Struktur kekuasaan di Poso abad XIX

Sumber: http://posomori.com/struktur-kekuasaan-di-poso-abad-xix/

————————-

Tidak dapat diketahui secara pasti, kapan persisnya Datu Pamona, ditaklukan oleh Kerajaan Luwu-Sulawesi Selatan. Albertus Christian Kruyt hanya menyisakan satu petunjuk yang kurang begitu jelas, yakni pada abad ke XVIII (1700-1800) Keberadaan Datu Pamona masih dapat ditemukan.

Keberadaan Datu Pamona sesungguhnya dapat dilacak dari cerita rakyat ketika diwawancarai Kruyt. Dalam ingatan masyarakat Datu Pamona pada masa yang lampau (tidak diketahui tahun persisnya), dikalahkan oleh pasukan Datu Luwu (ada yang mengatakan dari Wotu).

Datu Pamona ditawan oleh Datu Luwu dan dibawa ke Palopo. Kisah yang sama dapat ditemukan dalam kisah penaklukan Raja Mori, ketika Raja Mori mula-mula ditaklukan pasukan Luwu dan ditawan di Palopo.

Berbeda dengan kisah Raja Mori yang dapat ditemukan kesinambungan sejarahnya, dalam kisah Datu Pamona tidak ditemukan kisah kesinambungannya pada masa Kruyt tiba di Poso pada 1892.

Apa yang ditulis oleh Kruyt dan Adriani adalah mengenalkan sebuah struktur kekuasaan pada abad XIX. Struktur ini dapat ditemukan dalam kisah yang ditulis Oleh Albertus C.Kruyt dalam perjalanannya dari Palopo ke Posso pada tahun 1898. Dalam buku ini terungkap bagaimana struktur kekuasaan di Posso sebelum abada XX (1900-2000).

Dalam buku itu dapat dipetakan bahwa pada saat kruyt datang ke Poso tahun 1892, Posso sedang berada dalam kekuasaan Datu Luwu. Pemerintahannya dikendalikan melalui Wotu dan Ampu Lemba. Ampu Lemba dalam pemerintahannya selalu berkoordinasi dengan Karadja lamoesa yang bermukim di Tando Ngkasa.

Perintah maupun permintaan dari datu Luwu disampaikan kepada Ampu Lemba. Perintah ini dapat berupa bantuan pasukan apabila pasukan kerajaan Luwu melakukan ekspansi atau menghukum wilayah lain hingga bantuan pada saat putra datu menikah ataupun meninggal.

Namun dalam catatan Kruyt, wilayah Onda’e tidak mengantarkan ketertundukannya kepada Datu Luwu melalu Karadja Lamoesa. Karadja Onda’e menghantarkan langsung ke Datu Luwu. Hal ini disebut monangu buaja.

Peristiwa Monangu Buaja dapat ditemukan dalam buku A.C.Kruyt yang berjudul De Crocodiel in Possoer. Dalam buku itu dikisahkan, Pasukan Datu Luwu bersama dengan Lamoesa datang menghancurkan Onda’e. Dalam suasana keterpurukkan, orang-orang Tua Onda’e yang tersisa kemudian bermusyawarah dan mengambil kesepakatan untuk mepue langsung kepada Datu Luwu tanpa melalui Karadja Lamoesa. Kalaupun akan hancur maka akan hancur semuanya. Dan ketika ini dilakukan, ternyata Datu Luwu mau menerima, namun syaratnya ternyata lebih berat karena setiap 9 tahun diwajibkan membawa seorang gadis berusia 14 tahun.

Demikianlah Struktur Kekuasaan di Poso sebelum Belanda menaklukan Posso pada Februari 1906 ketika benteng Tando Ngkasa ditaklukan dan Karadja Lamoesa ditawan Belanda (sebagian sumber mengatakan ditawan ke Batavia).

Dalam Struktur Pemerintahan Yang Baru, gelar Karadja yang disematkan kepada Mokole Lamoesa dan Mokole Onda’e dicabut Belanda dan digantikan dengan sebutan Witi Mokole.

Pada awal kekuasaan Belanda di Posso, tepatnya pada 7 Maret tahun 1908, Belanda membagi menjadi 5 wilayah witi mokole.



 

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: