Simeulue (Seumelu), kerajaan-kerajaan di P. Simeulue / Sumatera – Prov. Aceh

Kerajaan-kerajaan di P. Simeulue (Seumelu). P. Simeulue terletak di pulau Simeulue, berada kurang lebih 150 km dari lepas pantai barat Aceh.

Lokasi pulau Seumelu


* Foto Aceh: Raja kerajaan-kerajaan kecil di Aceh: link
*
Foto Aceh: Aceh dulu: link
*
Foto Aceh: Perang Aceh-belanda (1873-1903): link


Sejarah kerajaan-kerajaan di P. Simeulue (Seumelu)

Ratusan tahun silam ada empat kerajaan yang pernah berkuasa di kawasan Pulau Simuelue dan tunduk di bawah Kesultanan Aceh. Hal itu disampaikan Ketua Majelis Adat Aceh atau MAA Simeulue, Djaelani saat ditemui ATJEHPOSTcom di salah satu warung kopi di Sinabang, Rabu, 5 Juni 2013.

“Zaman dahulu Simeulue ini di bagi empat dan diperintahkan empat raja. Ke empat raja itu tunduk kepada Sultan Aceh,” kata Djaelani.

Empat raja yang pernah berkuasa di kawasan Pulau Simeulue, rinci:
* Djaelani yaitu Raja Salang, yang disebut Kerajaan Salang meliputi Kecamatan Salang dan sebagian Alafan. Pusat kerajaan ini berada di Leukon dan Pulau Harapan.
* Selain itu ada Raja Devayan dengan wilayah kekuasaan meliputi Simeulue Timur, Teupah Selatan, Teupah Tengah dan Teupah Barat. Pusat kerajaan ini berada di Gampong Salur.
* Raja Simolol dengan wilayah kekuasaan Kecamatan Simeulue Tengah, Simeulue Cut dan Kecamatan Teluk Dalam. Pusat kerajaan berada di Gampong Lata’ayah.
* Sedangkan Raja Sigulai, kata Djaelani, meliputi Simeulue Barat dan sebagian lagi di Alafan dengan pusat kerajaan di Gampong Sigulai.
“Empat kerajaan itu berubah dan perlahan hilang setelah masuknya penjajah Belanda dan Jepang, serta masa revolusi kemerdekaan hingga sekarang. Hanya tinggal nama saja,” ujar Djaelani.
Sumber dan diambil dari: http://warkopaceh.com/berita1/4-Kerajaan-ini-pernah-berkuasa-di-Simeulue-54544

Info dari Atjeh Gallery

Asal usul etnik Simeulue diperkirakan datang dari daratan Sumatera. Ada dua rombongan yang tergolong sebagai pendatang pertama ke pulau tersebut. Pertama, rombongan yang dipimpin oleh Lasenga, menempati daerah Teupah, Simeulue Tengah dan mereka dinamakan orang Lasali. Kedua, rombongan yang dipimpin oleh Lamborek, yang menempati daratan Salang, Sigulai (Simeulue Barat), dan Leukon. Mereka kemudian dipanggil dengan sebutang orang Lafung Lasal.

Rombongan selanjutnya datang orang Bugis. Pendatang baru ini kemudian menempati Simeulue Barat dan Simeulue Tengah. Di Simeulue Barat mereka dinamakan orang Lanteng, dan Simeulue Tengah disebut orang Chabu.

Pendatang selanjutnya berasal dari Aceh dan Pedir. Mereka kemudian dikenal dengan sebutan suku dagang
Di bawah pemerintahan Kerajaan Aceh Darussalam, kemudian pulau ini dibagi menjadi lima kerajaan kecil yang dipimpin oleh masing-masing seorang raja. Kelima kerajaan tersebut adalah Teupah, Kerajaan Simeulue, Kerajaan Along, Kerajaan Lekon, dan Kerajaan Sigulai.

Sementara pada masa Belanda, Pulau Simeulue masuk dalam bagian afdelling wetkust van Aceh, yang popular dengan sebutan Onder afdeling Simeulue. Daerah ini dipimpin oleh seorang Controleur dan dibagi menjadi lima landschap. Kelima landschap tersebut adalah Sinabang yang ibukotanya Sinabang, Simeulue beribukota Pulau Aie, Salang beribukota Nasrehe, Lekon beribukota Lekon, dan Sigulai beribukota Lamamek.
– Sumber: https://www.facebook.com/groups/gallery.atjeh/permalink/1104271576439815/

Raja dari Seumelu, 1935. – Sumber: donald tick, Facebook


Tentang Tengku Di Ujung (Halilullah), menyebarkan Islam di Pulau Simeulue

Pada abad ke XVI seorang ulama berasal dari kerajaan Pagaruyung Sumatera Barat yang bernama Halilullah akan melaksanakan Ibadah Haji ke Baitullah dengan mengenderai perahu ayar. Ia singgah sejenak di kerajaan Aceh. Setibanya di sana oleh Sultan meminta kepada Halilullah mengurungkan niatnya melaksanakan ibadah haji, karena ia diminta Sultan untuk mengislamkan rakyat Pulau Simeulue ketika itu bernama Pulau U.
Halilullah sendiri tidak mengetahui arah jalan ke Pulau Simeulu (Pulau U), maka oleh Sultan ditunjukklah salah seorang wanita cantik dayang-dayang Sultan Aceh yang berasal dari kampung kelahirannya Pulau Simeulue untuk mendampingi Halilluah sebagai penunjuk jalan. Karena dayang-dayang ini masih gadis perawan dan untuk tidak mengundang fitnah maka oleh Sultan keduanya dinikahkan sebagai suami Istri.
Wanita cantik dayang-dayang ini bernama Si Melur. Setelah menikah keduanyapun berlayar ke pulau Simeulue untuk mengislamkan rakyat setempat. Di Silmeulue ini Habibullah digelar oleh para murid-muridnya dengan Tengku Di Ujung dan dari nama Istrinya Si Melur ini maka Pulau U ini diberi nama Simeulue. Dan sejak itu pula penduduk Simelue secara 100 persen memeluk Islam.
– Sumber: https://pulaukami.wordpress.com/2011/11/13/sejarah-singkat-pulau-kami-simeulue/

Makam Diujung

Makam Diujung


Peta Aceh dulu

Peta Aceh tahun 1646. Achem, from ‘Livro do Estado da India Oriental’, an account of Portuguese settlements in the East Indies, by Pedro Barreto de Resende

———————————–

Peta Aceh 1595


Sumber

– Tentang kerajaan di Simeulue: http://warkopaceh.com/berita1/4-Kerajaan-ini-pernah-berkuasa-di-Simeulue-54544
– Tentang kerajaan di Simeulue: https://pulaukami.wordpress.com/2011/11/13/sejarah-singkat-pulau-kami-simeulue/
– Tentang Tengku Di Ujung (Halilullah): https://id.wikipedia.org/wiki/Teungku_Di_Ujung
– Tentang Tengku Di Ujung (Halilullah): https://pulaukami.wordpress.com/2011/11/13/sejarah-singkat-pulau-kami-simeulue/