Sejarah lengkap kerajaan Kendahe

 – Sumber: barta1.com/2020/01/05/sekilas-sejarah-kerajaan-islam-kendahe-di-pulau-sangihe-1570-1893

————————————————-

Kendahe (1600), salah satu dari dua kerajaan Islam di pulau Sangihe pernah eksis selama ratusan tahun. Wilayahnya melebar hingga ke Filipina Selatan.

Pada 2006, dan tahun-tahun berikutnya, saya melakukan perjalanan ke Kendahe. Dan sejatinya, Kendahe hari ini masih lekat dengan akar sejarah dan budaya Islam peninggalan masa lalu. “Itu yang menarik apabila membincangkan Kendahe,” ujar Sjahrul Ponto.

Sudah cukup lama saya mengenal Sjahrul Ponto, budayawan Sangihe dari keturunan raja-raja Kerajaan Kendahe. Ia mengatakan, siar Islam berkembang luas di kepulauan ini pada zaman raja Syarif Achmad Mansyur (Egaliwutang=Mehegalangi).

Syarif Achmad Mansyur memerintah pada 1600-1640. Raja ini adalah anak dari Sultan Syarif Maulana dari kesultanan Mindanao. Permaisyurinya anak dari raja Tahuna, Tatehe Woba bernama Taupanglawo.

“Hingga kini, wilayah Kendahe dan Tabukan Utara merupakan pusat kebudayaan Islam di kepulauan Nusa Utara. Peninggalan syair-syair tua bernuansa Islam merupakan bagian dari kekayaan khazanah sastra purba Nusa Utara,” ungkap dia.

Sementara, pengaruh Islam di Nusa Utara tidak saja berasal dari kawasan selatan Filipina, tapi juga dari kesultanan Ternate dan Tidore, tambahnya.
Melewati hari-hari yang panjang di Kendahe bersama Sjahrul Ponto, beruntung saya bisa menulis beberapa sajak tentang negeri indah bernuasa Islami itu, diantaranya sajak berikut ini:

MAULANA

Fatimah di mantra api
memancar siar suci selatan negeri
muadzin melantun adzan
sakralah langit Kandahar
dalam sajaksajak maulana

Egaliwutang Taupanglawo
bersujud lima cahaya timur
menyingkap fajar istana Aling
di jejak tasauf sultan syarif
menyingsing pagi kaum fakir

membram surga bergetar di doa malam maulana
pucukpucuk daihango di kedalaman jurang
menyaksikan jibril berkuda kencana
berpacu dari arah qiblat
menjemput dzikir Kandahar
di atas baitbait Al-Fateha

seorang lelaki bersorban putih
muncul di syair puncak Awu

di balik surau keramat
yang dijaga Islam tua.

Beberapa situs di Mindanao menyebut Kendahe sebagai Candahar. Awalnya, kerajaan Kendahe merupakan bagian dari kerajaan Mindanau Tubis, Filipina.

Setelah berpisah dengan kerajaan Tubis, menurut data Situs Sangir, wilayahnya tinggal terdiri dari Bahu, Talawid, Kendahe, Kolongan, Batuwukala dan pulau-pulau sekitarnya termasuk Kawio, Lipang, Miangas sampai sebagian Mindanau Selatan.

Merujuk pada data Valentijn, wilayah kerajaan Kendahe di Mindanao yaitu Coelamang, Daboe (Davao), Ijong, Maleyo, Catil dan Leheyne. Kerajaan ini berpusat di Makiwulaeng dengan raja pertama Wagania (1570-1600). Terletak di barat laut pulau Sangihe, diperinci dari Kontrak November 1885 dengan Residen Manado, van der Wijck.

Datu Jamal Ashley Abbas dalam historiografi yang diiterbitkan The Philippine Post, 26 Desember 1999 mengungkap, pada abad 16 di pulau Sarangany dan Balut, Candahar merupakan kerajaan yang kuat memegang kekuasaan di pesisir timur Mindanao (sampai Tandag), Teluk Sarangani, Teluk Butuan (sekarang Teluk Davao) dan bahkan di wilayah Sangir, pulau-pulau di Maluku Utara.

Penduduk kedua pulau itu tulis Abbas, berbicara bahasa Sangil atau Sangir. Bahkan ungkap dia, bahasa Sangir ketika itu, diucapkan oleh sekitar 200.000 orang Sangir di Maluku. Pada tahun 1575, Sultan Bajang Ullah yang tangguh dari Ternate membuat sebuah perjanjian pertahanan bersama dengan Datu dari Sarangani atau raja dari Candahar, yang ibukotanya berada di pulau Balut.

Abas memerinci, di masa lalu, Magu Penguasa indanao’s, Buayan’s, Sarangany, Candahar dan Sangir adalah satu keluarga. Misalnya, pada paruh kedua abad ke-17, anak-anak Datu Buisan dari Sarangany a.k.a. raja Candahar ada di seluruh wilayah ini. Anak-anaknya termasuk Kudjamu, Rajah dari Buayan; Samsialam dan Makabarat, co-penguasa Buayan yang kemudian memilih tinggal di Ternate; dan Pandjalang Perdana Menteri Tabukan di Sangir Utara.

Anak perempuannya menikah dengan Sultan Barahaman dan Katchil Bakaal dari Maguindanao, dan Sultan Tabukan. Putri kesayangannya, Lorolabo, yang menikah dengan sultan Tabukan, memiliki seorang putra, Joannes Calambuta, yang kemudian dipilih Buisan untuk menggantikannya sebagai Rajah dari Candahar. Rajah Buisan adalah putra Datu Buisan dari Davao.

Jejak-jejak Islam

Sejak abad ke 16 Sangihe sudah mengenal Islam. Masuk lewat jalur perdagangan dan pelayaran. Terutama, lewat jalur Filipina dari utara dan jalur selatan melalui Ternate. “Bulan Sabit di Nusa Utara, Perjumpaan Islam dan Agama Suku di Kepulauan Sangihe dan Talaud. (2010)” karangan Dr. Ivan R.B. Kaunang, S.S. M. Hum, salah satu dari sedikit literatur yang membincangkan Islam di negeri itu.

Kerajaan Kendar atau Kendahe (1600) dan Kerajaan Tabukan (1530), ungkap Kaunang, merupakan 2 kerajaan Islam di pulau Sangihe yang pernah eksis selama ratuhan tahun. Jejak kebudayaan Islam Sangihe Talaud memang terlihat jernih hingga kini, selain pada puisi-puisi mantra, artefak kerajaan, juga pada sejumlah tradisi profetis Islami yang masih terpelihara.

Jauh sebelum bangsa Barat datang ke Nusantara, penduduk di Kepulauan Sangihe dan Talaud telah lama membangun hubungan dagang dengan para pedagang asing dari Cina, Arab, India dan pedagang pribumi seperti Makassar, Jawa, dan lainnya yang berkunjung ke daerah tersebut. Di era itulah Islam mulai menyentuh Sangihe Talaud.

Penulis “Onze Zendingsvelden De Zending op de Sangi – en Talaud- eilanden” D. Brilman mengungkap, sebelum Ferdinand de Magelhaes sampai ke pulau-pulau ini pada 1521, orang Cina dan Arab sudah lama berdagang dengan penduduk Sangihe Talaud dan kawin mawin dengan penduduk pribumi setempat. Penduduk pulau-pulau ini juga sudah berhubungan dengan para penangkap ikan paus dari Amerika.

Mengutip laporan pelaut Pieter Alstein dan David Haak pada tahun 1689, Brilman menyebutkan di era itu penduduk Sangihe Talaud telah melakukan pelayaran dengan perahu-perahu milik mereka sampai ke Batavia, Malaka, Manila, dan Siam.

Sementara dalam catatan Kaunang, pasca-runtuhnya kerajaan Islam Demak pada 1546 para pedagang dan ulama serta pejuang Islam mulai mengalihkan perhatian mereka ke melayau, Aceh, Makassar, Kalimantan, Maluku sampai Sulu-Filipina lewat aktivitas perdagangan.

Perkembangan Islam di Maluku terutama di Ternate dan Tidore awal abad 15, tulis dia, menyebabkan mata rantai pulau-pulau yang berdekatan dengan Ternate terutama pantai-pantai di Sulawesi mulai mengenal Islam.

Sangihe Talaud sebagai daerah di tepian perlintasan antara Jalur Utara Filipina dan Jalur Selatan Ternate sebagai pusat Islam di Indonesia Timur menjadi muasal persentuhan dengan Islam pada kurun awal ungkap penulis Drs Alex J. Ulaen DEA dalam “Nusa Utara Tepian Perlintasan” (1997).Tepian perlinatasan itu, tulis Ulaen, terletak pada jalur pelayaran dari daratan Cina Selatan ke Kepulauan Maluku melalui Laut Cina Selatan, Laut Sulu, Laut Sulawesi, dan Laut Maluku. Sangihe Talaud menjadi tempat persinggahan para pelaut dan pedagang ini.

Tetang Jalur Utara Kesultanan Sulu-Mindanau, Filipina Selatan yang berperan besar sebagai pintu masuk agama Islam ke kepulauan Sangihe Talaud, Sulawesi Utara, juga terungkap dalam Seminar Sejarah Nasional III tahun 1981 di Jakarta.

Seminar itu menyimpulkan, Kepulauan Sangihe Talaud pada abad ke 16 sudah mengenal Islam. Masuk lewat jalur perdagangan dan pelayaran pada masa itu yang turut membawa kebudayaan Islam lewat jalur Filipina dari utara dan jalur selatan melalui Ternate.

Sejumlah sumber sejarah juga menyebutkan, penyebaran agama Islam di Kepulauan Sangihe Talaud erat hubungannya dengan kegiatan perdagangan laut terutama sejak kejatuhan Malaka ke tangan Portugis (1511). Kegiatan perdagangan memungkinkan adanya kontak dengan pelaut dan pedagang – pedagang asing, termasuk pelaut dan pedagang yang memperkenalkan agama Islam.

Namun sebagaimana sentil Kaunang, sumber sejarah mengenai hal ini hanyalah berupa historiografi lokal maupun peninggalan purbakala yang masih terbatas jumlahnya. Salah satu di antaranya adalah peninggalan situs bekas istana kerajaan Islam terbesar, yakni kerajaan Tabukan di Pulau Sangir Besar.

Menurut Tumenggung Sis, kutip Kaunang, agama Islam masuk ke Nusa Utara (Sangihe Talaud) pada akhir abad ke- 15 di Kerajaan Tabukan dan mencapai puncak kemantapan pada pertengahan abad ke- 16, yakni tahun 1550.

Melalui suatu kurun waktu yang panjang, papar dia, Kerajaan Kendahe dan Tabukan khususnya, dan umumnya Kepulauan Sangihe dan Talaud, menerima pengaruh Islam dari dua jurusan. Pertama, agama Islam masuk dari arah utara, yakni dari Kedatuan Sulu-Mindanao, setelah melalui suatu perjalanan yang panjang dari Malaka, Brunei, Sulu, Mindanao, Sangihe dan Talaud yang diperkirakan pada akhir abad ke- 15.

Sumber–sumber lokal mencatat hubungan pertama dengan agama Islam yang datang dari kesultanan Sulu-Mindanao dimulai akhir abad 15 yang bermuara di Kedatuan Lamauge pada masa Datu-Raja Taboi memerintah, dalam wilayah kekuasaan Kedatuan Tabukan. Selain Kedatuan Lumauge, Kedatuan Kendahe juga mendapat pengaruh Islam yang di bawah oleh Syarif Mansur Ali, seorang bangsawan muslim bergelar kulano dari Kedatuan Mindanao.

Pada masa kedatangan Syarif Mansur Ali, jelas Kaunang, Kedatuan Kendahe di bawah kekuasaan seorang kulano-datu bernama Wagama. Kulano-datu Wagama kemudian digantikan oleh Syarif Mansur Ali dan agama Islam pun mulai menyebar sampai Kedatuan Talawide.

Pada masa Mansur Ali, agama Islam pun selain dianut oleh raja, bangsawan dan kerabatnya, juga telah mendapat simpati dari rakyat dalam kehidupan bermasyarakatnya, walaupun disadari masih ada yang menganut agama tradisional yang percaya pada kuasa aditinggi I Gengghonalangi Ruata (Dia Pencipta yang berkuasa di atas langit dan bumi).

Selain Syarif Mansur Ali, tulis dia, dikenal juga tokoh pribumi sezaman yang turut mengislamkan Nusa Utara. Nama tokoh tersebut adalah Umar Massade atau Mas’ud yang kemudian lebih akrab dikenal dengan panggilan Imam Massade. Dijelaskan, Pada umur enam belas tahun, Massade dari Kerajaan Lamauge pergi belajar dan berguru agama Islam di Tugis-Mindanao atau Tubis menurut sebutan orang Sangir, kemudian ke Ternate dan menyempatkan diri naik haji ke Mekkah.

Ini sebabnya, ungkapnya, boleh jadi sebelum agama Islam diperkenalkan oleh para mubalig dari Suku-Mindanao, agama Islam telah dianut oleh sebagian kecil masyarakat secara individu dalam rangka hubungan perdagangan dan dilanjutkan dengan hubungan – hubungan perkawinan dengan wanita – wanita pribumi.

Lebih jauh, selain Imam Massade atau Mas’ud, dikenal juga tiga orang imam yang pernah berguru dan mendalami dasar – dasar keislaman di Kedatuan Sulu dan Mindanao. Ketiga orang imam tersebut adalah Imam Hadum atau Hadung, Imam Mahdum atau Makhung, dan Imam Biangkati.

Dalam sejarah lokal Filipina, tulis Kaunang, abad ke- 13 sampai abad ke- 16 banyak pedagang – pedagang Islam yang datang ke Kalimantan terus melanjutkan perjalanan ke Sulu-Filipina dalam perjalanan mereka ke utara menuju Cina. Selanjutnya dijelaskan, selain para pedagang Islam tersebut, pada pedagang Islam yang berasal dari Indonesia, yang pulau–pulaunya berdekatan, juga datang di Kedatuan Sulu dalam rangka penyebaran agama Islam. Disebutlah salah satu nama yang datang, yakni Mahdumin, yang ajarannya banyak dipengaruhi oleh sufisme.

Mahdumin, selain mengajarkan unsur–unsur dasar Islam, juga mendirikan masjid–masjid sederhana. Dapat dipastikan nama ini adalah Mahdum atau Makhung yang dikenal sebagai imam yang menyebarkan agama Islam di Sangihe Talaud.

Akan tetapi, ungkap dia, dalam tempo yang tidak begitu lama, agama Islam harus berbenturan dengan bangsa – bangsa Barat yang membawa panji – panji Salib, yang juga mempunyai kepentingan ekonomi, politik, dan meyebarkan agama Katolik, Protestan di wilayah ini.

Bergabung Dengan Kerajaan Tahuna

Kandahe -Taruna adalah dua kerajaan bertetangga di pulau Sangihe yang pernah saling bersaing, tapi kemudian disatukan jadi satu kerajaan. Kedua kerajaan kecil saja. Pada tahun 1898 Kerajaan Kendahe dan Kerajaan Taruna digabung menjadi satu. Di dua wilayah inilah tahun 1919 Raja Soleman Ponto memerintah dengan pusatnya di Kota Tahuna kini.

Tabukan dan Kendahe di Sangihe Besar, kental mendapat pengaruh sistem kekuasaan di Sulu dan Mindanao. Meski kalau ditelusuri lebih dalam semua silsilah raja-raja Sangihe-Talaud, Siau, Bawontehu (Manado) dan para keturunan Mokoduludug, praktis semua terkait kawin-mawin dengan para penguasa di Mindanao.

Kendati demikian, penting digarisbawahi pada waktu lalu konsep kekuasaan tidaklah total dipahami sebagai kekuasaan kewilayahan dalam pemahaman kini. Kala itu, kekuasaan dominan terkait dengan kemampuan membentuk kekuatan bersenjata untuk merebut kendali atas perdagangan tenaga kerja budak dan monopoli atas produk-produk dagang.

Maselihe( Laut Berarus) adalah sebutan lain untuk kerajaan Kendahe (Kendar-Kandahar). Di masa raja ke IV Samensi Alang (Sam Syah Alam) yang memerintah pada tahun 1688-1711, istana kerajaan Kendahe yang berada di tepi pantai tenggelam dan amblas ke dalam laut bersama daratan Kendar lama akibat letusan gunung Awu pada tahun 1711 dan letusan susulan pada beberapa masa berikutnya.