Cirebon Girang, kerajaan / Prov. Jawa Barat – wil. Cirebon

Pusat kerajaan Cirebon Girang lokasinya bekas dari lokasi pusat Kerajaan Wanagiri. Kerajaan ini terletak di lereng gunung Ciremai, atau tepatnya di Kecamatan Palimanan, Kabupaten Cirebon (sekarang). Raja yang paling terkenal dari kerajaan ini adalah Ki Gedeng Kasmaya (anak sulung dari Prabu Bunisora / raja kerajaan Sunda ke-32, 1357-1371).

Lokasi kab. Cirebon


Garis kerajaan-kerajaan di Jawa: link


Foto sejarah kerajaan-kerajaan di Jawa

* Foto sultan dan raja, yang masih ada di Jawa: link
* Foto keraton di Jawa, yang masih ada: link
* Foto Batavia (Jakarta) masa dulu: link
* Foto Jawa masa dulu: link
* Penyerbuan Batavia oleh Sultan Agung, 1628/1628: link
* Foto perang Diponegoro, 1825: link
* Foto situs kuno di Jawa: link


Video sejarah kerajaan-kerajaan di Jawa

– Video Penguasa Monarki kesultanan Jawa Mataram, 1556 – 2020: link
– Video sejarah kesultanan Mataram, 1576-2020: link
– Video sejarah kerajaan Medang Mataram Hindu: link
– Video sejarah kerajaan Majapahit, 1293 sampai 1527: link
– Video raja-raja Majapahit hingga ke Mataram, 1293 – 1587: link
– Video sejarah kerajaan Jawa, 10.000 SM – 2017: link
– Video sejarah kerajaan Jawa Timur, 1.5jt SM sampai 2020: link
– Video sejarah kerajaan Jawa Barat, 3000 SM sampai 2020: link
– Video sejarah kerajaan Jawa Tengah, 1.5jt SM sampai 2020: link


KERAJAAN CIREBON GIRANG

Sejarah kerajaan Cirebon Girang, abad ke-14

Sebelum berdirinya kerajaan Cirebon yang dipimpin oleh Sunan Gunung Jati, wilayah Cirebon terbagi atau dua daerah. Untuk derah pesisir disebut dengan Cirebon Larang, sedangkan untuk daerah pedalaman disebut dengan nama Cirebon Girang.

Eksistensi Cirebon Girang didalam buku “Rintisan Penelusuran Masa Silam Sejarah Jawa Barat” diceritakan mulai dikenal sejak abad ke-15 M. Keberadaannnya tidak dapat dilepaskan pula dari eksistensi kerajaan Indraprahasta (363 – 726) dan kerajaan Wanagiri.

Konon Wanagiri pada masa silam pernah menjadi bawahan Indraprahasta, lebih tepat jika merupakan gabungan dari Indraprahasta dan Wanagiri, mengingat keduanya sudah dikenal dan disebut-sebut pada masa Purnawarman (395-434) bertahta di kerajaan Tarumanagara (358 – 699). Indraprahasta pasca Purnawarman dikenal memiliki pasukan yang loyal terhadap Tarumanagara, bahkan berperan penting ketika Wisnuwarman (434-455) menumpas pemberontakan Cakrawarman. Sedangkan Wanagiri pasca dikuasai Cakrawarman disebut-sebut dijadikan sebagai basis penting dari Cakrawarman. Sayang, referensi tentang Wanagiri sangat kurang dibandingkan kadaton lainnya.

Penyatuan Indraprahasta dengan Wanagiri pasca dibumi hanguskannya Indraprahasta oleh raja Sanjaya, 716 – 746, (Maharaja Sunda – Galuh, yang kemudian menjadi raja di Pulau Jawa), karena Indraprahasta dianggap pendukung penting dari kekuatan pasukan Purbasora yang berhasil mengusir Sena, ayah Sanjaya dari tahtanya.

Kaitan Indraprahasta didalam pemberontakan ini karena raja Padmahariwangsa (732-744), raja Indraprahasta mempunyai putri sulung (Citrakirana) dipersunting oleh Purbasora (Galuh). Anak kedua diberinama Wirata, dikemudian hari bertahta sebagai raja Indraprahasta ke-14. Sedangkan putri bungsunya bernama Gangga Kirana dipersunting oleh Adipati Kusala raja Wanagiri, bawahan Indraprahasta. Pasca penghancuran Indraprahasta dan terbunuhnya Purbasora dan Wirata, kemudian Sanjaya mengangkat Kusala sebagai penguasa Indraprahasta dan Wanagiri dan berkedudukan di Wanagiri, ketika itu sudah menjadi bawahan Galuh.

Tentang Cirebon Girang pada periode berikunya disebut-sebut memiliki kaitan dengan keturunan dari Prabu Guru Pangadiparamarta Jayadewabrata atau Sang Bunisora yang bertahta di Kerajaan Sunda-Galuh (1357 – 1371). Sang Bunisora ketika itu bertindak sebagai pengganti raja setelah kakaknya (Prabu Wangi) gugur di Palagan Bubat.

Sang Bunisora dikenal pula sebagai Pandita Ratu yang memiliki sebutan tinggi keagamaan di jamannya, ia pun sangat toleran terhadap pemeluk agama lainnya, bahkan salah satu putranya, yakni Sang Bratalagawa, putera kedua Sang Bunisora yang usianya dua tahun lebih muda dari sang Mahaprabu Niskala Wastu Kancana, disebut sebut sebagai Haji Galuh Pertama dan dikenal dengan sebutan Haji Purwa Galuh.

Sang Bunisora dari permaisuri diantaranya peroleh putera, diantaranya ialah Giridewata atau Ki Gedeng Kasmaya, yang menjadi penguasa kerajaan Cirebon Girang. Perubahan dari Wanagiri menjadi Carbon Girang setelah Ki Gedeng Kasmaya memiliki anak pertama bernama Ki Gedeng Carbon girang hasil perkawinannya dengan Ratna Kirana Puteri Prabu Gangga Permana. Berakhirnya Keraton Carbon Girang diperkirakan tahun 1445.

Pasca Pangeran Walangsungsang (wafat 1529) diangkat menjadi Kuwu Carbon II dengan gelar Pangeran Cakrabuwana menggantikan Ki Danusela, maka pada tahun 1447, wilayah carbon Girang disatukan dibawah kekuasaan Kuwu Carbon II. Untuk kemudian pada tahun 1454 ia diangkat oleh Raja Pajajaran (Prabu Silihwangi) untuk menjadi Tumenggung diwilayah tersebut dengan gelar Sri Mangana. Cirebon Girang sekarang hanya tinggal sebuah nama desa yang terletak di Cirebon Selatan.


Peta kuno Jawa (1598,  1612, 1614, 1650, 1660, 1800-an, abad ke-18, 1840) klik di sini

Jawa, awal abad ke-18

1234


Sumber

– Sejarah kerajaan Cirebon Girang: http://westjavakingdom.blogspot.com/2011/07/kerajaan-cirebon-girang.html
– Sejarah kerajaan Cirebon Girang: http://akibalangantrang.blogspot.com/2010/03
– Sejarah kerajaan Cirebon Girang: https://www.facebook.com/259859720725460/posts/sejarah-desa-cirebon-girang-talun-eksistensi-cirebon-girang-didalam-buku-rintisa/418909271487170/


Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: