Suku Sawu – P. Sawu, NTT

Orang Sawu atau Sabu atau Savu mendiami Pulau Sawu dan Pulau Raijua di Provinsi Nusa Tenggara Timur.
Jumlah penduduknya adalah sekitar 50.000 jiwa. Orang Sawu sendiri ada yang menyebut daerah mereka Rai Hawu, berasal dari nama tokoh mitologis Hawu Ga.

Lokasi P. Sawu, NTT


* Foto foto suku Sawu: link
* Foto kerajaan2 di Sawu: link
* Foto situs kuno / megalitik Sawu: link


Asal usul suku Sawu

Legenda Sabu mengatakan bahwa nenek moyang orang Sabu datang dari seberang yang disebut “bou dakka ti dara dahi, agati kolo rai ahhu rai panr hu ude kolo robo”, yang berarti “orang yang datang dari laut, dari tempat jauh sekali, lalu bermukim dipulau Sabu”. Orang pertama adalah Kika Ga dan saudaranya Hawu Ga. Dari Kika Ga inilah yang menurunkan orang Sabu (Do Hawu) yang ada sekarang. Nama Rai Hawu atau pulau Sabu berasal dari nama Hawu Ga, saudara Kika Ga, yang juga salah satu leluhur mereka.


Kepercayaan suku Sawu

Sebelum memeluk agama Kristen, suku Sabu menganut agama tradisional suku, yaitu Jingitiu. Saat ini hampir seluruhnya suku Sabu memeluk agama Kristen Protestan. Namun, dalam keseharian kebanyakan orang Sabu masih terpengaruh oleh tradisi Jingtu. Norma kepercayaan mereka masih tetap berlaku dengan kelender adat yang menentukan saat menanam dan upacara lainnya.
Dalam tradisi agama tradisional Jingitiu, menerapkan ketentuan hidup adat atau uku, yang konon dipercayai mengatur seluruh kehidupan manusia dan berasal dari leluhur mereka. Semua yang ada di bumi ini Rai Wawa (tanah bawah) berasal dari Deo Ama atau Deo moro dee penyi (dewa mengumpulkan membentuk mancipta).


Masyarakat suku Sawu

Kampungnya yang disebut rae kowa didirikan di punggung bukit dan dipagari dengan batu karang atau batu kali. Pola perkampungan itu berbentuk bulat telur atau empat persegi panjang dengan sudut-sudut yang melengkung. Di kedua ujung kampung dibuat pintu gerbang. Rumah-rumah yang terbentuk panggung berderet di sepanjang sisi sebuah lapangan yang terletak di tengah-tengah kampung. Di tengah lapangan itu biasanya ditanam sebuah pohon beringin atau bidara cina, yang menaungi altar untuk upacara. Masyarakat tidak selalu berada di rumah kampung ini, mereka sering berdiam di pondok-pondok yang didirikan di ladang. Pondok itu disebut liha pada.
Prinsip kekerabatannya adalah patrilineal, dengan pilihan jodoh yang ideal ana mahamone, yaitu anak perempuan saudara laki-laki ibu. Dalam perjanjian perkawinan, mone amu (pihak wanita) menuntut kebue (harga ganti gadis) dari mone ami (pihak laki-laki). Masyarakat ini amat melarang perkawinan silang, yaitu antara saudara suami dengan saudara istri, atau sebaliknya. Keluarga-keluarga inti bergabung dalam kelompok keluarga luas terbatas yang disebut dara amu. Beberapa dara tamu bergabung pula ke dalam sebuah udu (klan patrilineal) yang di kepalai oleh seorang pemimpin yang disebut bangu udu.
.

Kepercayaan

Warga masyarakat ini sebagian besar masih memeluk keyakinan lama. Mereka menyembah deo (dewa), dimana dewa tertinggi adalah Deo Mone Ae (dewa yang besar). Dalam siklus hidupnya mereka banyak melakukan upacara-upacara religi, terutama upacara bersih desa dan upacara kematian (haga). Upacara dipimpin oleh ratu mone pitu (imam yang tujuh orang). Mereka percaya bahwa dalam kematian roh melakukan perjalanan dari dunia nyata ke dunia gaib dengan menggunakan ama piga laga (perahu roh). Penyakit tertentu dianggap timbul karena gangguan suanggi atau wango, makhluk halus (roh). Penyakit karena ganggun makhluk halus hanya bisa diobati dengan bantuan mone melare (dukun atau syaman). Selain upacara kematian masyarakat ini sering mengadakan upacara yang berkaitan dengan mata pencaharian hidupnya, seperti upacara memanggil nira, memasak nira, tolak bala, bersih ladang, menanami ladang dan lainnya.


Sumber

– Suku Sawu:  http://protomalayans.blogspot.co.id/2012/11/suku-sabu-nusa-tenggara-timur.html
– Suku Sawu:  http://suku-dunia.blogspot.co.id/2015/01/sejarah-suku-sawu.html
– Suku Sawu:  http://melayuonline.com/ind/opinion/read/439/mengenal-suku-sabu-sawu-atau-savu