Raja Lokongbanua (1510 – 1549)

Tulisan di bawah diambil dari: http://zonautara.com/blog/2017/06/21/kerajaan-siau-raja-lokongbanua-1510-1549/

Penulis: Max Sudirno Kaghoo

Sejak abad ke 15 Pulau Siau dihuni oleh beberapa kelompok keluarga yang disebut balageng. Balageng merupakan kelompok keluarga batih yang membentuk koloni dan menempati suatu tempat kemudian mengatur cara hidup anggotanya secara mandiri. Salah satu balageng yang ternama ialah balageng Sense Madunde.

Sense Madunde ialah keturunan dari Bituing Karamate dan Timudai yang memperanakan Tendeng Sehiwu. Tendeng Sehiwu menikahi Humang Dulage dan memperanakan Makawahe. Makawahe menikahi Bake dan memperanakan Pahawo. Pahawo menikah dengan Nanginduata dan memperanakan Makalangi. Makalangi menikahi Nausuninta dan memperanakan Dalintaung. Dalintaung menikah dengan Pontolumagat dan mendapatkan anak bernama Makaminang. Makaminang menikahi Aloro dan memperanakan Sinalaheng. Sinalaheng menikah dengan Malangurampale dan memperanakan Manganguwi. Manganguwi menikahi Biki-biki dan lahirlah Sense Madunde.

Sense Madunde menjadi seorang Kulano atau pemimpin masyarakat di tempat bernama Pehe. Kulano mirip dengan sebuah clan yaitu kumpulan dari beberapa keluarga dari satu garis keturunan yang sama. Setiap kulano mempunyai satu orang pemimpin yang mengatur tata laksana kehidupan sosial kelompoknya. Dalam satu Kulano terdapat pula seorang wahani atau pemberani yang dianggap sebagai pahlawan. Pernah ada lima Kulano yang tinggal di pesisir Pulau Siau. Kulano-kulano itu antara lain: Kulano Gumabo, Kulano Bowongpansihe, Kulano Kasahu, Kulano Kumbohang dan Kulano Sense Madunde. Struktur kulano lebih luas dari balageng.

Pemimpin dalam satu Kulano itu bertindak sebagai raja-raja kecil di tempat dimana mereka bermukim secara tetap. Kulano Sense Madunde adalah Kulano pertama di Pehe. Sense Madunde menikah dengan Kentenganhiabe atau Puteri Ombunduata. Putra mereka bernama Pahawo yang kemudian disebut dalam dialeg Siau dengan Pahawongsuluge. Setelah Sense Madunde wafat, Pahawonsuluge melanjutkan kepemimpinan ayahnya sebagai Kulano Pehe. Mendiang ayahnya sering menceritakan tentang keberadaan Bowongkehu sebagai tempat asal dari leluhur mereka.

Bowongkehu adalah salah satu kerajaan tertua di jazirah utara Pulau Sulawesi. Kerajaan Bowongkehu eksis sejak tahun 1400 dan berkedudukan di Pulau Manado Tua. Raja pertama Kerajaan Bowongkehu ialah Mokodaludut. Ia mempunyai anak bernama Lokongbanua (sebutlah Lokongbanua I). Lokongbanua I dan dua saudara perempuannya; Uringsangiang dan Sinangiang, dikisahkan berlayar ke utara dan membangun kedatuan-kedatuan di kawasan pulau-pulau di Sangihe, termasuk di Pulau Siau. Kedatuan-kedatuan tersebut menjadi cikal bakal kerajaan di Nusa Utara.

Lalu Pahawonsuluge pergi berlayar ke Bowongkehu dan menetap lama di sana. Ia menikah dengan Puteri raja Bowongkehu bernama Ombunduata. Sebelumnya, ia mengawini Ngiangsinela dan memperanakan Bataha. Bataha mengawini Langingi dan memperanakkan seorang putera bernama Pahawontoka. Pahawontoka menikah dengan Lohoraung, ratu pertama kedatuan Tagulandang. Sedangkan dari Puteri Ombunduata, Pahawonsuluge mendapatkan seorang putera bernama Lokongbanua II, yang menjadi datu pertama di Kedatuan Siau. Kemudian Pahawonsuluge kembali ke Pehe. Sementara Lokongbanua II dan ibunya tinggal di Bowongkehu.

Pada awal abad 15 Lokongbanua II menjadi seorang pemuda dewasa. Ia bertekad keras mencari ayahnya ke Pulau Siau. Suatu hari Lokongbanua II bermimpi, ia akan menjadi Kulano mengganti posisi ayahnya, Pahawongsuluge. Ketika Pahawonsuluge meninggal dunia dan beberapa Kulano di Pulau Siau hidup tidak akur, dan saling serang satu dengan yang lain, maka timbullah keinginan dari Lokongbanua II untuk menyatukan semua Kulano di Pulau Siau itu menjadi satu kekuatan, seperti kekuatan Kedatuan Bowongkehu. Lokongbanua II dibantu pamannya di Bowongkehu yang bernama Mahangsulaeng bersama lima puluh orang bahani Bowongkehu berangkat ke Siau dan mendarat di Katutungan (sekarang bernama Paseng).

Di Katutungan, ia memproklamirkan dirinya sebagai Kulano pengganti Pahawonsuluge, mendiang ayahnya. Lalu dikumpulkannya seluruh kulano-kulano yang ada di Pulau Siau dalam suatu musyawarah mufakat. Melalui musyawarah itu seluruh kulano bersepakat membentuk Kedatuan Siau yang dipimpin oleh seorang Datu. Mereka bermufakat mengangkat Lokongbanua II sebagai Datu. Jadilah Kedatuan Siau yang dimulai pada tahun 1510. Sesudah menyelenggarakan musyawarah mufakat untuk menjadikan dirinya sebagai Datu, Lokongbanua melanjutkan upaya diplomasi dan memproklamirkan Kedatuan Siau ke seluruh penjuru, dari selatan hingga ke utara, ke Kedatuan-kedatuan di pulau-pulau Sangihe dan Mangindano.

Buah diplomasinya itu menghadirkan Ratumbahe, Kulano dari Kolongan untuk berkunjung ke Katutungan. Kulano Ratumbahe menjalin persahabatan dengan Datu Lokongbanua. Ratumbahe mengajak Lokongbanua untuk meminang Puteri Mangindapele dari Mangindano, yang kemudian menjadi permaisuri Lokongbanua. Dari perkawinan ini mulailah terjalin hubungan antara Siau dengan Mangindano.

Dari Mangindapele, Lokongbanua memperanakkan dua pasang anak, masing-masing: Putera: Angkumang dan Posuma, Puteri: Dolongsego dan Basilawewe. Lokongbanua II kemudian mengangkat Angkumang menjadi Jogugu di Ulu. Sedangkan Posuma dipersiapkan menggantikannya menjadi Datu. Puteri bungsunya, Basilawewe menjadi isteri dari Mahadiaponto dari Kabaruan, setelah melalui sayembara gulat, panah dan sepak takraw, yang berhari-hari lamanya. Akhirnya perkawinan Mahadiaponto dan Puteri Basilawewe diselenggarakan dalam istana kedatuan.

Dengan perkawinan Basilawewe itu, Kabaruan menjadi laeking atau “tanah pemberian nikah” oleh Mahadiaponto kepada Datu Lokongbanua. Sedangkan Puteri Dolongsego menikah dengan orang Spanyol yang bernama Pontoralage. Buah perkawinan Dolongsego dan Pontoralage ialah Tatehewoba, raja Tahuna yang pertama. Sedangkan Mahadiaponto dan Basilawewe dikemudian hari, yaitu pada generasi selanjutnya, keturunannya melahirkan seorang panglima kedatuan Siau yang sangat fenomenal, yaitu: Hengkengnaung, Sang Bawata Nusa

Datu Lokongbanua II memerintah sejak tahun 1510 sampai tahun 1545, atau selama 35 tahun lamanya. Pada hari minggu di bulan April 1516, tepat di hari paskah, Spanyol dan Portugis masuk ke Siau untuk kepentingan merayakan Misa Paskah di darat. Mereka diterima oleh Lokongbanua II. Kemudian muncul keinginan besar mereka membangun benteng Gurita di Ondong dan Benteng Santarosa di Lalento. Niat itu mendapat persetujuan dari datu Lokongbanua II pada tahun 1518. Benteng yang hendak dibangun orang Kastila (Spanyol dan Portugis) itu bertujuan untuk menampung hasil bumi berupa pala, cengkeh dan kelapa yang mereka peroleh dari Maluku, Ternate, Tidore dan Sangihe. Kedua benteng itu dijaga oleh 200an orang Spanyol dan Portugis.

Angkumang, anak sulung Lokongbanua II dipercayakan ayahnya menjadi Jogugu di Ulu, sedangkan adiknya, Posuma hidup di dalam istana kedatuan, hingga Lokongbanua II meninggal dunia pada tahun 1949. Dalam kelemahannya karena usia tua, Lokongbanua II tidak meninggalkan pesan kepada anak-anaknya tentang siapa yang akan menggantikan dirinya sebagai datu sesudah masa pemerintahannya.

Pusat kedatuan Lokongbanua II di istana yang tidak jauh dengan lokasi rumah kediaman Bupati Kabupaten Kepulauan Sitaro di Paseng saat ini. Itu adalah pilihan lokasi yang tepat mengikuti jejak leluhur. Saat ini, kediaman bupati disebut pendopo yang dibangun selama 6 tahun sejak Kabupaten Sitaro diresmikan dan ditempati oleh bupati untuk pertama kali pada tahun 2014.

Makam Lokongbanua berada di kampung Paseng. Makam ini dibangun di atas tanah seluas 150 m2 di atas tanah pamili (keluarga) milik dari keturunan raja, yang sudah dihibahkan menjadi lokasi pemakaman leluhur mereka dan siap menjadi salah satu situs cagar budaya.

Pada masa pemerintahan Lokongbanua II, yang mulia paduka Lokongbanua disebut sebagai “datu” oleh karena sistem pemerintahannya ialah sistem kedatuan. Kedatuan Siau kala itu merupakan hasil penggabungan dari beberapa kulano, yaitu pemimpin dari balageng-balageng (keluarga-keluarga luas) yang berdiam di beberapa tempat. Pusat pemerintahan Datu Lokongbanua berkedudukan di Katutungan.

Istana Katutungan menghadap ke arah Gunung Tamata. Bagian yang terlihat dari arah laut adalah bagian belakang istana. Istana tersebut terdiri dari tiga bagian, yaitu bagian belakang berbentuk segi tiga sama kaki, dengan panjang sisi kiri 100 meter, panjang sisi kanan 110 meter dan panjang alasnya 180 meter. Bagian belakang istana ini digunakan sebagai lapangan dalam sayembara Puteri Basilawewe. Bagian kedua, berbentuk persegi panjang dengan panjang 200 meter dan lebar 75 meter. Bagian tengah kerajaan ini menjadi tempat pesanggrahan yang dibuat dengan gaya bale labo. Kontur tanahnya miring, sehingga cocok menjadi tempat dibangunnya istana bergaya bale labo.

Bagian ketiga, adalah bagian belakang kerajaan yang bentuknya menyerupai benteng pertahanan. Benteng ini terbuat dari susunan batu pipih dan batu persegi dengan dua tingkatan. Ketebalan batu pada tingkatan pertama dan kedua, kurang lebih satu meter. Benteng ini agak menyerong ke sisi timur mengikuti kontur bukit. Di belakang bukit ini tanahnya terjal. Dari tengah benteng terdapat bekas pintu gerbang sebagai pintu masuk dan atau pintu keluar dari arah benteng. Istana Katutungan ini dilihat dari segala penjuru mata angin, nampak sangat jelas dan mudah diketahui bentuknya. Apalagi bila dilihat pada malam hari, disaat padamara sedang menyala dan berfungsi sebagai menara kedatuan.


 

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: