Suku Donggo – P. Sumbawa, NTB

Suku Donggo adalah salah satu kelompok sosial, merupakan penduduk asal yang berdiam di sebagian wilayah Kabupaten Dompu, dan wilayah Kabupaten Bima di P. Sumbawa, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB).
Beberapa sumber tertulis menunjukkan bahwa wilayah asal mereka ini adalah di Kecamatan Donggo, Kabupaten Bima, serta empat wilayah kecamatan di Kabupaten Dompu, yaitu Kecamatan Huu, Dompu, Kempo, dan Kilo. Wilayah keempat Kecamatan ini memang berbatasan dengan Donggo tadi.

Lokasi kab. Bima, P. Sumbawa, NTB


* Foto kerajaan-kerajaan Sumbawa: link


Tentang Suku Donggo

Kesenian

Masyarakat Donggo memiliki beberapa seni budaya dan upacara adat, diantaranya adalah:
1. Upacara Kasaro (acara untuk orang meninggal)
2. Upacara Sapisari (penguburan)
3. Doa Rasa (doa kampung) yang diadakan 5 tahun sekali
6. Tari Kalero dan pesta Raju (anjing hutan).

Sistem Kepercayaan

Sebagian besar suku Donggo memeluk agama Islam dan sebagian kecil memeluk agama Kristen. Dahulu sebelum orang Donggo memeluk agama Islam dan Kristen, mereka menganut agama kepercayaan terhadap dewa-dewa, yang mengandung unsur Hindu-Budha. Mereka menjunjung tinggi Lewa (dewa) yaitu kekuatan gaib yang ada di alam. Dewa yang tertinggi dan ditakuti adalah Lewa Langi (Dewa Langit) yang tinggal di matahari. Mereka juga percaya roh-roh di sekitar mereka yang dalam bahasa Donggo disebut Rawi. Dalam keyakinan mereka, ada roh yang suka mengganggu dan roh yang suka menolong, misalnya Rawi Ndoe (angin dari roh nenek moyang atau pelindung).

Wilayah

Sebagian masyarakat Donggo menempati wilayah kecamatan Donggo, yang dikenal dengan nama Dou Donggo Sebagian lain mendiami kecamatan Wawo Tengah (pegunungan) seperti Teta, Tarlawi, Kuta, Sambori dan Kalodu Dou Donggo Ele. Pada awalnya, sebenarnya penduduk asli ini tidak semuanya mendiami wilayah pegunungan. Salah satu alasan mengapa mereka umumnya mendiami wilayah pegunungan adalah karena terdesak oleh pendatang-pendatang baru yang menyebarkan budaya dan agama yang baru pula.

Untuk mempertahankan kepercayaan leluhur maka mereka mendiami wilayah pegunungan. Kepercayaan asli nenek moyang mereka adalah kepercayaan terhadap Marafu (animisme). Kepercayaan terhadap Marafu inilah yang telah mempengaruhi segala pola kehidupan masyarakat, sehingga sangat sukar untuk ditinggalkan meskipun mereka telah menganut agama baru.

Mata pencaharian

Masyrakat Donggo pada umumnya hidup pada bidang pertanian, seperti menanam padi di sawah dan menanam berbagai tanaman di ladang dan di kebun. Namun mereka juga memelihara hewan ternak, seperti kuda dan sapi dan berburu di hutan. Suku donggo juga terkenal karena ahli dalam meramu. Sebelum mengenal teknik pertanian, mereka biasanya melakukan perladangan berpindah-pindah, dan karena itu tempat tinggal mereka pun selalu berpindah-pindah pula (nomaden)


Sumber

– Suku Donggo: http://suku-dunia.blogspot.com/2016/05/sejarah-suku-donggo.html
– Suku Donggo: http://www.budayanusantara.web.id/2018/05/sejarah-dan-kebudayaan-suku-donggo-nusa.html
– Rumah tradisional Suku Donggo: http://www.netralnews.com/news/rsn/read/86050/keunikan-rumah-adat-tradisional-donggo-suku-bima
– Asal usul Suku Donggo: http://etnisdunia.blogspot.com/2017/05/asal-usul-suku-dongu-ntb.html



 

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: