Kaili, kerajaan2 di Tanah Suku Kaili / Prov. Sulawesi Tengah

Suku Kaili adalah suku bangsa di Indonesia yang secara turun-temurun tersebar mendiami sebagian besar dari Provinsi Sulawesi Tengah.

prov. Sulawesi Tengah (hijau)

prov. Sulawesi Tengah (hijau)


* Foto foto Sulawesi dulu, suku Sulawesi dan situs kuno: link


Tentang suku Kaili

Suku Kaili adalah suku bangsa di Indonesia yang secara turun-temurun tersebar mendiami sebagian besar dari Provinsi Sulawesi Tengah, khususnya wilayah Kabupaten Donggala, Kabupaten Sigi, dan Kota Palu, di seluruh daerah di lembah antara Gunung Gawalise, Gunung Nokilalaki, Kulawi, dan Gunung Raranggonau.

Sebelumnya wilayah Kota Palu sebagai kerajaan Tanah Kaili dengan ibu negerinya Palu memberlakukan sistim pemerintahan adat raja-raja.
Pemerintahan tanah Kaili dipimpin seorang raja yang dikenal dengan sebutan To Manuru.
Raja-raja keturunan To Manuru disebut Madika.
Kerajaan Tanah Kaili meliputi empat Kerajaan yaitu:
* Kerajaan Palu,
* Kerajaan Tawaili,
* Kerjaaan Sigi dan
* Kerajaan Banawa.
Masuknya pengaruh Belanda akhir abad 19 mengakibatkan takluknya kerajaan-kerajaan dilembah Palu setelah di dahului oleh perang, setelah takluk, kerajaan-kerajaan Tanah Kaili diikat dengan perjanjian jangka panjang (Lange Contruct), kemudian dilanjutkan jangka pendek ( Karte Velklaring).


Kerajaan yang betul dalam sejarah Tanah Kaili

1. Tatanan Kerajaan Bali Gau Ri Tatanga
3. Tatanan Kerajaan Kulawi
4. Tatanan Lando Bulili
5. Kerajaan Dombu.
6. Kerajaan Ganti, Sarudu Dan Tappalang
7. Kerajaan Sindue
8. Kerajaan Parigi, Sausu, Moutong
9. Kerajaan Siduru

Dan Setelah Penjajah Masuk KeTanah Kalili Mereka Memperkasai Terbentuknya Kerajaan Rekayasa DiTanah Kaili Untuk Memperkuat Pengaruh Dan Pertahananya
Kerajaan Yang DibentuK Oleh Belanda Adalah :

1. Kerajaan Tawaili
2. Kerajaan Siranindi
3. Kerajaan Banawa
4. Kerajaan Biromaru

Sumber: Abiefathoel Parasusa Part II, Facebook


Struktur organisasi pemerintahan

Pemerintahan pasa masa dahulu, sudah dikenal adanya struktur organisasi pemerintahan di dalam suatu kerajaan (Kagaua) dikenal adanya Magua (Raja), Madika Malolo (Raja Muda).

Di dalam penyelenggaraan pemerintahan Magau dibantu oleh Libu Nu Maradika (Dewan Pemerintahan Kerajaan) yang terdiri dari: Madika Matua (Ketua Dewan Kerajaan/Perdana Menteri) bersama Punggawa (Pengawas Pelaksana Adat/ Urusan Dalam Negeri), Galara (Hakim Adat), Pabicara (Juru Bicara), Tadulako (Urusan Keamanan/ Panglima Perang) dan Sabandara (Bendahara dan Urusan Pelabuhan).

Disamping dewan Libu nu Maradika, juga ada Libu Nto Deya (Dewan Permusyawaratan Rakyat) yang merupakan perwakilan Rakyat berbentuk Pitunggota Ngata(Dewan yg Mewakili Tujuh Penjuru Wilayah) atau Patanggota Ngata (Dewan yg Mewakili Empat Penjuru Wilayah). Bentuk Kota Pitunggota atau Kota Patanggota berdasarkan luasnya wilayah kerajaan yang memiliki banyaknya perwakilan Soki (kampung)dari beberapa penjuru. Ketua Kota Pitunggota atau Kota Patanggota disebut Baligau.

Strata sosial masyarakat Kaili dahulu mengenal adanya beberapa tingkatan yaitu Madika/Maradika, (golongan keturunan raja atau bangsawan), Totua Nungata (golongan keturunan tokoh-tokoh masyarakat), To Dea (golongan masyarakat biasa), dan Batua (golongan hamba/budak).

– Sumber: https://id.wikipedia.org/wiki/Suku_Kaili


Pitunggota

Sumber dan di ambil dari: https://kailingataku.wordpress.com/menapaki-jejak-pitunggota-tanah-kaili/

Pitunggota atau tujuh wilayah, adalah tujuh sub etnis dari suku kaili:
Topo (yang menggunakan bahasa) Ledo,
Topo Ija,
Topo Ado,
Topo Unde,
Topo Rai,
Topo Da’a dan
Topo Tara.

Tujuh sub etnis ini terdapat tujuh pula pula Dewan Adat Pitu Nggota yaitu:
Magau di Sigi,
Galara di Banawa,
Pabisara di Pulu,
Baligau di Dolo,
Jogugu di Dolo,
Punggava di Pinombani dan
Kapita di Behoa.

Sub Etnis ini mendirikan tujuh kerajaan di tanah Kaili:
Kerajaan Pujananti di Ganti,
Kerajaan Tatanga di Palu,
Kerajaan Baloni di Sigi,
Kerajaan Tinombani di Dombu,
Kerajaan Sidiru di Sibalaya,
Kerjaan Pemantoa atau Parampata di Sindue dan
Kerajaan Sausu atau Parigi.

Penjelasan

Budayawan Sulawesi Tengah, Sofyan Ing berpendapat, Pitunggota atau tujuh wilayah, adalah tujuh sub etnis dari suku kaili. Tujuh sub etnis itu, yaitu Topo (yang menggunakan bahasa) Ledo, Topo Ija, Topo Ado, Topo Unde, Topo Rai, Topo Da’a dan Topo Tara.
“Topo Ledo berasal dari pegunungan sebelah timur di atas bukit Paneki yang disebut Lando Raranggonao sekarang ini Topo Ledo bermukim di kota Palu kearah selatan samapai Kecamatan Dolo sampai dengan sungai wera di barat,” jelas Sofyan Ing.
Sedangkan menurutnya, Topo Ija pada awalnya, bermukim di sebelah utara danau lindu di lereng gunung yang disebut Leu, Siloma, Volau, Uwemalei, dan Sigi Pulu. Sekarang ini To Ija, menurutnya, bermukim di Bora, Watunonju, Oloboju dan dataran Palolo serta Sibowi.
Selain itu, Topo Ado awalnya bermukim di lereng pegunungan sebelah timur tenggara, Namun sekarang ini bermukim di sebelah selatan wilayah pemukiman Topo Ledo, kearah selatan berbatas dengan Kuala Saluki dan Kuala Tiva batas wilayah Desa Bangga. To Unde yang awalnya bermukim di lereng gunung Kangihui dan gunung Kayunaya. Sekarang ini Topo Unde umumnya bermukim di kecamatan Banawa, dan Banawa Selatan.
Topo Rai pada awalnya, bermukim di lereng gunung Pombare Basa atau Parampata. Sekarang, Topo Rai umumnya bermukim mulai dari Kecamatan Banawa Palu Utara kearah utara sampai dengan kecamatan Balaisang. Topo Tara awalnya bermukim di lereng gunung sebelah timur Kota Palu di bagian utara dari pemukiman Topo Ledo. Sekarang Topo Tara bermukim di Kecamatan Palrigi, Sausu, Sebagiam Kecamata Ampibabo, serta beberapa kelurahan di Kecamtan Palu Timur.
“Sedangkan Topo Da’a yang kita kenal dengan To Lare, tetap berdiam di sebelah barat Kota Palu dan Kecamatan Marawola. Sekarang ini tergabung dalam wilayah Kecamatan Tinembani dan Pekava,” sebut salah satu Ketua PB Akhairaat ini.
Uniknya, kata Sofyan, tujuh sub etnis ini terdapat tujuh pula pula Dewan Adat Pitu Nggota yaitu, Magau di Sigi, Galara di Banawa, Pabisara di Pulu, Baligau di Dolo, Jogugu di Dolo, Punggava di Pinombani dan Kapita di Behoa.
Kata Sofyan Ing, bahkan Sub Etnis ini mendirikan tujuh kerajaan di tanah kaili. “Yaitu, Kerajaan Pujananti di Ganti, Kerajaan Tatanga di Palu, Kerajaan Baloni di Sigi, Kerajaan Tinombani di Dombu, Kerajaan Sidiru di Sibalaya, Kerjaan Pemantoa atau Parampata di Sindue dan Kerajaan Sausu atau Parigi,” jelas Sofyan Ing.

Ia menyebutkan, tiap kerajaan melaksanakan pemerintahannya secara otonom namim tetap terikat pada posisi dan fungsi masing-masing dalam adat. Namun meskipun demikian tidak pernah terjadi peperangan anatara kerajaan. Hal ini menuruntya, karena masing-masing kerajaan patuh pada hukum adat yang mengikat. (nanang.


Sumber Tanah Kaili

– Sejarah Tanah Kaili: http://kaililand.blogspot.co.id/2011/02/tessa-tanah-kaili.html
– Sejarah Suku Kaili: http://suku-dunia.blogspot.co.id/2014/09/sejarah-suku-kaili.html
– Suku Kaili: http://protomalayans.blogspot.co.id/2012/10/suku-kaili-sulawesi.html
– Suku Kaili di Wiki: https://id.wikipedia.org/wiki/Suku_Kaili
– Suku Kaili: http://mika-punya.blogspot.co.id/2012/05/budaya-suku-kaili.html

Sumber Pitunggota

– Tentang Pitunggota: https://kailingataku.wordpress.com/menapaki-jejak-pitunggota-tanah-kaili/
– Tentang Pitunggota:
https://books.google.co.id/books?id=JvGHCgAAQBAJ&pg=PA42&lpg=PA42&dq=Pitunggota&source=bl&ots=CI0IcVJchH&sig=XfYtKdyqjjrsNanEn8Hie9NHWKE&hl=nl&sa=X&ved=0ahUKEwjnopipiJ3bAhUHwI8KHShFCCcQ6AEIRzAI#v=onepage&q=Pitunggota&f=false


Foto Suku Kaili

Rumah raja atau Sou Raja atau juga disebut Banua Mbaso yang berarti rumah besar. Rumah berbentuk panggung ini merupakan warisan nenek moyang keluarga para bangsawan suku Kaili.

Rumah raja atau Sou Raja atau juga disebut Banua Mbaso yang berarti rumah besar. Rumah berbentuk panggung ini merupakan warisan nenek moyang keluarga para bangsawan suku Kaili.

Balia, Tradisi Penyembuhan Suku Kaili Tetua adat menyapukan darah kerbau di kening para penari sebelum prosesi pembacaan mantra penyembuhan dimulai.

Balia, Tradisi Penyembuhan Suku Kaili Tetua adat menyapukan darah kerbau di kening para penari sebelum prosesi pembacaan mantra penyembuhan dimulai.

Balia, Tradisi Penyembuhan Suku Kaili Tetua adat menombak kerbau yang akan disembelih sebagai pengorbanan untuk penyembuhan

Balia, Tradisi Penyembuhan Suku Kaili Tetua adat menombak kerbau yang akan disembelih sebagai pengorbanan untuk penyembuhan

Raja raja Tanah Kaili

Raja raja Tanah Kaili

Baju Adat Kaili

Baju Adat Kaili

Kaili amulets - c1911

Kaili amulets – c1911


 

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: