Berangbang, kerajaan / Bali – kab. Jembrana

Kerajaan Berangbang terletak di pulau Bali, kab. Jembrana. Didirikan pada tahun 1580.

Lokasi pulau Bali


Lokasi kab. Jembrana


* Foto foto Bali dulu: link
* Foto foto situs kuno di Bali: link
* Foto foto puputan Denpasar, 1906: link
* Foto foto puputan Klungkung, 1908: link


Sejarah kerajaan Berangbang

– Sumber: http://blog.isi-dps.ac.id/onoputra/sejarah-desa-brangbang

Kerajaan Berangbang yang didirikan oleh ” DALAM SUECA PURA ” (GELGEL) kurang lebih pada tahun 1580.

Kerajaan Berangbang menurut historisnya didirikan/dibangun setelah Kerajaan Belambangan menjadi daerah taklukan Gelgel “SRI RESI WATURENGGONG KEPAKISAN” yang pada waktu Kerajaaan Berangbang dibawah kekuasaan seorang raja yang bernama: “I GUSTI NGURAH BASANG TAMIYANG” seorang putra dari perdana Menteri Dalem Gelgel. Kerajaan Berangbang dulunya dibangun oleh ratusan prajurit Dalem Gelgel dan ribuan tawanan yang berasal dari daerah Belambangan.

Perjalan kerajaan Berangbang Bahari adalah pertama dari arah laut Selat Bali meneui pura jati di desa Pengambengan yang dilanjutkan ke daerah utara tibalah di Pura Majapahit di Desa Banyubiru, kemudian lurus ke utara kurang lebih 9 KM tibalah di Pos Menara buatan alam yaitu sebuah bukit Pura Munduk Tumpeng ke arah barat hingga sampai di sebuah bukit lagi yang bernama Bukit Munduk Kendung.

Disini kemudian melanjutkan perjalanan ke arah barat laut ditemuilah sebuah Pura yang disebut pura Pegubungan yang diperkirakan berketinggian kurang lebih 700 meter dari permukaan laut. daerah ini sangat subur karena diapit oleh dua buah sungai yaitu Sungai tukadaya dan Sungai. Berangbang yang dikenal dengan nama “SINGSING TUKAD BERANGBANG”. Nama ini didapat karena daerah hutan ini banyak ditumbuhi bambu liar yag disebut dengan “GESING”.

Dataran tersebut adalah merupakan bekas lokasi Pura Kerajaan Berangbang Bahari dengan bukti-bukti yang  didapati berupa benda-benda peninggalan yang bersejarah berupa Kuping Kuali Besar yang tertanam di Singsing Tukad Berangbang tersebut, menurut keterangan dari para orang tua kadang-kadang benda-benda tersebut dapat dilihat pada hari-hari tertentu yaitu pada Purnama dan Tilem hingga hingga sampai saat ini daerah ini tergolong sangat angker, selain benda-benda tersebut masih banyak benda-benda lain yang didapat berupa benda kuno berbahan keramik. Ditempat itu pula kita dapat melihat ke selatan terbentang laut selat Bali membujur panjang dari Barat ke Timur sebuah gunung yang bernama “GUNUNG SLOKA BELAMBANGAN”.

Kemudian masa peralihan kerajaan Berangbang Bahari pada thaun 1713 yang didalam hubungannya dengan Berangbang yang sekarang jelas merupakan desa perkembangan dilihat dari nama Desa. Selanjutnya Desa ini berkembang mengikuti zamannya hingga sampai pada tahun sampai tahun 1887 yang pada saat itu mulanya terjadi pembukaan hutan Berangbang oleh orang karena pada waktu itulah Pemerintah LANDSCHAF JEMBRANA/TUANKU RAJA JEMBRANA IDA ANAK AGUNG MAD RAI memberikan kesempatan untuk penduduk desa baler Bale Agung bergabung dengan Beranbang dibawah perbekel/Kelihan Desa/  Kelihan Gede PAN MUKARENA sebagai Kelihan Desa Pertama.

Setelah  Berangbang menjadi suatu Desa maka barulah diadakan pemisahan dari Baler Bale Agung  dengan Kepala desanya adalah PAN SUDASNING.

Kerajaan di Bali, sekitar tahun 1900.


Puri di Bali

Puri di pulau Bali adalah nama sebutan untuk tempat tinggal bangsawan Bali, khususnya mereka yang masih merupakan keluarga dekat dari raja-raja Bali. Berdasarkan sistem pembagian triwangsa atau kasta, maka puri ditempati oleh bangsawan berwangsa ksatria.

Puri-puri di Bali dipimpin oleh seorang keturunan raja, yang umumnya dipilih oleh lembaga kekerabatan puri. Pemimpin puri yang umumnya sekaligus pemimpin lembaga kekerabatan puri, biasanya disebut sebagai Penglingsir atau Pemucuk. Para keturunan raja tersebut dapat dikenali melalui gelar yang ada pada nama mereka, misalnya Ida I Dewa Agung, I Gusti Ngurah Agung, Cokorda, Anak Agung Ngurah, Ratu Agung, Ratu Bagus dan lain-lain untuk pria; serta Ida I Dewa Agung Istri, Dewa Ayu, Cokorda Istri, Anak Agung Istri, dan lain-lain untuk wanita.

Daerah atau wilayah kekuasaan puri-puri di Bali zaman dahulu, tidak berbeda jauh dengan wilayah administratif pemerintahan kabupaten dan kota di Provinsi Bali. Setelah Kerajaan Gelgel mulai terpecah pada pertengahan abad ke-18, terdapat beberapa kerajaan, yaitu Badung (termasuk Denpasar), Mengwi, Tabanan, Gianyar, Karangasem, Klungkung, Buleleng, Bangli dan Jembrana. Persaingan antardinasti dan antaranggota dinasti pada akhirnya menyebabkan Belanda dapat menguasai Bali dengan tuntas pada awal abad ke-20.

Setelah masa kolonial Belanda, Jepang dan masa kemerdekaan Indonesia, kekuasaan puri berubah menjadi lebih bersifat simbolis. Peranan berbagai puri di Bali umumnya masih tinggi sebagai panutan terhadap berbagai pelaksanaan aktivitas adat dan ritual Agama Hindu Dharma oleh masyarakat banyak.


Sejarah singkat kerajaan-kerajaan di Bali

Kerajaan Bali merupakan istilah untuk serangkaian kerajaan Hindu-Budha yang pernah memerintah di Bali, di Kepulauan Sunda Kecil, Indonesia. Adapun kerajaan-kerajaan tersebut terbagi dalam beberapa masa sesuai dinasti yang memerintah saat itu. Dengan sejarah kerajaan asli Bali yang terbentang dari awal abad ke-10 hingga awal abad ke-20, kerajaan Bali menunjukkan budaya istana Bali yang canggih di mana unsur-unsur roh dan penghormatan leluhur dikombinasikan dengan pengaruh Hindu, yang diadopsi dari India melalui perantara Jawa kuno, berkembang, memperkaya, dan membentuk budaya Bali.

Karena kedekatan dan hubungan budaya yang erat dengan pulau Jawa yang berdekatan selama periode Hindu-Budha Indonesia, sejarah Kerajaan Bali sering terjalin dan sangat dipengaruhi oleh kerajaan di Jawa, dari kerajaan Medang pada abad ke-9 sampai ke kerajaan Majapahit pada abad ke-13 hingga 15. Budaya, bahasa, seni, dan arsitektur di pulau Bali dipengaruhi oleh Jawa. Pengaruh dan kehadiran orang Jawa semakin kuat dengan jatuhnya kerajaan Majapahit pada akhir abad ke-15.
Setelah kekaisaran jatuh di bawah Kesultanan Muslim Demak, sejumlah abdi dalem Hindu, bangsawan, pendeta, dan pengrajin, menemukan tempat perlindungan di pulau Bali. Akibatnya, Bali menjadi apa yang digambarkan oleh sejarawan Ramesh Chandra Majumdar sebagai benteng terakhir budaya dan peradaban Indo-Jawa.
Kerajaan Bali pada abad-abad berikutnya memperluas pengaruhnya ke pulau-pulau tetangga. Kerajaan Gelgel Bali misalnya memperluas pengaruh mereka ke wilayah Blambangan di ujung timur Jawa, pulau tetangga Lombok, hingga bagian barat pulau Sumbawa, sementara Karangasem mendirikan kekuasaan mereka di Lombok Barat pada periode selanjutnya.

Sejak pertengahan abad ke-19, negara kolonial Hindia Belanda mulai terlibat di Bali, ketika mereka meluncurkan kampanye mereka melawan kerajaan kecil Bali satu per satu. Pada awal abad ke-20, Belanda telah menaklukkan Bali karena kerajaan-kerajaan kecil ini jatuh di bawah kendali mereka, baik dengan kekerasan atau dengan pertempuran, diikuti dengan ritual massal bunuh diri, atau menyerah dengan damai kepada Belanda. Dengan kata lain, meskipun beberapa penerus kerajaan Bali masih hidup, peristiwa-peristiwa ini mengakhiri masa kerajaan independen asli Bali, karena pemerintah daerah berubah menjadi pemerintahan kolonial Belanda, dan kemudian pemerintah Bali di dalam Republik Indonesia.


Sumber kerajaan Berangbang

http://kampungkb.bkkbn.go.id/profile/20166
http://blog.isi-dps.ac.id/onoputra/sejarah-desa-brangbang