Sejarah lengkap negeri Soya

– Sumber: https://www.facebook.com/malukupedia/photos/a.959392027441041/959391150774462/?type=1&theater

———————————————–

Geen fotobeschrijving beschikbaar.

Lambang negeri Soya

Berdasarkan penuturan dan cerita-cerita orang-orang tua, Leluhur yang mendiami negeri Soya berasal dari Nusa Ina (Pulau Seram) antara lain, dari Seram Utara, kurang lebih tempatnya dekat Sawai suatu wilayah yang bernama “Soya”, serta dari Seram Barat (sekitar daerah Tala).

Dari sumber cerita yang ada, perpindahan para leluhur orang Soya datang secara bergelombang yang kemudian menetap di Negeri Soya. Mereka membentuk clan baru yang kemudian menjadi nama pada tempat kediamanya yang baru. Nama ini sama dengan nama di tempat asalnya. Hal ini dimaksudkan sebagai kenang-kenangan atau peringatan. Negeri Soya kemudian berkembang menjadi suatu kerajaan dengan sembilan Negeri Kecil yang dikuasai Raja Soya.

Adapun kesembilan negeri kecil tersebut yakni :

– Uritetu, suatu negeri yang diperintah oleh “Orang Kaya”. Negeri ini letaknya sekitar Hotel Anggrek. Uritetu artinya dibalik bukit.
Honipopu, adalah sebuah negeri yang diperintah oleh “Orang Kaya”. Negeri ini letaknya di sekitar Kantor Kota Ambon saat ini.
Hatuela, juga di bawah pimpinan seorang “Orang Kaya”, letaknya di antara Batu Merah dan Tantui sekarang. Hatuela artinya Batu Besar.
Amantelu, dipimpin oleh seorang “Patih”, yang letaknya dekat Karang Panjang. Amantelu artinya, Kampung Tiga.
Haumalamang, dipimpin seorang “Patih”, letaknya belum dapat dipastikan. (diperkirakan di negeri Baru dekat Air Besar).
Ahuseng, dipimpin oleh “Orang Kaya”, letaknya di Kayu Putih sekarang.
Pera, dipimpin oleh “Orang Kaya”, letaknya di Negeri Soya sekarang.
Erang, dipimpin oleh “Orang Kaya”, letaknya di belakang Negeri Soya sekarang. Erang berasal dari nama “Erang Tapinalu” (Huamual di Seram).
Sohia, adalah Negeri tempat kedudukan Raja, letaknya antara Gunung Sirimau dan Gunung Horil.

Setiap Rumah Tau (mata rumah) yang ada memilih salah satu batu yang dianggap sebagai batu peringatan kedatangan mereka pada pertama kalinya di Negeri Soya.
Batu-batu ini dianggap sebagai perahu-perahu yang membawa mereka ke tempat dimana mereka akhirnya berdiam dan yang lasim disebut “Batu Teung”.

Saat ini di Soya dapat ditemukan beberapa Teung antara lain :
Teung Samurele untuk Rumah Tau Rehatta
Teung Saupele untuk Rumah Tau Huwaa
Teung Paisina untuk Rumah Tau Pesulima
Teung Souhitu untuk Rumah Tau Tamtelahittu
Teung Rulimena untuk Rumah Tau Soplanit
Teung Pelatiti untuk Rumah Tau Latumalea
Teung Hawari untuk Rumah Tau Latumanuwey
Teung Soulana untuk Rumah Tau de Wana
Teung Soukori untuk Rumah Tau Salakory
Teung Saumulu untuk Rumah Tau Ririmasse
Teung Rumania untuk Rumah Tau Hahury
Teung neurumanguang untuk Rumah Tau lapui

Teung-Teung ini seharusnya berjumlah 14 (empat belas) buah, dua diantaranya masih perlu diselidiki. Diantara teung-teung yang ada, ada dua tempat yang mempunyai arti tersendiri bagi anggota-angota clan tersebut yakni;

Baileo Samasuru, yaitu tempat mengadakan rapat dan berbicara.

Tonisou, yaitu suatu perkampungan khusus bagi Rumah Tau Rehatta yang di dalamnya disebut sebuah Teung.

Beberapa diantara rumah Tau tersebut tidak lagi menetap di negeri Soya, begitu pula Negeri kecil yang pernah ada telah hilang disebabkan beberapa faktor dan perkembangan yang terjadi didalam masyarakatnya.

Raja Soya yang pertama adalah “latu Selemau” dan isterinya bernama Pera Ina. Dibawah pemerintahan Latu Selemau, Negeri Soya (termasuk 9 negeri kecil yang berada dibawah kekuasaanya), merupakan suatu kesatuan besar, Dalam masa kebesarannya, Latu Selemau dianugerahkan beberapa gelar yang lebih agung yang merupakan bukti kebesarannya ialah : “LATU SELEMAU AGAM RADEN MAS SULTAN LABU INANG MOJOPAHIT” Gelar ini berkenan dengan hubungan dagang, bahkan perkawinan dengan orang-orang dari Kerajaan Majapaahit.

SISTEM PEMERINTAHAN NEGERI

Sistem pemerintahan negeri Soya pada mulanya merupakan sistem Saniri Latupati yang terdiri dari :

– Upulatu (Raja);

– Para Kapitan;

– Kepala-kepala Soa (Jou), Patih dan Orang Kaya;

– Kepala Adat (Maueng) dan;

– Kepala Kewang,

Saniri Latupati dilengkapi dengan “Marinyo” yang biasanya bertindak sehari-hari sebagai yang menjalankan fungsi hubungan masyarakat yang dikenal sekarang dengan nama HUMAS (Hubungan Masyarakat) dan pembantu bagi badan tersebut. Saniri Latupati dapat dianggap sebagai Badan Eksekutif pada saat ini.

Saniri Besar, yaitu persidangan besar yang biasanya diadakan sekali setahun atau bila diperlukan. Persidangan Saniri Besar dihadiri oleh Saniri Latupati dan semua Laki-laki yang telah dewasa dan orang-orang tua yang berada dan berdiam di dalam negeri Soya. Persidangan Saniri Besar merupakan suatu bentuk implementasi sistem demokrasi langsung.

Dalam perkembangannya, kemudian dibentuk pula Saniri Negeri yang terdiri dari Saniri Latupatih ditambah dengan unsur-unsur yang ada dalam negeri. Misalnya : Pemuda, dan organisasi-oraganisasi dari anak negeri yang ada. Persidangan Saniri Negeri dapat di anggap sebagai persidangan legislatif.