Tanoh Jawa, kerajaan / Prov. Sumatera Utara – kab. Simalungun

Kerajaan Tanoh Jawa adalah kerajaan Suku Simalungun, marga Sinaga; terletak di Sumatera, Kab. Simalungun, prov. Sumatera Utara.
Kerajaan Tanoh Jawa berdiri sekitar abad ke-14, rajanya bermarga Sinaga Dadihoyong menjemput isteri puteri Raja Bandar marga Damanik Bariba.

The kingdom of Tanoh Jawa was a kingdom on Sumatera, of the Simalungun People, Sinaga clan, located in Kab. Simalungun. North Sumatera Province.
For english, click here

Kab. Simalungun


* Foto kerajaan Tanoh Jawa: link
* Foto raja-raja di Simalungun dulu: link

* Foto sultan dan raja yang masih ada di Sumatera: link
* Foto sultan dan raja di Sumatera dulu: link
* Foto raja-raja kerajaan kecil di Aceh dulu: link

* Foto perang Aceh – Belanda, 1873-1904: link
* Foto situs kuno di Sumatera: link


Tentang Raja

Tidak ada info tentang pewaris atau keturunan kerajaan ini.

Raja terakhir Tanoh Jawa: Tn Sang Madjadi, raja dari 1941 s/d 1947.

Radja Kaliamsjah Sinaga/Radja Terakhir Keradjaan Tanah Djawa dari th 1941 s/d 1947 beserta Poeang Bolon/Permaisuri, Poeang Bolon Salimah Damanik adalah Putri Dari Tn Sawadin Damanik ( Radja dari Keradjaan Siantar yg terakhir ). Posted By Ridwan Helmi Ratu Agung


Sejarah kerajaan Tanoh Jawa

Umum

Kerajaan Nagur, 500-1400, (marga Damanik) merupakan cikal bakal kerajaan di Simalungun berikutnya.
Nagur kemudian pecah menjadi dua:
* kerajaan Si Tonggang; kerajaan ini beralih menjadi kerajaan Siantar.
* kerajaan Batanghio (marga Saragih). Kerajaan Batangio menjadi: kerajaan Tanah Jawa.
* Belakangan Nagur pecah lagi menjadi Silau, 1300-1400.
Adapun Silau pecah lagi menjadi Panei dan Dolok Silau. Belakangan setelah masuknya Belanda vasal Silau yakni Purba, Raya dan Silimakuta diakui swapraja oleh Belanda.

Sejarah kerajaan Tanoh Jawa

Kerajaan Tanoh Jawa berdiri sekitar abad ke-14, rajanya bermarga Sinaga Dadihoyong menjemput isteri puteri Raja Bandar marga Damanik Bariba.

Kerajaan Tanah Jawa marga Sinaga dengan wilayah bagian hilir pantai Timur Sumatera sampai ke pegunungan Simanuk-manuk terus ke laut tawar sekitar daerah Panahatan perapat. Menurut versi Simalungun, Sinaga menjadi salah satu dari 4 marga asli suku Simalungun saat terjadi “Harungguan Bolon” (permusyawaratan besar) antara 4 raja besar (Raja Nagur, Raja Banua Sobou, Raja Banua Purba, Raja Saniang Naga) untuk tidak saling menyerang dan tidak saling bermusuhan (marsiurupan bani hasunsahan na legan, rup mangimbang munssuh).

Keturunan dari Raja Saniang Naga di atas adalah marga Sinaga di kerajaan Tanah Jawa, Batanghio di Asahan. Saat kerajaan Majapahit melakukan ekspansi di Sumatera pada abad ke-14, pasukan dari Jambi yang dipimpin Panglima Bungkuk melarikan diri ke kerajaan Batanghiou dan mengaku bahwa dirinya adalah Sinaga.
Menurut Taralamsyah Saragih, nenek moyang mereka ini kemudian menjadi raja Tanoh Djawa dengan marga Sinaga Dadihoyong setelah ia mengalahkan Tuan Raya Si Tonggang marga Sinaga dari kerajaan Batangiou dalam suatu ritual adu sumpah (Sibijaon). Walaupun begitu ada juga yang menyebutkan bahwa Sinaga keturunan raja Tanoh Djawa berasal dari daerah Naga Land (Tanah Naga) di India Timur yang berbatasan dengan Myanmar (Wikipedia: Sinaga). Raja pertama dari kerajaan Tanah Jawa ialah Tuan Sorgalawan Sinaga. Tuan Kaliamsjah merupakan raja ke-12 hingga terjadinya revolusi berdarah, tahun 1946.

Tampak palas/umpak batu pondasi bekas Istana/Rumah Bolon Kerajaan Tanoh Jawa di huta Pamatang Tanoh Jawa.
– Sumber: http://maroeboen.blogspot.com/2012/08/penelusuran-situs-kerajaan-tanoh-jawa.html

Afbeeldingsresultaat voor kerajaan tanoh jawa


Daftar raja kerajaan Tanoh Jawa

Raja ke-1: Sorgalawan, kemudian:
Raja ke-2: Djontaboelan dilanjutkan oleh:
Raja ke-3: Sorgahari. Sorgahari mempunyai anak laki-laki 2(dua) orang, yang pertama bernama Oesoel dan yang kedua bernama Djintanari. Setelah Sorgahari wafat, anak pertama Sorgahari bernama Oesoel menjadi:
Raja ke-4: Oesoel,dan setelah Oesoel wafat tahta kerajaan dilanjutkan oleh adiknya bernama Djintanari menjadi:
Raja ke-5: Djintanari.
Raja ke-6: bernama Timboel beliau adalah putra dari Djintanari. Raja ke-6 ini mempunyai putra sebanyak 5 (lima) orang. Setelah raja ke-6 wafat tahta kerajaan jatuh kepada anak keduanya yang bernama Podang rani menjadi:
Raja ke-7: Podang, setelah Podang rani wafat maka beliau digantikan oleh abang tertuanya bernama Horpanaloean menjadi:
Raja ke-8: Horpanaloean.
1907-1912: Raja ke-9: Tuan Sanggah Goraha.
1912-1917: Raja ke-10: Tuan Djintar. Setlah beliau wafat:
1918-1919: Setelah Tuan Djintar wafat, Kerajaan Tanah Jawa untuk sementara dipangku langsung oleh permaisurinya yaitu Puang Bolon boru Damanik dari Bandar dari tahun 1918 sampai dengan tahun 1919.
1919/1920: Tuan Sangmadjadi diangkat menjadi Pemangku Kerajaan Tanah Jawa.
Pada tanggal 27 Juli 1921 Tuan Sangmajadi menandatangani Korte Verklaring yang kemudian disyahkan oleh Pemerintah tertinggi Belanda dengan Gouverments Besluit No.23 bulan Januari 1922,sejak penanda tanganan Korte Verklaring tersebut maka telah syahlah Tuan Sangmadjadi menjadi:
– Raja ke-11: Tuan Sangmadjadi.

Pada tahun 1940 sebelum beliau wafat, beliau pernah mendapatkan penghargaan dari Pemerintah Belanda berupa sebuah Tongkat Kerajaan berbalut emas dan Payung Kerajaan yang berwarna keemasan. Tuan Sangmajadi wafat tahun 1940 meninggalkan tiga orang putra.
Setelah Tuan Sangmadjadi wafat Kerajaan Tanah Jawa dipangku oleh putra tertua beliau yang bernama Tuan Kaliamsjah sampai terjadinya revolusi, tahun 1946.
Daftar raja: link
Daftar raja: link

Oppung Sang Madjadi Radja Tanah Djawa ( dari th 1919 s/d 1940 ) beserta putra2nya, berdiri paling kiri Radja Kaliamsjah Sinaga, berdiri tengah Omsjah Sinaga, berdiri paling kanan Kalam Sinaga Catatan : Radja Kaliamsjah Sinaga dinobatkan menjadi Radja di Kerajaan Tanah Djawa pada Juli 1941.( 1941 s/d 1947 )

——————–
Stempel kerajaan Tanah Djawa dan Tanda Tangan T Sang Madjadi tanggal 2 Maret 1934 atas Perjanjian Tambahan atas Perkebunan Permanangan Register no 56, Sesuai Perjanjian dibawah tangan dng NILS tanggal 12 Agust 1912. Posted By Ridwan Helmi Ratu Agung


Sejarah kerajaan-kerajaan Simalungun

Batak Simalungun adalah salah sub Suku Bangsa Batak yang berada di provinsi Sumatera Utara,  yang menetap di Kabupaten Simalungun dan sekitarnya. Beberapa sumber menyatakan bahwa leluhur suku ini berasal dari daerah India Selatan tapi ini hal yang sedang diperdebatkan. Sepanjang sejarah suku ini terbagi ke dalam beberapa kerajaan. Marga asli penduduk Simalungun adalah Damanik, dan 3 marga pendatang yaitu, Saragih, Sinaga, dan Purba. Kemudian marga marga (nama keluarga) tersebut menjadi 4 marga besar di Simalungun.

Dalam sejarahnya Simalunun ada 3 (tiga) fase kerajaan yang pernah berkuasa dan memerintah di Simalungun.

1) Fase pertama adalah fase kerajaan yang dua (harajaon na dua), yaitu:

* kerajaan Nagur, 500-1400 (marga Damanik). Kerajaan ini merupakan cikal bakal kerajaan di Simalungun berikutnya.
Nagur kemudian pecah menjadi dua:
* kerajaan Si Tonggang; kerajaan ini beralih menjadi kerajaan Siantar.
* kerajaan Batanghio (marga Saragih). Kerajaan Batangio menjadi: kerajaan Tanah Jawa.
* Belakangan Nagur pecah lagi menjadi Silau, 1300-1400.
Adapun Silau pecah lagi menjadi Panei dan Dolok Silau. Belakangan setelah masuknya Belanda vasal Silau yakni Purba, Raya dan Silimakuta diakui swapraja oleh Belanda.

2) Fase kedua: pada masa setelah abad ke-14, muncullah empat raja utama di Simalungun; di mana Nagur masih tetap ada, tetapi peranannya sudah semakin menghilang. Keempat raja itu adalah:

* kerajaan Siantar (marga Damanik),
* kerajaan Panai (marga Purba Dasuha),
* kerajaan Dolok Silou (marga Purba Tambak), dan
* kerajaan Tanoh Jawa (marga Sinaga).

3) Fase ketiga: fase ini berkaitan dengan kolonial Belanda di Simalungun.
Tahun 1865 kolonialisme Belanda mulai memasuki wilayah  Simalungun. Sejak   masuk intervensi Pemerintahan Kolonial banyak terjadi perubahan –perubahan yang signifikan di Simalungunadalah kerajaan yang tujuh (harajaon na pitu), yaitu:

* kerajaan Siantar (marga Damanik),
* kerajaan Panai (marga Purba Dasuha),
* kerajaan Dolok Silou (marga Purba Tambak),
* kerajaan Tanoh Jawa (marga Sinaga),
* kerajaan Raya (marga Saragih Garingging),
* kerajaan Purba (marga Purba Pakpak) dan
* kerajaan Silimakuta (marga Purba Girsang).

Keadaan seperti ini berlanjut hingga memasuki tahun 1946 sehingga mendorong kebencian masyarakat terhadap golongan elit. Sejalan dengan itu, berkembangnya pemahaman politik pada waktu itu, turut pula menyulut keprihatinan terhadap perbedaan kelas yang didorong oleh keinginan untuk menghapuskan sistem feodalisme di Sumatera Timur.
Demikianlah hingga akhirnya terjadi peristiwa berdarah yang meluluhlantakkan feodalisme di Sumatera Timur terutama pada rakyat Simalungun dan Melayu. Pada peristiwa tersebut empat dari tujuh kerajaan Simalungun yaitu Tanoh Jawa, Panai, Raya dan Silimakuta pada periode ketiga ini musnah dibakar. Sementara Silau, Purba dan Siantar luput dari serangan kebringasan massa. Raja dan kerabatnya banyak dibunuh. Peristiwa ini menelan banyak korban nyawa, harta dan benda.

Tiga fase kerajaan2 di Simalungun

Fase Nama Kerajaan Marga Pemerintah
I Kerajaan yang dua Nagur Damanik
Batanghoiu Saragih
II Kerajaan yang empat Siantar Damanik
Tanoh Jawa Sinaga
Dolog Silau Tambak
Panai Dasuha
III Kerajaan yang tujuh Siantar Damanik
Tanoh Jawa Sinaga
Dolog Silau Tambak
Panai Dasuha
Raya Garingging
Purba Pakpak
Silimakuta Girsang

 


Daftar kerajaan-kerajaan di wilayah Simalungun

* Aji Sinombah
* Bandar
* Batanghio
* Dolog Silou
* Maligas
* Marompat
* Marpitu
* Marubun
* Nagori Bayu
* Nagur
* Panei
* Purba
* Raya
* Siantar
* Sidabutar
* Sidamanik
* Silimakuta
* Silou Kahean
* Silou
* Sipolha
* Tanoh Jawa

– Sejarah Suku Simalungun di Wiki: Wiki
Marga marga Simalungun: link
Sejarah marga Purba di Wiki: Wiki
Sejarah marga Saragih di Wiki: link
Sejarah marga Sinaga di Wiki: link
Asal usul marga Sinaga: http://lagusimalungunmp3.blogspot.co.id/2013/01/asal-usul-marga-sinaga.html
Sejarah marga Damanik di Wiki: link
Asal usul bangsa Simalungun: link

1.Tn Gomok Saragih Garingging I Pematang Raya Radja Raya
2.Tn Bosar Sumalam Purba Dasuha I Pematang Panei, Radja Panei
3.Tn Sang Madjadi Sinaga Dadihoyong I Pematang Tanah Djawa, Radja Tanah Djawa
4.Tn Ragaim Purba Tambak I Pematang Dologsilou, Radja Dologsilou
5.Tn Padiraja Purba Girsang I Naga Saribu, Radja Silimakuta
6.Tn Sawadin Damanik I Pematang Siantar, Radja Siantar
7.Tn Karel Tanjung ( Parjabayak ) Purba PakPak I Pematang Purba. Radja Purba.


Kab. Simalungun, wilayah kerajaan2 di Simalungun


 

Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: