Sejarah lengkap Kedatuan Langko

Sumber: http://gdefik.blogspot.co.id/2012/10/kedatuan-langko.html


KEDATUAN LANGKO

BERDIRINYA KEDATUAN LANGKO

Prabu Anom Menjatuhkan Hukuman Mati

Pada pertengahan abad ke XVI M, Selaparang mencapai puncak kejayaannya, rakyatnya hidup tenang dan damai, antara satu desa, dukuh dengan desa, serta dukuh yang lainnya, hidup dalam nuansa persaudaraan, hukum Islam dijalankan secara murni. Dalam naskah Kotaragama yang berisi tentang peraturan-peraturan yang berlaku di kerajaan Surya Alam (kerajaan yang dimaksudkan adalah Selaparang) tarcantum bahwa sifat seorang raja harus selalu berpedoman pada syariat agama Islam, bersedekah (sosial), memberi pengayoman, tidak ingkar (disiplin), menuntut ilmu pengetahuan. Siapapun yang bersalah harus dihukum sesuai dengan ketentuan hukum Islam meskipun pada anaknya sendiri; (putra mahkota). Suatu ketika, saat sedang berjalan, di halaman, secara tidak sengaja permaisuri raja bersenggolan dengan Raden Mas Panji (Ntramahkota). Raden Mas Panji kemudian memukul kaki ibu tirinya dan peristiwa itu menyebabkan kematian sang permaisuri. Hukum harus ditegakkan, maka raja memanggil seluruh pembesar kerajaan untuk memutuskan hukuman.
Prabu Anom memberikan hukuman mati kepada putra mahkota tercinta. Prosesi hukuman mati kepada putra mahkota dipercayakan kepada Patih Singarepa, tetapi sang patih tidak kuasa dan tiada mampu menjalankannya. Akhirnya oleh Patih Singarepa, Raden Mas Panji diseberangkan ke Alas dan dititip kepada salah seorang Demung Alas yang menjadi sahabatnya. Itulah sebabnya bergelar Raden Mas Panji Tilar Negara (Tilar Negaraartinya meninggalkan negaranya). Sekembalinya Patih Singarepa menjalankan tugas kemudian disampaikan kepada sang raja bahwa prosesi telah dilaksanakan sebagaimana petunjuk yang dititahkan. Raja Prabu Anom pun menangis sedih karena sangat sayangnya kepada sang putra mahkota Pedukuhan Tembeng. Setelah wafatnya Prabu Anom kemudian Patih Singarepa meminta kembali Raden Mas Panji Tilar Negara untuk kembali ke Selaparang.
Patih Singarepa menyampaikan bahwa sebelum meninggal baginda mewasiatkan Raden Mas Pamekel sebagai pemegang tahta kerajaan. Mengetahui kejadian itu, Raden Mas Panji menerima keputusan dengan ikhlas dan merelakan adiknya menduduki tahta kerajaan. Setelah sampai di Lombok, Raden Mas Panji Tilar Negara tidak ke Selaparang supaya adiknya mendapatkan ketenangan dalam memimpin kerajaan. la kemudian membuat pemukiman di Hutan Saba di atas Gunung Tembeng (sebelah selatan Kopang sekarang). Patih Singarepa dengan setia mendampingi Pangeran Raden Mas Panji Tilar Negara.
Pemukiman tersebut kemudian berubah menjadi pedukuhan yang disebut Pedukuhan Tembeng. Penduduknya hidup dengan tenang dan damai. Raden Mas Panji Tilar Negara dikawinkan dengan puteri Patih Singarepa. Dalam perkawinannya itu, Raden Mas Panji memperoleh dua orang putera, yaitu Raden Pringganala dan RadenTerunajaya. Setelah dewasa kedua putra tersebut memiliki sifat dankegemaran yang bertolak belakang: Raden Pringganala sangat gemar mengumpulkan dan memelihara berbagai jenis burung, sementara Radon Terunajaya sangat gemar mengumpulkan berbagai macam senjata.Ketika Raden Mas Panji Tilar Negara meninggal dunia, beliau dimakamkan di daerah Tembeng. Sedangkan pemimpin pedukuhan digantikan oleh Raden Pringganala.
Suatu hari Raden Terunajaya menasehati kakaknya supaya mau ikut mengumpulkan senjata, akan tetapi ditolak sehingga menimbulkan perselisihan antara keduanya. Raden Pringganala kemudian mengusir Raden Terunajaya dari Tembeng. Raden Terunajaya pun meninggalkan Pedukuhan Tembeng dan membuat pemukiman di hutan Lengkukun.Di pemukiman tersebut beliau beserta para pengikutnya membangunmasjid dan pasar. Pemukiman inilah yang kemudian berubah menjadiKedatuan Langko dengan Raden Terunajaya sebagai pemimpinnya.

BERKEMBANGNYA KEDATUAN LANGKO

Raden Terunajaya berniat hendak memberikan pelajaran kepada kakaknya akan arti pentingnya persenjataan. Maka disusunlah rencana penyerangan ke pedukuhan Tembeng. Teknik  penyerangan diserahkan sepenuhnya ke Patih Singarepa. Strategiyang digunakan sangat sederhana yaitu mengumpulkan semua wanita, anak-anak, orang dewasa sebagai pembawa hewan piaraan seperti sapi, kambing, kerbau, kuda dan lain-lain. Sebagai lapisan terakhir adalah pasukan bersenjata lengkap dengan bedil, tombak, panah dan sebagainya. Strategi ini dilakukan karena Raden Terunajaya memang tidak menginginkan adanya korban jiwa. Hal ini juga sebagai rasa hormat dan sayang masih sangat mendalam kepada kakaknya. Pada tengah malam semua pasukan harus segera diberangkatkan agar tiba di pintu gerbang Tembeng. Pedukuhan Tembeng dikuasai tanpa adanya perlawanan yang berarti. Raden Pringganala pun menyerah. Beliau beserta para pengikutnya yang setia disarankan untuk pergi dari Tembeng dan mencari pemukiman baru. Mereka pun mendirikan perkampungan Praubanyar di Lombok Timur sekarang. Selain menaklukan pedukuhan Tembeng, Kedatuan Langko di bawah pimpinan Patih Singarepa dan Patih Singaulung juga menaklukan Kedaro (kerajaan Kedaro).

MENYAMBUNG TALI PERSAUDARAAN

Setelah menguasai Tembeng, maka Kedatuan Langko semakin luas dan meningkat menjadi kerajaan. Raden Terunajaya menjadi rajanya dan bergelar Prabu Langko. Raden Terunajaya mempunyai empat orang putera yang semuanya laki-laki. Masing-masing bernama: Raden Putra, Raden Natadiraja, RadenAjiwayah dan Raden Ajiundak. Sementara itu diberitakan juga bahwa sang kakak Raden Pringganala di Praubanyar juga sudah mempunyai 4(empat) orang putri yang masing-masing bernama: Denda Suparta,Denda Suparah, Denda Supadan dan Denda Supayang. Patih Singarepa menyarankan agar menyambung kembali persaudaraan yang lama terputus dengan jalan mengawinkan keempat putra Raden Terunajaya dengan keempat putri dari Raden Pringganala, Anjuran tersebut diterima dengan lapang dada. Akhirnya bertautlah persaudaraan Kerajaan Langko dan Praubanyar. Keempat pasangan tersebut adalah:- Raden Ajiundak beristrikan Denda Supayang.- Raden Ajiwayah beristri Denda Supadan.- Raden Natawijaya beristri Denda Suparah.- Raden Putra beristri Denda Suparta.

KERUNTUHAN KEDATUAN LANGKO

Raden Ajiwayah diangkat sebagai putra mahkota dan menggantikan Raden Terunajaya sebagai Prabu Langko. Kemudian raja ini mempunyai anak bernama Raden Suryanata. Raden Terunajaya dan Path Singarepa meninggal dan dimakamkan di Langko. Pada masa kekuasaan Raden Ajiundak pemerintahan semakin mundur sehingga penyerangan Karangasem yang bergabung dengan Arya Banjar Getas tidak dapat ditangkal. Akhirnya kerajaan Langko pun menyerah kalah.

Diposting oleh aries zulfikri