Riau Lingga, kesultanan / Prov. Kep. Riau – P. Lingga

کسلطانن رياوليڠݢ

.

Kesultanan Riau Lingga, 1824-1911 merupakan Kerajaan Melayu yang pernah berdiri di pulau Lingga, prov. Kepulauan Riau.

The Sultanate of Riau Lingga: 1824–1911. Located on Lingga, province Riau Archipel.
For english, click here

Prov. Kep. Riau

————————
Lokasi pulau Lingga


* Foto foto kesultanan Riau Lingga: link
* Foto bekas Istana Damnah: link
* Foto replika istana Damnah: link


1 Tentang Raja / About the king
2 Sejarah / History
3 Tentang pemerintahan Riau
4 Daftar Raja / list of kings
5 Sumber / source


1) Tentang Raja / About the king

Tuanku Abdul Rahman III; Sultan Riau-Lingga (keturunan Sultan terakhir Riau-Lingga) dari 1964; meninggal di Singapore, mei 2016; umurnya 83.

Tengku Abdul Rahman bin Tengku Muhammad Yusuf bin Tengku Usman bin Sultan Abdul Rahman Muadzam Shah II 2005

Tengku Abdul Rahman bin Tengku Muhammad Yusuf bin Tengku Usman bin Sultan Abdul Rahman Muadzam Shah II 2005

Tentang situasi kesultanan sekarang

Ditulis oleh: HrH Raja Mohd Said

Sekarang Riau Lingga memiliki set baru penguasa dilantik pada 2012/12/05 untuk Yang di Pertuan gede di Pl. Penyengat. Pada 22/9/2012 untuk Raja muda dan wakilnya dan pada 22/9/2012 untuk Temenggong dan wakilnya. Aku tidak tahu mengapa mereka melakukan itu untuk selama kita semua tahu Riau Lingga Kesultanan tidak lagi tapi masih ada sebagai The Heirs berada di Singapore. Hanya sejarah dapat memberitahu.
Ada motif di balik mengapa mereka melakukan instalasi tubuh tidak tahu. Karena jika kita melakukan sesuatu pasti, kami bertujuan untuk sesuatu yang tidak peduli bagaimana ia pergi tentang. Atau hanya karena pangkat atau status, tidak memberitahu saya bahwa jika seseorang melakukan sesuatu untuk apa-apa yang terdengar bodoh. Don’t Anda berpikir begitu. Sebagai contoh jika Anda menanam pohon buah, Anda berharap untuk memanen buah pada akhir hari. Jadi mari kita lihat apa yang mereka pikirkan berikutnya. 200 % yakin ada sesuatu yang tidak sangat sangat wright. Aku bilang Kerabat saya yang harus diperhatikan.
Sultan terakhir Riau-Lingga, Abdul Rahman II. Ia terpaksa tinggal di pengasingan setelah penolakannya untuk menandatangani perjanjian dengan Belanda yang dimaksudkan untuk membatasi kekuasaannya secara total. 

2) Sejarah / History Kesultanan Riau Lingga, 1824-1911

Lingga pada awalnya merupakan bagian dari kesultanan Malaka, dan kemudian kesultanan Johor. Pada 1811 sultan Mahmud Syah III mangkat. Ketika itu, putra tertua, Tengku Hussain sedang melangsungkan pernikahan di Pahang. Menurut adat Istana, seseorang pangeran raja hanya bisa menjadi sultan sekiranya dia berada di samping sultan ketika mangkat. Dalam sengketa yang timbul Britania mendukung putra tertua, Husain, sedangkan Belanda mendukung adik tirinya, Abdul Rahman.
Traktat London pada 1824 membagi kesultanan Johor menjadi dua: Johor berada di bawah pengaruh Britania sedangkan Riau-Lingga berada di dalam pengaruh Belanda. Abdul Rahman ditabalkan menjadi raja Lingga dengan gelar Sultan Abdul Rahman Muazzam Syah, dan berkedudukan di Daik, Kepulauan Lingga.
Sultan Hussain yang didukung Britania pada awalnya beribukota di Singapura, namun kemudian anaknya sultan Ali menyerahkan kekuasaan kepada Tumenggung Johor, yang kemudian mendirikan kesultanan Johor modern.
Pada tanggal 7 Oktober 1857 pemerintah Hindia-Belanda memakzulkan sultan Mahmud IV dari tahtanya. Pada saat itu Sultan sedang berada di Singapura. Sebagai penggantinya diangkat pamannya, yang menjadi raja dengan gelar sultan Sulaiman II Badarul Alam Syah. Jabatan raja muda (Yang Dipertuan Muda) yang biasanya dipegang oleh bangsawan keturunan Bugis disatukan dengan jabatan raja oleh sultan Abdul Rahman II Muadzam Syah pada 1899. Karena tidak ingin menandatangani kontrak yang membatasi kekuasaannya sultan Abdul Rahman II meninggalkan Pulau Penyengat dan hijrah ke Singapura. Pemerintah Hindia Belanda memakzulkan sultan Abdul Rahman II in absentia 3 Februari 1911, dan resmi memerintah langsung pada tahun 1913.
Kekuasaan kesultanan Riau Lingga (merah)


3) Tentang pemerintahan kesultanan Riau Lingga

Dalam pemerintahan kesultanan Riau, Sultan bertindak sebagai Kepala Negara. Sementara Dipertuan Muda / Yamtuan Muda (wakil penguasa atau Viceroy) adalah posisi inheren tahan dengan penguasa elit Bugis, yang berfungsi sebagai Kepala Pemerintahan. Setelah dipisah dari JohorRiau, posisi Yamtuan Muda  dipertahankan di kesultanan RiauLingga.
Istana kerajaan sultan terletak di Penyengat Indera Sakti dan Yam Tuan berada di Daik, Lingga. Hal itu dirasakan bahwa sultan Melayu akan menjadi dominan di Lingga dan dependensinya, sedangkan Yamtuan Bugis akan memiliki kontrol di Riau (terdiri Bintan, Penyengat dan pulau-pulau sekitarnya); masing-masing penguasa tidak akan memiliki klaim terhadap pendapatan yang lain.
Riau menjadi jantung dari pengaruh politik Bugis di Dunia Melayu Barat. Perlu dicatat bahwa pembagian kekuasaan antara Melayu dan Bugis tidak bertemu tanpa perselisihan besar antara dua rumah.
Adat istiadat (custom) menyerukan pemisahan kekuasaan dan janji setia yang disebut Persetiaan Sungai Baru  (Sumpah Sungai Baru) dilantik antara Bugis dan Melayu dan diperpanjang selama lima kali antara 1722-1858. Di bawah adat, hanya orang Melayu dapat menjadi sultan dan posisi Yam Tuan disediakan secara eksklusif ke Bugis.

Sumber (bah. inggris): https://id.wikipedia.org/wiki/Kesultanan_Lingga

Para bangsawan Riau-Lingga bersama Sultan Sulaiman II (duduk, di tengah). (c.1867)


4) Daftar sultan

1819-1832: Sultan Abdurrahman
Sultan Abdurrahaman adalah sultan pertama dari kesultanan Lingga. Ia adalah putra dari Sultan Mahmud Syah III yang berkuasa di kesultanan Johor Riau. Setelah ayahnya wafat, kesultanannya dibagi menjadi dua, yaitu kesultanan Johor Singapura dan kesultanan Lingga. Pembagian wilayahnya ditentukan oleh Britania Raya dan Hindia Belanda dalam Traktat London yang ditetapkan pada tahun 1824. Wilayah kesultanan Johor Singapura mencakup Johor, Singapura, Pahang, dan Tregganu. Sedangkan wilayah kesultanan Lingga mencakup Pulau Lingga, Pulau Singkep dan Riau.

1832-1841: Sultan Muhammad Syah
Sultan Muhammad Syah menggantikan ayahnya yaitu Sultan Abdurrahman yang wafat pada 1832 M. Ayahnya dimakamkan di Bukit Cengkil Daik. Nama asli dari Sultan Muhammad Syah adalah Tengku Besar. Sultan Muhammad Syah wafat pada tahun 1841 dan dimakamkan di Bukit Cengkeh. Sebelum wafat, ia telah menunjuk putranya yang bernama Tengku Mahmud sebagai pewaris.

1841-1857: Sultan Mahmud Muzafar Syah
Pada masa pemerintahan Sultan Mahmud Muzafar Syah, kesultanan Lingga menjadi salah satu kerajaan yang memiliki pengaruh besar bagi Suku Melayu Riau. Kekuasaannya diberhentikan oleh Gubernur Jenderal Belanda pada tanggal 23 September 1857.

1857-1883: Sultan Sulaiman Badrul Alam Syah
Pengganti Sultan Mahmud Muzafar Syah adalah pamannya yang bernama Tengku Sulaiman. Gelarnya adalah Sultan Sulaiman Badrul Alam Syah. Pelantikannya sebagai sultan diadakan pada tanggal 10 Oktober 1857. Ia memerintah hingga wafat pada tanggal 17 September 1883. Pemakamannya berada di Bukit Cengkeh.

1883-1913: Sultan Abdurrahman Muazam Syah
Sultan Sulaiman Badrul Alam Syah tidak mempunyai keturunan, sehingga penggantinya adalah putri Sultan Mahmud Muzafar Syah yang bernama Fatimah. Suami dari Fatimah adalah Yang Dipertuan Muda ke-10 bernama Raja Muhammad Yusuf, sehingga kekuasaannya diberikan kepada anaknya yang bernama Raja Abdurrahman.
Setelah dilantik pada tahun 1883, Raja Abdurrahman diberi gelar Sultan Abdurrahman Muazam Syah. Pada tahun 1903, ia memindahkan pusat pemerintahan ke Pulau Penyengat. Kesultanan Lingga mengalami perkembangan pesat selama masa pemerintahannya. Sultan Abdurrahman Muazam Syah mendirikan perkumpulan Rusydiah di Pulau Penyengat yang kemudian menjadi pusat perkembangan politik, budaya, dan kemasyarakatan. Ia menjadi sultan terakhir dari kesultanan Lingga setelah Hindia Belanda memutuskan untuk membubarkan kerajaan ini pada tanggal 10 Februari 1911. Keputusan ini ditetapkan karena Sultan Abdurrahman Muazam Syah tidak patuh terhadap pemerintahan Hindia Belanda. Setelah diberhentikan sebagai sultan, ia bersama para bangsawan akhirnya pindah ke Singapura.

– Sejarah di Wiki: https://id.wikipedia.org/wiki/Kesultanan_Lingga

Silsilah kesultanan Riau Lingga

Silsilah kesultanan Riau Lingga


Istana kesultanan Riau Lingga: Istana Damnah

1) Sisa Istana Damnah

Situs Istana Damnah merupakan salah satu jejak peninggaan Kerajaan Riau Lingga yang sarat sejarah. Sejarah mencatat, Istana Damnah dibangun pada tahun 1860 pada masa pemerintahan Sultan Sulaiman Badrul Alamsyah II (1857-1883) fisik bangunannya kini memang sudah tidak berbentuk hanya menunggalkan bekas pondasi saja.
– Sumber: http://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpcbsumbar/2017/04/10/situs-istana-damnah-cagar-budaya-di-kabupaten-lingga-kepri/

* Foto bekas Istana Damnah: link

——————–

2) Replika Istana Damnah

Ketika telah diberlakukannya otonomi daerah di Kepulauan Riau, Istana Damnah ini pun mulai mendapat perhatian Pemerintah Provinsi dan Pemerintah setempat. Mereka mendatangkan para arkeolog dan beberapa peneliti yang sudah ahli untuk melakukan riset dan penelitian bentuk bangunan Istana Damnah ini sebelumnya. Kemudian setelah beberapa lama dilakukannya riset dan penelitian maka Pemerintah mulai membangun replika Istana Damnah yang diyakini sangat mirip dengan istana yang aslinya.
– Sumber:http://infolingga.net/2017/02/19/salah-satu-situs-istana-melayu-riau-lingga-istana-damnah-menjadi-tujuan-wisata-sejarah/

* Foto replika istana Damnah: link


Peta kuno pulau Bintan

Pulau Lingga, tahun ?

————————————

Pulau Lingga tahun 1888


5) Sumber / Source

Sejarah kesultanan Riau Lingga lengkap (QuickiWiki – bah. inggris): http://www.quickiwiki.com/en/Riau-Lingga_Sultanate
– Sejarah kesultanan Riau Lingga di Wiki:
https://id.wikipedia.org/wiki/Kesultanan_Lingga
– Sejarah kesultanan Riau Lingga: http://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpnbtanjungpinang/2014/06/08/sejarah-kerajaan-riau-lingga-kepulauan-riau/
Sejarah kesultanan Riau Lingga di Melayuonline: http://melayuonline.com/ind/history/dig/355
Raja Ali: Kelana terakhir Kerajaan Riau-Lingga 1860-1927: http://melayuonline.com/ind/history/dig/355
Warisan sejarah kesultanan Riau Lingga:link

Facebook

Waris Sultan Riau Lingga


 

6 Comments

6 thoughts on “Riau Lingga, kesultanan / Prov. Kep. Riau – P. Lingga

  1. khairunisa

    Raja Mohd Said tu siape?

    • Sultans in Indonesia

      Terima kasih atas mail anda.
      Sumber kami untuk kerajaan-kerajaan indonesia adalah internet, dan kommen dari tamu website.
      Tentang Raja Mohd Said kurang ada info di internet. Sebab itu info tentang kerajaan-kerajaan bisa kurang.
      Kalau anda punya info tambahan, mohon kirim, biar info di website lebih lengkap.
      Terima kasih.
      Paul, penerbit website

  2. Kurang lengkap

    • Sultans in Indonesia

      bisa jelaskan kurang lengkap ?
      terima kasih,
      Paul, penerbit website

  3. Sim Kok Keng

    So now a new ruler sultanate of riau-lingga has been restored in 2012 by the Indonesian government ?

    • Sultans in Indonesia

      As far as we know, there is no official restoration by the governement. It was HrH Raja Mohd Said, who send us the info; maybe it is a decision by the family.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: