Struktur pemerintahan kerajaan Pagaruyung

———————————————————————————————————————
Sumber: http://budaya-indonesia.org/Tata-Pemerintahan-Pagaruyung/

1) Pemerintahan Pusat

o Raja Tigo Selo: Kepala Pemerintahan.
Ada tiga raja yang bertakhta di kerajaan Pagaruyung, yaituRaja Alam bertempat di Pagaruyung, Raja Adat bertempat di Sumpur Kudus dan Raja Ibadat bertempat di Buo. Ketiganya bersamaan disebut sebagai Raja Tiga Selo. Raja Alam, sebagai pimpinan dari Raja Tiga Selo, memiliki wewenang menjalankan pemerintahan, sementara dua yang lainnya berwewenang menjalankan pemerintahan sesuai dengan bidang masing-masing: Raja Adat di bidang hukum adat dan Raja Ibadat di bidang urusan keagamaan. Namun jika ada persoalan adat atau agama yang tak terselesaikan, ia dikembalikan pada Raja Alam.

o Datuk nan Batujuh: tujuh perwakilan raja, yang disebut Datuk nan Batujuh.
DI kawasan Luhak kelembagaan raja berfungsi sebagai pengatur arbitrase sosial namun tidak memiliki otoritas yang kuat dalam urusan internal desa. Raja Alam hanya memiliki kekuasaan mutlak ke rantau nagari melalui perwakilan yang juga berperan sebagai raja. Perwakilan yang memerintah wilayah rantau, yakni Rantau nan kurang aso duo puluah, Rantau duo baleh koto, Rantau Juduhan, Rantau Bandaro nan 44, Nagari Sembilan, Bandar X, Bayang nan Tujuh.

o Datuk Nan Barampek: Empat jabatan kerajaan yang berfungsi untuk urusan rumah tangga.

o Basa Ampek Balai: dewan kementerian kerajaan yang berfungsi sebagai lembaga eksekutif dan bertanggung jawab menjalankan pemerintahan harian. Dewan Basa Ampek Balai terdiri dari empat anggota, yaitu:
– Bandaharo: perdana menteri dan menjadi pemimpin Basa Ampek Balai, bertempat di nagari Sungai Tarab
– Makhudum: menteri urusan luar negeri, bertempat di nagari Sumanik.
– Indomo: menteri urusan hukum adat, bertempat di nagari Saruaso.
– Tuan Kadi: menteri urusan keagamaan, bertempat di Padang Ganting.

o Wilayah Khusus: kelompok nagari seperti Langgam Nan Tujuh dan Tanjuang Nan Ampek, Lubuak Nan Tigo berada langsung di bawah otoritas raja. Langgam Nan Tujuh merupakan 7 kepala nagari Koto Piliang yang bertempat di Luhak Tanah Data dan bertanggung jawab mengurusi urusan khusus seperti:
– Datuk Bandaro Putih bergelar Pamuncak Koto Piliang: kepala nagari Sungai Tarab yang bertanggung jawab sebagai perdana menteri kerajaan Pagaruyung dan memimpin sekaligus lareh Koto Piliang.
– Tuan Gadang bergelar Harimau Compo Koto Piliang: kepala nagari Batipuh X Koto yang juga menjadi panglima angkatan bersenjata Pagaruyung
– Pasak Kungkung Koto Piliang: kepala nagari Sungai Jambu yang bertanggung jawab untuk urusan budaya dan pendidikan
– Perdamaian Koto Piliang: kepala nagari Supayang memimpin fungsi peradilan.
– Cemeti Koto Piliang: kepala nagari Sulik Aie yang memimpin tugas-tugas kepolisian.
– Camin Tarui Koto Piliang: kepala nagari Singkarak yang bertanggung jawab untuk urusan investigasi dan pemeriksaan.
– Gajah Tongga Koto Piliang: kepala nagari Silungkang yang berfungsi sebagai penasihat pemerintahan.
Tanjuang Nan Ampek, Lubuak Nan Tigo merupakan 7 kepala nagari Bodi Chaniago yang berlokasi di Luhak Tanah Data, yaitu kepala nagari Tanjuang Alam, kepala nagari Tanjuang Sungayang, kepala nagari Tanjuang Barulak, kepala nagari Lubuak Sikarah, kepala nagari Lubuak Simauang dan kepala nagari Lubuak Sipurai.

2) Pemerintah Daerah

Struktur pemerintah daerah kerajaan Pagaruyung adalah sebagai berikut:
o Dewan Penghulu: sebuah majelis Penghulu dari suku-suku di dalam nagari, yang berfungsi sebagai tempat membicarakan hal-hal penting terkait nagari.
o Penghulu Kepala: kepala nagari dan sekaligus Dewan Penghulu
o Penghulu Suku: kepala suku di dalam nagari. Dalam tugasnya, ia dibantuk oleh 3 jabatan suku, yaitu Monti sebagai suku intellectual, Dubalang sebagai suku kepolisian, dan Malin sebagai suku hakim.
o Tua Kampuang: kepala desa, yang dibantu oleh Pandito yang mengurusi ikhwal keagamaan.
o Tungganai: kepaa klan keluarga.

Berdasarkan sistem hukum adat dan luhak di mana nogari berlokasi, ada perbedaan dalam otoritas hirarkis di antra nagari dalam sistem kerajaan Pagaruyung.

Secara formal, otoritas hirarkis di in nagari Koto Piliang terdiri dari 6 tingkatan, yaitu: Dewan Penghulu, kepala nagari, kepala nagari di tiap luhak, Basa Ampek Balai, Raja Duo Selo (Raja Adat dan Raja Agama), dan Raja Alam. Namun ada pula Datuk Bandaro Panjang yang berkedudukan di Biaro yang memimpin secara tradisional adat Koto Piliang dalam luhak Agam. Di sini Raja yang berkedudukan di Lareh Sitanang Muaro Lakin memimpin sistem adat di luhak Limapuluah Koto

Otoritas hirarkis di sistem tradisional Bodi Chaniago, antara lain: Dewan Penghulu, Dewan Luhak dan Dewan Bodi Chaniago. Dewan Penghulu terdiri dari beberapa Penghulu dari masing-masing suku di nagari. Dewan Luhak terdiri dari 3 delegasi dari masing-masing dalam luhak yang sama. Dewan Bodi Chaniago terdiri dari semua anggota Dewan Luhak dan delegasi dari nagari di Bodi Chaniago yang bertempat di luar wilayah Luhak nan Tigo. Ada beberapa Penghulu yang berperan sebagai kepala Dewan Bodi Chaniago di masing-masing level, sebagai berikut:
– Datuk Bandaro Kuniang Gajah Gadang Patah Gadiang: pemimpin terbesar di sistem tradisional Bodi Chaniago yang bertempat di nagari Kuba Rajo.
– Datuak Nan Batigo: gelar tradisional dari tiga Datuk yaitu Datuk nan Dusun Tuo, Datuk nan Paliang, dan Datuk nan Kubu Rajo yang berperan sebagai pemimpin nagari Bodi Chaniago di Luhak Tanah Data.
– Dt. Bandaro Kuniang: pemimpin sistem tradisional Bodi Chaniago di luhak Agam, bertempat di nagari Baso.
– Sistem tradisional Bodi Chaniago di luhak Limapuluah Koto dipimpin oleh Rajo Luhak di Air Tabik Minyak Salabu, Rajo Hulu di Situjuh Bandanyo Dalam dan Rajo Sandi di Sando Payokumbuah.
Lebih jauh, ada pula Datuk Bandaro Kayo dan Marajo Basa di Pariangan Padang Panjang yang berperan sebagai pemimpin sistem adat Lareh nan Panjang di luhak Tanah Data. Lareh nan Panjang di luhak Limapuluah Koto dipimpin oleh Rajo di Ranah Talago Ganting.
———————————————————————————————————————
Pustaka

1. Abidin, H M., ()., Minangkabau dan Sistem Kekerabatan: Hubungan Kekeluargaan Minangkabau, bersuku ke ibu, bersako ke mamak, dan bernasab ke ayah., Draft sumbangan Pikiran untuk Kompilasi ABSSBK
2. Navis,A.A., (1984)., Alam Takambang menjadi Guru; ADat dan Kebudayaan Minangkabau., Jakarta : PT. Grafiti Press
3. Salim, A., ()., Sejarah yang Tercecer., http://www.sumbarprov.go.id/home/detail.asp?iData=498&iCat=480&iChannel=32&nChannel=Artikel
4. Yakub, Nurdin., (1987)., Minangkabau tanah pusaka : tambo Minangkabau., Pustaka Indonesia
5. Sati, Rajo.,()., Tambo Adat Minangkabau tentang Undang-undang No 20 Hukum Alam dan Undang-Undang no.21 tentang Hukum Adat
6. Sairin,S.,(1995)., Demokrasi dalam Perspektif Kebudayaan Minangkabau.,Jurnal Humaniora
7. http://ukm.unit.itb.ac.id/
8. http://www.angelfire.com/id2/adyan/minang/tambo.html

———————————————————————————————————————

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: