Sejarah lengkap kerajaan Oenam

Sejarah kerajaan Oenam di ambil dari: https://www.facebook.com/permalink.php?story_fbid=466405716735159&id=465189110190153


Mutis sendiri adalah cikal bakal pusat pemerintahan kerajaan Oenam. Didirikan oleh Nai Lele Sonba’I yg diperkirakan pada abad ke-15 dengan wilayah kekuasaan mulai dari Biboki, Insana, Miomafo, Fatule’u sampai Noel Sfebano (Tarus-Kupan). Nai Lele Sonba’I sendiri adalah anak dari Nai Faluk. Sedangkan Nai Faluk adalah cucu dari Nai Dawan. Setelah kematian Nai Lele Sonba’i, raja berikutnya adalah Tuklua Sonba’i, berikutnya digantikan oleh Manas Sonba’i (yang masa pemerintahannya, Timor mulai didatangi Portugis yg awalnya ingin berdagang cendana dan lilin).
Kedatangan Portugis diawali dengan datangnya pastur Antoio Taveira (1522) di Lifau-Oekusi dari pulau Solor (Flores Timur). Secara de facto pemerintahan Portugis dimulai di Timor tahun 1656 atau lebih dari seabad kemudian ketika awal mula masuknya pastur-pastur Portugis. Permulaan pemerintahan dengan menempatkan kapten Simao Louis ke Lifau-Oekusi. Semua terjadi pada masa pemerintahan Manas Son ba’i.
Setelah mangkat, Manas digantikan oleh Talus Sonba’i. Pemerintahan Talus sendiri mengalami perpecahan akibat kebijakan memasukan hasil panen rakyat kepada raja. Penolakan itu datang dari Neno Sonbai kakak kandung raja Talus). Akhirnya Neno dan anaknya Nai Baki Sonba’I diusir dari kerajaan Oenam. Keduanya pun melarikan diri dan meminta perlindungan kepada marga Oematan (Saubaki Oematan). Oleh Oematan keduanya disembunyikan di kaki gunung Mollo sebelum akhirnya mereka mengungsi ke Kupang (ke kerajaan Helong). Peristiwa ini diperkirakan terjadi pada tahun 1650. Oleh raja Helong mereka ditempatkan di daerah Bakunane.
Raja berikutnya yg memerintah kerajaan Oenam yakni Baob Sonbai. Baob sendiri adalah putra mahkota yg menjadi korban perang. Bersama ibunya Bi Lalan Mella, mereka diselamatkan Bahan dan Mambait dan disembunyikan di Laob (kini desa di kecamatan Mollo Selatan). Raja Baob tinggal beberapa lama di Baob (dulu Mnesatfael) lalu berpindah ke Noenoni (kini desa Noenoni). Raja Baob Sonba’i kemudian diculik Belanda lalu diasingkan ke Batavia hingga wafat tahun 1685.
Raja Oenam selanjutnya adalah Tafin Sonba’i lalu digantikan oleh putra tunggalnya Kau Sonba’i. pada pemerintahannya ibu kota kerajaan dipindahkan ke Kuniki (di Fatule’u). Setelah Kau Sonba’I berhenti sebagai Raja Kerajaan Oenam, ia digantikan oleh putra sulungnya Sobe Sonba’i II atau Sobe Besi.
Setelah Sobe Besi, raja selanjutnya adalah Baob Sonba’i II yang diteruskan oleh Baob Sonba’i III. Pada masanya, terjadi perjanjian Lisabon yg isinya membagi pulau Timor menjadi 2 bagian, Timor Barat untuk Belanda dan Timor Timur untuk Portugis (ditambah Oekusi dan Noemuti). Noemuti sendiri kemudian diserahkan kembali kepada Belanda pd 1 November 1916 dan menjadi bagian wilayah Miomafo. Baob Sonba’i III kemudian digantikan oleh Sobe Sonba’i III. Pada masa pemerintahannya terjadi perang Bipolo. Raja Sobe Sonba’i III akhirnya ditangkap Belanda di Bes’ana akibat pengkhianatan dari marga Oematan di Bes’ana. Sang raja kemudian diasingkan ke Waingapu Sumba Timur. Wafat tahun 1922 dan dimakamkan di Fatufeto Kupang. setelah Sobe Sonba’i III meninggal, Belanda membagi-bagi wilayah kerajaan Oenam atas beberapa kerajaan kecil yaitu: kerajaan Miomafo, kerajaan Mollo, dan kerajaan Fatule’u.