Lamahala, kerajaan / P. Adonara – Prov. Nusa Tenggara Timur

Kerajaan Lamahala terletak di pulau Adonara, Kab. Flores Timur, Prov. Nusa Tenggara Timur.
Kerajaan Lamahala termasuk persekutuan Watan Lema.

The kingdom of Lamahala is located on the island of Adonara, prov. of Nusa Tenggara Timur.
For english, click here

Lokasi pulau Adonara

————————–
Pulau Adonara


* Foto foto kerajaan Lamahala: link
* Video Cucu raja Lamahala: link

* Foto foto pulau (island) Adonara: link


Tentang Raja

Kepala dinasti raja kerajaan Lamahala, Raja Muda H Adnan Sangaji.
Foto 2017.



Sejarah kerajaan Lamahala

I  Umum

Salah satu desa di Kabupaten Flores Timur yang seratus persen penduduknya beragama Islam, yakni Desa Lamahala Jaya. Desa ini merupakan desa gaya baru dari Kerajaan Lamahala yang hidup dan berkembang sebelum abad ke-13 M. Ihwal eksistensi Kerajaan Lamahala juga termaktub dalam Kitab Negarakartagama, yang menyebutkan Lamahala merupakan kerajaan yang tergabung dalam koalisi Kerajaan Islam Solor Watan Lema (Lima Kerajaan Islam di Kepulauan Solor), bersama Kerajaan Terong, Kerajaan Lamakera, Kerajaan Lohayong, dan Kerajaan Lebala.

Secara historis (Fitri, 2018:1), penduduk Kerajaan Lamahala terdiri dari dua komponen.
Pertama, penduduk yang datang dari gunung (pedalaman) yang dikenal dengan sebutan Ata Ile Jadi (orang yang lahir dari gunung). Penduduk ini terdiri dari suku (marga) Suku Atapukan, Suku Malakalu, dan Suku Selolong. Ketiga suku ini yang kemudian dipercayakan sebagai Suku Raja di Kerajaan Lamahala yang dikenal dengan sebutan Bela Tello (Tiga Suku Raja).
Kedua, penduduk yang datang dari laut yang kemudian dikenal dengan sebutan Ata Tena Mao(orang yang terapung bersama kapal). Penduduk ini berdatangan dari berbagai daerah di Nusantara, yakni Sumatera, Jawa, Cina, Seram, Ambon, Sulawesi, Bima, Sikka, Ende, dan Solor.

Sebagai sebuah kerajaan, Lamahala kala itu memiliki suatu sistem pemerintahan. Adapun sistem pemerintahan Kerajaan Lamahala tidak dipegang secara perorangan, melainkan secara suku atau marga. Ketiga komponen ini yakni:
1) Tiga Suku Raja (Bela Tello),
2) Sepuluh Suku Perwakilan (Kapitan Pulo), dan
3) Lima Suku Manteri Urusan (Pegawe Lema).
Ketiga pemangku kepentingan di Kerajaan Lamahala ini melakukan musyawarah di halaman Korke Bale atau Bale Adat Lamahala.

Karena terdiri dari tiga suku maka kekuasaan raja dibagi menjadi tiga urusan. Yakni Suku Selolong sebagai Raja Urusan Pemerintahan, Suku Malakalu sebagai Raja Urusan Pertahanan Keamanan, dan Suku Atapukan sebagai Raja Urusan Adat.

Untuk mengurus kemaslahatan rakyatnya, Tiga Suku Raja ini dibantu oleh Sepuluh Suku Perwakilan dari Ata Tena Mao. Kesepuluh suku ini sekelas dewan perwakilan yang membawa aspirasi masyarakat kepada Raja. Kesepuluh suku ini terdiri dari Kapitan Goran dari Suku Goran, Kapitan Lambuan dari Suku Lambuan, Kapitan Lamuran dari Suku Lamuran, Kapitan Bunga Luwolema dari Suku Bunga Lolon, Kapitan Raja dari Suku Bel’ang, Kapitan Parak Ona dari Suku Parak Ona, Kapitan Lango Biri dari Atapukan Lamuda, Kapitan Namatukan dari Suku Lamuda, Kapitan Suku Wutun dari Suku Wutun, dan Kapitan Laut dari Suku Atamua.

Raja terakhir kerajaan Lamahala, Zainul Adi Sangaji

II  Masyarakat Lamahala

– Sumber: http://bintangpagi85.blogspot.com/2013/09/sejarah-polu-nipat-lamahala.html

1) Pembentukan wilayah

Lamahala sebelum terbentuk menjadi sebuah desa terdapat 4 (emapat) Riang (pemukuman kecil) yakni:

1. Riang Lewaha dipimpin oleh Raja Pati Pelang
2. Riang Subang Ona dipimpin oleh Raja Subang Pulo
3. Riang Bunga dipimpin oleh Gehak Lakunamang
4. Riang Girek dipimpin oleh Girek
Ke empat riang pada abad ke-16 disepakati menjadi satu wilayah yakni Wilayah desa Lamahala.

2) Pembentukan rakyat

Di ke-4 Riang pada saat desa Lamahala terbentuk telah pula dihuni oleh penduduk-penduduk pendatang yang terdiri dari 25 suku (termasuk suku-suku penghuni lama) ke 25 suku ini berada pada:

Riang Lewaha :

1. Suku Lewaha,
2. Suku Lamuda,
3. Suku Hering Guhir,
4. Suku Wutung,
5. Suku Lamakaluang,
6. Suku Lewonta,
7. Suku Sina,
8. Suku Gorang,
9. Suku Lambuang,
10. Suku Lamurang,
11. Suku Lembahi
12. Suku Lamalewa,
13. Suku Teniwang Ala.

Riang Subang Ona :

1. Suku Ata Mua,
2. Suku Ata Pukang,
3. Suku Serang,
4. Suku Selolong,
5. Suku Malakalu,
6. Suku Belang.

Riang Bunga :

1. Suku Bungalolong,
2. Suku Wadda,
3. Suku Wata Betta,
4. Suku Lamalakka,
5. Sukulamariang ( Bunga Lewo Lema).

Riang Girek :

1. Suku Girek.

3) Pembentukan struktur pemerintahan

Pemerintahan berbentuk kerajaan yang diberi nama “KERAJAAN LAMAHALA” dengan struktur pemerintahan sebagai berikut:

Penguasa:

Terdiri dari Bella Suku Tello :

1. Suku Selolong sebagai Kepala Pemerintahan
2. Suku Malakalu sebagai Kepala Perang
3. Suku Ata Pukang sebagai Kepala Adat

Raja Lamahala, Zainul Adi Sangaji

Kabinet

Kabinet (Menteri) terdiri dari 10 Kapitan dan 5 pegawe agama.

Kapitan Pulo:

  1. Kapitan Belang dipegang oleh Suku Gorang
    2. Kapitan Urang dipegang oleh suku Lamurang
    3. Kapitan Buang dipegang oleh Suku Lambuang
    4. Kapitan Bungalolong dipegang oleh Suku Bungalolong
    5. Kapitan Raja dipegang oleh Suku Belang
  2. Kapitan Parak dipegang oleh Suku Parak Ona
    7. Kapitan Laut dipegang oleh Suku Ata MUA
    8. Kapitan Lango Biri dipegang oleh Suku Ata Pukang
    9. Kapitan Namang Tukang dipegang oleh Suku Lamuda
    10. Kapitan Suku Wutung dipegang oleh Suku Wutung

Pegawe Lema (Urusan keagamaan) :

1. Pegawe Imam dipegang oleh Suku Serang dan Suku Wadda
2. Pegawe Khotib dipegang oleh Suku Lamuda
3. Pegawe Kadli (Penasehat Hukum-hukum Agama) dipegang oleh Suku Ata MUA
4. Pegawe Bilal dipegang oleh Suku Wutung
5. Pegawe Pemakaman dipegang oleh keempat suku diatas.

Sistem koordinasi pemerintahan

Bella Selolong Membawahi :

1. Kapitan Belang
2. Kapitan Urang
3. Kapitan Buang

Bella Malakalu Membawahi:

1. Kapitan Bunga Lolong
2. Kapitan Raja
3. Kapitan Parak

Bella Ata Pukang :

1. Kapitan Laut
2. Kapitan Lango Biri
3. Kapitang Namang Tukang
4. Kapitan Suku Wutung

Kanan: Raja Adnan Sangaji, 2019


Kerajaan-kerajaan di P. Adonara

* kerajaan Adonara
* kerajaan Lamahala
* kerajaan Lian Lolon
* kerajaan Libu Kliha
* kerajaan Molugang
* kerajaan Terong.


Sejarah kerajaan-kerajaan di pulau Adonara

Sejarah lokal Adonara terdokumentasikan dari abad ke-16, ketika para pedagang dan misionaris Portugis mendirikan pos di dekat Pulau Solor. Pada saat itu Pulau Adonara dan pulau-pulau di sekitarnya dibagi di antara penduduk pesisir yang dikenal sebagai Paji, dan penduduk pegunungan yang disebut Demon.
Para Paji mudah menerima Islam, sementara Demon cenderung di bawah pengaruh Portugis. Wilayah Adonara milik Paji mencakup tiga kerajaan, yaitu Adonara (berpusat di pantai utara pulau), Terong dan Lamahala (di pantai selatan). Bersama dengan dua kerajaan di Pulau Solor, Loyahong dan Lamakera, mereka membentuk sebuah persekutuan yang disebut Watan Lema (“lima pantai”). Watan Lema bekerja sama dengan VOC pada 1613 dan ditegaskan pada 1646.
Kerajaan Adonara sendiri sering permusuhan dengan Portugis di Larantuka, Flores, dan tidak selalu taat kepada Belanda. Pada abad ke-19, penguasa Adonara di utara memperkuat posisinya di Kepulauan Solor; saat itu, ia juga menjadi penguasa bagian timur Flores dan Lembata. Wilayah Demon berdiri di bawah kekuasaan kerajaan Larantuka, yang berada di bawah kekuasaan Portugis sampai tahun 1859, ketika wilayah tersebut diserahkan pada Belanda. Kerajaan Larantuka dan Adonara dihapuskan oleh pemerintah Indonesia pada tahun 1962.

Persekutuan Solor Watan Lema atau Negeri Lima Pantai

Lima kerajaan kecil yang dibangun masyarakat Muslim membuat persekutuan untuk melawan Portugis di Pulau Solor, NTT. Selanjutnya mereka disebut persekutuan Solor Watan Lema atau Negeri Lima Pantai.

Kerajaan-kerajaan yang tergabung dalam persekutuan Watan Lema:
* Lohayong,
* Lamakera,
* Lamahala,
* Terong, dan
* Labala.

Latar belakang terbentuknya persekutuan Solor Watan Lema dijelaskan dalam jurnal berjudul Situs Menanga Solor Flores Timur, Jejak Islam di NTT yang ditulis Muhamad Murtadlo. Diterbitkan Jurnal Lektur Keagamaan Kementerian Agama tahun 2017.
Murtadlo menceritakan, Sultan Menanga bernama Shahbudin bin Ali bin Salman Al Farisi yang datang ke Pulau Solor berhasil memimpin persekutuan Solor Watan Lema antara tahun 1613-1645. Kemudian Shahbudin menyebut dirinya Sultan Menanga karena berkuasa di wilayah Menanga.

Persekutuan lima kerajaan kecil sendiri bertujuan untuk melawan bangsa Portugis yang telah membangun benteng di Lohayong. Benteng tersebut kini dikenal dengan nama Benteng Lohayong atau Benteng Fort Henricus.
“Karena ada momen itu, lima kerajaan pantai yang semuanya hampir bisa dikatakan Kerajaan Islam bersatu, mereka menyusun kekuatan bersama untuk menaklukkan Benteng Portugis,” kata Murtadlo belum lama ini.
Sebelumnya diceritakan dalam jurnalnya, bangsa Portugis datang ke Solor sekitar 1561. Kemudian mereka membangun Benteng Lohayong pada 1566. Pada saat itu masyarakat Solor dan sekitarnya meminta Sultan Menanga untuk memimpin perlawanan terhadap Portugis.

Perlawanan Sultan Menanga bersama Negeri Lima Pantai terhadap Portugis didukung oleh Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC). Diketahui VOC sendiri memiliki keinginan menggeser kekuasaan Portugis di daerah Lohayong.
Sebagai imbalan untuk Sultan Menanga, VOC akan mengakui kedaulatan persekutuan Solor Watan Lema. Terkait tujuan VOC menggeser Portugis tidak lepas dari kepentingan mereka untuk mendapatkan keuntungan dari kepergian Portugis.

Peta kerajaan Adonara, Lohayong, Lamakera, Terong, Lamahala, Labata.

——————————–

Peta pulau Adonara tahun 1910


Sumber / Source

Sejarah kerajaan Lamahala: http://lamahala-jaya.simplesite.com/440470645
– Sejarah kerajaan Lamahala: https://www.kompasiana.com/muhammad68947/5c52a5a4677ffb70f611c2b3/mengenal-sistem-pemerintahan-kerajaan-islam-lamahala-di-kabupaten-mayoritas-katolik?page=2
Sejarah Lamahala dan Adonara: http://bolengatumatan.blogspot.co.id/
————
Asal usul pulau Adonara: http://santipelu888.blogspot.co.id/2013/05/asal-usul-adonara.html
– Sejarah pulau Adonara: http://bolengatumatan.blogspot.co.id/
– Sejarah pulau Adonara: http://ferdiboro93.blogspot.co.id/2014/10/sejarah-adonara.html


* Foto foto kerajaan Lamahala: link

Raja Muda H Adnan Sangaji dari Lamahala saat Festival Keraton Nusantara XI di Cirebon, september 2017.

——————————–
Radja Adie Laka Bela Sangadji dari Lamahala tahun 1915. Sumber: donald tick,, Facebook


 

Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s