Mangir, kerajaan / Prov. Jawa Tengah – kab. Bantul

Kerajaan Mangir adalah kerajaan kecil, yang melepaskan diri dari pengaruh kesultanan Pajang (1568 – 1586) juga Mataram. Terletak di Desa Sendangsari, Kecamatan Pajangan, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Mangir merupakan tanah perdikan (bebas dari upeti atau pajak) yang dipimpin oleh Ki Ageng Mangir dan keturunannya. Selama ratusan tahun desa ini dipimpin oleh Ki Ageng Mangir I hingga Ki Ageng Mangir IV, yaitu Wanabaya III.

Lokasi kabupaten Bantul


Garis kerajaan-kerajaan di Jawa: link


Foto sejarah kerajaan-kerajaan di Jawa

* Foto sultan dan raja, yang masih ada di Jawa: link
* Foto keraton di Jawa, yang masih ada: link
* Foto Batavia (Jakarta) masa dulu: link
* Foto Jawa masa dulu: link
* Penyerbuan Batavia oleh Sultan Agung, 1628/1628: link
* Foto perang Diponegoro, 1825: link
* Foto situs kuno di Jawa: link


Video sejarah kerajaan-kerajaan di Jawa

– Garis dan daftar sejarah kerajaan-kerajaan di Jawa: link
– Daftar Penguasa Monarki kesultanan Jawa Mataram, 1556 – 2020: link
– Peta sejarah kesultanan Mataram, 1576-2020: link
– Peta sejarah kerajaan Medang Mataram Hindu: link
– Peta sejarah kerajaan Majapahit, 1293 sampai 1527: link
– Daftar raja-raja Majapahit hingga ke Mataram, 1293 – 1587: link
– Peta sejarah kerajaan Jawa Timur, 1.5jt SM sampai 2020: link
– Peta sejarah kerajaan Jawa Barat, 3000 SM sampai 2020: link
– Peta sejarah kerajaan Jawa Tengah, 1.5jt SM sampai 2020: link


Sejarah kerajaan Mangir, abad ke-16

Ketika kerajaan Pajang (1568 – 1586) mulai runtuh dan kekuasaan bergeser ke Mataram, banyak kerajaan kecil yang memberontak dan melepaskan diri dari pengaruh Pajang juga Mataram, salah satunya Perdikan Mangir. Panembahan Senopati berusaha menguasai Tanah Mangir tapi kesulitan karena mengingat Ki Ageng Mangir IV menolak tunduk kepada Mataram dan Beliau sangat sakti.
Ki Ageng Mangir IV yang hidup pada masa Danang Sutawijaya bergelar Panembahan Senapati (1587-1601), pendiri Kesultanan Mataram Islam.

Hingga akhirnya dicari cara dengan menyuruh putrinya yang bernama R Ay Pembayun menyamar sebagai penari tayub untuk berangkat ke Tanah Mangir dan menundukkan Ki Ageng Mangir IV. Singkat cerita Ki Ageng Mangir IV terpikat dengan R Ay Pembayun begitupun R Ay Pembayun juga tertarik dengan Ki Ageng Mangir IV.dan akhirnya mereka menikah di Mangir.hingga enam bulan pernikahan akhirnya R Ay Pembayun berkata kepada suaminya bahwa dia adalah putri Panembahan Senopati.Setelah mendengar cerita istrinya , Ki Ageng Mangir dengan jiwa besar mengajak istrinya yang saat itu sedang mengandung lima bulan untuk menghadap ke Panembahan Senopati untuk menghaturkan sembah sungkem kepada mertuanya tersebut.

Makam Ki Ageng Mangir IV di Astana Kotagede.


Tentang raja raja Mangir

Ki Ageng Mangir IV menikah dengan R Ay Pembayun putri dari Panembahan Senopati dan Mas Ayu Adisoro. Ketika usia kandungan R Ay Pembayun menginjak 5 bulan Ki Ageng Mangir IV wafat dan dimakamkan di Astana Kotagede. R Ay Pembayun dinikahkan dengan putra sulung Ki Ageng Karang Lo yang bernama Ki Ageng Gada Makuta.
Ketika melahirkan R Ay Pembayun wafat dan dimakamkan di Astana Ki Ageng Karang Lo di Karang Turi. Bayi kecil putra Ki Ageng Mangir dan R Ay Pembayun kemudian dibawa ke daerah yang sekarang disebut Dusun Gelaran dan dirawat hingga cukup umur oleh sesepuh desa dan bernama Kyai Maduseno.
Kyai Maduseno kemudian mengembara hingga ke daerah Wodjo Bagelen dan menetap disana menikah dengan Dewi Madjati, hingga beranak cucu. Salah satu cucu canggahnya pemilik Padepokan Panjer yang bernama Kyai Kerto wongso pada suatu saat kedatangan Sunan Amangkurat I yang dalam kondisi sakit dan masa pelarian dari Trunojoyo, Ki Kertowongso berkenan mengobati sakit sang Raja dengan kelapa yang sudah tua dan sembuh. Kemudian oleh Sunan Amangkurat I Kyai Kertowongso dianugrahi Gelar Adipati Kertowongso Kalopo Aking I dan menjadi Ngabehi ing Tanah Perdikan Panjer Kebumen. Adipati Kalopo Aking I menikah dengan R Ay Kleting Abang putri Sunan Amangkurat I, Kemudian menurunkan Trah Kolopaking.

– Ki Ageng Mangir I atau Djoko Balut atau Haryo Megatsari adalah putra ke 44 Raja Brawijaya V, Raja Majapahit yang ketujuh. Setelah kerajaan Majapahit runtuh, Djoko Balut mengembara dan akhirnya bertapa dan bertempat tinggal di Gunung Mangir. Beliau hanya memiliki seorang anak perempuan bernama Rr Wulandari yang kemudian dinikahkan dengan sepupunya yang bernama Raden Djoko Wonoboyo. Raden Djoko Wonoboyo adalah putra dari Raden Djoko Luhur atau Haryo Prabu Bondan Surati putra ke 26 dari Raja Brawijaya V yang menetap di Gunung Kidul tanah Karangasem. Setelah Ki Ageng Mangir I wafat sang menantu yaitu Raden Djoko Wonoboyo kemudian menggantikan kedudukan menjadi :
– Ki Ageng Mangir II dan dilanjutkan oleh putra laki lakinya menjadi :
– Ki Ageng Mangir III yang kemudian digantikan putranya yaitu:
– Ki Ageng Mangir Wonoboyo IV.

Makam R.Ayu Pembayun dan Mas Ayu Adisoro di kompleks makam Ki Ageng Karanglo.


Peta kuno Jawa

Klik di sini untuk peta kuno Jawa tahun 1598, 1612, 1614, 1659, 1660, 1706, 1800-an, awal abad ke-18, 1840.

Jawa, awal abad ke-18

1234


Sumber

– Sejarah kerajaan Mangir: https://www.facebook.com/permalink.php?story_fbid=2302362256755303&id=100009446539212
Petilasan Mistis Ki Ageng Mangir: https://kumparan.com/dukun-millennial/mitos-kesaktian-ki-ageng-mangir
– Tentang petilasan Ki Ageng Mangir: http://www.tribunnews.com/travel/2015/09/13/petilasan-ki-ageng-mangir-di-wonoboyo-bantul-semerbak-misteri-keturunan-raja-brawijaya
– Tentang Ki Ageng Mangir IV: https://id.wikipedia.org/wiki/Ki_Ageng_Mangir
– Tentang Ki Ageng Mangir IV: http://www.akarasa.com/2015/03/sejarah-ki-ageng-mangir-antara-cinta.html


Foto

Petilasan Ki Ageng Mangir Wonoboyo


Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: