, Bajo merupakan satu dari 3 Dalu besar, yang berada di Barat Manggarai, yang langsung berada di bawah kontrol ‘raja naib.’ Raja naib merupakan wakil Sultan Bima yang bertempat di Reo dan Pota, Manggarai Utara. Tempo dulu, ada tiga kedaluan besar yakni Cibal, Todo dan Bajo, karena langsung berada di bawah naib.
Dalu merupakan sistem pemerintahan terapan Kesultanan Bima yang terkait dengan penarikan pajak berupa budak (pajak taki mendi). Pada 1660, ratusan pekerja Manggarai yang disuplai Bima tiba di Batavia untuk dipekerjakan sebagai budak Belanda. Di bawah Dalu, ada ‘gelarang’ yang merupakan ketua wilayah adminstrasi yang lebih rendah. Dua kosa kata ini, Dalu dan Gelarang, merupakan peninggalan Bima dalam struktur sosio politik wilayah Manggarai.

Dalam peta administrasi kedaluan Bima, Dalu Todo merupakan satu di antara kedaluan yang dikontrol langsung “naib Reo(k)” selain kedaluan lain dari rentangan Mata Wae sampai Lambaleda (Utara Manggarai Timur). Dalu, lantas merujuk pada orang dan wilayah kekuasaanya. Tempo dulu, ada tiga kedaluan besar yakni Cibal, Todo dan Bajo, karena langsung berada di bawah naib.

Susunan batu bekas benteng kerajaan Todo (dok.Roman)

Susunan batu bekas benteng kerajaan Todo (dok.Roman)


Sejarah Dalu (kerajaan) Todo

Todo merupakan satu dari 3 Dalu besar, yang berada di Barat Manggarai, yang langsung berada di bawah kontrol ‘raja naib.’ Raja naib merupakan wakil Sultan Bima yang bertempat di Reo dan Pota, Manggarai Utara. Tempo dulu, ada tiga kedaluan besar yakni Cibal, Todo dan Bajo, karena langsung berada di bawah naib.

Diantara kerajaan-kerajaan itu, kerajaan Cibal atau Nggaeng Cibal dan Adak Todo pernah terlibat dalam beberapa kali pertempuran dalam rangka memperluas teritori kekuasaan, karena meningkatnya hegemoni Dalu Todo tidak disukai oleh Dalu Cibal.
Pertempuran pertama antara Cibal dan Todo adalah pertempuran di Reok dan Rampas Rongot atau dikenal dengan Perang Rongot. Pertempuran ini dimenanagkan Cibal. Perang Rongot ini melahirkan beberapa perang:
* Perang Weol I,
* Perang Weol II dimenangkan oleh Todo sehingga batas kerajaan Todo tidak lagi di Wae Ras dekat Cancar, tetapi pergi sampai Beo Kina (North Rahong),
* Perang Bea Loli di Cibal. Dalam perang Bea Loli, Cibal kembali kalah.
* Adana Tana Dena. Karena perang Adak Tanah Dena, batas Todo-Pongkor diperluas ke Watu Jaji.

Setelah itu, Todo-Pongkor memperluas wilayah ke arah timur di Borong. Maka, terjadilah perang Adak Tana Dena. Akibat perang Adak Tanah Dena ini, batas Todo-Pongkor meluas hingga Watu Jaji.

Pada saat Todo-Pongkor konsentrasi mengikuti perang Adak Tanah Dena, pasukan Nggaeng Cibal melancarkan serangan ke pusat kekuasaan Todo-Pongkor. Saat itu, terjadi pembakaran rumah adat Todo, yang disebut tapa niang dangka ,poka niang wowang.

Konon, niang dangka saat itu tak bisa dibakar. Pasukan dari Nggaeng Cibal kemudian memperdayai seorang perempuan tua yang namanya Kembang Emas saudari dari Kraeng Mashur Nera Beang Lehang Tana Bombang Palapa untuk mengetahui mengapa niang dangka tidak bisa dibakar.
Perempuan tersebut kemudian memberti tahu niang dangka bisa dibakar bila bisa mengambil jimat yang ada dibubungannya. Pasukan dari Cibal pun mengambil jimat di atas bubungan.
Lalu, kemudian baru bisa membakar niang dangka tersebut. Sayangnya, mereka juga membakar perempuan yang memberitahu keberadaan jimat itu. Pasukan Cibal berusaha mengembalikan Watu Cibal yang dicaplok pada perang Weol II, namun tak bisa diangkat. Sampai sekarang Watu Todo dan Watu Cibal tertancap bersanding di kampung Todo.

Tahun 1907 Belanda masuk ke Manggarai dan hendak mendirikan pusat kekuasaan sipil di Todo. Namun, karena topografinya yang kurang baik, lalu pindah ke Puni, Ruteng. Secara resmi Belanda menaklukan Manggarai pada 1908.
Ketika Belanda mulai menguasai Manggarai, Raja Todo (1914-2924) yaitu Kraeng Tamur dipindahkan ke Puni.

Meriam inggris milik kerajaan Todo

Dalam perjalanan sejarahnya, awal abad ke-20, Belanda melihat Manggarai yang meliputi Wae Mokel awon (batas timur) dan Selat Sape salen (batas barat) adalah satu kesatuan yang utuh. Tidak ada lagi Cibal, tidak ada lagi Todo, tidak ada lagi Bajo, maka disebutlah Manggarai.
Karena itulah, pada tahun 1925, melalui suatu surat keputusan dari Belanda, Manggarai menjadi suatu kerajaan dan diangkatlah orang Todo-Pongkor menjadi raja pertama yaitu Raja Bagung dari Pongkor.

Kerajaan Manggarai bentukan Belanda ini terdiri atas 38 kedaluan. Bersamaan dengan diangkatnya Raja Bagung, Belanda juga menyekolahkan Kraeng Alexander Baruk ke Manado.
Alexander Baruk adalah anak dari Kraeng Tamur, raja Todo. Tahun 1931/1932, Alexander Baruk kemabli dari sekolahnya. Lalu, kemudian diangkat menjadi raja Manggarai. Namun, karena raja Bagung masih hidup, maka keduanya tetap raja. Raja Bagung sebagai “raja bicara” sedangkan yang mengambil keputusan adalah Raja Baruk. Sehingga dulu ada istilah putus le Kraeng Wunut, bete le kraeng Belek.

Kekuasaan keduanya berakhir saat keduanya meninggal dunia. Raja Bagung meninggal 1947. Sedangkan, Raja Baruk meninggal 1949. Kemudian, keduanya diganti oleh Kraeng Langkas atau Kraeng Constantinus Ngambut, juga dari Todo, menjadi raja hingga 1958.
Saat Manggaria menjadi daerah swaparaja, Kraeng Ngambut masih memimpin Manggarai sebagai kepala daerah hingga 1960.

– Sumber: http://www.floresa.co/2015/08/13/sejarah-kekuasaan-di-manggarai-raya-dari-perang-todo-vs-cibal-hingga-pilkada-langsung/

Orang Todo


Sejarah wilayah Manggarai

Untuk sejarah lengkap wilayah Manggarai, klik di sini

Kerajaan-kerajaan di Flores abad ke-17/18, incl. Todo


Istana – Niang Todo

Bangunan rumah adat atau niang dangka dan niang mongko di Kampung Todo, Kecamatan Satar Mese Barat, Manggarai, Nusa Tenggara Timur. Kampung Todo merupakan salah satu desa adat yang dihuni oleh para keturunan raja Todo. Kampung Todo kini menyisakan bangunan rumah adat (Niang Todo) berbentuk kerucut. Rumah adat ini menggunakan atap jerami dan beralaskan kayu. Meski sudah mengalami renovasi, bangunan ini merupakan satu-satunya sisa peninggalan sejarah dan tradisi yang kini bersanding dengan rumah-rumah modern warga sekitar.
– Sumber: http://travel.kompas.com/read/2015/02/20/1128008/Wajah.Kampung.Todo


Peta kuno pulau Flores

Klik di sini untuk peta kuno pulau Flores, 1493, 1653, abad ke-17, 1725, 1756, 1700-an.

Flores, tahun 1653


Sumber

Tentang kerajaan Todo: http://www.floresa.co/2015/08/13/sejarah-kekuasaan-di-manggarai-raya-dari-perang-todo-vs-cibal-hingga-pilkada-langsung/
– Kampung Todo asal muasal kerajaan Manggarai: https://salamdaritimur.wordpress.com/2017/03/18/kampung-todo-asal-kerajaan-muasal-manggarai/
– Sejarah Manggarai / Todo: http://www.floresa.co/2016/05/02/potret-sejarah-manggarai-dalam-sejarah-nusantara-sebuah-studi-literatur/
—————————

Kerajaan2 di Flores yang didirikan Hindia Belanda 1910-1918: http://mbulinggela.blogdetik.com/2012/02/12/kerajaan-kerajaan-di-flores-yang-didirikan-hindia-belanda/
– Sejarah pulau Flores: http://pulau-flores.blogspot.co.id/2011/11/sejarah-pulau-flores.html
Sejarah pulau Flores: http://nusalale.com/detailpost/sejarah-pulau-flores
Sejarah dan kebudayaan Suku Flores: http://dunia-kesenian.blogspot.co.id/2016/01/sejarah-dan-kebudayaan-suku-flores-ntt.html
– Sejarah Flores memeluk Katolik: https://m.tempo.co/read/news/2015/11/21/204720937/wisata-pantai-sejarah-flores-memeluk-katolik
– Asal usul pulau Flores: http://desiran.blogspot.co.id/2014/01/asal-usul-pulau-flores.html
– Masyarakat Flores: http://florestrawang-letare.blogspot.co.id/


 

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: