Kota Pinang, kesultanan / Prov. Sumatera Utara – kab. Labuhanbatu Selatan

Kesultanan Kota Pinang: 1630 – 1946. Terletak di kab. Labuhanbatu, prov. Sumatera Utara.
Kesultanan Kota Pinang berdiri pada tahun 1630 di wilayah yang sekarang menjadi Kab. Labuhanbatu Selatan, prov. Sumatera Utara . Kesultanan ini dikuasai oleh Hindia Belanda pada tahun 1837, sebelum akhirnya melebur ke dalam negara Indonesia pada tahun 1946.

Sultanate of Kota Pinang: 1630 – 1946. Located on Sumatera, District of Labuhan Batu. Prov. North Sumatera.
For english, click here

Kabupaten Labuhanbatu Utara


* Foto kesultanan Kota Pinang: link
*
Foto bekas kesultanan Kota Pinang: link

* Foto sultan dan raja yang masih ada di Sumatera: link
* Foto sultan dan raja di Sumatera dulu: link

* Foto raja-raja di Simalungun dulu: link
* Foto raja-raja kerajaan kecil di Aceh dulu: link

* Foto perang Aceh – Belanda, 1873-1904: link
* Foto situs kuno di Sumatera: link


Tentang raja sekarang (2020)

Tidak ada info tentang raja atau keturunan sekarang.

Raja terakhir Kesultanan Kotapinang Sultan Yang Dipertuan Makmur Perkasa Alamsyah


Sejarah kesultanan Kota Pinang

Kesultanan Kota Pinang pada mulanya bernama Kesultanan Pinang Awan. Kesultanan ini didirikan oleh Batara Sinomba atau Batara Gurga Pinayungan Tuanku Raja Nan Sakti, putra Sultan Alamsyah Syaifuddin yang berasal dari Kerajaan Pagaruyung
Sultan Batara Sinomba kemudian menikah dengan seorang puteri setempat. Ia memperoleh dua orang putra dan seorang putri yang bernama Siti Ungu Selendang Bulan. Kemudian ia menikah lagi dengan seorang putri setempat lainnya dan memperoleh seorang putra. Istrinya yang kedua berusaha mempengaruhi Batara Sinomba agar putranyalah yang kelak menggantikannya sebagai raja, sehingga kedua orang putra raja dari istri yang pertama itu diusir. Setelah membunuh Batara Sinomba berkat bantuan tentara Kerajaan Aceh, maka Sultan Mangkuto Alam putra dari istri yang pertama, naik tahta menjadi sultan Kota Pinang. Sebagai balas jasa, Siti Ungu dinikahkan kepada raja Aceh, Sultan Iskandar Muda. Kelak keturunan Mangkuto Alam dan Siti Ungu inilah kemudian yang menjadi raja-raja di Kesultanan Asahan, Pannai, dan Bilah.

Kesultanan Kota Pinang berdiri pada tahun 1630 di wilayah yang sekarang menjadi Kabupaten Labuhanbatu Selatan, Sumatera Utara. Penjajah Belanda memasuki wilayah Labuhan Batu berkisar tahun 1825. Kesultanan ini dikuasai oleh Hindia Belanda pada tahun 1837, sebelum akhirnya melebur ke dalam negara Indonesia pada tahun 1946.
Sebelum penjajahan Belanda memasuki daerah Labuhanbatu, sistem pemerintahan Labuhanbatu bersifat monarkhi yang Kepala Pemerintahan disebut Sultan atau Raja yang dibantu oleh seorang bergelar Bendahara Paduka Sri Maharaja yang bertugas sebagai Kepala Pemerintahan sehari-hari (semacam Perdana Menteri).

Sumber: https://id.wikipedia.org/wiki/Kesultanan_Kota_Pinang


Daftar sultan

1. Sultan Batara Sinomba atau Batara Gurga Pinayungan Tuanku Raja Nan Sakti
2. Sultan Mangkuto Alam
3. Sultan Syahir Alam
4. Sultan Mustafa Perkasa Alamsyah

– Sumber / Source: https://id.wikipedia.org/wiki/Kesultanan_Kota_Pinang#Daftar_Sultan


Istana kesultanan Kota Pinang

Peledakan yang dilakukan pada masa revolusi sosial yang terjadi sekira tahun 1946 tidak sanggup melenyapkan gagahnya istana tempat Seripaduka yang Dipertuan Kotapinang Musthafa Perkasa Alamsyah XII bertahta tersebut.
* Foto bekas kesultanan Kota Pinang: link
* Sumber: http://www.metrosiantar.com/news/asahan/2013/10/06/96346/istana-kotapinang-kian-memprihatinkan/

Istana Istana Bahran sebelum dihancur

———————

Sisa istana kesultanan Kota Pinang sekarang


Sejarah kerajaan-kerajaan di Labuhanbatu

Sistem Pemerintahan Kabupaten Labuhanbatu sebelum penjajahan Belanda adalah bersifat monarkhi. Kepala pemerintahan disebut Sultan dan Raja yang dibantu oleh seorang yang bergelar Bendahara Paduka Sri Maharaja dan bertugas sebagai Kepala Pemerintahan sehari-hari (semacam Perdana Menteri).

Kesultanan/kerajaan yang terdapat di wilayah kabupaten Labuhanbatu pada waktu itu terdiri dari 4 (empat) kesultanan yaitu :

1. Kesultanan Kota Pinang berkedudukan di Kota Pinang.
2. Kesultanan Kualuh berkedudukan di Tanjung Pasir.
3. Kesultanan Bilah berkedudukan di Negeri Lama.
4. Kesultanan Panai berkedudukan di Labuhan Bilik.

Ditambah 1 (satu) Half-bestuur yaitu Kerajaan Kampung Raja berkedudukan di Tanjung Medan.

Sistem pemerintahan Kabupaten Labuhanbatu sebelum penjajahan Belanda adalah bersifat Monarki. Kepala pemerintahan disebut Sultan atau Raja yang dibantu oleh seorang yang bergelar Bendahara Paduka Seri Maharaja yang bertugas sebagai kepala pemrintahan sehari-hari (semacam perdana Mentri).

Tidak diketahui kapan Belanda masuk ke Labuhanbatu. Dari berbagai keterangan yang dihimpun, Belanda masuk ke Labuhanbatu sekira tahun 1825, namun ada pula keterangan yang mengatakan bahwa kedatangan Belanda ke Labuhanbatu adalah usai Perang Paderi (berkisar tahun 1831).

Pada tahun 1862, kesatuan Angkatan Laut Belanda dibawah pimpinan Bevel Hebee datang ke kampung Labuhanbatu  (di Hulu Kota Labuhan Bilik sekarang) melalui Sungai Barumun, di kampung Labuhanbatu tersebut Belanda membuat tempat pendaratan dari batu beton. Lama kelamaan tempat pendaratan tersebut berkembang menjadi tempat pendaratan/persinggahan kapal-kapal yang kemudian menjadi sebuah kampung (desa) yang lebih besar dan namanya disebut Pelabuhan Batu. Akhirnya nama pelabuhan batu ini dipersingkat sebutannya menjadi Labuhanbatu. Kemudian nama itu melekat dan ditetapkan menjadi nama wilayah Kabupaten Labuhanbatu.

Tengku Mustafa, sultan terakhir


Peta-peta kuno Sumatera

Untuk peta kuno Sumatera (1565, 1588, 1598, 1601, 1616, 1620, 1707, 1725, 1760), klik di sini

Sumatera, tahun 1707


Sumber / Source

– Sejarah kesultanan Kota Pinang di Wiki: Wiki
Sejarah kesultanan Kota Pinang:  http://idarosidadasopang.blogspot.co.id/2012/11/sejarah-kota-pinang.html
Sejarah kesultanan Kota Pinang:  http://sejarah-labuhanbatu.blogspot.co.id/2011/04/kerajaan-kotapinang.html
Daftar raja:  https://id.wikipedia.org/wiki/Kesultanan_Kota_Pinang#Daftar_Sultan
– Peninggalan kesultanan:  https://kotapinang.wordpress.com/2010/12/04/istana-kota-bahran-di-kotapinang-labuhanbatu-selatan-potensi-wisata-yang-tak-tergarap/
———————–
Sejarah Kabupaten Labuhan Batu:  http://www.kemendagri.go.id/pages/profil-daerah/kabupaten/id/12/name/sumatera-utara/detail/1210/labuhan-batu
– Sejarah kerajaan-kerajaan di Labuhan Batu: http://earning-news.blogspot.co.id/2010/04/sejarah-labuhan-batu.html
– Sejarah Labuhanbatu: http://desahutagodang.blogspot.co.id/2011/11/sejarah-labuhan-batu.html


Peta kerajaan-kerajaan di Sumatera Utara abad ke-19


 

Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: